
" Yank, Bangun yuk...Aku harus ngantor hari ini..."
" Ayang..." Ucap Satria lagi dengan lembut, Dia mengelus pipi Sarah dan menciumi nya berulang kali.
Tardi, Setelah sholat shubuh, Satria dan Sarah kembali tidur, Lebih tepat nya sang istri yang meminta di temani tidur lagi.
Sarah mengatakan bahwa tubuh nya lelah, Dan sakit semua. Satria paham, Karena memang dia juga merasakan hal yang sama.
Tapi, Ada rasa sakit tersendiri saat melihat istri nya tidak mengingat apapun lagi, Terutama soal kecelakaan mereka kemarin.
Dan Satria mengatakan pada seluruh penghuni rumah mereka, Untuk tidak ada yang membuka suara tentang kecelakaan mereka kemarin.
Siapapun ! Tak terkecuali.
" Sarah...Ayang...bangun yuk...aku mau ngantor loh hari ini. Kerjaan aku banyak..." Sarah mulai menggeliat dalam pelukan Satria, Dan untuk itu Satria berusaha menahan seluruh gairah nya saat seperti ini.
Kaki Sarah yang terlipat, Membuat lutut Sarah tepat berada di atas Terong Jepang milik nya.
" Dy...bangun yuk...nanti Terong Jepang aku bangun, Puasa aku batal. " Masih berusaha membujuk istri nya.
Perlahan Satria menggeser lengan Sarah yang memeluk nya.
Sarah tidak bisa di bangunkan, Dan Satria bingung, apa yang harus di lakukan nya ? Infus Sarah sudah mau habis, Dia bingung jika menghubungi dokter akan lama, Kini Satria bergegas keluar dari kamar nya dan memilih kerumah buk Rita.
Bukan kah buk Rita Sekolah ke dokteran juga ? Walau Psikolog setidak nya dia pasti tau cara mencabut jarum infus yang di tangan Satria.
" Assalamualaikum Buk...."
" Ya Gusti Allah, Kanjeng Ratu Kidul, Iki sopo kok yo garang tenan ne " Satria hanya tersenyum saja.
Dia membutuhkan buk Rita saat ini.
" Minggir Jum, Kamu buat Satria takut, " Pak Ganda menggeser tubuh Juminah pembantu nya dan menyambut Satria .
" Ada apa Satria ? Istri kamu sudah baikan ?" Satria mengangguk.
" Pak, Maaf pagi pagi mengganggu, Apa buk Rita bisa melepas jarum infus istri saya ? Soal nya kalau nunggu dokter lama, Keburu habis. takut nya darah Sarah naik nanti. " Pak Ganda mengerti.
" Bebeb...Di cariin Satria nih, Minta tolong buat lepasin jarum infus sih Sarah. !" Satria hanya bisa geleng geleng kepala saja saat mendengar teriakan pak Ganda yang memanggil istri nya dengan suara kencang menggelegar manja seperti itu.
" Iya beb...Sabar..." Ya Allah apa lagi ini ?
Satria baru tau, Bahwa bapak bapak dan ibu ibu berdaster biru bunga bunga itu sangat luar biasa, Bebeb.
" Kamu mau apa Satria ? "
" Buk, Tolong lepasin jarum infus Sarah bisa ? soal nya udah mau habis. Takut darah nya naik. "
" Oke lah, Cus..." Buk Rita dan Satria langsung menuju rumah nya Satria dan membantu melepas jarum infus di tangan Sarah.
Dan saat buk Rita sudah kembali ke rumah nya, Satria juga sudah siap dengan jas nya, Sarah bangun dari tidur nya.
" Masih sakit Yank ?" Satria langsung menghampiri istri nya yang berusaha menggerakkan tubuh nya.
Mendengar suara Satria, Sarah langsung membuka kedua mata nya.
Dan ternyata suami nya sudah rapi dengan setelan kantor nya.
" Maaf, Gak bisa bantu kamu bersiap..." Satria hanya mengangguk dan tersenyum.
Dia merapikan anak rambut yang menutupi wajah istri nya, Dengan lembut Satria mengusap pipi Sarah dan mencium kening nya.
" Jangan sakit sakit lagi ya, Aku khawatir. Kalau sakit bilang sakit sama aku, Jangan di Pendem ya..." Kedua nya saling menatap dengan tatapan dalam, Benar benar merasakan kehangatan sebuah keluarga di hati mereka.
" Tadi buk Rita yang ngelepas infus nya, Dia Psikolog Yank, Jadi bisa bisa jambu lah buat ngelepas infus doang kata nya. " Sarah hanya mengangguk, Belum dia bertanya, Suami nya sudah lebih dulu memberi tahu nya soal jarum infus yang sudah tidak lagi menancap di punggung tangan nya.
Cup...
" Cepet sembuh sayang...Aku khawatir liat kamu sakit, Mana tidur terus. Biar aku aja yang sakit ya, Kamu itu kalau sakit nyeremin aku jadi gak konsen buat ngapa-ngapain. "
" Iya, Sini aku bantu rapiin dasi nya, Itu miring. " Satria tersenyum...
