MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
AKANKAH TERUNGKAP?



Pukul 01.15 malam Hessel terbangun dari tidurnya. Dia langsung bangkit melihat istrinya begitu pulas tertidur sehingga dia tidak tega untuk membangunkannya.


Hessel beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, lalu dia berwudhu untuk melaksanakan tahajud mumpung terbangun saat tengah malam.


Selesai shalat tahajud dia sempat duduk sebentar di sisi ranjang hanya sekedar untuk mengusap pucuk kepala Nana dan mencium keningnya.


Matanya selalu tidak bisa tidur setelah bangun saat tengah malam jadi Hessel berpindah mengambil laptopnya dan duduk di sofa sambil memangku dan memainkan laptopnya. Hessel bukan sekedar membuka laptop tapi dia sedang mendata nama-nama murid yang akan melaksanakan ujian akhir semester sekaligus melihat-lihat isi surel yang masuk ke dalam akun bisnisnya.


Setelah beberapa bulan lamanya vakum dari dunia bisnis, Hessel merasa bersalah karna sudah membiarkan ayahnya bekerja keras. Dia bisa merasakan betapa sulit dan lelah ayahnya bekerja sendirian mengurus perusahaan, tapi kini dia akan menjadi Hessel seperti yang ayahnya harapkan, dia tidak akan membiarkan ayahnya berjuang sendirian mempertahankan perusahaan mereka agar tetap berdiri tegak.


"Mas, kok belum tidur?" tiba-tiba terdengar suara Nana, Hessel refleks melihat istrinya terbangun.


"Nana, kamu kok bangun, tidur lagi Na harus banyak istirahat." kata Hessel lembut menanggapinya.


"Mas sedang apa?" Nana masih terlihat mengerjapkan kedua matanya sambil menggosok-gosoknya.


"Mendata peserta ujian Na, tidur lagi Na kau masih sakit." ujar Hessel.


Nana tidak memperdulikan kata-kata suaminya, dia turun dari ranjang kemudian menyalakan tv lalu mengambil setoples sandwice yang ada di atas nakas dekat tempat tidur dan dia duduk berpangku kaki di lantai, sementara Hessel duduk di sofa sibuk dengan laptopnya.


"Kau ini bukannya tidur malah menonton tv, istirahatlah Na biar cepat sembuh." Hessel dengan mudah meraih pucuk kepala Nana untuk mengacak-acak rambutnya karna Nana duduk tepat bersandar di kakinya.


"Ahhh Nana sudah sembuh kok mas, besok Nana kan libur." sahutnya sementara matanya hanya fokus pada drakor yang di tontonnya.


"Kok ada ya mas drakor tengah malam gini?" tanya Nana, sedangkan Hessel tidak tau menau apa itu drakor.


"Drakor itu apa?"


"Ahkk... hari gini gak tau drakor, drakor itu drama korea mas." ucap Nana menjelaskan sambil cekikikan menertawakan suaminya.


Hessel mengeryitkan keningnya menggelengkan kepala sambil menghela nafas dan tertunduk sesaat, dia jadi sedikit malu ternyata orang cerdas sepertinya banyak tidak tau hal sepele.


"Mas mau?" tanya Nana sembari mengunjukkan sandwice kedekat mulut Hessel.


"Aaaaa" Nana menyuapi suaminya dengan sandwice sambil menonton tv dan menemani Hessel bekerja di tengah malam.


"Lanjutkan makanmu, biar kamu makin gendut." goda Hessel sembari ditepuk-tepuknya pundak Nana seolah sedang menimang istri kecilnya.


"Bukankah mas suka wanita bertubuh langsing dan tinggi semampai seperti bu Laras." cetus Nana kesal dan sedikit menjauhkan dirinya dari Hessel.


"Hei siapa yang bilang seperti itu?"


"Devan yang bilang, setelah Nana pikir-pikir memang ada benarnya."


"Kau ini masih saja percaya pada musuhmu."


"Habisnya Nana kesal, kan Nana gak bisa tinggi dan sexy seperti bu Laras."


"Terserah kau saja, keluarkan semua pendapatmu saat menilai perasaanku."


"Nana bolehkan melarang mas, seperti mas melarang Nana agar tidak dekat-dekat dengan Andrean."


"Bukankah aku sudah menjauhi dia sejak lama."


"Hm, tapi bu Laras masih saja mengejar-ngejar mas."


"Iya seperti kamu mengejar-ngejarku."


"Nana serius lho mas, Nana cemburu."


"Aku juga serius Nana, aku suka membuatmu cemburu."


"Menyebalkan." cetus Nana kembali memutar tubuhnya membelakangi Hessel.


Hessel turun dari sofa dan ikut duduk lesehan di lantai, dipeluknya Nana dari belakang lalu dicium-ciumnya pipi Nana sedangkan Nana yang kesal merasa risih dengan perlakuan suaminya.


