
Keadaan di instalasi gawat darurat tampak lebih kacau dari biasanya. Para dokter dan perawat sibuk berlarian memeriksa setiap korban kecelakaan lalu lintas yang baru terjadi. Suara langkah kaki mereka tertutup jeritan dan erangan kesakitan para korban. Waktu yang hampir menunjukkan waktu tengah malam pun tak membuat mereka berfikir untuk duduk beristirahat walaupun hanya sekedar untuk mengatur nafas mereka yang mulai terengah - engah.
“Lakukan rontgen dan hubungi Dokter Emma untuk operasi sekarang!”
“Tolong siapkan ruang operasi dan hubungi bagian anestesi!”
“Lakukan transfusi dan pasang infus!”
Suara para dokter yang saling bersahutan memberikan instruksi penanganan pada para perawat, membuat IGD malam itu semakin terlihat seperti neraka yang tak pernah diharapkan kedatangannya.
Waktu terus berjalan, dan malam semakin larut. Perlahan, IGD kembali tenang setelah badai besar menyerang mereka. Tak terlihat lagi para perawat yang berlarian keluar masuk ruang IGD. Namun di sisi lain rumah sakit, lampu merah yang masih menyala terang di ruang operasi menunjukkan bahwa badai mereka belum usai. Wajah tim bedah mulai tampak kelelahan, namun mereka berusaha kuat untuk tetap mempertahankan fokusnya. Menolak untuk menyerah dalam pertarungan mereka. Diantara mereka, terlihat sosok wanita yang masih berdiri tegak, dengan tenang memainkan gunting dan klem ditangannya. Tidak ada lelah yang tampak di wajahnya, meskipun sudah beberapa operasi panjang yang dia lakukan sejak jam tugasnya dimulai. Dialah Emma Jackson.
Dokter spesialis bedah ortopedi yang baru berusia delapan belas tahun dan sudah menjadi dokter andalan rumah sakit mereka. Kecerdasan dan ketenangannya dalam menangani setiap kasus membuatnya dijuluki si penyihir dari gua hantu.
Keadaan di luar ruang operasi juga tak kalah sunyi. Keluarga korban ikut menunggu dalam diam, mencemaskan operasi yang sudah berlangsung hampir tiga jam itu. Mata mereka terus mengawasi sinar merah di atas pintu ruangan yang masih tetap menyala. 'Kenapa lama sekali? Apa di dalam ada masalah?’ pikiran itu terlihat sangat jelas di wajah mereka. Sesekali, mata mereka terpejam, mencoba menenangkan pikiran mereka yang kacau. Rasa khawatir berlebihan mereka bukan tanpa alasan. Karena tubuh kakek mereka sudah terlalu tua untuk berada di meja operasi.
“DING!”
Suara yang tiba – tiba terdengar, membuat pandangan mereka seketika tertuju pada pintu ruangan yang kemudian terbuka. Terlihat seorang pria tua yang masih tak sadarkan diri keluar dari balik pintu. Beberapa perawat mendorongnya perlahan melewati tatapan setiap anggota keluarganya. Rasa syukur terpancar di wajah mereka, melihat kakek yang sudah selesai menjalani operasinya.
“Dokter Emma, beristirahat lah sebentar. Operasi Anda baru selesai kan?”
Seorang perawat yang sedang berjaga, berdiri menyapa wanita yang berjalan ke arahnya. Wanita itu perlahan menghampiri mereka dan melihat beberapa laporan perawatan pasien. Rambut cokelatnya yang terurai, memberikan kesan tegas dan dewasa pada wajahnya yang terlihat seperti wajah pelajar SMA.
