
Selama dua minggu ini, Emma menghabiskan waktunya membaca buku di kamar rawatnya dan sesekali berkeliling rumah sakit sekedar menghilangkan rasa bosannya. Kini Emma sudah bisa melakukan aktifitasnya seperti biasa, meskipun masih tak bisa melakukan hal yang terlalu berat. Dokter dan perawat yang menanganinya pun cukup terkejut dengan proses penyembuhannya yang sangat cepat. Karena jika melihat kondisinya saat itu, bisa butuh waktu berbulan – bulan untuk pulih. Memang, sejak kecil jika Emma sakit, tak butuh waktu lama baginya untuk sembuh. Dan Emma beranggapan bahwa hal itu sudah menjadi kemampuan alami manusia untuk bertahan hidup. Meskipun sekilas dia sudah sembuh, tapi Profesor Rizwan tetap melarangnya bekerja dan dia berada dalam pengawasannya langsung.
Kemarin Emma menerima surat dari kejaksaan, yang memberitahukan tentang jadwal sidang kasus pembunuhan orang tuanya hari ini, dan meminta kehadirannya sebagai saksi. Dia sempat berbicara dengan Profesor Rizwan tentang hal ini. Awalnya dia menolak, tapi setelah memikirkan tentang perasaannya, dia memberi izin selama dia bersedia didampinginya sampai persidangan selesai. Dia khawatir dengan gadis di depannya itu. Sudah lama dia mengenalnya, bahkan dia sudah menjadi mentornya sejak dia masih kuliah kedokteran dulu. Sampai – sampai Profesor Rizwan bertemu dengannya sesering dia bertemu dengan istrinya sendiri. Hal ini membuat Rizwan sudah menganggapnya seperti putrinya kandungnya sendiri dan membuatnya merasa ikut bertanggung jawab setelah orang tua pergi.
“Tolong tangani semua operasiku hari ini. Aku ada urusan penting”
Profesor Rizwan meminta bantuan salah satu kolega dokternya di unit bedah untuk menggantikannya dalam beberapa jadwal operasinya. Dan langsung berlalu setelah permintaannya diterima. Dia lalu menggunakan lift menuju kamar VIP di lantai atas tempat Emma dirawat. Tanpa mengetuk pintu, Rizwan langsung membukanya dan menerobos masuk. Melihat Emma yang sudah siap, Rizwan mengajaknya untuk berangkat lebih awal ke pengadilan, menghindari kemacetan pagi kota Jakarta yang semakin parah.
Perjalanan yang cukup lama. Khawatir dengan keadaan Emma, Rizwan hanya bisa menyetir mobilnya dengan kecepatan yang tidak lebih dari 40km/jam. Masih ada sekitar satu jam sampai proses pengadilannya dimulai, setelah mereka sampai di pengadilan. Emma dan profesor Rizwan lebih memilih untuk menunggu dan duduk di bangku taman.
“Apa masih terasa sakit?”
Profesor Rizwan tiba – tiba bertanya pada Emma, berusaha menghilangkan kecanggungan mereka. Kali ini tanpa senyumnya, Emma hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Profesornya itu. Untuk beberapa saat mereka kembali diam, dan melihat merpati yang mulai berkumpul mencari remah makanan yang berjatuhan. Tapi perhatian mereka teralihkan saat bus tahanan melewati gerbang masuk gedung pengadilan. Mereka memperhatikannya sejak bus itu masuk sampai berhenti di depan pintu samping gedung, dan melihat seseorang memakai baju tahanan turun dari sana. Rizwan khawatir dengan perasaan Emma setelah melihat orang yang sudah membunuh orang tuanya, meskipun hanya sebentar. Tapi reaksi Emma sangat diluar dugaan. Rizwan heran dengannya yang terlihat tak perduli dengan hal itu. dia melihat tatapan matanya yang dengan tenang memandangi merpati yang terus menikmati makanannya. Rizwan merasa ada yang berbeda dengannya, tapi dia tak tahu apa itu. Dia hanya bisa berharap bahwa muridnya itu akan selalu menerima kebahagiaan dalam hidupnya.
Sementara itu, di ruang tunggu pengadilan, Pradigta duduk tenang menghisap rokok yang pengacaranya berikan tadi. Sudah lama dia tak merasakan ketenangan semacam ini. Selain pengacaranya, dia juga ditemani ketua tim disana. Dia berdiri menggantikan para petugas yang menjaga Pradigta tadi setelah dia memerintahkan mereka untuk pergi.