"Lepasin Nana mas, Nana gak suka." gerutu Nana saat Hessel mengecup pipi kanan dan kirinya secara bergantian.


"Sejak kapan kau menolak, arghh ada apa denganmu hah?" ucap Hessel seketika berhenti mencium Nana, dan mulai menepis rambut Nana yang menutupi keningnya.


"Mulai hari ini Nana gak nafsu mas walau sekedar dicium, tidak tau kenapa Nana bisa merasa seperti ini."


"Astaga, baiklah aku akan coba memahaminya."


"Mas gak marahkan jika Nana menolak dicium?"


"Mau gimana lagi, kau tidak mau mana mungkin aku memaksa."


"Nana minta maaf mas, mas udah jam 3, mas belum mengantuk ya? apa mas gak capek, gak mau istirahat dulu?" tanya Nana tiba-tiba menggelut suaminya dengan tingkah manjanya.


Hessel menerima istrinya dengan hangat, dipeluknya Nana dengan lembut dan dikecupnya pucuk kepala Nana.


"Nana tidur dulu ya, sedikit lagi mas selesai setelah itu mas akan tidur." ucap Hessel membujuk istrinya agar istrinya tidur lebih dulu.


"Nana mau disini mas, biarkan Nana tidur seperti ini." ucap Nana, dia lebih nyaman tidur dipangkuan Hessel sambil menemani Hessel.


Hessel tidak bisa menolak permintaan istrinya yang semakin hari semakin bertambah manja itu.


Sambil menyelesaikan tugas-tugasnya, Hessel membiarkan istrinya berbaring di pangkuannya sambil menggelut tubuhnya, membiarkan Nana mencubit-cubit perut dan dadanya hingga tak terasa Nana berhenti sendiri karna dia lelah menjahili suaminya sementara suaminya hanya sibuk mengotak-atik keyboard laptop dan dia pun tertidur dengan sendirinya setelah menjahili suaminya.


Hessel bisa merasakan tingkah dan mood Nana yang mudah berubah-rubah beberapa hari ini, kadang dia merasa risih dan tidak mau disentuh tapi sekarang malah dia yang meraba tubuh Hessel yang membuatnya baru bisa melanjutkan tidurnya.


Setelah menyelesaikan tugasnya, Hessel menutup laptopnya kembali, dilihatnya istrinya begitu nyenyak.


Pelan-pelan Hessel menggerak-gerakkan badannya ke kiri dan ke kanan alih-alih meregangkan otot-ototnya yang lemas tanpa membuat Nana terbangun. Tak lupa pula dia mengecup istrinya sebelum akhirnya dia ikut tidur dengan posisi duduk di lantai dan menyandar di sofa sedangkan Nana tidur berbantalkan paha suaminya hingga pagi menyingsing.


"Huahhh, nyenyaknya tidurku." gumam Nana sembari menggeliat dan langsung sadar bahwa dia sedanh tidur dipangkuan suaminya sedangkan suaminya tidur dengan posisi duduk.


"Konyol sekali kenapa tidak membangunkanku, malah memilih tidur dengan posisi seperti ini, apa dia tidak kesakitan." ucap Nana bicara pada dirinya sendiri.


tok... tok... tok...


suara ketukan pintu membuat Nana bergegas beranjak dari suaminya menuju arah pintu.


"Kaaa..." ucap Devan terputus saat melihat Nana yang membukakan pintu.


"Devan." ucap Nana merendahkan nada suaranya.


"Kakakku mana, aku lapar." sedangkan Devan meninggikan suaranya.


"Shuttt... kakakmu tidur, kita kan sudah punya pelayan pasti mereka sudah memasak sarapan sekarang, kau turunlah ke bawah jangan berisik." ucap Nana berbisik.


"Aku maunya makan masakkan kakak seperti semalam." ucap Devan membantah.


"Kasian kakakmu jika bangun dia akan kurang tidur."


"Memangnya semalam kalian ngapain, sampai kakak kurang tidur."


"Shuttt, aku sudah bilang pelankan suaramu, cepat makan dulu sana nanti telat ke sekolahnya, maaf maaf Dev, aku harus mengusirmu." ucap Nana sambil memapah Devan menjauh dari kamarnya.


"Aku tidak suka padanya, dia semakin berkuasa di rumah ini, apakah aku salah meminta kakakku yang membuatkan aku sarapan, istri seperti apa dia selalu mengatur suaminya." gerutu Devan sambil menuruni tangga, sedangkan Nana saat melihat Devan mulai turun ke lantai dasar dia pun bergegas kembali ke dalam kamar.


"Lho, mas Hessel kok gak ada bukannya tadi dia tidur di sini? apa aku sedang bermimpi ya?" ucap Nana saat masuk ke kamar tidak melihat suaminya di dekat sofa.


"Arghhh, aku masih ingat kok semalam kami memang tidur di sini, tapi kemana mas Hessel?" ucapnya lagi meyakinkan dirinya sendiri dan menggaruk-garuk kepalanya karna bingung.


