
Entah karena kehujanan atau kecapean, Seluruh tubuh Sarah menjadi lemas dan tak berdaya.
Sejak sore, Hingga malam hari nya ,Sarah terus muntah muntah, Bahkan saat meminum teh jahe buatan Bik Yem Sarah terus saja muntah dan itu membuat Satria panik setengah mati.
" Ayang, Kita kerumah sakit yuk, Aku khawatir sama kamu. " Sarah menggeleng.
" Ayang jangan bandel ih, Ayo kita kerumah sakit, Pokok nya aku gak mau tau. Ayo...kita naik pickup aja. Atau minjem mobil pak kades yuk. Aku kenal sama pak kades nya kalau kamu gak mau naik pickup. " Saat seperti ini Satria merasa menyesal karena tidak membawa mobil
Tolong ingat kan Satria nanti nya untuk membawa mobil nya kesini, agar memudahkan nya nanti jika kesini lagi untuk menginap
" Aku gak baik baik aja. Hanya lelah saja. masuk angin juga. Malah kamu ngajak main hujan hujanan. "
" Iya, Tau aku yang salah deh ya, Yuk kita kerumah sakit, Atau kerumah pak mantri aja yuk, Ya...kita berangkat, ini masih hujan Yank, Kalau nunggu reda aku takut kamu semakin parah. " Sarah tetap menggeleng.
Dia hanya ingin tidur dan beristirahat malam ini, Dia tidak ingin di ganggu siapa pun malam ini.
" Den, Istri Aden biar bibik pijet aja ya ? Boleh ? Pake minyak Cengkeh, Biar anget badan nya. "
" Apa itu minyak cengkeh ? Apa bau nya seperti bibik ?" Bik Yem mengangguk.
Sementara Sarah dia bergidik ngeri membayang kan tubuh nya bau minyak seperti Bik Yem yang membuat perut nya semakin mual saja.
Kontan Sarah langsung menggeleng, Dia tidak mau pakai minyak cengkeh seperti yang di katakan Bik Yem tadi, Sarah gak mau dan gak akan mau .
Mungkin jika minta Biasa Paling tidak ya minyak zaitun, Sarah bisa terima walau bukan minyak aroma terapi seperti milik nya dirumah yang dari salon waktu dulu yang di datangkan Satria kerumah mereka.
" Gak, Sarah gak mau bik, Pake minyak zaitun aja deh, "
" Iya Nyonya, Bibik ambil minyak dulu ya. " Sarah mengangguk tapi tidak dengan Satria, Dia masih cemas dengan keadaan istri nya yang terus muntah sejak tadi dan ini baru berkurang nya setelah bagian perut nya Satria lumuri dengan minyak kayu putih.
" Ayang, Ayo kita kerumah sakit yuk, Aku khawatir tau yank..." Terdengar helaan nafas Sarah di telinga Satria.
Tapi Satria terus berusaha, Karena dia memang takut jika istri nya kenapa kenapa nanti nya dan semakin parah.
Perjalanan Jakarta, Bandung dan berakhir di Lembang itu cukup jauh, Apalagi mereka menempuh nya dengan motor, Di tambah hujan hujanan tadi, Satria takut istri nya tiba tiba demam saja tengah malam nanti.
" Sudah Satria, Aku baik baik Saja. Jangan terlalu berpikiran buruk. Aku hanya kelelahan saja. " Sarah juga berusaha membuat suami nya agar tidak panik.
Jika panik, Satria akan menjadi anak anak lagi, Yang terus menerus bicara dan meminta apa yang di inginkan nya.
Dan Sarah cukup terganggu dengan sikap itu.
" Tapi kan yank---"
" Aku marah ini ya ! Kamu mau aku marah dan gak bicara sama kamu ? Kan udah aku bilang kalau aku baik baik saja ! Lalu dimana Maslaah nya ?"
" Yaudah iya, Deh iya. Kalau gak nyaman bilang, Biar kita berangkat langsung ke rumah sakit atau mantri aja deh. "
" Iya, Sudah sini, peluk aku. Rasa nya dingin sekali. " Satria mengangguk.
Dia juga ikut merebahkan diri di samping tubuh istri nya, Mengelus dan mengecup kening serta bibir istri nya.
Walau dia memang masih khawatir, Tapi dia juga harus percaya pada istri nya bukan ? Maka dari itu Satria coba mengerti saja keinginan istri nya.
Lama kelamaan, Sarah yang merasa nyaman di dalam dekapan hangat suami nya pun perlahan memahamkan kedua nya dan tertidur.
