PEEK A BOO

PEEK A BOO
PENYUSUP



Dengan hati – hati, Emma membuka pintu gerbangnya yang sudah tak terkunci. Namun langkahnya tiba – tiba berhenti dan Emma terdiam dengan wajahnya yang datar saat dia melihat anak laki – laki dan perempuan yang terbaring di dekat pintu rumahnya. Tubuh mereka penuh luka dan bahkan ada luka tembak di bahu anak laki – laki itu. Namun dia hanya menatap mereka yang mengerang menahan sakit. Saat salah satu dari  mereka menyadari kehadirannya, dia langsung memohon padanya untuk membantu mereka.


“Kumohon tolong kami.. tolong adikku. Jika tidak, dia akan mati...”


“Kumohon nona... hanya dia keluargaku...”


“Aku akan lakukan apapun... bekerja untukmu sampai aku mati pun tak masalah..”


Perempuan itu memohon lebih keras. Air mata pun semakin deras membasahi wajahnya saat dia mendengar adiknya mengerang kesakitan. Tapi Emma tetap diam dan hanya menatap mereka. Dengan keadaannya yang seperti ini, tak bisa dipungkiri bahwa dia selalu menaruh curiga pada semua orang. Emma merasa tak ada kepentingan baginya untuk menolong mereka terlebih sekarang dia bukan lagi seorang dokter. Dengan cuek, dia berjalan melewati mereka tanpa menoleh sedikitpun meski tangis perempuan itu semakin keras. Tapi langkahnya terhenti saat dia mendegar perempuan itu berteriak padanya.


“Kita sama – sama manusia! Jadi kau harus menolong kami!!”


Mendengar ucapannya, Emma berubah fikiran dan berniat untuk membawa mereka masuk ke dalam rumahnya. Tapi sebelum itu, dia menyebut nama orangtuanya dan Pradigta untuk melihat respon mereka terhadap kedua nama itu. Tapi tak satupun dari mereka yang menunjukkan reaksi bahkan mereka tak menunjukkan pergerakan kecil yang mengarah pada keterkejutan mereka. Setelah yakin bahwa mereka tak ada hubungan dengan semua permasalahannya, dia mengizinkan perempuan itu untuk membawa adiknya masuk. Meskipun dengan langkahnya yang tertatih karena masih harus membawa adiknya, dia tetap merasa senang dan terus mengikuti Emma memasuki rumah.


“Tunggu disana, aku hubungi rumah sakit terdekat”


Emma menunjuk ke salah satu sofa di ruang tamunya, menyuruh mereka untuk istirahat dulu. Namun, perempuan tadi terkejut dan langsung menolak dengan keras. Dia meminta Emma untuk tidak membawa mereka ke rumah sakit. Dia merasa jika dengan keadaan seperti itu mereka dibawa ke rumah sakit, hanya akan menimbulkan banyak pertanyaan dan akhirnya polisi akan terlibat. Emma bingung mendengar permintaan aneh perempuan itu.


“Hm... berikan saja aku pisau. Akan kukeluarkan sendiri pelurunya..”


Dengan frustasi, perempuan itu tak memiliki pilihan lain selain melakukannya sendiri di rumah Emma. Tapi bukan pisau yang Emma berikan, melainkan beberapa peralatan medisnya karena menurutnya adalah salah jika melakukan hal semacam itu hanya dengan pisau daur. Melihat semua alat yang dimilikinya, perempuan itu bertanya apakah Emma seorang dokter dan langsung menatap Emma dengan penuh harap dan wajah memohon.


“Aku sudah berhenti”


Tak begitu mengerti maksud perkataannya, perempuan itu tetap memaksa Emma untuk melakukan prosedurnya.


“Aku tak punya obat bius. Biarkan rumah sakit yang menangani”


Sekali lagi Emma menolak permintaannya. Meskipun begitu, dia tetap memaksa Emma untuk segera melakukan tindakan. Dan tangisannya semakin menjadi saat melihat adiknya mulai tak sadarkan diri. Merasa tidak punya pilihan lain, Emma memenuhi permiantaannya. Dan dia terpaksa melakukannya tanpa obat bius.


