
Sejak kepulangannya bersama Emma dan yang lainnya, Ares sudah mengunci diri di ruang kerjanya menyelesaikan segunung pekerjaan yang sempat tertunda saat dia pergi menemui Emma kemarin.
“Ingat. Mulai sekarang, apapun yang terjadi di rumah ini jangan sampai ada pihak luar yang tahu. Termasuk kakek”
“Ah ... dan tambahkan susu hangat dalam setiap menu”
Ares yang kini masih duduk di ruang kerjanya sedang berbicara dengan seorang pria tua, kepala pelayan di kediamannya. Dia menyuruh pria tua itu untuk merahasiakan keberadaan Emma dan yang lainnya selama mereka berada disana. Dia juga menyuruhnya untuk memperhatikan setiap kebutuhan mereka, terutama kebutuhan Emma. Namun saat kepala pelayan itu hendak bertanya tentang siapa tamunya itu sampai keberadaan mereka harus menjadi rahasia, Ares langsung menyela dan melarang siapapun mencari tahu tentang mereka. Mengerti maksud tuannya, kepala pelayan itu langsung menutup mulut dan berbalik pergi tanpa bertanya lebih jauh.
Hari sudah cukup siang saat Ares akhirnya keluar dari ruang kerjanya. Karena dia tak melihat Emma, Ares pun memutuskan untuk menyapanya terlebih dahulu. Dia melangah perlahan ke arah kamar gadis itu, tak ingin membuatnya terkejut dengan suara keras kakinya jika dia berlari.
Di sisi lain, Emma yang memang tak tidur semalam terlihat hanya duduk di lantai sambil bersandar di tempat tidur dengan beberapa buku yang tertumpuk di sisi kirinya. Dengan tenang, dia membaca buku tebal yang masih tersisa beberapa halaman di tangannya. Dalam ruangan itu memang terlihat ada banyak buku dengan berbagai judul dan disiplin ilmu. Melihat hal itu, jelas membuat rasa ingin tahu Emma meronta sampai tanpa sadar dia sudah menyelesaikan beberapa buku dalam satu malam.
Namun perhatiannya seketika teralihkan saat dia tiba – tiba mendengar suara seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dia sebenarnya malas untuk berdiri dan membuka pintu, tapi saat mendengar suara Ares memanggilnya dia merasa tak bisa menolak dan terpaksa menutup buku yang sedang dibacanya itu.
“Emma, apa kau sudah bangun?”
Dengan perasaan semangat, Ares berdiri di depan pintu kamar Emma dan menunggu gadis itu keluar. Dia merasa tak sabar untuk mengobrol dan menghabiskan waktunya lagi dengan Emma. Karena saat dia melihat senyum kecil Emma malam itu, dia yakin bahwa Emma sudah mulai membuka hati dan ingatan tentang dirinya.
Namun harapannya hanya berbuah kekecewaan saat melihat Emma membuka pintu dan menatapnya dengan wajah datar bahkan dia tak menjawab sapaannya tadi. Meskipun begitu, Ares tetap tak bisa menyalahkan Emma jika dia memang tak ingat tentang dirinya dan hanya bisa menganggap bahwa itu mungkin yang terbaik jika saat ini Emma benar – benar tak ingat tentangnya. Namun meskipun begitu, hatinya tetap saja merasa sakit setiap kali dia melihat Emma yang menatapnya seperti orang asing.
Kini mereka semua sudah berkumpul di meja makan tak terkecuali Satria yang juga ikut tinggal di rumah Ares. Selagi mereka menikmati sarapan, Ares mengatakan bahwa dokter yang dijanjikannya waktu itu datang nanti sore untuk menemui Emma. Vian dan Viona yang juga sudah tahu perihal dokter untuk Emma, berharap bahwa kali ini keadaan gadis itu benar – benar bisa membaik.
“Setelah ini, aku dan Satria akan pergi sebentar”
“Jika kalian butuh sesuatu, bicaralah padanya”
Setelah menyelesaikan makanannya, Ares menunjuk kepala pelayan yang sedari tadi berdiri di belakangnya sebelum akhirnya dia dan Satria pergi. Setelah mendengar pesan Ares, mereka bertiga melihat ke arah orang yang dibicarakan tadi dan merasa tak asing dengan wajahnya.
“Anda bisa memanggil saya pak Ko”
“ ... Dan saya ayah dari Andre, supir tuan Ares”
“Keluarga saya memang sudah melayani keluarga Johnson sejak mereka tinggal di Indonesia”
Dengan senyum ramahnya, pria tua itu berbicara seakan tahu rasa penasaran di wajah mereka. Dan perkataannya itu jelas membuat mereka terkejut karena ternyata hal seperti itu bukan hanya ada di novel ataupun film, tetapi memang benar ada dalam kehidupan nyata dan mereka melihatnya sendiri. Setelah mendengar pak Ko memperkenalkan diri, mereka juga secara bergantian memperkenalkan diri dan setelah itu Emma langsung pamit kembali ke kamarnya karena dia ingin cepat melanjutkan membaca buku yang harus tertunda tadi. Mengikuti Emma, Vian dan Viona juga segera pergi menuju kamar mereka masing – masing.
...
Saat tiba waktunya makan malam, Emma dan si kembar sudah duduk bersama di meja makan. Dengan banyaknya hidangan yang ada, mereka tahu bahwa Ares dan Satria akan segera datang.
“Bagaimana harimu?”
Ares yang tiba – tiba muncul langsung menyapa Emma sebelum dia duduk di kursinya. Mengikuti Ares, Satria dan seorang pria muda yang datang bersama mereka juga duduk di kursi yang masih kosong.
“Apa urusanmu sampai menanyakan hal itu?”
