
Nana mulai sadar dari pingsannya, di ruang kesehatan masih ada Henry, Laras, Arin dan juga Jessi yang menunggu Nana.
"Heh awas kalau kamu berani ngadu sama pak Hessel." bisik Jessi mengancam Arin tapi tidak ditanggapi oleh Arin.
"Pak, bu, Nana sudah siuman." ucap Arin, langsung saja dihampirinya Nana.
"Ahkkk..." Nana mencoba bangkit namun tidak mampu karna perutnya masih sakit.
"Auh, aku kenapa Rin, kenapa rasanya sakit sekali?" rintih Nana, Arin dengan sigap menopang tubuhnya.
"Berbaringlah dulu Na, dokter sedang bicara dengan pak Hessel." ucap Henry.
Tak lama Hessel dan dokter pun datang, dilihatnya istrinya sudah sadar langsung dihampirinya Nana.
"Permisi Rin." ucap Hessel, sontak Arin pun menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari pak Hessel dan Nana.
Mereka yang tidak tau ada hubungan apa diantara Hessel dan Nana, mereka hanya melihat keheranan Hessel begitu perhatian pada Nana.
"Saya kenapa pak, dok, apa yang terjadi pada saya perut saya sakit." tanya Nana masih merintih kesakitan.
"Perutmu masih sakit Na, Dok apa sebaiknya saya bawa dia ke rumah sakit saja." ucap Hessel begitu cemas sambil mengusap-usap pucuk kepala Nana.
"Sebentar, biar saya periksa lagi." dokter langsung turun tangan.
"Semuanya normal, adek baik-baik saja." ucap sang dokter, Nana sedikit lega.
"Henry, cari tahu siapa orang yang sudah membuat Nana seperti ini." seru Hessel memerintah Henry, ketika Henry menyetujuinya tiba-tiba Arin menghentikan pak Henry.
"Ada apa Rin, kenapa kau menghalangi pak Henry?" tanya Hessel, awalnya dia mencurigai Arin yang telah membuat Nana hampir kehilangan bayinya.
"Pak, saya tau siapa yang sudah membuat Nana terluka, saya ada di tempat saat peristiwa ini terjadi." ungkap Arin, sesekali melirik Jessi yang terlihat susah payah mengumpatkan wajah dengan satu tangannya.
Hessel langsung melotot kearah Jessi, namun tidak langsung menuduhnya.
"Katakan siapa pelakunya, saya tidak habis pikir kenapa ada orang yang masih suka membully teman sekelasnya sampai hampir membahayakan nyawa." kata Hessel tampak geram dan ingin marah.
"Mohon maaf jika saya lancang tapi dia pak, dia yang sudah mendorong Nana, pertama dia mendorong Nana ke dinding, dan kedua kalinya dia membuat Nana terjatuh di lantai." jelas Arin tanpa segan-segan menunjuk muka Jessi.
"Keterlaluan kamu!"
Hessel tersulut emosi, hingga dia tak segan-segan hampir menampar wajah Jessi beruntung Nana dengan sigap menangkap sebelah tangan suaminya, yang membuat amarah Hessel sedikit mereda, dan berbalik melihat istrinya.
"Biarkan aku menamparnya." ucap Hessel marah.
"Jangan lakukan itu pak, Nana juga seorang wanita tidak ada wanita yang suka kekerasan, coba bapak bayangkan jika bapak punya adik perempuan dan bapak melihat adik bapak ditampar oleh laki-laki lain, begitulah juga yang dia rasakan." ucap Nana mencoba menenangkan suaminya.
"Bapak jangan cemas Nana baik-baik saja, lihatlah Nana masih bisa bernafas." sambung Nana sambil tersenyum, diraihnya kedua tangan suaminya diletakkannya di atas dadanya seolah memberitahu Hessel bahwa jantungnya masih normal itu tandanya dia baik-baik saja.
Sejenak Hessel menunduk dikecupnya punggung tangan Nana sesekali diusapnya pucuk kepala Nana, Nana yang tidak tau bahwa dirinya tengah mengandung anak suaminya dan Jessi hampir saja membuat nyawa janinnya melayang masih saja berbaik hati pada Jessi, tapi Hessel akan bertindak Jessi harus mendapat hukuman.
"Perbuatanmu sudah melampaui batas, kau melanggar peraturan hukuman yang tepat untukmu kau harus di DO dari kampus ini." ucap Hessel dengan nada marah sembari menatap lekat wajah istrinya, sedangkan ucapannya tertuju untuk Jessi.
"Saya di DO, apa bapak tidak salah mengambil keputusan, harusnya dia juga di DO karna ini bukan sepenuhnya kesalahan saya, dia yang memancing saya agar saya marah padanya, kenapa bapak selalu membela murid yang telah menjual dirinya demi mendapatkan uang, bapak tidak pernah membela saya meskipun saya berada di posisi yang benar." kata Jessi berusaha membela diri.
