PEEK A BOO

PEEK A BOO
MENCARI BUKTI



Sejak Vian dan Viona pergi dari rumah Ares, mereka tinggal di rumah orang tua Emma. Dan sudah hampir seminggu ini mereka mengobrak – abrik ruang baca di lantai dua, mencari petunjuk apapun tentang kondisi Emma sehingga mereka bisa membuat gadis kondisi gadis itu lebih baik. Juga, meskipun Emma sama sekali tak mempermasalahkan tentang mereka yang mencuri obatnya, tetap saja mereka merasa sangat bersalah karena kondisi gadis itu yang terlihat semakin menghawatirkan mereka.


Saat pertama sampai di rumah itu, mereka langsung menuju ruang baca dan meninggalkan semua barang mereka dalam mobil. Mereka tak ingin membuang sedikit waktu mereka untuk hal yang sia – sia, bahkan mereka sering sekali melewatkan waktu makan dan hanya konsumsi sebungkus mie instan untuk sekedar mengganjal perut. Dan hal itu membuat tubuh mereka terlihat lebih kurus meski baru satu minggu mereka di sana.


“Apa kau menemukan sesuatu?”


Tanya Vian pada Viona yang kini sedang duduk di hadapannya, menikmati segelas mie instan yang masih panas. Namun gadis itu terlalu fokus dengan makanannya hingga hanya bisa menggeleng, menjawab pertanyaan Vian dan pria itu hanya bisa menghela nafas panjang karena hal itu berarti usaha mereka sejauh ini masih belum memberikan hasil.


“Tapi apa kau tak merasa aneh dengan semua buku itu?”


 “Jika ada banyak jurnal ilmiah ataupun catatan penelitian, itu hal yang wajar karena orang tuanya seoarng peneliti”


“Tapi kenapa malah buku diary Emma yang jumlahnya sangat banyak?”


“Meskipun itu hanya berisi catatan harian biasa, tapi bukankah aneh jika mereka mengumpulkannya sebanyak itu?”


Sejenak, Viona mengalihkan fokusnya dan menatap Vian. Dia mengatakan semua hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi. Setelah hampir membaca semua buku di ruang baca itu, Viona merasa ada sesuatu yang janggal tapi dia tak tahu apa itu. Setelah mendegarnya, Vian hanya terdiam dan berusaha memikirkan semua perkataan Viona tadi.


“Stop! Jangan berpikir terlalu keras! kau bisa mengacaukannya nanti”


“Biar aku yang mikir”


“Habiskan saja makananmu dan kita akan mulai masuk ke ruang rahasia itu”


Viona tak ingin Vian berpikir terlalu keras dan berakhir mengacaukan semuanya seperti yang waktu itu dia lakukan. Setelah tak menemukan petunjuk yang berarti, dia berencana untuk mencarinya di ruang rahasia yang Emma pernah gadis itu tunjukkan pada mereka. Sejak mereka tiba, mereka memang tak sekalipun memasuki tempat itu karena perasaan mereka selalu tak nyaman setiap kali mengingatnya. Namun kali ini berbeda. Mereka sudah tak bisa menundanya lagi karena ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar perasaan tak nyamannya.


Setelah mereka selesai menyantap makanan mereka, Vian dan Viona kembali memasuki ruang baca dan mencari buku “Era Reformasi” yang sempat Emma katakan sebelum mereka berpisah. Dan sesuai instruksi Emma, mereka menarik buku itu dan terdengar bunyi ‘klik’ yang membuat  rak buku di bagian belakang ruangan baca itu langsung bergeser. Tanpa membuang waktu, mereka langsung masuk dan segera menyusurui tempat itu setelah lampu di sana sudah menerangi jalan mereka.


Meskipun bukan pertama kalinya mereka masuk ke sana, perasaan kagum saat melihat tempat seluas itu bisa berada di belakang rak buku itu tetap muncul. Membuat mereka berjalan perlahan, mengamati seluruh tempat itu sampai tanpa terasa mereka sudah sampai di bagian tengah tempat itu. Di sana, mereka melihat setiap lembar kertas yang berserakan di atas meja dan juga melihat komputer besar yang tak menyala di sana.