Dia duduk di samping istri nya dan Sarah merapikan dasi nya.
" Kalau ada apa apa telpon aku langsung oke. Jangan buat aku khawatir Yank, Apa aku gak ngantor aja ya hari ini ? Aku temenin kamu aja deh dirumah. Ya ." Sarah menggeleng.
Dia tau Satria sibuk, Jika tidak mana mungkin weekend begini Satria memaksa ke kantor kalau gak ada pekerjaan penting atau memang pekerjaan nya banyak ?
" Ustad pernah bilang, Jika ingin mewarnai rambut mu, Warnai lah dengan sesuatu, Tapi hindari warna hitam, Gak tau pasti sih Yank, karena banyak berbagai macam sumber juga. Tapi ya setidak nya kita ikuti saja apa yang ada. Jangan merubah sesuatu dalam diri kita jika tidak penting. " Sarah menatap kagum ke arah suami nya dsn tersenyum.
" Iya, "
" Eh, Kamu mau kemana Yank ?" Satria panik saat melihat Sarah hendak turun dari tempat tidur .
" Mau mandi ih. Udah sana gih. Aku sakit gini doang kamu lebay nya kebangetan."
" Khawatir Yank, Bukan lebay. "
" Iya suami ku...Udah sana ah. "
" Yaudah deh, Aku pamit Yank, Love you..."
Cup...
" Assalamualaikum Ayang..."
" Iya, Waalaikumsallam Satria, "
" Jawab dulu Love you nya Yank..." Sarah hanya mencebik saja melihat suami bocah nya.
" Love you to Ayang Satria..."
Cup...
" Satria !!!!!" Pekik Sarah kesal saat Satria mencium bibir nya.
Dia kan belum gosok gigi, Belum cuci muka dan mandi, Tapi Satria mencium bibir nya.
Dan itu adalah yang paling di benci Sarah. Satria ? Dia sengaja melakukan itu pada Sarah dan langsung kabur dari kamar mereka.
Kelakuan nya benar benar.
Setelah Sarah mandi dan bersiap, Dia meminta Bik Murni memasakan nya bubur ayam, Dan Bik Murni menuruti nya.
Sarah sudah memberi tahu Genk nya, Bahwa Satria memanggil Orang salon dan Spa kerumah nya, Dan membiarkan para wanita itu memanjakan diri nya.
Betapa girang nya mereka semua, Terutama Buk Sari, Dia begitu antusias nya menuju kerumah Ana dan akan pergi bersama kerumah Sarah nanti nya.
Tapi, Seperti biasa, Saat melewati rumah mewah yang selalu terbuka gebang nya itu, Dan menampakan seorang wanita cantik full make up tengah duduk santai di taman sambil menyesap teh hangat nya di pagi hari.
Padahal ini bulan puasa bukan ? Tapi dia tidak merasa bersalah sedikit pun.
" Haid nya sebulan ya An, Ngeri ihh.. atau Jagan jangan ---"
" Hey ! Apa maksud kalian bicara seperti itu ?" Berang Laras marah karena di katain seperti itu.
" Lah Kok sewot, Aku kan bilang ke Ana, Bukan ke Aaaaaa.....niiiii...." Buk Ana rasa nya ingin tertawa saat itu juga.
Bagaimana tidak ingin tertawa ? Jika Sari menyebut nama belakang wanita simpanan itu seperti Hj Roma irama bermain film dulu.
" Jaga ya mulut kamu Sari. Apa maksud kamu ngomong gitu ?"
" Kok aku lagi. Kan aku cuma bilang Aaaaa....niiii....Emang nya nama kamu Ani ???" Skak !
Laras alias, Aninah itu diam, Dia tidak bisa membalas ucapan kedua manusia gak penting itu.
" Aaaaa...naaaa...Yuk ah, Nanti kita telat kerumah Sarah, Kan tadi dia bilang, Suami nya yang muda,ganteng,kaya,tidak sombong dan rajin menabung itu manggilin orang Salon dan Spa kerumah mereka untuk kita kita menemani istri nya perawatan. Yuk ah, Apalagi itu salon terkenal itu kan ?
Gak kebayang Satria menguarin duit puluhan juga untuk kita kita perawatan. "
" Tapi biasa juga sih ya An, Secara Satria anak tunggal, Warisan nya banyak ke dia semua, Dia juga kaya sejak remaja dengan hasil kerja nya sendiri. Lagi pula udah jelas sih kalau dia itu emang beneran sultan loh, Beli rumah itu ternyata harga nya 22 M. Itu kosong An, Kalau sama isi nya, Apalagi kayak kemaren, Beuhhh...Duit lagi tuh sih Satria. " Semakin panas Wanita itu mendengar ocehan kedua makhluk di depan nya saat ini.
" Yuk An, Cabut..." Buk Sari menarik lengan Ana dan mereka berjalan berdampingan menuju rumah Sarah.
" Aaaaa....nnnnniiiiiii....."
" Sialan !" Umpat nya kasar saat Ana kembali mengejek nya.
Ayang ngantor dulu yaa 🤗🤗
...💙💙💙...