
Hessel menggeram dan marah-marah pada security dan pada pemilik gedung karna sudah ceroboh dalam penjagaan keamanan. Gara-gara kelalaian CCTV sudah dibobol oleh penyusup dan karnanya Hessel harus kehilangan Nana. Sebagai seorang suami tentu Hessel tidak akan tinggal diam meski nihil menemukan siapa pelakunya.
Yoga berusaha membuat Hessel tetap tenang agar pikirannya tetap jernih. Arin masih was-was takut terjadi hal buruk pada Nana.
"Pak, kita lacak handphone Nana." usul Arin.
Hessel diam menatap Arin serius. Dengan menyesal Hessel berkata, "Dia tidak bawa ponsel."
Hessel lebih khawatir, di rumah keluarga pasti menunggu mereka apalagi si kecil Gio sementara malam semakin larut. Kemudian Hessel menelepon orang rumah meski tahu mereka pasti terkejut atas hilangnya Nana, tapi dia tetap memberitahu serta meyakinkan bahwa Nana akan segera ditemukan.
"Yoga, aku tahu apa yang harus di lakukan sekarang." tutur Hessel tiba-tiba merasa enteng.
"Apa Pak?" jawab Yoga sigap.
Mereka pun bergegas turun lalu menuju parkiran mobil. Hessel langsung menggeledah seisi dalam mobilnya.
"Bapak mencari apa?" tanya Yoga sedikit bingung.
"Kotak perhiasan."
Yoga langsung membantu Hessel menemukan kotak perhiasan yang Hessel yakini masih ada di dalam mobil. Tak butuh waktu lama mereka berdua menemukan kotak tersebut.
"Aku sudah memasang alat pelacak di kalung yang Nana pakai tadi." kata Hessel. Yoga dan Arin kompak bernafas lega mendengarnya. Untunglah Hessel selalu berjaga-jaga dan menyiapkan semua jika sewaktu-waktu ada bahaya yang terjadi menimpa istrinya.
"Pegang kotaknya." Hessel melemparnya ke Yoga kemudian mereka bertiga masuk ke dalam mobil untuk mencari Nana.
"Dalam kotak itu ada alat hubungkan dengan smartphone kita bisa melacak tempat Nana di sekap." ucap Hessel sambil mengemudi mobil.
Yoga langsung menghubungkan alat pelacak tempat agar segera terhubung pada Nana.
"Yes. Alatnya sudah aktif Pak."
"Bagus. Beritahu alamatnya jika sudah tidak loading."
"Astaga Pak ada masalah sepertinya." ucap Yoga tiba-tiba ekspresinya berubah bertaut cemas. Hessel mendadak menghentikan mobil.
Kedua kelopak matanya pelan-pelan terbuka. Kepalanya masih terasa berat dan pusing. Pandangan yang masih buram masih tengah Nana netralkan dengan mengucek-ngucek kedua matanya.
Eeuuhhh
lenguh Nana lemas. Pandangannya terasa asing melihat ruangan tempat dia berada.
"Aku di mana?"
Nana teringat kejadian semalam dan dia langsung membuka tubuhnya yang masih bebalut selimut. Memastikan semua masih dalam keadaan utuh. Ya, tak ada satu pun pakaian Nana yang dilepas, Nana lega tapi masih takut pada sosok yang sudah menculiknya.
"Aku harus pergi sebelum orang itu datang."
Nana segera beranjak dari tempat tidur sambil berjalan pelan menuju arah pintu. Berusaha kabur ternyata pintu kamar terkunci.
"Aku harus turun dari balkon itu."
Kemudian berjalan ke arah balkon. Membuka tirai jendela kaca dan melihat ke bawah. Posisi gedung bertingkat membuat kepala Nana bergoyang saat menundung. Tidak Nana bayangkan entah di lantai berapa kini dia berada, sangat tinggi bahkan berpegang pada tali tambang pun tidak bisa membantunya turun ke bawah.
Ya Allah bantu aku. Aku ingin kembali ke rumah bertemu Gio putraku dan suamiku.
Aku tahu kamu pasti mencariku mas. Semoga kita bisa segera bertemu Mas. Nana takut di sini.
Nana tidak putus asa untung keluar dari gedung tinggi yang menahannya. Namun, dia hanya sedih karna sudah membuat suami serta keluarga cemas. Dan dia sangat rindu pada putranya.
Tap...tap...
Derap langkah kaki misterius terdengar oleh kuping Nana. Nana sontak bangkit dari duduknya sembari berlari mendekati pintu dan menempelkan kupingnya di sana. Derap kaki makin terdengar jelas menuju kamar yang Nana diami. Nana segera berlari ke arah tempat tidur kembali ke posisi ketika dia pingsan tadi.
Kriiettt
Kunci kamar berhasil terbuka dan pelan-pelan pintu ikut terbuka. Sosok laki-laki berjas warna coklat menyusup masuk tanpa lupa menutup kembali pintunya.