PEEK A BOO

PEEK A BOO
KEPUTUSAN



Sebuah ruangan berbentuk lingkaran, dengan dinding kaca diseluruh sisinya. Tidak terlalu luas, mungkin hanya bisa menampung setidaknya lima orang dengan banyaknya peralatan di dalamnya. Lembaran kertas, komputer, tumpukan dokumen, bahkan beberapa peralatan kimia tampak memenuhi meja berbentuk seperti cincin besar disana. Seperti ruang pengawas, ruangan itu berada di tengah ruangan yang lebih besar. Dengan peralatan kimia yang lebih banyak dan lebih lengkap. Tempat ini tampak seperti laboratorium impian banyak peneliti. Pasalnya, banyak peralatan yang belum tentu bisa mereka temukan di tempat lain.


Beberapa orang bekerja dengan peralatannya masing – masing, mencatat dan mengamati. Tapi hanya ada dua orang di dalam ruang kaca. Seorang wanita tertidur di meja, dan seorang lagi pria paruh baya terlihat masih sibuk dengan dokumen – dokumen di depannya. Mereka terlihat sangat lelah dengan kantung mata yang terlihat jelas di wajahnya.


‘drrrrrrrt ... drrrrrt ... . ’


Suara handphone yang bergetar di atas meja, membuat perhatian kedua orang itu langsung tertuju pada asal suara. Wanita tadi langsung bangun, dan sedikit terkejut melihat siapa yang menelfonnya sepagi itu. ‘M.1’. Melihat nama itu, dia segera menjawab panggilannya.


“Hmm ... ok. Jangan lupa tulis diary-mu”


“ ... bye ... . ”


Pembicaraan yang singkat sebelum panggilan berakhir.


“Apa anak itu nggak pulang lagi?”


Tanya lelaki yang sedari tadi melihatnya berbicara di telfon dan wanita itu hanya mengangguk malas. Ya, mereka orang tua Emma. Alexandra dan Albert Jackson. Sikap gila kerja mereka membuatnya jarang berada dirumah. Mereka lebih banyak menghabiskan watunya di laboratorium dan berkutat dengan data dan penelitiannya. Bahkan ada waktu dimana mereka meninggalkan Emma yang baru 8 tahun sendirian di rumah selama dua hari, tanpa makanan dan membuat Emma kelaparan di rumah. Dan kali ini, mereka sudah empat hari berada di laboratorium tanpa kembali kerumah.


“Hei Albert. Apa kau sudah temukan kesalahannya?”


Alexandra bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer di depannya. Albert hanya diam, mendengar pertanyaan istrinya itu. Sama sepertinya, Albert tak bisa menemukan apa yang salah dengan penelitian yang mereka lakukan selama ini. Perubahan formula sudah mereka lakukan berkali – kali. Tapi tak ada yang berhasil memuaskannya.


“Sudah kubilang. Kita harus meneliti ‘dia’ secara langsung”


Suara seseorang yang tiba – tiba masuk, membuyarkan konsentrasi mereka. Pria berkaca mata memasuki ruang kaca dan menyapa pasangan suami istri itu. Dengan wajah tak perduli, dia berjalan melewati mereka dan duduk menyilangkan tangannya. Tatapannya yang menyebalkan seakan mengatakan pada mereka, bahwa mereka hanya orang tua bodoh yang akan segera habis masa pakainya. Mereka bertiga memang tak pernah akur dan sering berbeda pendapat tentang banyak hal.


“Apa kau mau merusak ‘dia’? kau mau melakukan semua ini dari awal jika terjadi sesuatu?”


“Hah ... anak muda sekarang sangat ceroboh dan tak tahu diri ... . ”


Alexandra menimpali perkataan suaminya dengan helaan nafas panjang. Mendengar ucapan mereka, Zayan, merasa terhina. Dia mengepalkan tangan, menahan diri untuk tak terpancing omongan mereka. Tapi Alexandra terus menatapnya dengan tatapan yang merendahkan.


‘BRAAKK!’


Zayan menggebrak meja penuh emosi. Darahnya mendidih, tak tahan dengan hinaan mereka. Albert hanya melihatnya dan Alexandra bahkan tak perduli dengan keributan yang dibuatnya. Karena usianya yang masih muda, harga diri dan obsesinya masih sangat tinggi. Tergores sedikit saja, akan meninggalkan bekas yang sangat dalam


di hidupnya.