Dengan ketus, Vian menyela pembicaraan Ares. Dia tak suka dengan bagaimana pria itu terlihat berusaha ikut campur dalam kehidupan Emma. Meskipun Ares merasakan ketidaksukaan dalam cara bicara Vian padanya, dia tak perduli dan tetap melihat Emma.
“Apa kau suka bukunya?”
Tanpa memperdulikan Vian, Ares terus bertanya pada Emma tentang buku – buku yang memang sengaja dia siapkan karena dia tahu gadis itu suka sekali membaca. Beberapa saat Emma hanya terdiam sebelum akhirnya dia menjawab meskipun masih dengan cara bicaranya yang terdengar sedikit ketus. Setelah itu, Emma langsung mengalihkan pandangannya pada pria muda yang baru dilihatnya itu. Dia penasaran dengan pria berkulit putih yang sedari tadi memperhatikannya itu, dan memberikan senyum ramahnya saat menyadari Emma yang sedang menatapnya.
“Ah ... dia Zen, dokter yang kujanjikan padamu”
Ares menyadari Emma melihat pria yang datang bersamanya dan menjelaskan bahwa mulai besok, pria itulah yang akan melakukan konseling dengannya. Setelah mengetahui siapa pria itu, Emma langsung menenggak habis segelas susu di depannya dan segera kembali ke kamar. Melihat itu, Vian berniat mengikuti Emma namun Viona dengan cepat mencegahnya.
“Apa kau mau ikut masuk ke kamarnya?”
Dengan tatapan tidak percaya, Viona bertanya tanpa memperdulikan semua telinga yang bisa mendengarnya. Mendengar pertanyaan Viona, Vian pun sadar dan kembali duduk.
Melihat Emma yang pergi begitu saja, membuat Ares tak nyaman. Dia sedikit sedih dengan sikap Emma yang kembali dingin padanya. Namun dia berusaha menahan itu semua, tak ingin siapapun tahu tentang apa yang dia rasakan. Tapi tanpa dia sadari, Satria melihatnya dengan tatapan iba seakan dia tahu apa yang sedang sahabatnya itu rasakan.
Setelah makan malam, Ares tampak tak bersemangat saat meninggalkan meja makan. Dia langsung masuk ke kamarnya dan menginginkan waktu untuk sendiri bahkan saat Satria menawarkan diri untuk menemaninya, dia menolak dengan mengatakan bahwa dia ingin cepat tidur.
“Tak bisa begini!”
Dengan emosi, Satria merasa sudah tak bisa mentolerir sikap Emma saat melihat sahabatnya dan bergegas menuju kamar gadis itu di lantai dua. Dia mengetuk keras pintu kamar Emma, namun tak ada jawaban sampai akhirnya dia terpaksa menggunakan kunci master yang dia pinjam dari pak Ko.
“Hah ... Gak punya otak nih anak”
Satria sedikit terkejut melihat Emma yang ternyata sedang duduk di lantai membaca buku. Dia tak habis pikir dengan betapa tak perdulinya dia dengan orang lain bahkan dengan dirinya yang masuk secara tiba – tiba.
“Loe!”
Satria dengan cepat masuk ke dalam kamar Emma dan menarik gadis itu, memaksanya untuk berdiri sampai membuat gadis itu hampir terjatuh. Namun Emma menatapnya dengan tatapan biasa, tanpa menunjukkan perasaan takut ataupun terkejut seakan meremehkannya dan hal itu semakin membuat Satria geram bahkan hampir memukulnya jika saat itu Vian tak datang menghajarnya lebih dulu.
Vian yang mendengar suara ribut dari kamar Emma yang memang berdekatan dengan kamarnya, merasa tak nyaman dan segera menuju tempat gadis itu. dan betapa terkejutnya dia saat melihat Satria yang sudah mengarahkan tinjunya pada Emma. Menyadari Emma dalam bahaya, membuat tubuh Vian langsung bereaksi dan dengan cepat memukul tepat di wajah Satria sampai membuat pria itu jatuh.
Suara mereka sangat ribut sampai membuat Ares, Viona, Zen bahkan pak Ko terkejut dan berlari menuju asal suara. Mereka semua terkejut melihat kekacauan itu dan langsung berusaha memisahkan Satria dan Vian yang semakin menjadi bahkan Ares sampai harus memukul mereka berdua untuk menghentikannya. Setelah menerima pukulan Ares, Satria langsung menoleh ke arah Emma dan semakin emosi saat melihat gadis itu sama sekali tak merespon setelah semua yang terkjadi. Ares yang menyadari emosi sahabatnya itu, langsung menarik Satria keluar dan mengajaknya berbicara berdua di ruang kerjanya.
“Aku tahu emosimu tak mudah terpancing seperti ini”
“Kau kenapa?”
Ares berusaha memahami Satria yang terlihat masih emosi tapi, dia hanya diam dan tak menjawabnya. Dia masih kesal jika mengingat bagaimana wajah gadis itu tadi. Dan selama beberapa menit, mereka berdua hanya saling diam sampai akhirnya Satria mulai berbicara.
“Gue sebel lihat loe jadi bodoh!”
“Gue tahu dia adik loe, tapi sikapnya sudah kelewatan!”
Dengan suara yang masih emosi, Satria mengatakan kekesalannya pada Ares yang dengan bodohnya melembut
di depan gadis seperti dia.
“Kau kan tahu, dia ... .”
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Satria menyela Ares dengan mengatakan bahwa dia tahu dan sangat paham dengan apa yang ingin Ares katakan. Namun dia sungguh harus melakukan itu jika masih ingin mempertahankan kewarasannya. Mendengar omelan Satria padanya, membuat Ares berpikir ulang bahwa dia masih memiliki banyak waktu untuk Emma dan memutuskan untuk berjalan perlahan mengikuti alur gadis itu.