
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.15 Wib saat Hessel selesai membantu ayah membuat bingkai foto yang cantik dan imut.
"Ayah, biar Hessel yang membawanya" ucap Hessel menawarkan bantuan, karna dia tidak tega melihat mertuanya membawa kotak yang cukup berat karna isinya bingkai foto semua serta perkakas untuk membuatnya.
"Nak Hessel masuk kamar aja, ayah bisa kok" ayah sempat menolak.
"Sungguh saya ingin membantu ayah, saya kan jarang datang kemari kapan lagi saya akan membantu ayah, selagi ada waktu saya disini." kata Hessel membuat ayah tersenyum.
Setelah menganggkut dan mengemaskan perkakas Hessel pun memasuki kamar Nana, dimana dia melihat istrinya sudah berbaring di atas kasur sempit dan keras itu.
"Hm dia sudah tidur rupanya." gumam Hessel kemudian dia mendekat dan ikut berbaring di samping Nana.
Hessel merasa sulit tidur bukan karna kasur sempit tapi karna dia tidak terbiasa tidur dibawah minimnya cahaya lampu, sehingga dia bangkit dan hanya duduk memandang istrinya sambil menunggu matanya benar-benar mengantuk.
"Sangat cantik" dia tersenyum sambil menyeka kebelakang rambut yang menutupi wajah istrinya.
Hessel terus memandang wajah imut, cantik, dan manis milik istrinya apalagi disaat sedang tidur.
"Terima kasih sudah mau menerima segala kekuranganku, kamu selalu sabar menghadapi sikap dinginku, terima kasih sudah menjadi istriku, aku janji secepatnya aku akan mengatakan padamu bahwa aku sangat sangat mencintai dirimu, sangat mencintai tapi untuk mengatakan cinta saja rasanya begitu sulit bagiku" lirih Hessel disaat Nana tidur.
Terlihat Hessel mengembangkan senyumnya dengan tulus, namun sayang Nana tidak bisa melihat senyuman dari suaminya karna dia sedang tertidur pulas.
cuppp... Hessel mengecup kening Nana, lalu dia pun ikut tertidur bersama istrinya dengan satu bantal, meski harus berembetan di kasur sempit tapi mereka terlihat nyaman tidur dengan posisi seperti itu.
Pukul 04.10 dini hari
Nana terbangun setelah dirasanya tidurnya begitu nyenyak dan Nana melihat Hessel tidur sangat nyenyak dihadapannya sambil memeluk dirinya mulai sekarang Nana sudah terbiasa menerima perlakuan Hessel.
"Kasian mas Hessel, dia harus ikut tidur dikasur sempit dan keras ini" gumam Nana, di usapnya pucuk kepala sang suami dengan lembut.
Saat Nana menatap lekat wajah Hessel, terlihat Hessel mulai membuka matanya dan Nana sesegara mungkin kembali memejamkan matanya pura-pura masih tidur.
Dilihatnya istrinya masih tidur, kemudian Hessel pun menciumnya.
"Alhamdulillah udah azan." ucap Hessel setelah mendengar suara azan subuh berkumandang. Dia pun bangkit dan membangunkan istrinya untuk shalat.
Belum sempat Hessel membangunkannya, Nana mendadak bangun dengan ekspresi tak biasa sampai membuat Hessel kaget.
krikkk... krikkk...
cukup lama Hessel terdiam karna istrinya bangun dengan wajah yang menakutkan. Nana mengancingkan gigi rapat-rapat dan membelalakkan matanya lebar-lebar sehingga Hessel hampir jatuh dari tempat tidur akibat kaget.
"Astaga Na, kau membuatku shock" nafas Hessel jadi sesak, tubuhnya mendadak panas dingin sementara Nana malah tertawa.
"Jangan seperti itu lagi Na, aku beneran kaget lho"
"Maaf mas maaf, aku hanya becanda."
"Iya jangan gitu lagi gak lucu Na, kamu membuatku takut dan khawatir."
mendadak Nana bersikap manja, dipeluknya suaminya dari belakang, lalu kepalanya menempel dipundak Hessel.
"Mas bisa khawatir juga ya sama Nana?" tanyanya.
"Bagaimana aku gak khawatir, jika tadi aku berteriak maka seisi rumah ini juga ikut kaget " ucap Hessel beralasan, Nana langsung melepaskan pelukkannya dan bersikap biasa saja.
"Hanya itu alasan mas"
"Iya memangnya apalagi Nana"
"Hm, padahal Nana berharap kalau mas khawatir sebab mas cinta sama Nana, ternyata tidak, hmmm Nana bisa mengerti" ucap Nana terang-terangan dengan wajah sedih.
diusapnya pucuk kepala Nana, lalu diacak-acaknya rambut Nana dengan gemas hingga rambut Nana berantakkan membuat istrinya itu bertambah jengkel.
