
" Assalamualaikum, Mami !!!!....." Teriak Satria saat memasuki rumah Mami nya.
Rumah dimana dia di besarkan oleh kedua orang tua yang sangat luar biasa dalam mendidik nya
Rumah yang penuh kehangatan dan kasih sayang, Rumah yang membuat Satria tumbuh menjadi seorang Pria yang begitu bertanggung jawab atas apa yang di pegang dan di kerjakan nya saat ini.
Luar biasa ? Jelas ! Satria sangat luar biasa dengan segala kelebihan nya sebagai seorang pria muda yang terlahir dari keluarga terpandang, Namun akhlak dan Budi pekerti nya sangat luar biasa.
" Satria, Jangan berteriak seperti itu, Tidak sopan..." Bukan nya menjawab, Satria malah kembali pada sikap heboh dan abnormal nya saat ini.
Entah lah, Sarah juga pusing dengan sikap Satria yang sekarang ini.
Seperti saat ini yang di lakukan nya, Dia menuntun Sarah berjalan, Padahal dia baik baik saja, Sehat wal Afiat !
Tidak cacat dan kurang satu pun dari tubuh nya, Tapi Satria memperlakukan nya seperti orang yang mengidap penyakit serius.
" Hati hati jalan nya ayang, Pelan pelan oke, Nanti biji terong nya kaget. "
" Astagfirullah, Satria...kamu ini apa apaan sih ? Masak iya anak kita di sebut biji terong ! kenapa gak biji cabe aja sekalian ?" Satria tidak perduli, Dia terus menuntun Sarah dan mengelus perut istri nya.
Bahkan sejak di mobil tadi, Satria terus mengelus perut istri nya, Hingga terus berceloteh tidak jelas tantang cara pembibitan terong yang baik .
Hal itu membuat Sarah pusing jadi nya.
" Mami kemana sih, Kok lama banget, Bentar ya Yank, Aku cari Ma-- eh itu Mami nya..."
" Mami....." Satria hendak memeluk Mami nya, Namun sang Paduka Raja langsung mengulangi nya menjadi benteng pertahanan utama bagi sang Ratu dari serangan Pangeran nya.
" Apaan sih Pi, Satria mau peluk Mami..." Mami Ratu dan Papi Raja menatap anak semata wayang mereka saat ini yang terlihat sangat aneh menurut mereka.
Lalu Sepasang suami istri Paruh baya itu menatap ke arah sang menantu yang duduk diam di sofa mahal mereka.
Sementara yang di tatap hanya menggelengkan kepala nya saja, Dia juga bingung bagaimana cara menceritakan tentang kehebohan sikap suami nya saat ini.
" Pi, Satria mau peluk Mami Pi, Kenapa Papi pelit banget sih ke Satria ? Satria kan juga anak nya Mami, Satria juga pengen di sayang Mami. "
" Satria, Kamu kenapa nak ?" Mami Ratu langsung mendekat ke arah putra nya yang seperti tengah bersedih, seperti itu.
" Kamu kenapa Satria ? Kenapa nak ?"
" Papi jahat sama Satria Mi, Kan Satria cuma mau peluk Mami aja, Kenapa gak bolehin ?" Mami Ratu langsung memeluk anak nya.
" Lebay ! Biasa nya juga gak gini. "
" Satria menjadi sensitif Pi, Sarah yang hamil tapi Satria yang begitu Pi. "
" Apa ???!!!" Kedua mertua nya berteriak karena kaget.
" Ayang ..kok kamu yang kasih tau sih ? Seharus nya kan aku yang kasih tau ke Mami dan Papi kalau bibit terong nya udah tumbuh. " Belum hilang keterkejutan mereka soal berita kehamilan Sarah, Menantu kesayangan Mereka, Malah ini di buat kaget lagi dengan istilah pembibitan, Bibit terong ?
Apa apaan Satria ini ? Apa dia ingin Membuka perkebunan Terong ?
" Sayang, Sarah kamu beneran hamil sayang ???" Sarah mengangguk saat mertua nya bertanya.
Mami Ratu berseru heboh sementara Papi Raja mengucap kan sebuah doa atas rasa syukur atas kehamilan menantu mereka.
Sementara kedua mertua itu saling mendekat dan berebut untuk mengelus perut menantu nya sambil mengucapkan doa atas karunia yang telah sang pencipta berikan kepada mereka.
Mempercayakan sebuah amanah besar dalam hidup Sarah dan Satria.