Terbukti dengan nafas teratur sang istri yang mulai tidak terganggu dengan siapa pun lagi termasuk Bik Yem yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka.
" Sssstttthhhhh...." Satria memberikan kode ke Bik Yem agar tidak bersuara karena Sarah sudah tertidur.
Perlahan Satria turun dari tempat tidur dan membenarkan letak selimut istri nya yang terlihat sangat nyaman.
Cup...
" Aku tinggal sebentar ya..." Ucap nya lagi sebelum meninggal Sarah di kamar nya sendirian.
Satria keluar dari kamar nya dan mencari Bik Yem dan Mang Diman, karena memang mereka seperti tengah memikirkan sesuatu dan itu terlihat sangat jelas di mata Satria.
" Ada apa Bik ? Kayak ada yang mau bibik ceritain ke Satria " Tanya Satria saat dia sudah duduk di sofa dan kembali dengan iPad dan ponsel nya.
Lagi lagi kerja dan kerja terus, Bahkan saat liburan seperti ini.
" Apa Nyonya udah datang bulan ?"
Deg !
Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Bik Yem, Dan hal itu membuat Satria kaget bukan main.
Apa maksud bik Yem bertanya soal datang bulan istri nya ?
Satria bukan orang bodoh yang tidak tau apa maksud nya dari pertanyaan Bik Yem, Tapi dia takut bertanya lagi ke Sarah, Takut Sarah akan kecewa lagi.
Karena di usia pernikahan mereka yang memasuki bulan ke 6, Sarah dan Satria belum juga mendapatkan kabar seperti itu, Maka dari itu, Satria tidak mau bertanya dan memaksa Sarah, terlebih lagi becanda nya waktu itu, Satria jadi takut menyakiti perasaan istri nya.
" Den, Aden ngerti kan maksud bibik ?" Satria menghela nafas nya kasar.
Dia bingung harus menjawab apa saat ini, Bagaimana cara dia bicara pada Sarah ??
" Satria ngerti Bik, Tapi Masalah nya, Satria takut nyakitin hati istri Satria, dia udah merasa minder, Padahal baru 6 bulan, kenapa sudah berkecil hati seperti itu ? Mami dan Papi aja 14 tahun loh nunggu nya. Ini kan baru 6 bulan, Tapi Sarah udah ketakutan duluan. " Satria mulai bercerita dengan baik Yem dan Mang Diman, Bagaimana pun dia harus cerita, Jika cerita ke Mami nya akan tetapi ribet, Karena mereka akan di suruh periksa dan berobat, Karana Mami Ratu tidak ingin Sarah dan Satria mengalami keterlambatan sama seperti nya saat dulu.
" Gini aj Den, Biar Mang Diman minta sih Jaka untuk anterin bibik ke Apotik, atau kerumah Matri aja, Buat beli alat tes hamil itu buat Nyonya. " Jelas Bik Yem ,tapi Satria masih berusaha menimbang nya.
Apa ini jalan yang benar untuk di tuju nya ?
" Yaudah, terserah bibik aja. Satria mau balik ke kamar lagi, Takut arah bangun dan nyariin Satria , Kasihan, Badan nya lemes banget, kebanyakan muntah tadi. " Bik Yem mengangguk.
" Besok pagi di tes nya Den, Karena biasa nya, Tespack itu pake nya di pagi hari, Jadi Aden harus kasih ke Nyonya dulu besok. "
" Oke, Makasih ya buk, Mang, Satria balik ke kamar dulu. "
" Iya Den, Selamat malam. " Sahut Bik Yem dan Mang Diman.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka dengan sangat pelan, karena Satria takut membangunkan istri nya, Berjalan pun dia harus benar benar memperhatikan langkah nya, Demi kenyamanan sang istri.
Satria duduk di pinggi ranjang dan mengusap pipi Sarah lalu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik istri nya.
" Tidur yang nyenyak Yank, jangan sakit sakit, Biar aku aja yang sakit, Kamu jangan Yank..." Satria menjeda ucapan nya dan kembali melanjutkan kata kata nya.
" Jika kamu sudah jadi di sini, Jangan nakal ya, Kasihan bunda nak, jahatin ayah aja gak papa kok, asal jangan bunda kalian. "
Cup...
Satria mencium perut Sarah yang tak lama ikut merebahkan diri nya di samping Sarah dan ikut terlelap dalam damai nya malam yang di hiasi hujan malam ini.
Ayang suami panik karena ayang istri sakit masuk angin 💙
Ayang istri yang pusing dan masuk angin 💙
...🍑🍑🍑...