Selagi Viona mengutak – atik komputer itu, Vian meneruskan langkahnya menjelajahi tempat itu dan membaca beberapa buku yang terlihat seperti laporan dalam rak buku yang lebih kecil di sudut ruangan. Namun dia tak bisa memahami apa yang tertulis disana, karena laporan itu hanya berisi banyak angka, gambar dan beberapa kalimat saja tanpa ada penjelasan yang lebih terperinci. “Aku yakin orang tuanya sudah melakukan sesuatu di sini, tapi apa? Apa itu ada ubungannya dengan Emma?” gumam Vian dalam hatinya saat dia melihat keseluruhan tempat itu yang benar – benar terlihat seperti sebuah laboratorium aktif yang masih tak terlalu lama ditinggal pemiliknya.


“Yes!!”


Saat komputer besar itu menyala, mereka melihat panel tombol di samping komputer itu juga ikut menyala dengan banyak tombol warna – warni di sana. Meskipun tak tahu untuk apa semua tombol itu, tapi Viona tanpa ragu menekan satu – satunya tombol berwarna merah di sana dan seketika tabung besar di belakang komputer itu perlahan terisi air. Jelas itu membuat Vian dan Viona terkejut bukan main.


Mereka tak tahu tentang penelitian apa yang mungkin orang tua Emma lakukan dengan semua peralatan itu. Dan Viona pun berinisiatif untuk memotret tempat itu beserta beberapa dokumen yang mereka rasa itu adalah laporan penelitian, lalu mengirimkannya pada kenalan yang pernah dimintai tolong olehnya waktu itu. Tak butuh waktu lama untuk mereka mendapatkan balasan. Dan mereka terkejut saat orang itu menuliskan bahwa foto yang mereka kirimkan terlihat mirip dengan laboratorium yang pernah dilihatnya dulu saat banyak profesor gila yang melakukan penelitian kepada manusia.


Membaca kalimat tentang penelitian manusia, membuat banyak pikiran buruk yang seketika memasuki kepala mereka. Sangat buruk bahkan sampai membuat tangan mereka bergetar saat membayangkannya. Namun mereka tak ingin berburuk sangka karena masih tak ada bukti konkret tentang hal itu. Dan saat kenalan mereka bertanya lebih lanjut tentang foto yang mereka kirimkan, Viona langsung mematikan handphonenya karena tak ingin orang itu jadi lebih penasaran dan melacak keberadaan mereka.


Mereka berdua berusaha untuk kembali fokus dan segera berbagi tugas untuk membuktikan bahwa pikiran mereka itu sama sekali tak benar. Dan akhirnya Viona kembali fokus pada komputer di depannya sedangkan Vian kembali mencari petunjuk diantara semua laporan dan  catatan di sana.


Saat Vian memasuki lorong menuju pintu keluar, dia melihat satu – satunya rak buku disana, tak berjudul hanya tertulis kode angka di setiap buku di dalamnya. Dia tak tahu kode apa itu, tapi semua kode itu diawali dengan angka yang sama, yaitu 81141 dan diakhiri dengan angka yang berurut dari satu sampai tiga belas. Penasaran, Vian pun membuka salah satu buku dengan angka terakhir dua dan membaca isinya secara acak.


“Terjadi konsleting listrik yang menyebabkan detak jantung objek M1 tak stabil”


Jantung Vian berdebar lebih keras saat membaca salah satu kalimat yang tertulis di sana. “Apa ini? apa mereka sungguh melakukan percobaan manusia di sini ?” dalam benaknya, Vian berusaha mencerna kalimat yang dibacanya. Namun dia tak ingin terburu – buru, dan kembali membuka beberapa lembar berikutnya dan membaca isinya. Tapi lagi – lagi dia terkejut setelah membaca keseluruhan kalimatnya, bahkan kakinya terasa lemas sampai membuatnya kehilangan keseimbangan. Kali ini, dia benar – benar tak ingin memakai otaknya seperti yang selalu Viona katakan dan segera berlari menemui kakaknya dengan buku itu yang masih dia pegang.