"Tidak akan ada yang membelamu, karna kamu memang bersalah, saya tau betul kamu memang tidak pernah menyukai dia."
"Atau jangan-jangan bapak suka padanya karna itu bapak membelanya makanya bapak mendiskriminasi murid biasa dengan murid kesayangan, rendahan sekali selera bapak." ucap Jessi begitu lancang, murid tidak tau sopan santun ini membuat Hessel geram.
"Keluar." bentak Hessel menekankan suaranya tanpa menoleh ke arah Jessi.
Jessi tertegun matanya berkaca-kaca saat pak Hessel membentak dan mengusir dirinya, Arin masih bingung dengan situasi ini tak habis pikir sebegitu pedulikah pak Hessel pada sahabatnya.
"Pak, bapak akan menyesal memperlakukan saya seperti ini, bapak tidak pantas untuk dicintai, bapak tidak punya hati." sahut Jessi masih berani bicara dengan susah payah menahan air matanya.
"Bu Laras, kenapa ibu diam saja bukankah ibu juga tidak menyukai Nana, bu, kita berdua sudah sepakat untuk menyingkirkan Nana tapi kenapa saat saya dapat masalah ibu tidak membantu saya." kata Jessi, sementara Laras diam saja.
Seketika Hessel berbalik badan saat mendengar mereka berdua sudah berencana untuk menyingkirkan istrinya.
"Jadi kau terlibat?" tanya Hessel meninggikan nada suaranya bertanya pada Laras.
"Keluar kamu, singkirkan wajahmu dari hadapanku, oh ya jangan lupa buat surat pengunduran dirimu, aku sudah tidak sudi melihat orang seperti kalian berdua." ucap Hessel, menatap sinis kedua wanita yang sudah mencoba melenyapkan anak dan istrinya.
"Aku seperti ini karnamu, aku tidak rela kau menjadi milik siapapun, hanya aku yang pantas bersanding denganmu, dia sama sekali tidak layak untukmu." jawab Laras dengan belum apa-apa air mata buayanya sudah keluar.
"Dia bukan wanita baik-baik, dia wanita bayaran pak, mengapa bapak tidak mau mendengarkan saya, apa bapak tidak mendengar gosip-gosip yang beredar di kampus?" ucap Jessi.
"Kalian tau apa yang kalian lakukan itu sudah membahayakan nyawanya, dan nyawa bayi yang ada di dalam kandungannya."
Arin dan Jessi terperanjat kaget mendengarnya, Arin langsung mendekati Nana karna ingin tau kebenarannya, Nana sendiri masih bingung dan tak menyangka bahwa dia hamil.
"Hah sudah ku duga pasti dia hamil, lalu kenapa bapak masih membelanya, harusnya dia di DO dari kampus karna dia hamil diluar nikah dan sudah mencemarkan nama baik kampus ini." ucap Jessi benar-benar tidak tau sopan santun saat bicara pada gurunya.
Hessel benar-benar kehilangan kesabaran.
"Apa???" seketika Jessi merasa dapat tamparan keras saat mendengar dosen yang disukainya menghamili orang yang paling dia benci, Laras juga kaget mendengarnya dia tidak menyangka mantan kekasihnya itu begitu mudah melupakan dirinya.
"Pak, apa yang bapak katakan, semuanya itu tidak benar." ucap Nana menimpal, Hessel berbalik dan kembali mendekati istrinya, dikecupnya kening Nana dihadapan semua orang yang ada di ruang itu.
"Biarkan saja mereka tau, bahwa kamu milikku." lirih Hessel berbisik ke telinga Nana, Nana tak bisa menghalangi suaminya.
"Apa maksudmu, kau menghamili anak murid sendiri?" tanya Laras meski dia sudah tau bahwa Nana istri Hessel.
"Karna dia adalah milikku, kalian tidak berhak menyentuhnya selain aku, aku orang yang paling khawatir saat sesuatu terjadi padanya, aku adalah orang yang ada di dalam gosip itu, aku yang mencukupi segala kebutuhannya, tidak ada laki-laki selain aku yang bersamanya, selama ini aku diam saja saat dia dibully, dihina oleh kalian, karna aku pikir kalian bisa berubah dan menerima dia, tapi ternyata orang jahat tetap jahat tidak akan berubah."
"Kalian tau apa itu artinya?"
Semua hanya diam, Laras menutup kupingnya sudah bersiap-siap agar tidak mendengar Hessel mengakui Nana.
"Nana Daryanani adalah istriku, aku suaminya, aku lah orang yang setiap hari dan malam selalu bersamanya, aku yang menidurinya, aku yang menjamahnya apa dengan cara seperti ini kalian akan puas mendengarnya." ungkap Hessel dengan lantang, membuat Jessi dan Arin terbelalak tak percaya.
