PEEK A BOO

PEEK A BOO
PULANG KE RUMAH



“Dor!”


Suara tembakan yang terdengar sangat jelas, membuat perhatian Satria buyar dan melihat dari mana suara itu berasal. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat Emma sudah berbaring di jalan dengan darah yang terus mengalir dari kakinya. Dan tak jauh dari tempat keributan itu, dia juga melihat seorang pria paruh baya yang mengarahkan pistolnya kearah anak – anak itu.


Ingin rasanya Satria berlari dan membawa mereka bertiga pergi menjauh dari tempat itu, tapi kali ini dia sama sekali tak bisa berbuat apa – apa terlebih saat dia masih dihadapkan dengan beberapa pria besar yang siap menghajarnya kapanpun. Dan tanpa senjata ditangannya, Satria hanya bisa bertahan dan melawan mereka semua dengan tangan kosongnya yang bahkan sudah mulai kehilangan tenaganya itu. Belum sempat mengalihkan pandangannya, Satria melihat Vian yang sudah mulai menggila dan terus menghajar beberapa pria yang mengelilinginya tanpa henti bahkan dia sempat akan mengeluarkan pistol dari saku belakang celananya.


Namun beruntung, dari kejauhan muncul sebuah mobil yang melaju sangat cepat ke arah mereka dan tak berhenti bahkan setelah mobil itu menabrak beberapa pria berotot yang menghalangi jalannya itu. Melihat siapa dibalik kemudi mobil itu, Vian mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan pistol dan dengan cepat masuk kedalam mobil membawa Emma dan Viona setelah pengemudi itu dengan cepat membuka pintu mobilnya.


“Masuk!”


Mobil itu kembali berhenti dan kali ini pintunya terbuka untuk Satria. Tanpa pikir panjang, Satria segera masuk dan menutup rapat pintunya. Dan seketika itu juga, mobil itu langsung melaju kencang meninggalkan para penyerang yang mulai kocar – kacir berusaha mengejarnya.


“Kita tak bisa kerumah sakit, bagaimana ini?”


Setelah memastikan mereka sudah benar – benar lolos dari para penyerang itu, Hasan memeriksa keadaan Emma dan yang lainnya dari spion dan memberi tahu mereka bahwa rumah sakit bukanlah pilihan yang tepat untuk saat ini karena keadaan mereka semua yang sangat tak memungkinkan untuk itu.Ya, seseorang yang Satria hubungi sebelum serangan itu terjadi adalah Hasan. Meskipun awalnya ragu, Hasan tetap pergi memenuhi permintaan Satria karena dia tak mau jika Ares sampai membunuhnya karena review buruk yang bisa Satria berikan nantinya.


Dengan nafas yang masih tersengal – sengal, Satria juga ikut memperhatikan keadaan Emma di bangku belakang dan merasa pusing dengan keadaan mereka saat ini. Dan dia sedikit terkejut saat gadis itu tiba –tiba meminta mereka untuk mengantarnya pulang dan mengatakan akan mengurus sendiri lukanya. Bukannya meragukan kemampuan Emma sebagai seorang dokter, dia tak habis pikir melihat gadis itu bisa tetap bersikap tenang dalam keadaan seperti ini bahkan tak ada sedikit pun air mata yang keluar. Dan dia juga melihat kekhawatiran di wajah  Vian dan Viona saat mereka melihat keadaan gadis itu.


Sesampainya di rumah Emma, semuanya langsung merebahkan diri di sofa besar dekat meja kerja Viona yang masih sangat terlihat berantakan. Mereka semua tampak kelelahan setelah berhasil bertahan dari penyerangan tadi bahkan Satria dan Vian yang memiliki lebih banyak luka di wajah mereka pun merasa terlalu malas untuk membersihkannya saat itu juga. Mereka lebih suka untuk langsung bersantai dan mengembalikan tenaga mereka terlebih dahulu sebelum mengobati luka – luka mereka.


Vian menawarkan bantuannya pada Emma yang kini sudah duduk di sofa bersama mereka dan bersiap mengeluarkan peluru yang ada di kakinya. Dengan peralatan yang sudah Viona siapkan sesuai instruksinya, Emma mulai mengambil pinset dan pisau bedah miliknya. Karena semua yang dibutuhkannya sudah tersedia, Emma mengatakan pada Vian untuk pergi mengurus lukanya. Namun pria itu sungguh tak sampai hati jika dia harus meninggalkan Emma mengurus lukanya sendiri sehingga dia tetap menemani gadis itu sampai dia selesai melakukan tindakan.


Selagi Emma sibuk mengeluarkan peluru dari kakinya, Hasan menikmati waktunya untuk berkeliling rumah itu. Dia pun tak habis pikir melihat rumah seorang gadis muda yang terlihat sangat berantakan, bahkan di beberapa tempat


debu sudah mulai menebal.


“Kenapa kalian tiba – tiba diserang?”


