
“Apa yang kau lakukan?!”
Viona berteriak saat melihat Ares tiba – tiba menembak mati seorang pria tanpa alasan yang jelas. Meskipun sebelumnya dia pernah menjadi anggota gangster, tapi dia cukup terkejut melihat pria itu sanggup menembak mati seseorang tanpa ragu. Bahkan tak terlihat sedikit pun penyesalan di wajahnya, seperti tindakannya itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Tapi Ares tak memperdulikan teriakan wanita itu dan memalingkan wajahnya.
“Temui aku di kantor sekarang dan kosongkan gedung”
“Ah ... dan kirim beberapa orangmu untuk membereskan kekacauan di sini”
Ares langsung menghubungi seseorang setelah menyimpan kembali pistol ke belakang celananya. Dan untuk berjaga – jaga, dia juga mengambil satu peluru yang sudah menghujani mereka tadi dan memasukkannya dalam kantung jas. Untuk sesaat, Ares kembali memalingkan wajahnya dan memandang lekat ke arah Emma dan beberapa kali mengamati gadis itu dari atas sampai ke bawah. Selama kejadian tadi bahkan sampai keadaan sudah tenang, Emma terus diam tak mengatakan satu patah kata pun. Dia juga tak terlihat terkejut melihat apa yang Ares lakukan dan terus bersikap tenang. Hal ini cukup membuat Ares bingung dan khawatir dengan keadaannya. Namun setelah memastikan bahwa tak ada luka lain di tubuhnya, dia segera berbalik tanpa menyadari Emma yang terus melihatnya dalam diam.
Emma lalu melihat jasad Pradigta yang bersimah darah tergeletak begitu saja di depannya. ‘Pelampiasan? Aku bahkan tak merasakan apapun saat melihat mayatnya’ Emma terus melihat Pradigta yang sudah terbujur kaku dengan penuh kebingungan. Dia tak merasakan ada perubahan berarti dalam tubuhnya seperti waktu itu bahkan setelah pria itu tewas.
Perlahan, Ares mendekat dan ingin meraih tangan Emma saat dia melihat gadis itu terus melamun melihat jasad Pradigta. Tapi tangannya kalah cepat dengan Viona yang dengan gesit meraih tangan Emma dan membawanya pergi dari sana.
‘Apa yang mau kau lakukan?’Ares menegur dirinya sendiri dan menyesali tindakannya barusan sambil mengusap tangannya yang kesepian. Dia sedikit iri melihat Viona menggandeng Emma dengan santainya tapi apa boleh buat, dia hanya bisa merelakannya untuk saat ini. Ares pun segera pergi menyusul Emma yang sudah terlebih dahulu pergi.
Melewati daerah permukiman yang tadi di lewatinya, Ares melihat keadaan disana jadi lebih sunyi karena semua orang tetap tak berani untuk keluar. Tapi menurutnya keadaan seperti ini tak terlalu buruk karena dengan begini, tak ada yang memperhatikannya saat dia melihta Emma.
“Paman, ajukan cuti sekarang dan cepatlah kemari”
“Tapi jangan sampai kakek tahu kalau kau pergi menemuiku”
Ares masih sempat menghubungi seseorang sebelum dia benar – benar keluar dari permukiman itu. Dia menghubungi supir pribadi yang sudah bersamanya sejak pertama kali dia tinggal bersama kakeknya dan sudah menganggap pria paruh baya itu seperti keluarganya sendiri.
Saat mereka bertiga sudah keluar dari gang kecil, mereka melihat Satria dan Vian yang sudah menunggu di tempat mereka memarkirkan mobilnya.
“Kalian baik – baik saja?”
Suara Vian terdengar sangat cemas saat memeriksa keadaan Viona dan Emma. Namun akhirnya dia bisa bernafas lega saat melihat kedua gadis itu baik – baik saja dan masih dalam keadaan utuh. Sedangkan Satria hanya melambaikan tangan saat melihat Ares yang berjalan mendekatinya.
