
Hati ini, Benar benar hari yang sangat melelahkan bagi Sarah, sejak pagi dia bekerja tanpa henti, Bahkan kedatangan kakak nya semakin memperburuk keadaan sekitar, Termasuk pekerjaan nya pun begitu.
Kepala nya pusing, Bagai di hantam batu besar, Padahal iklan sudah terbit dan langsung menjadi Booming daster Ekslusiv nya.
Bahkan Salah satu toko SWSR di Mall habis ludes terjual, Dan Sarah bangga atas kinerja para model nya, Siapa lagi jika bukan Genk anti huru hara Blok Cempaka beserta mami mertua nya.
Tidak Sarah pungkiri, Pesona Mami nya tidak main main, Di usia Nya yang Di memasuki kepala 6 masih seluar biasa itu ?
Nama nya tidak pudar sedikit pun oleh usia dan tidak goyang sedikit pun di terjang nama nama baru di dunia penuh tipu yang Sarah ucapkan tadi pada Kakak nya.
Saat seperti ini rasa nya Sarah membutuh kan suami nya, Yang bisa membuat nya nyaman dan aman.
Nah, Benar saja, Ponsel Sarah berdering dan itu panggilan dari suami nya.
" Hallo Yank, Assalamualaikum..."
" Hallo, Waalaikumsallam..." Jawab nya dengan lesu.
Satria panik, Suara istri nya seperti lemah sekali, Ada apa ? Apa yang terjadi ?
" Yank, Kamu kenapa ? Kamu sakit lagi ? Kepala kamu pusing atau gimana ?" Tanya Satria benar benar panik.
Apalagi saat dia melakukan panggilan Vidio, dan melihat wajah pucat istri nya. Konsentrasi nya langsung buyar seketika.
" Kamu kenapa Yank ? Aku pulang sekarang ya, Aku jemput kamu..." Sarah menggeleng.
Dia tau suami nya sibuk, Dan dia gak mau membuat Satria panik, Tapi rasa nya kepala nya memang pusing.
" Sayang ...Sarah...." Panggil nya lagi semakin panik.
Sarah menghela nafas nya lalu menatap Satria yang sudah panik melihat wajah nya saat ini.
" Aku baik baik saja. Kamu dimana ?" Tanya Sarah mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
Karena jika di biarkan, Satria akan semakin panik nanti nya.
" Aku di Bogor ! Lagi istirahat makan siang, Client dari luar. Setelah ini aku jemput kamu oke. Kita periksa kerumah sakit. " Sarah menggeleng.
" Aku baik baik saja Satria. Lihat aku baik baik saja kan ?"
" Yank, Plis, Jangan gitu. Aku tau kamu nahan sesuatu. Pokok nya setelah ini aku pulang, Kalau perlu aku minta Om Frans siapin Helikopter buat aku jemput kamu. Kamu sabar ya. "
" Aku baik baik saja Satria. Jangan terlalu panik. "
" Gimana aku gak panik ? Istri aku sakit Yank...Kamu gak ngerasain gimana panik nya aku ! "
" Ya sudah, Iya. Selesaikan saja pekerjaan kamu dulu. Aku mau tidur dulu. "
" Batalin puasa nya, Nanti kita bayar fidyah dan kamu bisa ganti lain waktu setelah ini. Yang penting kamu sehat dulu. "
" Iya, Aku masih kuat. "
" Ingat jangan di paksa ,!"
" Iya Satria ! sudah aku mau istirahat dulu. " Dengan terpaksa Satria membiarkan istri nya istirahat.
Entah lah, Semenjak tau trauma istri nya mulai muncul, Satria semakin takut dan over protektif pada Sarah.
Dan itu benar benar di lakukan nya, Satria benar benar takut dengan kondisi nya Sarah saat ini, Yang nanti nya tiba tiba histeris.
Ternyata apa yang di rencanakan tidka berjalan semesti nya, Sarah pulang kerumah mereka dengan keadaan yang masih pusing, Satria juga tak kalah panik nya, Di perjalanan pulang, Hujan deras, Maka Helikopter tidak di perbolehkan terbang, Maka dari itu dia memilik menaiki mobil saja pelan pelan, Bahkan dia sampai dirumah nya saat tengah malam.
Hujan masih berlanjut, Dengan langkah tergesa gesa, Satria langsung mencari istri nya, Dimana Sarah sudah tertidur memeluk guling dengan nyaman.
Satria bisa bernafas lega saat tangan nya merasakan suhu tubuh Sarah baik baik saja.
Cup...
" Aku panik tau yank..." Ucap nya membenar kan selimut Sarah dan menuju kamar mandi setelah nya.
Satria mengguyur tubuh nya dengan air hangat dan langsung ikut bergabung bersama sang istri untuk mengistirahatkan diri nya.
Dan rasa nya baru beberapa waktu Satria tidur, Kini dia sudah di bangunkan lagi oleh waktu untuk sahur.
" Kamu beneran baik baik aja kan ? kamu gak sakit kan ?" Pertanyaan itu kembali di dengar Sarah, Dan entah sudah yang ke berapa Sarah lupa menghitung nya.
