
"Mas..."
Nana membawa jass mendekati suaminya yang duduk di sofa sedang merapikan dasinya sebelum berangkat ke kantor.
"Kenapa sayang pagi-pagi kok mukanya masam?" tanya Hessel.
"Mas yakin mau memberikan kalung itu langsung ke tangan ayahnya Andrean?"
"Aku selalu serius dengan setiap ucapanku." jawab Hessel datar.
"Apa yang akan mas katakan nanti, saat ayahnya bertanya tentang dari mana mas mendapatkan kalung itu?"
"Aku akan mengatakan pada pak Rehan kalau anaknya mencoba mengelabui istriku."
"Bagaimana jika ayahnya malah marah sama mas?"
"Itu tidak akan terjadi sayang, kamu tenang saja pak Rehan adalah rekan bisnis papa yang paling baik." jelas Hessel.
"Baiklah mas, Nana lega mendengarnya." jawabnya tersenyum.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya Na, kamu hati-hati pergi ke kampus, aku sudah minta supir untuk mengantar dan menjemputmu."
Nana pun menyalami tangan suaminya, lalu Hessel berlalu pergi.
Malam Hari
Nana ribet sekali saat berdandan untuk menghadiri acara penting bersama suaminya, dari habis shalat isya dia masih sibuk mengganti pakaiannya karna merasa tidak ada yang cocok.
Sementara Hessel di ruang tamu memainkan ponselnya sambil menunggu sang istri berkemas. Hessel merasa istrinya sudah setengah jam di kamar tapi belum juga selesai berkemas.
Terpaksa Hessel menyusulnya lagi untuk memastikan istrinya sudah siap atau belum.
"Ya ampun Nana semua baju di almari habis kamu keluarkan pantas saja dandannya enggak selesai-selesai." Hessel hanya bisa keheranan dengan tingkah istrinya.
"Nana bingung mas mau pakai gaun yang mana." ujar Nana kesal.
"Nana, Nana, jadi kamu belum membuka box yang ada di atas nakas ini." sambil mengambil sebuah kotak besar dan mengunjukkannya pada Nana.
"Ini box apa mas?" mengambilnya dari tangan Hessel.
"Jelas-jelas di sini tertulis untuk Nana Istriku Tercinta apa kamu tidak bisa membaca sayang?"
"Nana pikir ini box kosong mas." jawab Nana cekikin sambil menggaruk tengkuknya.
"Dasar istriku! Cepatlah pakai gaun ini, aku tunggu di luar." kata Hessel sambil berlalu keluar.
"Terima kasih mas Hesselku sayang." teriak Nana dari dalam, Hessel hanya bisa tersenyum sambil menggeleng heran.
Beberapa menit kemudian
"Nana sudah siap belum?" tanya Hessel dari luar.
"Bentar lagi mas." balas Nana.
"Sudah siap mas." tak lama Nana pun keluar dari kamar menemui suaminya yang berdiri tegap di depan pintu.
Tetapi Hessel malah terdiam dan terpaku melihat Nana.
"Berangkat sekarang!" ajak Nana menggandeng lengan suaminya.
"Mas..." panggil Nana tapi Hessel tidak berkedip sama sekali pandangannya tertuju pada wajah berseri itu hingga Nana mencubit lengannya membuat Hessel sadar dari lamunannya.
"Masya Allah kamu sangat cantik." Hessel kagum begitu melihat Nana yang cantik dengan gaun malam syar'i warna putih yang dipadukan dengan hijab selaras. Hessel tidak salah memilih gaun syar'i tersebut karna dia tidak ingin tubuh istrinya terekspos dilihat banyak orang jika Nana memakai gaun malam yang sexy di acara tersebut.
Terserah orang akan menilai Nana seperti apa dengan penampilannya yang memakai hijab, tapi bagi Hessel istrinyalah wanita yang palinh sempurna di matanya.
"Mas jangan berlebihan memuji Nana." ujarnya tersenyum menunduk.
"Aku sangat berterima kasih pada Tuhan karna telah mengirim seorang bidadari sepertimu." batin Hessel sambil tersenyum menatap istrinya.
Hessel pun cepat-cepat meraih tangan Nana, mereka berjalan bergandengan tangan menuruni anak tangga sampai ke depan mobil yang sudah sedari tadi menunggunya.
"Berangkat sekarang, Tuan?" tanya pak supir dibalas anggukan oleh Hessel.
Sepanjang perjalanan Hessel tak henti-hentinya mengucap masya allah tentunya itu membuat Nana heran.
"Apa mas Hessel mengagumi gedung bertingkat di kota ini?" pikir Nana karna pandangan Hessel tertuju keluar jendela mobil bukannya ke arah Nana.
"Masya Allah indahnya." kata Hessel lagi.
"Mas, kamu kenapa?" sontak Hessel berbalik melihat istrinya.
