MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
UMPET-UMPETAN



"Ayo donk Na jujur padaku, 15 menit aku menunggu kau bicara tapi kau hanya diam saja." rengek Arin kesal dan penasaran.


"Arin sahabatku, aku tau kau sangat peduli padaku, kau mengkhawatirkanku, tapi aku gak sebodoh itu Rin"


"Sungguh kau tidak menjadi wanita bayaran Na?" tanyanya.


"Sungguh Rin, apa wajahku ini terlihat seperti tampang seorang penipu?"


"Umh gak sih, aku cuma takut aja kau putus asa Na."


"Kau bicara apa sih Rin aku putus asa, tenanglah Arin sayang, sahabatmu ini bisa jaga diri kok."


"Iya Nanaku aku percaya padamu"


*****


Mata kuliah di jam pertama berakhir. Nana dan Arin pergi ke kantin bersama-sama.


"Na, pulang kuliah ke toko buku yuk" ujarnya disela-sela makan.


"Toko buku, ngapaian Rin?" tanya Nana.


"Lihat-lihat buku aja siapa tau ada rekomendasi novel terbaru sekaliankan kita bisa beli, sekalian juga kita jalan-jalan makan bakso di pinggiran, aku kangen masa-masa itu Na"


"Gimana ya Rin, aku sibuk gak ya hari ini"


"Ayolah Na mau ya, kau sibuk apaan sih kayak ibu rumah tangga aja."


"Ya udah deh boleh lah sesekali" Nana tidak bisa menolak, jika dia terus menolak maka Arin akan curiga.


"Aaa makasih Nanaku" ucapnya gembira.


*****


Jam kuliah berakhir karna hari ini mereka pulang lebih awal, jadi seperti rencana saat jam istirahat Nana akan menemani Arin pergi ke toko buku.


"Ayo Na kita ke depan gerbang nungguin angkot" ucap Arin sambil menarik tangan Nana.


"Kamu tunggu di sini bentar ya Rin" Nana menahannya.


"Eh kau mau kemana Na, aku ikut donk" panggil Arin saat Nana hendak pergi.


"Aku ke toilet sebentar, tunggu ya gak akan lama kok Rin." ucap Nana.


"Oo ya udah deh cepetan ya Na."


"Bukannya toilet belok kiri, kok Nana malah lurus naik ke atas, dia hanya memperlambat waktu memilih toilet yang lebih jauh, ya udah deh aku tunggu aja" ucap Arin tanpa curiga dia pun bersantai duduk di depan kelas menunggu Nana.


Nana sampai di toilet mengintip dari dalam toilet memantau keluar dari kejauhan mencari seseorang dan tak lama kemudian terlihatlah seseorang yang Nana cari baru keluar dari kelas. Suasana sudah sepi di dalam kelas tersebut jadi langsung saja Nana meneriakinya.


Orang tersebut mendengar suara Nana langsung di tolehnya kebelakang tampaklah sosok Nana berdiri di depan toilet sambil melambaikan tangan kearahnya. Dia pun bergegas menghampiri Nana, ditariknya tangan orang tersebut langsung masuk ke dalam toilet.


"Mas" ucap Nana dengan wajah memelas dan manja dipeluknya Hessel.


"Hm ada apa ini Na, kenapa kau menarikku kemari, aku tau ekspresimu seperti ini pasti kau sedang menginginkan sesuatu" tebaknya benar seketika Nana senyum menyeringai.


"Boleh ya mas" bujuk Nana.


"Katakan kau ingin apa?"


"aku mau ke toko buku, bolehkan mas" dengan tampang merayu.


"Buku apa lagi yang mau kau beli, dirumah tumpukan bukumu sudah menggunung Nana, kapan kau akan membacanya"


"Boleh ya mas, Nana sekalian mau izin keluar mas" bujuknya.


"Mau keluar, aku yang akan mengantarmu, aku gak percaya kau izin keluar nanti malah bertemu murid sok pintar itu, katakan kau mau kemana?" ucap Hessel.


"Kali ini tidak mas, Nana keluar bareng Arin dia yang mengajak Nana ke toko buku, boleh ya mas please, nanti kayaknya Nana mampir ke rumah ayah ibu dulu kan gak enak ada Arin bisa-bisa kita ketahuan mas"


"Ya udah kamu aku izinkan tapi ingat jangan mampir ke tempat lain lagi" Hessel pun mengangguk setuju.


"Siap, janji mas"


Nana yang mendengar suaminya memberinya izin keluar langsung meloncat kegirangan.


"Tunggu sebentar Na!" menarik tangan Nana.


"Iya mas, ada apa?"


"Bawa 50 ribu cukup kok mas, Nana kan cuma nemenin Arin."


"Tabung uang jajanmu itu, pakailah kartu atm tanpa batas ini." Hessel memberikan kartu atm unlimited pada Nana.


"Hm, gak perlu mas uang Nana kan ada, uang pernikahan yang mas beri juga masih ada, uang bulanan dari mas masih banyak, Nana gak perlu kartu beginian mas."