Pengacaranya memberikan penjelasan panjang lebar tentang apa yang akan terjadi nanti di persidangan. Dia juga menyuruhnya untuk diam dan menolak semua tuduhan nanti. Tapi semua penjelasan itu hanya dianggapnya angin lalu. Bahkan dari semua yang dibicarakannya, hanya ada satu hal yang masuk ke otaknya. Big Daddy. Hanya nama itu yang ditangkapnya. Dan dia tersenyum mengangguk mendengarnya, seakan mengerti arah dari semua perkataan pengacaranya tadi. Pradigta sudah tak perduli dengan apa yang terjadi setelah ini. karena sekarang dia sudah terbebas dari rantai yang selama ini membelenggu hidupnya. Bahkan jika dia harus mati saat ini juga, dia tak keberatan.
Pembicaraan mereka seketika berhenti, saat seorang lelaki secara tiba – tiba memasuki ruangan. Dengan kasar, dia membuka pintu dan langsung menuju kearah Pradigta tanpa menghiraukan ketua tim dan pengacara disana. ‘Astro’. Hanya nama itu yang terfikir oleh mereka saat melihat wajahnya. Mereka cukup kaget, tak tahu apa yang harus mereka lakukan saat melihatnya berdiri disana. Pasalnya, dia orang terdekat Big Daddy, orang yang memberikan mereka perintah.
“Kalian berdua keluar. Gue mau bicara sama dia”
Dengan nada tegas dan tanpa basa – basi, dia menyuruh ketua tim dan pengacara itu untuk pergi. Wajahnya berkernyit, tatapannya tajam. Jelas sekali dia menatap Pradigta dengan penuh emosi. Tapi Pradigta hanya tersenyum kecil melihatnya, dan lanjut menghisap sisa rokok yang sudah semakin pendek di tangannya. Sadar, bahwa situasi ini bisa berbahaya, ketua tim dan pengacara segera pergi meninggalkan mereka berdua.
“Tria, mau bicara apa kau?”
“Nggak tau”
Pradigta menjawab pertanyaannya dengan tegas. Tak gentar dengan aura intimidasinya.
“Ok. Kalo gitu, loe kenal Emma kan?”
Mata Pradigta menunjukkan sedikit keterkejutannya saat mendengar nama Emma keluar dari mulut pemuda itu. Meskipun dia berusaha tak bereaksi dengan ucapannya. Tapi hal itu sudah terlambat baginya. Walaupun hanya sepersekian detik, Satria sempat melihat reaksinya saat mendengar nama itu. Dia yakin bahwa Pradigta tahu sesuatu tentang gadis yang dimaksudnya. Satria melangkah, semakin mendekatkan dirinya pada Pradigta.
“BRAKK!!” dengan keras dia tiba – tiba menggebrak meja kayu di depan Pradigta. Tapi dia tetap tak bergeming.
“Tuan Satria Nugraha.... kau tanya padaku karena Ares tak memberitahumu kan?”
“Kalau begitu, jangan harap mulutku ini akan menjawab pertanyaanmu”
Pradigta menatapnya dan berbicara tanpa ragu. Dia tak takut meskipun Satria terus menatapnya dengan marah. Seakan kekuatan mental mereka sedang diuji, mereka terus saling tatap. Satria terus menatapnya dengan rasa jengkel yang semakin menjadi, terlebih saat Pradigta menghisap rokoknya dan menghembuskan asap ke wajahnya. Dia tahu bahwa anak itu membenci hal ini, dan sengaja menggodanya. Tak tahan, Satria terbatuk dan segera melangkah mundur menghindari kepulan asap rokok di wajahnya.
“Ah sial!! Udah gue hajar loe kalo bukan karena hubungan loe sama si Ares!”
Dari tempatnya berdiri sekarang, Satria tetap menatapnya dengan diam. Berharap dia berubah pikiran dan mau memberitahunya sesuatu, meskipun itu hal kecil tentang anak itu. Tapi Pradigta tak memperdulikannya dan lanjut menghisap sisa rokok ditangannya.
“Ah! Menyebalkan!!”
Satria tak tahan dengan aroma asap rokok yang semakin kuat. Dengan perasaan kesal, dia segera pergi tanpa mendapatkan informasi yang diinginkannya. Dan Pradigta tersenyum puas, berhasil membuat bocah itu pergi dengan wajah kesal.