Tapi itu lebih dari sepuluh kali.
" Mau makan sahur atau mau terus bertanya ? Sudah aku katakan aku baik baik saja. Hanya masuk angin saja. Lagi pula tekanan darah ku rendah. Maka nya aku pusing. "
" Tapi beneran kan kamu udah baik baik saja ?" Sarah memejamkan mata nya sangking kesal nya dengan Satria yang terus saja bertanya pada nya.
" Iya ini makan...Tapi suapin...." Mulai lagi manja nya.
Sarah lagi lagi harus ekstra sabar menghadapi suami bocah nya, Selain over protektif, Satria juga cerewet bahkan manja !
Dengan sabar Sarah mengambil piring suami nya dan mulai menyuapi Satria makan, Dan dengan senang hati Satria menerima nya.
" Senyum Yank, Biar tambah cantik !" Goda nya pada Sarah agar istri nya tersenyum.
Bukan nya tersenyum, Sarah malah memberi nya tatapan tajam.
" Iya , Iya...jangan marah...aku minta maaf oke..." Memberikan senyuman manis hingga mata nya sipit nya hilang dan kedua lesung pipi itu membuat Sarah kalah.
Bahkan kini suami bocah nya itu memeluk nya dengan sangat manja. Hal itu pula di saksikan oleh para pekerja rumah tangga mereka, Apalagi Meela juga ikut menyaksikan Ayah dan Bunda baru nya yang bergelayut manja itu.
" Buk, Kenapa ayah Satria gitu ke Bunda ? Memang nya Ayah Satria anak kecil ?"
" Sssttt...Jangan bilang gitu Meela, Malu nanti kedengeran Nyonya..." Dan benar saja, Sarah mendengarkan bisik bisik anak dan ibu disana, .
" Iya Meela, Ayah Satria memang anak kecil, Manja kan ? Meela gak manja kan ?" Meela menggeleng.
" Kata ibuk, Meela gak boleh manja, Ibuk kerja cari uang buat Meela. " Sarah tersenyum.
" Meela puasa ?" Tanya Sarah lagi.
Meela mengangguk " Puasa bunda..." Jawab nya lagi.
" Udah ada bolong ?" Meela menggeleng.
" Belum, Meela belum ada bolong puasa nya. "
" Kalau puasa nya penuh, Nanti Bunda beliin sepeda baru, Buat sekolah. "
" Beneran bunda ? Warna pink boleh ? Yang Unicorn ?" Sarah tersenyum bahagia.
Dia inget Meela jadi ingat diri nya dulu, Tapi beda nya, Sarah dulu selalu malas untuk bangun sahur saat seusia Meela.
Dan Opa nya lah yang selalu menggendong nya untuk makan sahur .
" Iya..Nanti kita beli. Sekarang semangat puasa nya. "
" Nanti ayah kasih Celengan besar, Setiap hari nya, Kalau Meela puasa nya penuh, Ayah kasih seratus ribu, Jadi berapa hari Meela puasa nanti ayah kasih uang nya. "
" Yee...Beneran ??? Hore ..Sarah bisa bantu ibu cari uang, Yee..." Satria dan Sarah tersenyum.
Membahagiakan anak seperti Meela yang hidup dalam kekurangan tidak sulit, Kebahagiaan nya hanya sederhana saja.
Dengan Hadiah hadiah kecil dan semangat seperti itu saja Meela sudah bahagia.
" Nanti pergi sama Bunda buat beli baju lebaran ya, Ajak juga Ibuk kamu,. " Meela melihat ke arah ibu nya.
" Emang nya boleh ?" Tanya Meela lagi.
" Boleh sayang...Nanti Ayah kasih uang nya ke bunda, Meela boleh beli apa aja. "
" Tidak perlu memanjakan Meela seperti itu Tuan, Nyonya...Nanti Meela jadi kurang ajar. " Satria menggeleng.
" Gak Papa buk, Biar Meela bahagia. "
" Tapi Tuan..."
" Sudah, Ini hampir Imsyak, Jadi selesaikan makan nya. Nanti sore izin bawa Meela ya buk, Saya mau ajak Main dan buka di luar, Gak perlu masak, Nanti saya pesan makanan dari restoran buat antar kerumah. " Buk Murni hanya mengangguk aja.
" Meela, Mulai besok, Kamu udah bisa sekolah, Untuk sementara naik Scooter Bunda dulu ya, Besok sekolah pertama Ayah yang anter. " Meela mengangguk
" Meela janji akan rajin belajar nanti nya. Biar pinter dan jadi dokter gigi...Biar Nenek gak sakit gigi lagi. " Sarah dan Satria tersenyum.
" Maka belajar yang pinter, Biar jadi dokter gigi. Ayah sama bunda akan buat Meela jadi dokter. "
" Iya...Meela janji akan belajar yang pinter. " Ucap nya dengan semangat.
Ayang suami manja bala bala 🍑
Ayang istri Judes 💙
...🍑🍑🍑...