
Di gerbang utama sana terlihat pemuda tampan sedang celingak-celinguk memantau sekaligus menunggu seseorang yang sudah beberapa hari tidak dilihatnya masuk kampus.
Ya dia Andrean, mahasiswa paling pintar dan populer namun ke populerannya tidak sepupoler pak Hessel yang lebih menawan bagi kaum hawa. Andrean, dialah pemuda yang cintanya 3 kali Nana tolak pertama saat ospek, kedua diperpustakaan, ketiga setelah memenangkan pertandingan basket, tapi Andrean tidak putus asa dia tetap mengejar Nana, dia tidak peduli siapa Nana dimata orang-orang yang Andrean tau hanyalah dia sangat menyukai Nana, baginya Nana itu berbeda dari gadis-gadis lain yang suka mengejarnya.
"Ha... itu Nana..." gumamnya tersenyum melihat Nana turun dari angkot. Ya, Nana naik angkot berangkat ke kampus untuk menjaga rahasia pernikahannya dengan pak Hessel.
"Nana" panggil Andrean.
Nana melihat Andrean di depan gerbang namun Nana melewatinya, Andrean mencegat tangan Nana.
"Na, kamu kemana saja beberapa hari ini tidak terlihat di kampus?" Nana menarik tangannya dari genggaman Andrean.
"Kamu bisa tidak jangan menggangguku, Andrean."
"Aku hanya mengkhawatirkan kamu, aku tidak ingin kamu berhenti kuliah hanya karna mereka terus membullymu."
Nana mengabaikan Andrean dan melanjutkan langkah kakinya lagi-lagi Andrean menghalanginya.
"Aku dengar pak Hessel menjadi guru privatmu, apa itu benar Na?"
"Iya, apa ada yang salah?"
"Aku bisa membantumu Na, jika kamu ingin meningkatkan nilaimu dengan senang hati aku akan membantu."
"Sebaiknya kamu masuk kelasmu berkumpul bersama teman-temanmu mengganggu para gadis."
"Hari ini kelasku kosong, aku akan mengikuti kamu."
"Terserah kamu saja." keluh Nana membalikkan bola matanya lalu berjalan menuju kelasnya, sedangkan Andrean dia benar-benar mengikuti Nana sampai ke kelasnya.
Melihat Andrean masuk ke kelas Nana, Jessi dan teman-temannya menghampiri Andrean, tapi Andrean mengabaikan mereka begitu saja dan memilih duduk di samping Nana dengan menggeser Arin.
"Kenapa sih stupid itu selalu menjadi daya tarik pria tampan, apa sih kelebihannya." gerutu Jessi kesal.
"Na, kamu sudah sarapan atau belum? mari kita ke kantin." ujar Andrean.
"Ajak saja Arin, aku sudah makan."
"Kenapa sih kamu jadi dingin Na? biasanya kamu ramah padaku."
"Drean, sebentar lagi kami masuk kelas sebaiknya kamu keluarlah, apa kata dosen nanti melihat mahasiswa kelas lain berada di kelas kami."
"Ya sudah Na, aku kembali ke kelasku ya."
"Iya sudah sana pergi." ketus Nana.
Nana menatap Andrean yang berlalu pergi.
"Maafkan aku Drean, aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu, sekarang aku sudah menikah, aku harus bersikap dingin padamu agar kamu berhenti mencintaiku." batin Nana, diam-diam Arin melihat cincin yang melingkar di jari manis sahabatnya itu.
"Na, ini cincin apa? kok seperti cincin nikah?" ucap Arin sontak membuat teman-teman sekelasnya melotot melihat Nana, Nana pun menarik tangannya dan berusaha menyembunyikannya kebelakang.
"Katakan Na, apa kamu sudah menikah?" tanya Arin lagi.
"Tidak, tapi aku sudah tunangan." jawab Nana.
Teman-temannya sekelas Nana pun mendekati Nana mereka ingin Nana memperlihatkan cincinnya dengan menarik tangan Nana secara paksa.
"Waw... cincinya sangat mewah, Na tunanganmu pasti orang kaya ya?" tanya mereka kagum melihat cincin di jari Nana, dengan cepat Nana menarik tangannya kembali.
"Pasti prianya tampan ya?" tanya mereka lagi.
"Lagi-lagi Nana, kenapa dia sangat beruntung." gumam Jessi semakin kesal melihat Nana.
"Bagaimana jika Andrean tau Na, dia pasti akan kecewa padamu." bisik Arin, Nana hanya menggeleng dia juga tidak tau yang jelas Nana tidak mau Andrean merasa terluka lagi.
"Aku akan selalu cuek padanya agar dia berhenti mengejarku." ucap Nana.