"Oow aaaa..." pekik Nana sedikit berteriak kaget saat berbalik badan tiba-tiba saja suaminya sudah berada tepat di belakangnya sedang bertelanjang dada.


Hessel tersenyum dengan senyuman yang telah membuat Nana jatuh cinta dan selalu berdebar-debar. Dilingkarkannya kedua tangannya di pinggang Nana dengan menyatukan kedua tubuh mereka.


"Kau harus bertanggung jawab!" ucap Hessel.


Nana sudah bisa membaca pikiran suaminya, pasti suaminya marah karna sudah mendengarnya ribut dengan Devan yang sudah membuat suaminya terbangun dari tidur.


"Nana minta maaf mas, sudah mengganggu tidur mas." sesal Nana merundukkan kepalanya ke dada Hessel yang bidang dan berisi.


"Tenanglah aku tidak marah, temani aku mandi bolehkan?" ucap Hessel lembut sambil membelai rambut Nana yang membuat Nana merasa dimanja.


"Em" Nana mendongak ke atas dengan pandangan membingungkan melihat suaminya.


"Aku tidak akan macam-macam percayalah, aku hanya meminta bantuanmu untuk menggosok punggungku yang gatal ini."


"Iya deh Nana mau, kan mas suami Nana gak mungkin donk Nana menolak." jawab Nana tersenyum.


"Nana ganti baju dulu mas, pakai handuk aja biar Nana bisa sekalian mandi."


"Hm, aku tunggu di dalam ya." kata Hessel sembari masuk ke kamar mandi, sementara itu Nana melepas piyama yang dikenakannya menggantinya dengan handuk kimono putih yang pendek.


Siapa sangka di luar rumah datanglah Henry ke rumah Hessel, dengan tujuan untuk mengambil data mahasiswa magang tahun lalu yang dipegang oleh Hessel karna di suruh rektor untuk mengopy ulang karna arsip di kantor hilang.


"Bi, Hessel ada? saya Henry mengajar di kampus yang sama dengannya." tanya Henry, sebelumnya Henry tidak pernah datang kerumah Hessel ini pertama kalinya.


"Ada tuan, sepertinya pak Hessel belum bangun." ucap bibi.


"Jam segini dia belum bangun bi, apa dia tidak ke kampus?"


"Tuan belum keluar kamar, hari ini beliau cuti karna nona muda sedang sakit."


"Nona muda, siapa bi?"


"Istrinya tuan."


Sontak Henry kaget mendengarnya, dia seakan tak percaya temannya sudah punya istri tapi kapan menikahnya, Henry bingung memikirkannya. Henry pun tak bisa menebak siapa istri Hessel, apakah benar temannya itu sudah menikah, lalu siapa istrinya, entahlah kepala Henry semakin sakit. Percaya tidak percaya Henry masih ingat betul temannya itu tidak percaya adanya cinta, tapi disisi lain Henry ikut senang jika memang ada seorang wanita yang sudah berhasil melunakkan kembali hati dan kepercayaan temannya itu.


"Tuan langsung saja temui pak Hessel di kamarnya." ujar bibi.


"Baik bi, kamarnya sebelah mana?" Henry berjalan memasuki rumah Hessel tapi tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Tuan naik saja ke lantai 2, di sana ada pintu berbeda dari yang lain itulah kamar beliau."


"Terima kasih bi."


Langsung saja Henry menaiki anak tangga menuju kamar Hessel.


"Apa dia sungguh sudah menikah, kenapa dia tidak memberitahuku, aku jadi penasaran biar aku grebek kamarnya siapa istrinya itu dan sedang apa mereka sekarang." gumam Henry disepanjang jalan saat menaiki anak tangga dan mempercepat jalannya agar cepat sampai di kamar temannya, Henry menjadi penasaran kepada temannya.


Tok... tok... tok... terdengar ketukkan pintu dari luar disaat Nana sedang melepas cd dan branya lalu memakai handuknya.


"Permisi." ucap Henry sambil mengetuk pintu berulang kali karna tidak mendapat jawaban. Nana sedikit kaget mendengar suara laki-laki diluar, dia kesal karna berpikir adik iparnya datang lagi disaat dia mau mandi bersama suaminya.


Saat Nana membuka pintu mulutnya mengoceh begitu saja karna saking kesal pada adik iparnya.


"Aku mau mandi bibi sudah masak untukmu, kau makan saja apa yang mereka maaaa..." raut wajah Nana seketika berubah dan dia berhenti bicara, matanya terbelalak kaget melihat siapa yang berdiri dihadapannya.


"Pak He-henry, pak, ba-bapak..." kata Nana terbata-bata karna terkejut, refleks Nana langsung menutup pintu kamarnya dengan kasar, bersandar dimuka pintu dengan nafas yang terengah-engah serta pikirannya melayang-layang, apa yang akan Henry pikirkan saat melihat dirinya berada di kamar Hessel.


.


.


.


Bersambung