MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
MIMPI BURUK 2



Pukul 01.25 dini hari,


Kala itu sedang hujan lebat disertai petir yang menggelegar seseorang bertubuh sedikit kekar, berkaki jenjang memakai kostum hitam dengan topeng menyeramkan menyusup masuk ke dalam kamar Nana dan Hessel disaat keduanya sedang terlelap dalam tidur.


Nana tiba-tiba terbangun setelah mendengar suara langkah kaki orang di kamarnya. Saat Nana menghidupkan lampu hias di atas nakas samping tempat tidur terlihatlah sosok menyeramkan itu berada di sebelah suaminya yang terlihat menodongkan pisau ke tubuh Hessel.


Nana yang melihatnya langsung bangkit dan menjerit-jerit histeris namun tak ada orang yang mendengarnya.


Sosok menyeramkan itu tanpa ampun membekap wajah Hessel dengan bantal hingga tak bisa bernafas lagi. Kemudian menusuk-nusuk perut lalu merobek dada Hessel untuk diambil jantungnya. Darah berhamburan dimana-mana membasahi tempat tidur dan berserakkan di lantai, Nana sendiri tidak bisa melakukan apa-apa tubuhnya serasa kaku semua bahkan mulutnya yang tadi berteriak-teriak meminta pertolongan kini sudah tertutup rapat, air matanya pun seakan tidak mampu lagi mengalir saat melihat jasad suaminya yang berlumur darah meninggal secara mengenaskan.


Setelah membunuh Hessel, sosok menyeramkan itu memelototi Nana dengan sorot matanya yang tajam, Nana beranjak dari tempat tidur dan langsung berlari membuka pintu untuk menyelamatkan diri. Namun, saat mencoba membukanya ternyata pintu kamar sudah terkunci, secepat mungkin Nana mencari kunci di dalam laci namun sayang sulit sekali untuk menemukannya karna pikiran sudah panik sehingga tidak fokus mencarinya. Sedangkan, sosok menyeramkan yang membawa senjata tajam semakin mendekat ke arah Nana yang sudah tak berdaya berdiri menekuk punggungnya di depan pintu. Nana sudah pasrah jika harus menyusul suaminya dalam keadaan mengandung anak mereka.


"Siapa kamu?" kilas Nana bicara memberanikan diri. Sosok menyeramkan itu meraih wajah Nana dan memainkan ujung pisah di wajah Nana lalu turun ke bibir Nana.


Tubuh Nana bergetar hebat, takut dan sedih menjadi satu tidak pernah terbayangkan olehnya akan mengalami peristiwa yang sangat mengerikkan, bahkan suaminya sudah mati dibunuh dengan mengenaskan dalam keadaan sedang tidur.


"Manis, aku sudah berjanji padamu bukan, kita akan bertemu lagi, kau lihatkan aku sudah menepatinya. Sekarang kita bisa bersama untuk selamanya." ujar sosok menyeramkan yang membuat Nana semakin ketakutan.


"Pembunuh kamu! Penjahat! Lebih baik bunuh aku sekarang dari pada aku harus bersama dengan orang yang sudah membunuh suamiku, aku tidak sudi." ucap Nana dengan suara keras memekik telinga si pembunuh.


Nana memberontak sekuat tenang menerjang manusia bertopeng itu hingga dia terhuyung ke lantai. Nana segera mengambil vas bunga lalu memukulkannya ke kepala manusia bertopeng hingga kepalanya sobek.


Nana ketakutan ternyata manusia bertopeng itu meregang nyawa di tangannya.


"Tidak! Tidak! Aku bukan pembunuh." kata Nana berkali-kali tidak terima dirinya ikut melakukan pembunuhan.


"Aku bukan pembunuh!" Nana masih membantah sampai membuatnya seperti orang gila tertawa sendirian lalu menancapkan pisau ke perut manusia bertopeng.


"Dia membunuh suamiku, dialah yang pembunuh aku bukan pembunuh." lagi-lagi Nana membantah sambil tertawa.


Saat Nana ingin membuka topeng dari sosok menyeramkan tiba-tiba polisi datang mendobrak pintu kamar Nana.


"Angkat tangan! Jangan bergerak!" seru kawanan polisi langsung menangkap Nana.


"Tidak... Aku bukan pembunuh!!!" Teriak Nana.


Hingga akhirnya Nana benar-benar terbangun dari tidurnya dengan nafas ngos-ngosan tidak beraturan ternyata Hessel sedari tadi berusaha membangunkan Nana setelah mendengar Nana berteriak-teriak dalam tidur.


Nana mengerjapkan matanya beberapa kali, menoleh ke kiri dan ke kanan secara bergantian suasana kamar masih damai, lalu kembali melihat suaminya yang masih dalam keadaan utuh dan bernyawa.


Mata Nana berkaca-kaca lansung dipeluknya Hessel hingga Nana tak kuasa menangis histeris dalam pelukkan Hessel sedangkan Hessel masih bingung mimpi buruk apa yang sudah dialami istrinya.


"Dia ada di sini, dia di sini mas, aku melihatnya dia sangat menyeramkan." lirih Nana sambil terus menangis.


Hessel melepas pelukkannya lalu menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyuruh Nana untuk meminumnya.