"Arghhh mas berantakan kan jadinya, ambilin sisir di atas almari plastik" gerutu Nana kesal gara-gara rambutnya di acak-acak.
"Yang mana?" pura-pura gak lihat apa-apa.
"Itu mas yang mana lagi hanya ada 1 almari" sehingga Nana sedikit kesal.
Disaat Nana menyisir rambutnya, tiba-tiba Hessel mengambil alih sisirnya dan dia mulai menyisir rambut istrinya kemudian mengikat rambutnya.
"Sudah rapi" ucap Hessel, Nana terdiam tercengang sambil berbalik menghadap suaminya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Hessel.
"Aneh aja, Nana kan gak meminta mas untuk mengikat rambut Nana" kata Nana, Hessel tersenyum tanpa menjawab.
"Kita shalat dulu yuk udah azan subuh" ajak Hessel lalu di tariknya tangan Nana, mereka pun berjalan beriringan menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur.
"Wudhu bareng lagi ya mas" ucap Nana membujuk.
"Iya boleh kok" Hessel pun mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Nana.
Selesai melaksanakan shalat subuh dengan khusyuk, Hessel dan Nana memutuskan berpamitan untuk pulang.
"Kalian gak mau sarapan disini dulu?" tanya ibu.
"Nana dan mas Hessel kan masuk kelas pagi bu, makanya kami harus buru-buru pulang, kami juga tidak bawa baju salinan." jawab Nana.
"Ya udah kalian hati-hati di jalan"
"Nak Hessel, kami titip salam sama papa dan mamamu" ucap ibu.
"Iya bu, nanti Hessel sampaikan" jawab Hessel.
"Kalau ibu dan ayah ada masalah keuangan atau apa jangan segan-segan beritahu saya, saya juga akan selalu menelpon kalian." lanjutnya.
"Iya nak Hessel, kami tidak segan kau ini sudah seperti putra kami." ucap ayah, dibawanya Hessel kedalam pelukkannya.
"Kalau gitu kami pamit dulu" ucap Hessel, lalu sebelum pergi dia dan istrinya tak lupa menyalami tangan ayah dan ibu secara bergantian.
Pukul 05.55 tidak sampai satu jam lamanya perjalanan pulang, mereka pun sampai di rumah.
"Assalamualaikum" ucap Nana berbarengan dengan Hessel, lalu Nana memencet bel.
"Waalaikum salam" sahut mama kemudian membuka pintu.
"Akhirnya kalian sampai juga, Nana mama sangat rindu padamu, apa kabar nak?"ucap mama begitu antusias bertemu Nana lalu dipeluknya menantunya itu.
"Alhamdulillah ma Nana baik, Nana juga rindu" dibalasnya pelukkan mama.
"Nah ini dia biangkeroknya baru pulangkan dia, masih coba-coba kabur dari rumah, kau tau mamaku cemas gak beralasan karna ulahmu" tiba-tiba Devan ikut menghampiri mereka di ruang tamu dan menggerutui Nana tanpa sebab, sementara Nana diam dan tak ingin berdebat dengan anak kecil itu.
"Devan, jangan gitu sama kakakmu" tegas mama mencubit Devan.
"Biarin, bair dia sadar diri." cetus Devan dengan sikap dinginnya yang melebihi Hessel.
"Hei Dev kau jangan memarahiku dulu, aku punya sesuatu untukmu" ucap Nana seketika Devan terdiam dan melihat sesuatu yang Nana bawa.
"Apa yang kau bawa?" tanyanya ketus.
"Tadaaa!!! pasti kau menyukai ini kan?" Nana tersenyum sambil menunjukkan sebuah jam tangan.
"Bagaimana kau bisa tau ini kan..." Devan tidak melanjutkan kalimatnya karna bingung.
Nana tidak menjawab, sementara yang lain ikut senang karna Nana sudah tau caranya membuat Devan senang, yaitu dengan cara menyogoknya, sogok dengan ap saja yang dia sukai.
"Kau menyogokku lagi" ucap Devan masih ketus tapi mau menerima jam tangan yang Nana belikan.
"Siapa yang nyogok, aku beli untuk kakakmu tapi kayaknya itu lebih cocok untuk remaja seusiamu." kata Nana.
"Hei kau membelikanku tapi kok gak bilang-bilang malah di kasih ke Devan" bisik Hessel ketelinga Nana dengan sedikit rasa jengkel.
"Itu memang untuk dia mas, biar dia merasa Nana selalu memperhatikannya" ucap Nana pelan hanya terdengar oleh Hessel.
"Gak adil namanya Na" jawab Hessel sedikit jengkel.
"Menantu mama hebat, sepertinya Devan bakal luluh sama kamu sayang." bisik mama ketelinga Nana, Nana tersenyum sedikit lega sedangkan Devan masih saja ketus.