"Pantas saja kamu tiba-tiba dingin padanya Na, ternyata ini masalahnya." sahut Arin.
"Janji ya Rin, jangan beritahu Andrean tentang masalah ini."
"Iya Na, aku janji akan menjaga rahasianya."
Seperti biasa setelah kelas berakhir, Nana dan Arin kalau gak ke perpus ya ke kantin. Sekarang memilih pergi ke kantin karna Arin merasa sangat lapar.
"Saya, burger mba." ucap Arin.
"Minumnya dek?"
"Teh es saja mba 2." jawab Nana.
Sembari menunggu orderan sampai, Nana dan Arin mengobrol sambil tertawa karna di depan sana mereka melihat Anjelo anak kelas sebelah jatuh dari motor dan itu menjadi daya tarik publik untuk menertawakannya termasuk Nana dan Arin juga ikut tertawa.
Andrean datang menghampiri Nana, dia nyosor begitu saja menyerempet tempat duduk Nana, tapi Nana dengan santai menyikapinya.
Pesanan mereka pun datang, saat Nana hendak menyeruput minumannya tiba-tiba Andrean mengambilnya dari tangan Nana dan dia yang menyeruputnya.
"Ahhh segerrr." ucapnya.
"Bukankah kamu anak orang kaya, tapi kamu malah merebut minumanku." Nana kesal.
"Aku haus, tidak apa-apakan aku meminumnya." sahutnya tersenyum manis, Nana menggelengkan kepala Andrean memang selalu seperti itu dia sering meminum atau memakan makanan milik Nana sebelum Nana memakannya.
Tak berselang lama tiba-tiba saja perut Andrean mules.
Prottt... prottt...
Suara bom atom keluar dari pantat Andrean, membuat mereka-mereka yang sedang makan berhenti makan setelah mendengar bom atom yang jorok itu.
"Rasakan itu akibatnya merebut hak orang lain..." ucap Arin sambil tertawa keras.
"Kau mencampurkan apa kedalam minumanmu Na, perutku mules aku harus segera ke toilet."
Nana pun hanya bisa tertawa melihat Andrean yang dirasanya sangat lucu berlari terbirit-birit sambil menahan pantatnya dengan tangannya seperti sudah mau keluar saja, bukan hanya Nana yang tertawa tapi semua yang melihat ikut tertawa.
Selesai makan Nana dan Arin memutuskan untuk menemui Andrean. Mereka mencari keberadaan Andrean tapi tidak menemukannya.
"Apa mungkin Andrean masih di toilet?" ucap Nana.
"Mungkin saja, sebaiknya kita lihat."
Nana dan Arin pun menuju toilet pria, benar adanya Andrean bersender di dinding dia terlihat sangat lemah mungkin sudah kehabisan cairan. Nana jadi merasa bersalah gara-gara minumannya Andrean jadi sakit.
"Kamu tidak curiga Na, sepertinya ada yang sengaja mencampur sesuatu ke dalam minuman kamu, mungkin niatnya untuk meracuni kamu tapi malah Andrean yang kena." ujar Arin.
"Uss... Tidak baik seperti itu Rin, ayo bantu aku bangkitkan Andrean kita bawa dia ke ruang kesehatan."
Nana dan Arin pun menopang tubuh Andrean dan membawanya ke ruang kesehatan. Andrean dibaringkan di ranjang yang sudah tersedia.
"Minum obatnya dulu." ujar Nana sembari memberikan obat pada Andrean.
"Terima kasih Nana, ternyata kamu masih peduli padaku."
"Tidak perlu berterima kasih, ini juga salahku gara-gara minuman itu kamu jadi seperti ini."
Saat Nana hendak menaruh botol obat kembali kedalam kotak obat, tiba-tiba Andrean menarik tangannya membuat Nana mematung.
Dan bersamaan dengan Hessel masuk ke ruang kesehatan, dia memang sedang mencari Nana karna dari pagi tadi Hessel tidak melihat Nana sekarang dia menemukan Nana di UKS bersama seorang pria.
Nana yang menyadari kehadiran Hessel langsung menarik tangannya dari cekalan Andrean.
"Pak Hessel..." sapa Andrean. Hessel pun masuk untuk mengecek keadaan Andrean sekaligus untuk memastikan ada hubungan apa Andrean dengan Nana.
"Sudah lebih baik?" tanya Hessel.
"Sudah pak, Nana baru saja memberiku obat."
"Jadi kau merasa baikkan karna dia?"
"Ya seperti itulah pak." Andrean tersenyum malu-malu melirik Nana.
Hessel menatap Nana dengan tajam Nana hanya bisa menunduk tidak berani menyapa Hessel, sedangkan Hessel juga bersikap acuh padanya. Nana juga takut nanti Hessel bisa salah paham.
.
.
.