“Setelah ini dia akan demam. Kau bisa mengompresnya nanti. Aku akan ke apotek beli beberapa barang”


Setelah semua prosedurnya selesai, Emma segera pergi ke apotek 24 jam mengendarai sepedanya.


Perempuan itu masih menangis melihat kondisi adiknya yang masih tertidur lemah. Tapi mata anak laki – laki itu perlahan terbuka mendengar tangisan saudarinya.


“Hah.... Aku belum mati, kenapa kau menangis sampai seperti itu?”


Itu kalimat pertama yang diucapkannya saat melihat mata perempuan itu sembab karena menangis. Emosi dengan perkataannya, dia langsung memukul kepala adiknya itu dan memarahinya. Dia bahkan berteriak dan sempat mengucapkan beberapa kata kasar. Namun air matanya tetap mengalir meskipun dia marah dan memukulnya beberapa kali.


“Dasar gila! kau pikir apa yang akan kulakukan kalau kau sampai mati? aku Cuma punya kau...”


Mendegar perkataan saudarinya, anak laki – laki itu hanya bisa menunduk. Meskipun begitu, dia sama sekali tak menyesal. Karena baginya, dia ajuga saudara dan keluarga satu – satunya. Dan menurutnya sudah tugas lelaki untuk melindungi perempuan. Tapi dia hanya diam, terlalu malas untuk berdebat dengan kakaknya. Dia lebih memilih untuk memasukkannya ke telinga kanan dan langsung membuangnya dari telinga kiri.


Sudah setengah jam sejak Emma pergi ke apotek. Dan akhirnya dia kembali dengan beberapa obat dan perban. Melihat perempuan tadi terlihat panik, dia menduga bahwa adiknya sedang demam dan segera memberikan beberapa obat yang dibawanya pada si adik yang mulai berkeringat dingin. Setelah keadaan tenang, Emma duduk sendiri di ruang makan menikmati segelas susu hangat. Walaupun waktu sudah menunjukkan jam dua malam, Emma masih tak bisa tidur. Dari arah ruang tamu, dia melihat anak perempuan tadi dengan ragu berjalan menghampirinya. Dia mencoba menyapa Emma yang menatapnya dari tadi. Walaupun dia yakin bahwa usia mereka tak jauh berbeda, dia tetap merasa tatapan Emma menakutkan. Namun Dengan percaya diri, dia berusaha mengucapkan rasa terimakasihnya pada Emma yang telah membantu mereka. Merasa bahwa dia setidaknya harus memperkenalkan diri terlebih dahulu sebagai bentuk sopan santun padanya.


“Namaku Viona dan dia adik kembarku Vian”


“Usia kami delapan belas tahun ini. Tapi maaf aku tak bisa cerita lebih lebih dari ini”


Emma merasa tak melakukan hal hebat apapun untuk menerima ucapan terimakasihnya. Namun dia hanya diam mendengar ceritanya. Bahkan saat Viona memintanya untuk mengijinkan mereka tetap tinggal disana untuk beberapa hari sampai keadaan mereka membaik, Emma tetap diam. Dan seketika suasana diantara mereka menjadi canggung saat diantara mereka tak ada lagi yang berbicara.


“Namaku Emma”


Setelah beberapa saat Emma tiba – tiba berdiri dan berbicara sambil menuju kamarnya tanpa menoleh pada Viona yang masih duduk di ruang makan. Mendengar ucapan Emma, Viona tak mengerti maksudnya. ‘Itu artinya dia mengijinkan atau tidak?’ pikirnya. Tapi menurutnya selama dia tak mengatakan kata tidak, itu artinya adalah iya.


Melihat kearah jam di kamarnya, Emma sadar bahwa dia sudah melewatkan jam tidurnya. Lalu bergegas meraih botol obat kecil di laci meja samping tempat tidurnya dan mengeluarkan dua pil kecil dan segera meminumnya. Tak membutuhkan waktu lama, Emma langsung tertidur setelah merebahkan tubuhnya di atas kasur.