"Ma, Nana permisi dulu ya mau mandi harus ke kampus pagi ini." ucap Nana permisi,
sementara Hessel masih berbincang-bincang dengan papanya membicarakan masalah kantor. Keputusan Hessel sudah bulat dia sudah setuju untuk membantu ayahnya selama sang ayah masih mengurus bisnis berlian di Itali. Hessel sudah mulai bisa memikirkan kondisi ayahnya yang sudah tidak muda lagi, siapa lagi jika bukan dia yang akan meneruskan bisnis sedangkan adiknya masih dibawah umur, cukup lama jika harus menunggunya.
"Oo ya ma, kemarin nenek datang kemari" ucap Hessel memberitahu.
"Mama sudah tau, kemarin sebelum pulang ke rumah kami malah ke Bogor jengukin nenekmu, mama dan papa juga di hajar seperti kalian."
"Nenek mengatakan semuanya pada mama dan papa apa yang terjadi selama dia datang ke rumah?" tanya Hessel menyelidiki, dia khawatir nenek akan bicara tentang dia dan Nana.
"Mama gak tau, dia hanya bercerita katanya kalian bertambah akrab, dan nenekmu itu selalu memuji Nana, dia teramat menyukai Nana sepertinya, bagaimana denganmu Hes"
Hessel manggut-manggut dan tersipu.
"Ahhh mama, Hessel belum tau ma, belum bisa memastikannya."
"Kau jangan lama-lama segeralah beri istrimu kepastian sayang, mama dan papa juga seperti itu menikah karna perjodohan, nenek kakekmu juga begitu tapi lihatlah kami bisa bahagia."
"Sepertinya keluarga kita turun temurun ya ma untuk menikah harus di jodohkan." ucap Hessel.
"Ya gak apa-apa tidak semuanya menikah karna perjodohan itu berdampak buruk, sayang. Kau bisa melihat mama dan papa yang ada di hadapanmu ini, jika bukan karna di jodohkan maka kau dan adikmu itu tidak akan ada di dunia ini." ucap mama membuat mereka seketika tertawa.
"Diantara mama dan papa siapa yang lebih dulu mengungkapkan perasaan, dan bagaimana cara mengungkapkannya?" tanya Hessel yang merasa tidak punya banyak keberanian untuk mengatakan isi hatinya pada istrinya.
"Papa yang nembak mamamu duluan, pas di malam pertama" jawab papa membuat mama canggung
"Ahkkk... serius pa, semudah itu papa mengatakan pada mama?"
"Iya karna papa meminta hak sebagai suami jadi terpaksa harus bilang cinta dulu."
"Arghhh papa menyebalkan dasarrr" ucap mama jengkel sambil memukul papa dengan bantal di sofa.
"Papa keterlaluan" maki Hessel.
"Lama-lama akhirnya papa beneran jatuh cinta sama mamamu, apa lagi saat papa tau dia sedang hamil anak pertama kami yaitu kamu, papa semakin jatuh cinta"
"Manis sekali, apa Hessel bisa seperti papa, Hessel gak yakin."
"Tapi ada yang lebih menyakitkan" ucap mama.
"Apa ma?"
"Diusia pernikahan kami yang ke ketiga bulan, mama dan papamu hampir bercerai"
"Benar begitu pa? lalu bagaimana dan kenapa?"
"Wanita dari masalalu papa tiba-tiba saja datang dia masih berinisiatif untuk mendapatkan papa, tapi papa sama sekali tidak ingin bersamanya lagi, sedangkan mamamu dia salah paham, ya memang sih semua juga salah papa karna papa tidak menjelaskan apa-apa pada mamamu, kala itu papa masih menganggap enteng pernikahan jadi belum ada niatan untuk menceritakan masalalu dengan jujur sampai akhirnya kami bertengkar dan papa bicara kasar pada mamamu, hingga mamamu menggugat papa ke pengadilan." jelas papa panjang lebar.
"Mama merahasiakan kehamilan mama demi papamu bahagia bersama wanita itu, sampai akhirnya satu hari sebelum persidangan Allah memberi kami jalan keluarnya, ternyata mama hanya salah paham, dan papamu juga mengetahui bahwa mama sedang hamil, akhirnya kami pun memutuskan untuk bersama-sama lagi." sambung mama bercerita.
"Hessel sangat terharu ma" ucapnya.
"Mama dan papa berharap kamu dan Nana jangan sampai mengalami hal yang sama, dan kamu Hes sebagai suami jangan suka membuat istrimu curiga atau cemburu, jangan menyimpan banyak rahasia, seorang istri paling bisa memendam rasa sakit tapi hatinya juga sangat sensitif, dia tidak akan kuat bila melihat suaminya bersama wanita lain" ucap mama.
"Iya ma, tapi Hessel perlu waktu, tidak mudah bagi Hessel untuk mencintai wanita lain setelah hati Hessel dikhianati oleh dia ma."
"Iya mama mengerti, setidaknya pertahankan rumah tanggamu, segeralah melupakan masalalu yang sudah menghianati kamu"