MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
PENYESALAN DEVAN



"Om badut, terima kasih sudah menghibur istri saya, berkat om badut istri saya jadi mau makan juga." ucap Hessel sembari merangkul dan membelai kepala Nana.


"Kapan-kapan om badut mampir ke rumah kami juga ya." kata Nana dengan tatapan berbinar melihat suaminya.


Om badut mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya, sembari permisi keluar. Di luar Devan membuka kostumnya dan masih berdiri di depan ruang rawat Nana.


"Mas, setelah keluar dari rumah sakit boleh enggak kita jalan-jalan ke rumah nenek?"


"Tentu saja boleh, asalkan kamu sudah dapat izin dari dokter sayang."


"Jika dokter tidak mengizinkan gimana, mas?"


"Nenek yang akan datang ke rumah."


"Tapi Nana pengin kita yang ke rumah nenek, nenek pasti senang dengar Nana hamil mas, Nana mau kasih tau nenek secara langsung enggak mau lewat telepon."


"Baiklah sayang, besok aku coba izin ke dokter, sekarang kamu istirahat dulu jangan mikirin apapun dulu."


Hessel menyelimuti Nana, lalu duduk sambil menggenggam tangannya dan mengelus kepala Nana.


Tidak ku duga kak Laras sekejam itu sama Nana, syukurlah Nana dan calon anaknya bisa selamat.


Kak Hessel sepertinya juga sangat menyayangi Nana, jika kak Hessel bisa menerima Nana lantas kenapa aku tidak bisa, aku juga pasti bisa menerima Nana sebagai kakak iparku, bukankah selama mama dan papa keluar negeri kak Hessel dan Nana yang menjagaku, Nana juga sangat peduli padaku, dia tidak pernah membalas apa yang telah ku lakukan padanya.


Walaupun Nana sedikit bodoh dan terlalu jujur tapi kasih sayang Nana mampu meluluhkan kakak, seharusnya dari awal aku bersyukur kakakku punya istri selembut Nana.


Devan memperhatikan kakaknya sedang menidurkan Nana, dan melihat kakaknya mencium Nana penuh ketulusan. Devan tidak bisa menghalangi kakaknya untuk terus dekat dengan Nana, bagaimanapun sekarang Nana sudah menjadi istri kakaknya bahkan sebentar lagi Devan akan memiliki keponakan dari Nana.


Esok pagi


Kebetulan hari minggu,


pagi-pagi Devan sudah berberes mengemaskan makanan ke dalam rantang untuk menjenguk Nana, Devan ingin menunjukkan kalau dirinya sayang sama Nana dan calon keponakkannya.


"Mulai hari ini aku akan memanggil Nana dengan sebutan kakak, semoga Nana senang makan ini." gumam Devan sebelum beranjak dari dapur.


"Bibi, terima kasih sudah membuatkan opor ayamnya, Devan berangkat dulu." Hari ini Devan juga ramah berpamitan dengan pelayan, pelayan saling pandang dan melempar senyum.


Devan keluar dari rumahnya dan menghampiri supir. Mereka pun berangkat ke rumah sakit, tapi sebelum sampai di sana Devan mampir ke toko bunga. Seperti yang dia lihat di tv-tv saat mau menjenguk orang sakit mesti ada oleh-oleh biar enggak datang dengan tangan kosong begitu.


Devan menelepon Nuri, memberitahu sekaligus mengajak Nuri pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Nana. Sayangnya Nuri tidak bisa ikut karna ini hari minggu, dia sibuk membantu ibunya berjualan kue di pasar.


Kebetulan Devan melihat Andrean, langsung saja dihampirinya.


"Kak tunggu!" panggil Devan sontak Andrean berbalik.


"Kamu memanggilku?"


"Kakak temannya Nana kan?"


"Iya benar, kamu siapa ya?"


"Aku Devan adik iparnya."


"Oh, apa kabar Nana sekarang?"


"Dia masih di rumah sakit, kakak sudah menjenguknya belum?"


"Kenapa emangnya?"


"Kakak mau kan temani Devan menjenguknya!"


"Bukankah kamu adik iparnya, pergi saja sendiri."


"Kakak kan temannya, dan kakak belum menjenguk Nana, ayo kak kita pergi sama-sama."


Arin keluar dari dalam toko fotocopy setelah selesai membuat makalah, dia melihat Devan seperti sedang memohon-mohon pada Andrean tapi Andrean tidak terlalu menanggapinya, Arin merasa kasihan sehingga di hampirinya.


"Devan, Drean, kalian kok bisa barengan?" tanya Arin.


"Dia mengajakku bertemu Nana, tapi dia terus memaksaku padahal aku sudah menolaknya." jawab Andrean, Arin mengerti posisi Andrean yang sedang berusaha menghapus rasa cintanya kepada Nana tapi dia juga tidak tega melihat Devan diperlakukan dengan kasar oleh Andrean.


"Devan, Nana masih di rumah sakit ya?" tanya Arin


"Iya, tapi siang nanti dia sudah boleh pulang."


"Kebetulan aku belum menjenguk Nana, gimana kalau kita pergi bersama, bolehkan aku ikut menjenguknya?" kata Arin mencoba menawarkan diri.