"Sayang, aku melihat bidadari." kata Hessel membuat Nana kesal dan berpikir jangan-jangan suaminya bermain mata dengan wanita lain.
"Oo ya sudah Nana tidak jadi ikut, pak supir putar balik antar saya pulang." Nana ngambek sontak pak supir pun menepikan mobilnya.
"Pak lanjutkan saja istri saya emosinya sedang naik turun." seru Hessel sambil merangkul Nana.
"Nana jangan ngambek dulu." rayu Hessel meraih wajah Nana.
"Nana ada di depan kamu mas, lalu kenapa mas menatap bahkan sampai memuji wanita lain bukankah memuji wanita lain secara berlebihan selain istri mas itu berdosa?" ujar Nana mengingatkan.
"Aku tidak pernah memuji wanita lain selain 3 wanita terpenting dalam hidupku, pertama mama, lalu nenek, dan yang terakhir kamu Na." jelas Hessel, Nana mulai tersenyum kecil.
"Lalu siapa yang mas puji tadi?"
"Kamu cantik seperti bidadari Na." bisik Hessel, tentu saja Nana merasa malu tapi senang.
"Memangnya mas pernah melihat bidadari sampai mas bisa menyamakan Nana dengan mereka?"
"Tentu pernah."
"Siapa? kapan? dan dimana?"
"Sebelum aku bertemu kamu ada nenek dan mama, merekalah bidadari yang pertama kali aku lihat, dan sekarang bidadarinya bertambah satu yang jauh lebih cantik sampai membuat hatiku bergetar." kata Hessel sambil memegang dadanya.
Nana tersipu malu seakan melambung diudara ternyata suaminya yang lebih sering terlihat dingin bisa juga berkata manis.
"Aish! menyebalkan." Nana mencubit perut Hessel membuat Hessel gemas melihat wajah merona istrinya dan langsung saja dikecupnya kening Nana lalu memeluknya.
Tak lama kemudian mereka pun sampai di depan Hotel Forest Western yang sangat terkenal di Jakarta.
"Nana gugup mas." tangan Nana terlihat gemetar dan sorot matanya sendu.
"Tenanglah sayang ini hanya makan malam biasa."
"Biasa katamu mas, aku tau pasti di dalam banyak orang-orang penting yang punya kedudukan tinggi sementara Nana hanya orang biasa."
"Tapi Nana takut mas."
"Jangan takut sayang, Hessel Steven di sini bersamamu dan selalu di sampingmu." sambil menggenggam jemari Nana yang terasa dingin akibat gugup.
Nana menarik nafas panjang menghembuskannya secara perlahan.
"Hufff... Sekarang aku siap mas." Nana pu turun dari mobil bersamaan dengan Hessel.
Melihat istrinya masih gugup, Hessel langsung dengan sigap meraih tangan Nana dan melingkarkannya ke tangannya.
"Jangan tegang sayang." lirih Hessel tersenyum.
Nana pun menatap Hessel dan tersenyum karna Hessel sudah mengurangi rasa gugupnya, bagaimana tidak gugup secara ini pertama kalinya Nana menghadiri acara makan malam dimana dia akan bertemu orang-orang penting, sekaligus ini pertama kalinya Nana tampil di depan umum bersama Hessel setelah sekian lama mereka menikah.
Nana benar-benar takut akan mengacaukan acara makan malam bisnis Hessel jika dia melakukan kesalahan saat di dalam nanti. Tapi, dengan santainya Hessel berkata kalau dia sangat dihormati jadi tidak akan ada orang yang berani menyalahkannya.
"Percaya diri saja Na, kamu satu-satunya wanita tercantik di sini karna kamu istriku." bisik Hessel.
"Semoga Nana tidak membuat mas malu ya."
"Tentu saja tidak sayang." sahut Hessel.
Nana akhirnya memberanikan diri dan menggenggam lengan Hessel dengan sangat erat, mereka pun pelan-pelan berjalan menuju tempat acara.
Dan benar begitu memasuki tempat acara terlihat begitu banyak orang bahkan para tamu lebih banyak orang luar negeri yang menghadiri acara tersebut.
Saat Hessel dan Nana melangkah masuk seketika banyak mata yang menatap kedatangan mereka berdua.
Para tamu berasumsi masing-masing karna mereka tidak tau bahwa putra sulung dari pengusaha berlian terkenal di Jakarta itu sudah menikah, Nana sangat merasa terganggung dengan tatapan sinis tersebut namun Hessel semakin mengeratkan tangannya menggandeng lengan Nana.
"Selamat malam pak Hessel." sapaan dari beberapa orang mungkin client Hessel dan Hessel senantiasa membalasnya dengan senyuman.
"Mas mereka semua memperhatikan kita." lirih Nana takut.
"Mereka memperhatikan kita karna iri melihatku menggandeng wanita paling cantik."
