
BACK TO CAMPUS
Nana bercerita sama Arin tentang kejadian teror yang menimpanya kemarin. Nana menangis sesegukkan di pelukkan Arin karna takut suaminya akan dibunuh oleh si peneror itu.
Arin hanya bisa menguatkannya dengan memberi Nana kesabaran supaya tidak takut dan tetap kuat melewatinya.
Sekarang Nana mencurigai Andrean yang dia dakwa sebagai peneror itu. Namun, kecurigaan Nana sepertinya salah saat dia melihat Andrean mulai menggandeng Jessi menuju kantin.
Apa yang aku pikirkan tentangnya dia bahkan bersama Jessi, Andrean tidak mungkin sejahat itu... Tapi siapa yang sudah menerorku?
"Nana, kenapa kamu ngelihatin Andrean dan Jessi seserius itu?" seru Arin menepuk pundak Nana yang membuat Nana langsung mengalihkan pandangannya.
"Tidak ada apa-apa Rin, omong-omong kapan mereka dekat?" tanya Nana.
"Dari kemarin Na, saat kamu tidak masuk kampus Andrean dan Jessi mulai dekat, sepertinya Andrean mulai menyerah mungkin dia sadar kalau dia tidak akan bisa mendapatkanmu, tapi kamu jangan sedih begitu Na lihat mereka bersama?" goda Arin mencolek dagu Nana.
"Aish! Aku enggak sedih Rin malahan aku senang melihat mereka bersama apalagi Jessi sudah lamakan naksir Andrean pasti dia senang sekarang dipenghujung semester akhirnya Andrean menyadari ketulusan hati Jessi yang selalu setia menunggunya." ucap Nana.
"Hmm... kamu benar Na, semoga Andrean enggak gangguin kamu lagi." harapan Arin begitu juga Nana berharap hal yang sama.
"Kita masuk ke ruangan ujian yuk, bentar lagi ujian dimulai." ujar Nana sambil menarik tangan Arin. Mereka pun masuk ke ruang ujian yang sudah ditentukan kebetulan Nana dan Arin satu ruangan.
*****
Ujian Akhir Semester telah usai, Arin mengajak Nana mampir ke tempat kerjanya yang baru. Nana tidak tau kalau sahabatnya itu bekerja sebagai model iklan di perusahaan Shine Group. Begitu pun Arin tidak tau kalau Pak Hessel adalah pemilik perusahaan tersebut karna Arin belum pernah dikenalkan dengan atasannya secara langsung.
"Kamu kerja dimana Rin, jauh enggak?" tanya Nana, dia tidak ingin ikut jika tempat kerja Arin jauh karna Nana takut bahaya akan mengancamnya lagi.
"Tenang saja dekat kok Na, kamu ikut saja aku akan menjagamu." jawab Arin merangkul Nana dengan santai.
"Oh iya sahabatku jago bela diri kenapa aku harus takut sama penjahat." Arin pun menarik Nana mengajaknya masuk ke dalam taxi.
"Kamu kerja apa sekarang, Rin?" tanya Nana.
"Aku jadi model iklan dari berbagai kosmetik terkenal di perusahaan tempat ku bekerja Na."
"Wah, berarti kamu sekarang punya banyak uang dong?" goda Nana dengan akalnya yang ingin ditraktir.
"Nana bisa saja, enggak banyak kok Na aku kan baru beberapa hari kerja di sana tapi tenang saja nanti saat aku gajian aku pasti traktir mama muda ini." balas Arin sembari mengelus perut Nana yang membuat mereka berdua tertawa.
Shine Group
Taxi yang membawa Nana dan Arin berhenti di depan gedung menjulang sampai ke langit itu. Begitu keluar dari dalam taxi Nana tercengak ternyata temannya bekerja di perusahaan milik suaminya.
"Wah, kamu hebat sekali Rin." Nana menatap kagum gedung itu sambil memuji Arin.
"Hebat kenapa Na?" Arin malah bingung.
"Inikan perusahaan produk kecantikkan number one di Indonesia dan kamu bisa menjadi salah satu modelnya, rasanya sulit dipercaya sekarang sahabatku yang tomboy menjadi model." seru Nana dengan nada yang akhirnya meledek Arin.
"Kamu enggak ada habis-habisnya mengejekku tomboy, kamu mama muda yang perutnya akan membesar, masih mending aku tomboy." ledek Arin balik.
"Arin menyebalkan sekali, aku hamil wajar saja perutku besar." emosi Nana mudah berubah-ubah dalam hitungan detik, tapi Arin tidak ingin sahabatnya itu marah langsung saja diajaknya masuk, tapi sebelum melangkah masuk Nana menghentikan langkah kaki mereka.
"Kenapa berhenti Na?"
"Aku tidak mau masuk Rin, aku malu, aku takut." ucap Nana sambil menggenggam erat lengan Arin.