Melihat luka Emma yang ternyata cukup dalam, Satria merasa bersalah karena dia tak bisa mencegah hal ini untuk tidak terjadi. Dia ingin meminta maaf tapi dia ragu dan terlalu gengsi untuk mengatakan semua itu karena baginya, Emma tetaplah seorang Jackson yang sahabatnya benci. Dan seketika dia mengalihkan pandangannya dan terpaku melihat televisi yang menayangkan liputan seorang reporter di depan gedung pratama. Dan hal yang membuatnya sangat terkejut adalah wajah Vian yang jelas tertangkap kamera saat sedang berjalan keluar gedung. Melihat tayangan itu, seketika seluruh ruangan menjadi hening. Bahkan Vian yang juga ikut melihat itu pun hanya bisa diam, tak bisa berkata – kata.


Meskipun Satria yang berada didekat Vian sudah berusaha mengalihkan perhatianya dengan mengganti topik pembicaraan, tetapi tak ada satupun kalimatnya yang mendapat respon. Vian merasa semuanya hening bahkan saat Satria berbicara padanya, dia hanya bisa melihat bibir pria itu yang bergerak tanpa suara. Perlahan, Vian melihat kearah Emma. Lebih tepatnya, melihat kaki gadis itu yang sekarang sudah dibalut perban sebelum akhirnya dia beranjak dan masuk ke kamarnya. Langkahnya tak seimbang. Dia merasakan guncangan hebat dalam hatinya sehingga membuat dia tak bisa merasakan apapun selain penyesalan dan rasa marah pada dirinya sendiri.


Setelah Vian pergi, suasana di rumah itu tetap hening. Viona yang melihat bagaimana wajah adiknya itu, seakan memahami apa yang dia rasakan. Namun saat ini dia juga tak bisa berbuat apa – apa untuk menenangkannya, selain memberinya waktu untuk menenangkan diri.


Waktu sudah lewat tengah malam dan rumah Emma terlihat temaram dengan cahaya redup lampu tidur di hampir seluruh ruangannya. Viona dan Hasan sudah tertidur pulas di sofa setelah sebelumnya mereka ngobrol cukup lama. Emma yang sadar bahwa waktu tidurnya sudah sangat terlewat, langsung menuju dapur untuk meminum obat tidurnya. Namun saat dia akan kembali masuk ke kamarnya, tanpa sengaja dia melihat Vian yang berdiri sendirian menatap langit malam di teras samping rumahnya. Awalnya Emma ingin langsung pergi, tapi dia berfkir bahwa tak ada salahnya jika sedikit berbincang dengan pria itu selagi menunggu obat tidurnya bereaksi.


Satria yang baru keluar dari kamarnya karena ingin ke kamar mandi, tanpa sengaja melihat Emma dan Vian yang tengah bicara berdua. Namun panggilan alamnya itu sudah tak bisa lagi menunggu sehingga mau tidak mau, dia harus segera menunaikan panggilannya itu. Setelah hampir lima belas menit, dia akhirnya keluar setelah menyelesaikan urusannya dan berniat untuk segera melanjutkan tidur malamnya lagi. Tapi langkahnya terhenti begitu dia melihat Emma dan Vian yang masih belum selesai mengobrol. Dia ingin pergi, tapi ucapan Ares untuk terus bersama gadis itu kembali terngiang dikepalanya sehingga membuat dia mengurungkan niatnya untuk kembali tidur dan mengamati mereka berdua dari balik tembok yang memisahkan teras dengan area di


dalam rumah.


“Apa obatmu habis sampai kau belum tidur?”


Dari tempatnya berdiri, Satria bisa dengan jelas mendengar kecanggungan dari cara Vian berbicara. Tapi setelah itu, suasana diantara mereka seketika menjadi sunyi. Dia tak mendengar Emma menjawab pertanyaan Vian bahkan gadis itu bahkan tak mengatakan satu kata pun.


Setelah beberapa menit mereka saling diam, akhirnya Vian mulai bersuara. Dia menanyakan beberapa hal pada Emma, yang sama sekali tak dijawabnya dan membiarkan pria itu berbicara sendiri. Satria yang mendengarnya pun mulai kesal dengan sikap Emma yang sangat tak peka dengan suasana mereka yang sangat bagus. Namun tiba - tiba Vian bertanya tentang kondisi gadis itu setelah kematian Pradigta. Dan betapa terkejutnya Satria saat dia mendengar bahwa gadis itu tak merasakan apa – apa bahkan setelah melihat kematian pria itu langsung di depan matanya. Rasa penasaran Satria pun juga muncul setelah mendengar Emma mengatakan bahwa tak ada yang berubah setelah semua kejadian itu.


“Oleskan ini ke lukamu”


Dari pantulan sinar bulan yang mempertegas bayangan mereka berdua, Satria bisa melihat gadis itu menyodorkan sesuatu pada Vian. Tapi Vian hanya tertunduk dan tak merespon ucapannya.


“Oleskan seperti ini, dan lakukan setiap hari”


Satria kembali memperhatikan bayangan gadis itu yang tiba – tiba terlihat seperti menyentuh wajah Vian. Dan setelahnya, terdengar suara pelan isak tangis seseorang yang terus menerus meminta maaf. Namun Emma hanya diam dan terus mengoleskan salep untuk luka di wajah Vian. Tanpa kata, dia membiarkan pria itu terus menangis menumpahkan semua perasaannya.