‘Huh..waktunya tersenyum lagi. Harus tarik otot zygomatic major dan orbicularis oris. Lalu, sedikit kerutkan orbicularis oculi. Dan terakhir, buka mulut sedikit dan gerakkan alis sedikit keatas’. Pikirannya mengurut setiap langkah, dan senyuman manis terbentuk dengan indah di wajahnya. Dan ekspresi datarnya tadi langsung hilang seketika. Emma tersenyum dan berterimakasih pada mereka karena telah memperhatikannya. Dan langsung pergi meninggalkan mereka yang masih menatapnya kagum, ke tempat para pasiennya berada.
“Hei nak. Bisa kau gantikan jadwalku pagi ini?”
Tanyanya tanpa basa basi. Dia menatap Emma dengan wajah memelas yang dibuat – buat. Tapi Emma hanya menatapnya dengan wajah datar tanpa ekspresi. Wajahnya seakan menuntut penjelasan lengkap dari seniornya itu. Dan seakan mengerti maksud tatapan Emma, pria itu dengan ragu mengatakan bahwa dia ada kepentingan keluarga yang sangat mendesak dan harus segera pulang ke rumah orang tuanya. Tanpa merubah ekspresinya, Emma mengalihkan pandangannya pada dokumen pasien yang ada di depannya. Satu persatu lembar laporan itu dibacanya, seakan tidak memperdulikan lagi kehadiran senior di depannya. Untuk sesaat, suasana diantara mereka jadi canggung.
“Tapi aku belum pulang tiga hari ini”
Ucapan Emma memecah keheningan diantara mereka. Matanya masih terus membaca laporan ditangannya. Dalam hati, dia tahu bahwa seniornya tidak akan kembali ke rumah orang tuanya tapi dia akan ikut acara kencan buta dengan teman sekampusnya dulu. Emma sempat mendengar para perawat di unitnya membicarakan tentang hal itu.
“Belikan aku cake setelah kau selesai dengan kencan butamu. Dan pastikan kali ini kau dapatkan seorang wanita”
Dengan senyumnya, Emma menatap seniornya yang tampak terkejut karena dia tahu tentang kencan butanya. Walaupun Emma tersenyum dengan manis padanya, tapi senior merasa dia sedang melihat sadako yang perlahan keluar dari sumur tua dan sedang menatapnya. Dengan suara terbata – bata, dia pun mengiyakan permintaan Emma sebagai tanda persetujuan mereka. Setelah urusannya selesai, senior segera keluar meninggalkan Emma yang kembali menatap dengan wajah datar tanpa senyumnya.
“Hallo mom. Sepertinya hari ini aku nggak pulang lagi. Aku di rumah sakit”
“Hmm.. ok. Jangan lupa tulis diary-mu”
“Ok mom. Bye..”
“ ... bye ... ”
Emma segera menghubungi mommynya setelah senior itu pergi. Dia tahu mommy dan daddy tak akan mengkhawatirkannya bahkan jika dia tak pulang selama sebulan sekalipun. Tapi itu memang peraturannya. Sejak Emma kecil, mereka memberikan beberapa peraturan padanya dan sebagai gantinya, dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Setelah menutup telfon, Emma segera merogoh ranselnya dan mengeluarkan sebuah buku berukuran sedang dari dalamnya. Buku berwarna biru polos dengan motif garis putih abstrak di seluruh sampulnya. Buku itu sudah tak terlihat seperti buku baru dengan banyaknya tulisan di dalamnya. Emma membukanya, dan menuliskan beberapa kalimat pada lembaran yang masih kosong. Baris demi baris, dia tulis. Dia menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi dan apa yang dia rasakan sejak dia memulai jam tugasnya kemarin hingga percakapan dengan seniornya barusan. Menulis diary sudah menjadi rutinitas tetapnya sejak kecil. Mommy pernah memberitahunya, bahwa menulis diary bisa melatih otak kita untuk tetap sehat. Saat usianya lima tahun, Emma memang sering mengalami sakit kepala yang cukup berat bahkan dia pernah sampai tak sadarkan diri selama dua hari karena hal itu. Dan bisa jadi semakin buruk jika tanpa obat dan latihan yang orang tuanya selalu berikan.