" Mami, Jangan begitu, Nanti Bibit terong Satria kegencet. "
" Apa apaan sih kamu ? Dari tadi sibuk bibi terong terus ! Biji terong ! Memang nya kamu mau buka perkebunan Terong ? Iya ? Biar Mami minta Papi beli lahan lagi di dekat vila kita, Biar kamu makan terong tiap hari, mau ?" Mami Ratu tidak habis pikir, Kenapa sejak tadi anak nya terus saja berbicara tentang terong menerong ?
Ada apa dengan terong dan keluarga nya ? apa ada masalah dengan tetangga nya ? Hingga Satria begitu heboh !.
" Mami yang apa apaan, Satria itu bukan mau buka perkebunan Terong, Tapi anak yang di kandung Sarah saat ini itu hasil bibit terong Jepang Satria, Hebat kan Terong Jepang Satria, Bisa numbuhin biji terong dan sekarang mulai tunas. " Papi Raja hanya bisa menghela nafas nya saja.
Dia tau apa yang di maksud Satria, Karena dia menyebut milik nya juga timun Jepang, Dan entah kenapa anak nya juga ikut ikutan menamai nya seperti itu ?
Terong Jepang ? Dimana dia pernah mendengar hal yang mirip dengan semua yang di katakan Satria saat ini, Terong Jepang, Terong Jepang dan Terong Jepang, Mami Ratu melihat ke arah suami nya lalu kemudian dia berteriak kencang.
" Satria !!!, Kurang ajar kamu ya ! Kamu sebut calon cucu mami bibit terong ? Dan dulu kamu juga di sebut biji timun Jepang !!! Apa apaan kalian ini hah ???" Nafas Mami Ratu sudah naik turin tak karuan.
Kenapa anak dan Papi sama saja ? Yang satu Timun Jepang, Yang satu nya lagi terong Jepang !
Luar biasa sekali mereka ? Kenapa tidak sekalian saja bilang Biji tomat atau biji kacang ? Biar Buka perkebunan sayur aja sekalian.
" Heran deh !"
" Mami jangan teriak teriak ! Nanti Biji terong Satria kaget..." Dia langsung mengelus perut istri nya dan mengecup nya seperti yang di lakukan nya sejak di mobil menuju rumah nya tadi.
Seperti itu lah yang di lakukan Satria di dalam mobil tadi, Tidur di pangkuan istri nya dan terus menciumi perut istri nya dan mengelus nya dengan penuh kasih sayang.
" Biji terong biji terong ! Bis agak jangan sebut biji terong lagi ?? Apa gak ada yang lebih bagus lagi sebutan nya hah ???"
" Biarin aja, Yang penting ini anak Satria wlekkk...."
" Auh...Mami, Sakit, Telinga Satria sakit Mami...."
" Ayang tolongin, telinga aku sakit di jewer Mami, Sakit Mi, Papi tolongin Satria...nanti telinga Satria bisa putus. "
" Biar ! Biar putus sekalian ! Biar kamu gak kurang ajar lagi ! Anak itu berkah dari Allah untuk kamu dan Sarah ! kenapa sebut dengan biji terong ! Terserah kamu mau namain apa sama Burung kamu itu ya, Mami gak perduli ! Tapi jangan pernah sebut calon cucu mami dengan sebutan biji terong ! Mau kamu mami sunat lagi si terong Jepang kebanggan kamu itu ? Mau ?" Satria langsung menggeleng kan kepala nya.
Bahkan kedua tangan nya langsung menutupi Pusaka kebanggan nya, Sang Terong Jepang yang berhasil menemukan biji terong nya dan kini berhasil menjadi bibit yang sedang berkembang.
Dan semoga saja apa yang tengah di berikan dan di titipkan pada mereka bisa membawa berkah untuk semua orang.
" Undang anak yatim piatu untuk syukuran atas kehamilan istri kamu ! Sedekah juga pada kaum duafa, janda dan orang tua ! Minta doa pada mereka untuk kesehatan calon anak kalian ! Tidak perlu bermewah mewahan, Yang penting niat nya yang utama. !" Satria dan Sarah mengangguk.
" Iya Pi, Tapi Sarah harus istirahat total selama trimester pertama, karena kata dokter kondisi rahim saat trimester pertama itu sangat rentan, Maka Sarah harus istirahat. "
" Iya bagus itu ! Dan mami akan ikut tinggal sama kalian disana. "
" Gak ! Enak aja Kamu Ratu Ana Wirawan ! Kamu tetap disini, Kita tinggal dirumah ini. Kalau mau anak menantu kamu saja yang tinggal disini, Lagi pula lebih dekat dari sini untuk ke kantor Satria !"
" Iya Paduka Raja Widjaya Diningrat, Iya Suami bucin nya Ratu Ana Wirawan. "