"Mas apaan sih, Nana serius." Nana jadi tambah kesal.
"Maaf Nana, tapi tenanglah kamu jangan tegang Na, lama kelamaan kamu juga akan terbiasa dengan suasana ini." jawab Hessel dan Nana hanya menurut saja.
"Hello Mr. Hessel, how are you?" sapa client Hessel dari Australia.
"Oh Mr. Arnold, i am fine, how about you?" Hessel bertanya balik.
Mereka saling bertegur sapa dan sedikit membahas bisnis parfum. Mr. Arnold menanyakan siapa wanita berhijab yang bersama dengan Hessel kontan Hessel memberitahu bahwa Nana adalah istrinya dan memberitahu mereka sudah menikah 5 bulan yang lalu. Sontak kalimat tersebut membuat para tamu yang lain terkejut terutama tamu wanita yang sudah cukup lama tergila-gila pada Hessel.
"Nice to meet you, Miss Nana." kata Mr. Arnold hendak berjabat tangan dengan Nana tapi ternyata Nana membalas dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Nice to meet you too." balas Nana, Mr. Arnold pun langsung mengerti bahwa istri Hessel bukan wanita sembarangan dan beliau mengucapkan kata beruntung pada Hessel karna sudah mendapatkan istri seperti Nana.
Hampir satu persatu orang menghampiri Hessel untuk membicarakan bisnis.
"Nana pikir mas hanya bisa mengajar tapi ternyata mas juga hebat dalam berbisnis, mas juga sangat dihormati, kompeten dan bijaksana." ucap Nana pelan.
"Sekarang kamu taukan siapa suamimu sebenarnya Na, inilah aku yang sesungguhnya, sebelum aku menjadi dosen pekerjaanku memang berbisnis seperti ini bersama dengan papa." ucap Hessel.
"Nana bangga mas sama kamu, dibalik kekurangan yang Nana miliki ada suami yang punya semua kelebihan untuk menutupi kekurangan itu."
"Begitulah suami dan istri saling melengkapi satu sama lain." Hessel tersenyum mengusap pelan wajah Nana.
"Kamu tau sayang?"
"Tau apa mas?"
"Aku sangat bersyukur ternyata dibalik tekad kuatku untuk menjadi dosen ternyata itu salah satu cara Tuhan untuk mempertemukan kita." menatap lekat wajah Nana dengan senyuman.
"Mas senang punya istri seperti Nana?"
"Awalnya aku jengkel tapi sekarang aku sangat bahagia Na." Hessel langsung memeluk Nana, Nana senang sekali berada dalam dekapan suaminya.
Tanpa disengaja Nana melihat Andrean hadir dalam acara tersebut. Awalnya Nana tidak yakin yang dilihatnya itu Andrean, tapi saat Andrean bersama ayahnya datang menghampiri mereka sontak Nana terkejut melihatnya tapi Nana tidak heran lagi bagaimana Andrean bisa hadir karna tadi siang Hessel sudah memberitahunya bahwa Andrean anak rekan bisnis ayahnya.
"Selamat malam pak Hessel." sapa pak Rehan.
"Malam pak Rehan, selamat menikmati pestanya." balas Hessel.
"Kami sangat menyukai pestanya, kita sudah bekerjasama selama belasan tahun tapi Anda tidak pernah memperkenalkan wanita yang sekarang bersama Anda." kata pak Rehan.
"Perkenalkan Nana Daryanani ini istri saya." ujar Hessel kontan memperkenalkan Nana sebagai istrinya.
"Oh jadi ini murid yang Anda nikahi, apa yang Anda pikirkan saat menikahi murid Anda sendiri." seru pak Rehan menyindir.
"Maksud Anda apa?" tanya Hessel geram mulai emosi untungnya Nana sigap menahan tubuh Hessel.
"Pa hentikan, jangan bikin ribut di acara orang." bisik Andrean.
"Maaf saya tidak bermaksud apa-apa, seharusnya saya mengucapkan selamat atas pernikahan Anda." sambung pak Rehan.
"Terima kasih!" jawab Hessel singkat dan langsung membawa Nana menjauh dari mereka.
"Jadi itu wanita yang membuatmu tergila-gila?" tanya pak Rehan pada Andrean.
"Benar pa, tapi Andre sudah ikhlas kok pa, diakan istrinya dosen Andre." jawab Andrean.
"Pantas saja kamu menyukainya ternyata wanita itu benar-benar cantik." kata pak Rehan sambil tersenyum licik memandang ke arah Hessel dan Nana.
SELAMAT IDUL FITRI 1441 H,
MOHON MAAF LAHIR BATIN READERS KU SEMUA.
Selalu jaga kesehatan dimanapun kita berada, semoga kita semua tetap sehat dan dilindungi oleh Allah Swt.
Oh iya jangan lupa LIKE👍 jika suka, vote juga yaaa sayang biar author tambah semangat.