Tanpa berkata – kata, Vian menyodorkan buku itu pada Viona. Awalnya dia tak mengerti maksud tindakan Vian, tapi setelah melihat wajah adiknya yang tampak kebingungan, dia langsung membuka dan membaca isinya. Dan gadis itu tak kalah terkejutnya dengan Vian setelah membaca seluruh tulisan di dalamnya.


“Otak dan sel tubuh menolak sample 15. Tanda vital objek M1 tak stabil”


“20 Agustus 2007, objek M1 membuka mata dengan sample 34 dan kenaikan arus listrik 2,3 ampere. Mutasi yang terjadi menunjukkan tanda positif”


Viona menatap Vian setelah membaca lembar terakhir buku laporan itu dan bertanya dimana dia mendapatkannya. Dengan langkah cepat, mereka segera menuju rak buku yang ditunjuk vian dan mengambil semua buku disana, membawanya ke meja panjang dekat komputer tadi dan membacanya dengan lebih seksama.


Viona hanya terdiam bahkan setelah dia membaca semua buku yang diambilnya itu dan dengan terburu – buru, dia segera kembali ke depan komputer dan membuka semua file yang ada seperti sedang mencari sesuatu. Namun tangannya berhenti saat dia melihat satu folder dengan nama M1 di sana, sama seperti nama objek yang tertulis dalam laporan tadi. Tangannya pun mulai bergetar, tak berani untuk membuka folder itu dan melihat isinya. Tapi mau tidak mau, dia tetap harus melakukannya. Dengan Vian yang kini juga sudah duduk di sampingnya dan berusaha memberinya keberanian meskipun suaranya terdengar sedikit gemetar, Viona akhirnya memberanikan diri untuk membuka folder itu. Dan dia melihat beberapa folder lain di dalamnya. Melihat nama folder itu lebih seksama, Vian terkejut saat menyadari bahwa namanya sesuai dengan judul buku yang mereka baca barusan. 81141-0071, 81141-0082, 81141-0093, dan begitu seterusnya untuk ketiga belas folder itu.


Dengan menghela nafas panjangnya, Viona membuka folder dengan nama yang sama  dengan kode angka di buku pertama yang mereka baca tadi. 81141-0082. Dan di dalamnya terdapat banyak video yang bertuliskan tanggal pengambilan. Viona mulai ragu untuk meneruskannya, tapi Vian yang juga tampak gemetar berusaha kembali memberikan kekuatan pada kakaknya agar tak berhenti di tengah jalan.


Dan benar saja, dalam video yang berdurasi satu jam itu, mereka melihat dua orang peneliti melakuakan penelitian terhadap seorang gadis kecil yang terlihat mengambang dalam tabung kaca besar yang berisi air. Gadis itu terlihat lemas dan tak sadarkan diri dengan banyak kabel dan pipa yang menghubungkannya dengan komputer besar dan beberapa tabung kecil di dekatnya. Sesuai dengan apa yang tertulis dalam buku tadi.


Tak sanggup melihat lebih jauh, Viona segera bangkit dan menenangkan diri di sudut ruangan. Tubuhnya gemetar melihat betapa teganya mereka melakukan semua itu pada seorang gadis kecil, siapapun gadis itu. Setelah mulai tenang, dia menghela nafas panjang dan berusaha berpikir lebih jernih tentang semua hal ini. Namun tubuhnya seketika lemas tak bertenaga sampai membuatnya terjatuh saat dia menyadari sesuatu. Sedangkan Vian yang masih fokus melihat video itu, merasa bahwa wajah gadis di video itu tak asing baginya. Dan matanya seketika terbelalak setelah mengingat dimana dia pernah melihat wajah itu.