Mengikuti Satria, Ares segera memasuki mobilnya yang sudah berada di sebelah mobil Emma. Namun niatnya terhenti saat dia melihat Emma masuk ke mobilnya sendiri.
“Apa yang kau lakukan?”
“Apa yang kau lakukan?”
Viona mempertanyakan maksud tindakan Emma yang tiba – tiba. Namun dengan wajah datarnya, Emma menjelaskan bahwa menurutnya kedua pria itu tak memiliki niat buruk pada mereka dan tak ada ruginya untuk mengikuti mereka sekarang. Mendengar ucapan gadis itu, perasaan kesal Viona seketika mereda dan membuatnya bisa berpikir lebih jernih lagi. Bahkan dia juga berniat masuk mobil Ares untuk menemaninya.
“Kau tak boleh”
Dengan tegas, Ares melarang Viona masuk mobilnya. Kali ini setidaknya dia ingin duduk dialam mobil dengan tenang bersama Emma. Tak masalah jika harus bersama dengan yang lain, tapi tidak dengan Viona karena Ares merasa gadis itu akan mengganggunya.
“Biar aku saja”
“Kau bawa mobil Emma dan ikuti kami”
Vian menawarkan diri untuk menemani Emma. Setelah mendengar itu, Viona pun tak punya pilihan. Meskipun dalam hatinya dia mengeluarkan semua umpatannya untuk pria itu, dia tetap mengendarai mobil Emma dan mengikuti mereka dengan lekat.
“Aku Emma Jackson”
“Dia Vian dan perempuan di mobil belakang itu Viona”
Emma memperkenalkan diri terlebih dahulu sebagai bentuk sopan santunnya pada mereka yang sudah menolongnya. Dan Ares juga memperkenalkan dirinya dan Satria yang sudah tidur di bangku depan.
“Terimakasih untuk payungnya dan untuk yang barusan”
Emma melanjutkan kalimatnya. Sejak serangan tadi sudah berhenti dan Emma bisa melihat dengan jelas wajah pria yang menolongnya itu, dia langsung teringat dengan pria yang ditemuinya dulu di hotel dan juga sosok pria yang memberinya payung saat di pemakaman dulu. Dan dia yakin bahwa kedua orang itu dan orang yang kini duduk di sebelahnya adalah orang yang sama.
Ares yang mendengar kata payung dari mulut Emma sedikit terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya melihat Emma. Dia awalnya tak percaya dengan apa yang didengarnya, tapi gadis itu benar – benar masih mengingat kejadian yang sudah lebih dari enam bulan itu. Meskipun dia senang gadis itu masih mengingatnya, Tapi Ares hanya mengangguk. Dia tak tahu apa yang harus dikatakan saat mendengar Emma berterimakasih padanya. Dia menatap gadis itu sedikit lebih lama sebelum akhirnya dia memalingkan wajahnya karena malu dan menikmati pemandangan kota Jakarta Selatan saat malam.
Vian yang juga duduk di samping Emma, terus memperhatikan Ares dan tak bisa memungkiri kecurigaan yang muncul. Vian menyadari sikap pria itu yang aneh, terlebih wajahnya yang memerah saat mendengar Emma mengucapkan rasa terimakasihnya. Setelah melihat apa yang kedua pria itu bisa lakukan, dia merasa harus meningkatkan kewaspadaannya. Terlebih karena ada pria bernama Satria yang dia dia lihat di rumah Emma waktu itu.
Dan perjalanan mereka pun berlanjut dalam keadaan sunyi dengan Satria yang masih tidur nyenyak di bangku depan, Ares yang terus melihat keluar jendela dengan perasaan senangnya, Vian yang tak merasa tenang dengan kehadiran kedua pria asing itu, dan Emma yang masih memikirkan tentang kematian Pradigta.