Nana meneguk sedikit minuman yang Hessel sodorkan, lalu Hessel kembali membawanya dalam pelukkan.


"Banyak-banyak istighfar Na, tenangkan pikiran dan hatimu dengan membaca surah 3 qul dan ayat kursi." ucap Hessel, Nana pun mengangguk dalam hatinya sambil beristighfar dan membaca surah.


"Mas, orang yang meneror kita akan membunuh kamu mas, Nana takut." namun tak bisa dipungkiri rasa takut dan gelisah tetap ada di benaknya. Nana merintih memeluk erat tubuh suaminya sambil menangis sesegukkan.


"Tenang Na, mimpi hanyalah bunga tidur insha allah aku akan baik-baik saja menjagamu dan anak kita." ucap Hessel lalu mengecup kening Nana.


"Tapi mimpi itu seperti nyata mas, dia mengatakan hal yang sama seperti apa yang kita baca di dalam surat, Nana takut mas."


"Sudah jangan dipikirkan, tidak baik memikir mimpi buruk secara terus menerus, sekarang kamu tidur lagi sebelum tidur jangan lupa berdoa dengan begitu malaikat akan menjaga kita." Hessel merapikan kembali bantal Nana dan menyuruhnya untuk tidur lagi.


Selesai shalat Hessel dan Nana kembali berbaring di tempat tidur. Kali ini Nana tidur di pangkuan Hessel, dia masih takut untuk tidur terpisah walau hanya terpisah 10cm sekalipun Nana tetap ingin tidur di pangkuan Hessel.


"Sayang, kamu tau tadi di cafe terjadi apa?" Hessel mencoba menghibur istrinya sambil membelai kepala Nana.


"Kenapa mas, ada apa di cafe jangan-jangan mas ketemu perempuan yang lebih menarik dari Nana ya?" sikap curiga ibu hamil mulai terlihat dalam diri Nana.


"Tidak sayang, makanya kalau dibawa ke cafe jangan tidur jadi kamu tidak akan ketinggalan suasananya."


Nana baru ingat ternyata saat ke cafe malam tadi bersama Hessel, Arin dan Yoga, Nana malah tidur di sana bahkan Nana masih memakai baju yang dipakainya tadi pagi.


"Nana ngantuk mas mungkin bawaan hamil kali ya, Nana pengin tidur terus sampai enggak bisa menahan rasa kantuk."


"Iya sayang enggak apa-apa, tapi aku yang kualahan menggendongmu, kamu makin berat kira-kira sudah berapa kilogram istriku sekarang, 50kg atau 60kg."


Nana menampar tangan Hessel yang sedang asik menimang-nimang anaknya di dalam perut Nana.


"Kenapa menamparku?"


"Nana enggak segendut itu mas, paling hanya 48kg masa dibilang gendut." Nana menatap kesal wajah Hessel dengan bibir monyongnya. Hessel gemas melihat bibir itu yang membuatnya langsung mengecupnya dengan sedikit panas.


"Mas, senang banget nyuri kesempatan." gerutu Nana setelah menolak tubuh suaminya, Hessel hanya tertawa melihat Nana yang merasa risih sewaktu dicium tapi Hessel tidak peduli dia tetap mencium Nana di setiap inci wajah dan leher Nana sampai Nana hanya bisa melakukan perlawanan tidak bisa menolaknya hingga akhirnya Hessel sendiri yang menghentikannya.


"Tidur lagi yuk, sudah jam 02.15 dini hari Na." ajak Hessel.


"Mas belum cerita."


"Cerita apa sayang?"


"Yang tadi itu, mas bilang ingin memberitahu Nana."


"Hah itu ya, kamu yakin mau tau?"


"Iya." Nana mengangguk pelan.


"Ini kisah Yoga dan Arin, Yoga bilang dia menyukai Arin." kata Hessel, sontak Nana senang mendengarnya.


"Benarkah itu mas, lalu apakah Arin sudah tau?"


"Yoga hanya mengatakannya padaku saat kamu dan Arin pergi ke toilet, Yoga tidak bisa memberitahu Arin karna orang tua Yoga masih di luar negeri, Yoga ingin meminta restu dulu dari orang tuanya setelah itu dia akan menyatakan perasaannya pada Arin."


"Wah! Nana ikut senang mas akhirnya teman Nana ada juga yang jatuh hati padanya, tapi Arin memang cantik hanya saja dia tomboy yang membuatnya dijauhi oleh laki-laki, tapi sekarang Pak Yoga cocok sama Arin mas." Nana sangat senang sampai dia membayangkan pernikahan Yoga dan Arin.


"Sayang, kamu ada-ada saja masa kamu yang mengkhayal seharusnya Arin yang menghayalkan pernikahan mereka."


"Nana senang saja mas melihat teman Nana bahagia."


"Iya sayang, kita doakan saja supaya mereka segera mendapat restu lalu menikah."


"Aamiin mas.


"Sekarang Nana tidur ya, besokkan masih ujian biar ujiannya fokus dan bisa lulus dengan hasil yang memuaskan." ucap Hessel, Nana langsung bangkit untuk kembali tidur dengan bantal.


Hessel masih setia memeluknya sambil menidurkan Nana seperti bayi, yang tidak bisa tidur sebelum ditimang-timang pantatnya dan dinyanyikan sebuah lagu tidur.