“Apa ada perkembangan baru?” tanyanya


“Maaf pak, kami masih berusaha”


Mendengar jawaban Albert, pria itu murka. Wajahnya tampak seperti algojo yang siap menghukum pancung para  pembuat dosa. Mereka hanya diam, saat pria itu menumpahkan semua kekesalan, amarah, dan cacimakinya pada mereka. Tapi Zayan tersenyum, puas karena Albert dan Alexandra menerima balasannya. Meskipun bukan dari tangannya sendiri, setidaknya itu sedikit mengangkat perasaan sakit hatinya.


“Saya sudah bilang pada mereka pak, kita semua memang harus bekerja lebih dari sekedar maksimal untuk si Bos. Lagi pula beliau orang hebat. Kita tidak akan menyesal, jika sedikit berkorban untuknya.”


Zayan mengatakannya dengan percaya diri. Dia yakin, meskipun selama ini si Bos tak pernah menunjukkan wajahnya, dia pasti berada di dekat pria itu, memperhatikan mereka dalam diam. Dengan semua sanjungan yang selalu dia ucapkan selama ini, Zayan yakin bahwa si Bos akan menjadi batu pijaknya untuk bisa berdiri di puncak. Tak memperdulikan ucapan manis Zayan, pria itu menatap Albert, meminta penjelasannya sebagai ketua tim dalam proyek ini. Ditatap seperti itu, Albert lansung mengambil beberapa lembaran kertas di dekatnya. Dia memberitahukan, bahwa tidak ada peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini karena hampir semua objek percobaan mereka mati hanya beberapa saat setelah tahap pertama , sehingga tak banyak data yang bisa mereka dapatkan. Dia juga melaporkan kabar baik, jika sampel 78 sudah siap untuk dilakukan pengujian untuk efek samping.


Tapi kabar baik itu tak cukup baik untuk membuat bos mereka senang.


“Hei!! Kau pikir kita keluar uang hanya untuk ini?”


“Segera beri kami kabar baik. Jika tak mau nyawa kalian berakhir sia – sia!!”


Pria itu berbicara dengan nada yang masih penuh emosi sebelum memutus jaringan interaksi mereka begitu saja. Mereka, Albert dan Alexandra hanya menghela nafas panjang, tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Meskipun bukan yang pertama, namun mereka merasa bahwa ini peringatan terakhir dari bos mereka.


“Beri aku tiga hari. Jika aku kembali tanpa solusi ... aku akan membawanya kemari ... .”


Sedikit keraguan terdengar dalam ucapannya. Zayan terkejut dengan apa yang Albert katakan, sampai dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Dengan mata penuh tekad, Albert langsung menyambar jas hitamnya yang tergeletak diatas meja. Dan terburu - buru pergi meninggalkan laboratorium dengan Alexandra yang mengikutinya dari belakang. Melihat kepergian mereka, Zayan tersenyum dan tertawa keras. Dia merasa puas melihat si tua Albert pergi menjilat ludahnya sendiri.


Albert dan Alexandra masih duduk diam di dalam mobil setelah tiba di rumahnya. Hujan yang cukup deras, mengisi kesunyian diantara mereka. Alexandra menatapnya, melihat wajah suaminya yang terdiam dengan tatapan kosong. Kali ini, dia sama sekali tak tahu apa yang pria itu fikirkan. ‘tiga hari? Kenapa kau memohon sama si Penjilat itu? padahal kau sudah tau dari dulu bahwa itu cara tercepat selesaikan masalah ini’ Alexandra tak mengerti perkataan Albert sebelum mereka meninggalkan laboratorium tadi.


“Kau jadi begini apa karena ingat kawanmu itu!?”


“SHUT UP!!”


Mendengar pertanyaan Alexandra, Albert langsung menatapnya tajam. Dia tak suka jika ada yang membicarakan masalah itu. Tapi Alexandra tak mau kalah. Dia membalas dengan tatapan yang sama tajamnya. Tak ingin berdebat dengan wanitanya, Albert segera keluar meninggalkan Alexandra yang masih diam ditempatnya. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan. Menatap dengan lekat, seperti elang yang mengincar mangsanya.


“Kau yakin mereka hanya berdua? ... akan kupastikan mereka membusuk di neraka!!"


Suara lelaki yang terkesan berat, menahan emosi dan air matanya saat berbicara dengan seseorang dibalik telefon. Tak ingin semakin larut dalam emosi, dia segera beranjak dari tempatnya. Melangkah perlahan dan mendekati mangsanya, tak perduli dengan guyuran hujan yang semakin deras.