"Dan kau Laras, cukup kau menyakitiku jangan sakiti anak dan istriku, kau tidak berhak untuk itu sedikit pun tidak akan kubiarkan kalian menyentuhnya." ucap Hessel.
Nana terkesima melihat punggung suaminya yang membelakangi dirinya, senyumnya sumringah setelah mendengar pengakuan yang mengejutkan ini.
"Nana ternyata selama ini, kamu dan pak Hessel, kalian..." ucap Arin, langsung dipeluknya sahabatnya itu karna saking senang mendengarnya.
"Rin, aku tidak percaya ini." lirih Nana.
"Mungkin ini saatnya Na, sebentar lagi aku akan menjadi aunty, Nana aku sangat bahagia." sambung Arin, Nana juga terharu dia masih merasa bagaikan mimpi.
"Tega kamu berkata seperti itu padaku." ucap Laras.
"Apa, apa yanh kau harapkan dariku, aku mengasihani kamu, tidak akan." bentak Hessel.
"Kau benar-benar sudah melupakan hubungan yang pernah kita bina selama 3 tahun."
"Aku tidak melupakannya, tapi aku sengaja membuang semuanya jauh-jauh hingga aku tidak sudi lagi untuk memungutnya kembali." tegas Hessel.
Laras dan Jessi bagai tersambar petir, hati mereka hancur berkeping-keping, Jessi masih tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya, mereka lalu berlalu pergi menangisi kebodohan yang mereka lakukan.
Masih di ruang kesehatan,
Hessel kembali duduk disamping Nana, Arin dan pak Henry menjadi penontonnya.
Nana langsung memeluk Hessel dengan erat.
"Mas, apa yang ku dengar semuanya nyata?" disela isak tangis bahagia memeluk suaminya.
"Itu benar Na, mulai sekarang aku akan mengatakan pada dunia bahwa kamu adalah istriku ibu dari anakku." lirih Hessel menatap senyuman dibibir istrinya.
"Tidak akan ada yang ditutup-tutupi lagi, kau layak mendapatkan pengakuan dariku." ucap Hessel sambil mengelus pipi lembut istrinya, dan dibawanya Nana kembali dalam pelukan.
"Aku terharu mas, hiks... hiks..."
"Jangan menangis Na, tidak akan ada lagi yang berani mengganggumu."
"Lihatlah kemejaku jadi basah karna air matamu ini, bagaimana aku bisa mengajar sekarang." canda Hessel disela-sela bicaranya.
"Ishhh mas jahat." Nana langsung melepaskan pelukkannya dengan wajah cemberut dipegangnya perutnya lalu tiba-tiba tersenyum membuat Hessel gemas.
Tanpa sadar dikecupnya bibir istrinya, seolah melupakan Henry dan Arin yang masih ada di dalam ruangan tersebut, Nana juga menikmati ciuman hangat itu tanpa melihat situasi.
"Astaga, astaga, pak Henry, saya masih dibawah umur, ow ow apa yang mereka lakukan." celoteh Arin membuat Hessel dan Nana kaget segera melepaskan ciuman mereka, menjauh sekitar 1 meter.
"Begini kalau sudah lupa daratan, dunia serasa milik berdua benar begitu Hes?" ucap Henry menggoda Hessel.
Nana malu-malu kucing, mengumpatkan wajahnya dibalik selimut.
"Berada dimana aku sekarang, apa aku sedang berada di depan tv yang sangat besar sampai pemerannya bisa terlihat 3 dimensi." seru Arin.
"Kau mau Rin, bapak bisa mengajarimu." colek Henry, Arin saking gelinya mendengar pak Henry bicara membuatnya berlari keluar dengan wajah memerah.
"Kenapa anak itu?" tanya Henry terlihat tak berdosa.
"Bapak yang menggodanya, teman saya itu tidak pernah merasakan seperti apa jatuh cinta, entahlah apa yang akan dia pikirkan tentang bapak nantinya setelah bapak bicara seperti itu padanya." ucap Nana sambil cekikikan menahan tawa.
"Karna kalian, saya jadi keceplosankan, kalian juga sih mempertunjukkan tontonan yang panas kan saya jadi terpancing." cengir Henry.
Hessel hanya mampu tertawa, dia tau betul temannya itu memang paling bisa membuat orang tertawa.
"Maaf pak Henry, saya tidak bisa menahannya." kata Hessel sembari menempelkan tubuhnya ke istrinya.
"Ya sudah kalian lanjutkan saja, aku tidak tahan berada di sini." ucap Henry berlalu pergi gitu aja dengan wajah sedikit kesal.
"Hen sorry." teriak Hessel sambil menutup kembali pintu ruang tersebut.