"Kau ini polos sekali, ini kartu untukmu Nana atas namamu, jadi kau tidak perlu repot-repot masukin uang ke dalam dompet lagi, gunakan saja ini biar dompetmu lebih enteng dan gak ribet, kau bisa belanja apa aja sesukamu."


"Mas sungguh-sungguh memberikannya untuk Nana?"


"Kapan aku main-main, jangan di tolak ya kan kamu tanggung jawabku Na."


"Makasih mas, cuppp" sontak dia mencium Hessel lalu berlari begitu saja menuju tempat dimana Arin menunggu.


"Astaga Nana, kau semakin berani, apa kau tidak sadar dengan sikapmu yang seperti itu membuatku arghhh kau sangat menggemaskan"


ciuman sekilas dari Nana bahkan Hessel tidak sempat membalas ciumannya karna saking cepatnya gerakkan Nana, membuat Hessel merasa berdebar-debar, kedua kalinya dia dicium oleh seorang murid yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.


*****


"Lama sekali sih Na, hampir setengah jam aku nungguin kamu untung aku gak lumutan" gerutu Arin kesal saat melihat Nana datang menghampirinya.


"Sorry banget Rin, perutku mules jadi aku bolak-balik ke toilet." jawab Nana tersenyum.


"Perutmu masih sakit, kita perginya besok aja deh Na."


"Tenang aja Rin udah gak sakit kok." ucap Nana merangkul Arin dengan santai, kemudian mereka pun berangkat.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di toko buku langganannya. Mereka langsung masuk melihat-lihat koleksi buku yang berjejer di rak. Satu pun dari buku itu ternyata tidak ada buku keluar terbaru, lalu mereka makan siang makan bakso dipinggir jalan. Setelah makan siang, Arin mengajak Nana pergi ke mall.


Arin ingin membeli peralatan make up dia ingin terlihat cantik dan keren seperti penampilan Nana sehari-hari apa lagi hari ini Nana tampil keren memakai syal yang nenek berikan.


"Kau hari ini sangat keren Na, bantu aku ya memilih pakaian wanita dan alat make up." ucap Arin, dia selalu mengagumi kecantikan Nana.


Dengan senang hati Nana membantunya dan akan merubah penampilan Arin dari gadis tomboy menjadi wanita feminim seperti dirinya.


Tak terasa hari sudah sore, akhirnya mereka pun pulang dengan membawa belanjaannya masing-masing.


"Na, aku boleh gak mampir ke rumah kamu kayaknya udah cukup lama aku gak main-main ke rumah kamu"


"Emmm lain kali aja deh Rin"


"Lho kenapa Na, atau gini aja kau ikut aku ke rumahku, malam ini aku sendirian di rumah ayah dan ibuku berkunjung ke rumah pamanku, mau ya Na" ajak Arin sedikit memaksa.


"Maaf banget ya Rin bukannya aku menolak, tapi aku kan belum izin sama ayah dan ibu, aku harus mendapat izin mereka dulu untuk menginap di rumahmu" ucap Nana dengan halus.


"Ayolah Na kali ini aja, mau ya!"


Sebenarnya Nana pengen banget nginap di rumah Arin, dia juga rindu masa-masa remajanya dia dan Arin sudah seperti saudara Nana sering menginap di rumahnya tapi sekarang status Nana sudah berubah, dia sudah menikah tidak mungkin dia menginap di rumah orang tanpa sepengetahuan suaminya.


"Sekali lagi aku minta maaf Rin lain kali aja aku nginap di rumah kamu, kali ini aku benar-benar gak bisa" tolaknya dengan lembut.


Arin terdiam dan tidak memaksa Nana lagi. Untunglah Arin pengertian dia langsung percaya begitu saja sama Nana.


"Tapi aku bolehkan mengantarmu pulang Na"


"Iya tentu saja boleh Rin"


Arin dengan senang hati mengantar temannya pulang kerumah naik motornya, Arin mampir sebentar di sana kemudian di pulang karna hari juga sudah mulai gelap.


"Nana kok kamu kemari bareng Arin, suamimu gak kamu ajak kemari" tanya ibu setelah Arin pulang.


"Tadi Nana dan Arin ke toko buku bu, mas Hessel belum sempat kemari tadi aja pas Nana pulang dia masih ada kelas sampai sore"


"Nana izin gak sama suami kalau mau datang kemari, nanti Hessel malah khawatir dan nyariin Nana"


"Tenang aja bu, Nana selalu izin setiap kali mau keluar dan ini juga baru pertama kali Nana pergi keluar gak bareng suami." ucap Nana menjelaskan.


"Oo ya udah syukurlah sayang, ibu lega dengarnya."


"Bu, Nana pulangnya habis magrib nanti ya, bentar lagi sudah mau masuk waktunya."


"Iya Na, ibu ke dapur sebentar nyiapin makanan."


"Nana bantu ya bu, gak enak bertamu tapi Nana hanya duduk diam saja." Nana pun bangkit menuju dapur dan membantu ibunya menyiapkan makan malam.