"Boleh kok, semua teman Nana boleh menjenguknya."


"Tidak perlu kak." kata Devan melarang Arin.


"Kenapa Dev, enggak enak rasanya jika tidak bawa apa-apa."


"Kakak jangan khawatir, aku sudah membawa buah-buahan, bunga, dan masakkan untuknya, kakak tinggal pilih mau yang mana untuk diberikan pada Nana."


"Anak pintar! baik-baik ya Dev sama Nana." Arin gemas sampai tak tahan ingin mengacak-acak rambut Devan, dan Devan hanya bisa tersenyum.


Di rumah sakit


Hessel baru saja selesai mengurus administrasi di bagian administrasi. Wakil Direktur meneleponnya memberitahu Hessel ada berkas yang harus segera di tanda tanganinya. Mengingat hari ini Nana sudah dibolehkan keluar dari rumah sakit dan Nana ingin bertemu nenek, Hessel tak ingin membuat istrinya kecewa, dan menyuruh sekretarisnya untuk membawa berkas-berkas tersebut ke rumah sakit.


Hessel kembali ke ruang rawat Nana, dan melihat sarapan masih tergeletak di atas meja sedangkan Nana tidak ada di sana.


"Dimana dia?" gumamnya mulai cemas sambil mencari keberadaan Nana.


Di dalam toilet juga tidak ada Nana, Hessel sangat cemas takutnya Nana diculik lagi.


Tiba-tiba Nana masuk ke ruang rawatnya, malah membuatnya terkejut melihat suaminya berdiri tegap memantau keluar jendela. Hessel melihat Nana dan langsung dipeluknya.


"Kau dari mana saja?" tanya Hessel sambil memegang pipi Nana dengan kedua tangannya.


"Aku pergi ke kantin." jawab Nana tersenyum menyeringai, karna wajah cemas Hessel saat itu menurutnya sangat lucu.


"Kebiasaan, apa kau tidak bisa menunggu sebentar saja sampai kau nekat pergi sendirian?" gerutu Hessel.


"Nana ingin makan opor ayam, karna mas lama jadi Nana turun ke bawah sendiri dan pergi ke kantin beli opor ayam." jelas Nana bicara lemah lembut sambil tertunduk.


"Sayang, aku minta maaf aku tidak bermaksud memarahimu, aku hanya khawatir takut terjadi sesuatu padamu." kata Hessel bicara pelan sambil membawa Nana ke dalam pelukkannya.


"Tapi mas lihatkan Nana baik-baik saja, lagipula Nana hanya pergi ke kantin rumah sakit enggak jauh."


"Lain kali bilang kalau kau perlu apa-apa, apa gunanya aku berada di sini tapi tidak bisa membantu istriku bahkan saat dia ingin makan opor ayam."


"Nana minta maaf juga mas sudah sering membuat mas cemas."


"Dimana opor ayam yang kamu beli? biar mas suapin makannya." Hessel melepaskan pelukkannya lalu membawa Nana duduk di atas pembaringan.


"Opornya habis mas, Nana enggak kebagian."


"Kasihan istriku!" mencubit pipi Nana.


"Makan apa adanya dulu ya Na, setelah itu minum obatnya." kata Hessel sambil menyuapi Nana. Karna Nana hanya ingin makan opor ayam, Nana memakan sedikit sarapannya yang dibeli dari rumah sakit lalu minum obat.


"Mas, hari ini kita jadi kan pergi ke rumah nenek?" tanya Nana.


"Belum tau sayang."


"Kok belum tau, jangan-jangan mas sengaja tidak izin pada dokter supaya kita tidak bertemu nenek."


"Mas kenapa sih, Nana rindu sama nenek, nenek tinggal sendirian di sana, apa Nana salah ingin mengunjungi nenek?" gerutu Nana mulai emosi.


"Sayang bukan begitu, dokter yang memeriksamu belum datang makanya aku belum bisa izin sekarang." jelas Hessel menenangkan.


"Kapan dokternya datang mas, Nana tidak sabar ingin bertemu nenek."


"Kita tunggu dulu, sayang, bentar lagi jam 8 dokternya juga akan datang." kata Hessel sambil mengelus-elus kepala Nana.


"Iya mas Hessel sayang." seru Nana dengan manja sambil membenamkan kepalanya di dada suaminya.


Sontak Hessel mengangkat bahu Nana dan menatapnya dalam-dalam.


"Katakan sekali lagi yang barusan kau katakan!" pinta Hessel dengan senyum sumringahnya.


"Mas Hessel sayang." Nana mengulangi kata-katanya dan membalas tatapan Hessel.


"Kau mulai memanggilku sayang?"


"Kenapa mas, mas tidak suka ya, Nana tidak akan bicara seperti itu lagi."


Langsung dipeluknya kembali istrinya dengan penuh semangat.


"Aku suka Na, sangat menyukainya, kau tidak perlu berhenti memanggilku seperti itu."


"Nana sayang kamu mas, sangat menyayangimu." lirih Nana membalas pelukkan Hessel dan mengeratkan pelukkannya.


"Tetaplah menjadi istriku Na, hiduplah selamanya bersama denganku karna aku menyayangimu lebih dari yang kau tau." batin Hessel sambil mencium pucuk kepala Nana.