"Ya ampun di dalam tidak ada orang jahat Nana, kalau pun ada aku akan menerjangnya sampai mereka melayang ke udara." kata Arin sambil memperagakan gerakkan bela diri (KungFu).
"Bukan orang jahat yang itu." sahut Nana.
"Lalu siapa?" Arin mengangkat bahunya bingung.
"Aku malu dan takut karna di dalam ada mas Hessel." kata Nana sontak Arin kaget mendengarnya.
"Jadi Pak Hessel pemilik perusahaan ini?" tanya Arin tercengang dibalas anggukkan ragu-ragu oleh Nana.
Sontak Arin tertawa dan malah bertepuk tangan sepertinya sangat senang.
"Kenapa kamu ikut senang?" Nana malah kesal melihat tingkah Arin.
Saat mulai memasuk ke dalam kantor justru para karyawan menyambut Nana dengan hormat. Satu persatu menyapa mereka dengan mengucapkan selamat sore, Nana tidak menyangka dia akan di sambut dengan hangat saat datang ke kantor karna ini pertama kalinya Nana datang ke kantor itu pun Arin yang mengajaknya.
Arin dan Nana menaiki lift untuk mencapai lantai 15 dimana merupakan ruangan boss dan staf lainnya. Setelah keluar dari lift Arin berteriak-teriak memanggil nama Pak Hessel yang membuat Nana malu mendengarnya karna di sekitar mereka banyak karyawan yang berlalu lalang.
"Apa kalian melihat Pak Hessel?" tanya Arin menghentikan setiap orang yang lewat, namun sikap sok kenal Arin malah dianggap angin lalu oleh orang-orang.
Sampai akhirnya Yoga yang baru keluar dari ruangannya tidak sengaja melihat Arin bersama Nana.
Yoga langsung menghampiri kedua wanita itu.
"Lho Nona Nana kok bisa kalian datang berdua, apa kalian sudah saling kenal?" tanya Yoga.
"Arin teman saya Pak Yoga, saya tidak tau apa yang ada dipikiran Arin sampai dia berniat membawa saya kemari untuk bertemu Pak Hessel." ujar Nana, sekarang Yoga tau ternyata Arin adalah teman Nana.
"Oh iya Nona pertama kali datang kemari, ruangan Pak Hessel di sebelah sana ruangan paling akhir." kata Yoga sambil menunjukkannya dan itu sangat mudah tinggal lurus saja ruangan paling akhir itulah ruangan Hessel.
"Jika Nona ingin bertemu Tuan silakan Tuan selalu betah berada di ruangannya bahkan untuk makan siang dia tetap ingin makan di ruangannya dan saya yang harus membawakannya makan siang." ucap Yoga lagi.
"Bagaimana dia betah berlama-lama di dalam ruangan?" Nana seakan tidak percaya.
"Nona pasti tidak percaya Tuan bilang dia betah berada di ruangannya karna melihat Nona di setiap sudut ruangan sampai tidak ada yang diperbolehkan masuk kecuali saya."
"Astaga Pak Yoga apa-apaan, bapak tau saya sendiri baru pernah datang kemari mana mungkin Pak Hessel melihat saya di sana."
"Kalau Nona tidak percaya silakan periksa saja ruangannya terdapat banyak foto-foto Nona yang dia pajang di dinding sampai di atas meja kerja semua ditempel foto Nona."
"Astaga, ternyata Pak Hessel sebesar itu cintanya sama Nana, ah aku jadi mau seperti itu." seru Arin sedangkan Nana tidak sanggup berkata-kata lagi kelakuan aneh suaminya bisa-bisa membuatnya besar kepala.
"Nana tidak mau masuk ke dalam sana, Nana pulang saja." Nana hendak memutar badannya tapi langsung ditangkap oleh Arin dan Yoga secara bersamaan.
"Karna Nona sudah berani datang kemari itu berarti Nona harus bertemu Tuan." ujar Yoga, Nana hanya bisa pasrah menurutinya.
"Dan kamu Arin, kamu juga harus ikut karna kamu belum resmi jadi model surat kontrakmu harus kamu ajukan langsung kehadapan Pak Hessel." tegur Yoga membuat Arin teringat akan surat kontraknya yang tertinggal di rumah.
"Saya lupa Pak." jawab Arin menyeringai malu.
"Besok harus dibawa atau kamu tidak akan dapat gaji besar." Yoga mengingatkannya.
Kemudian mereka pun berjalan menuju ke ruangan Hessel. Begitu sampai Yoga membuka pintu ruangan Hessel tapi sebelumnya menyuruh Nana dan Arin menunggu di luar.
"Tuan, ada tamu perempuan yang ingin bertemu dengan Tuan." kata Yoga.
"Yoga, saya sudah mengingatkanmu saya tidak menerima tamu laki-laki atau perempuan di dalam ruangan saya jika mereka ingin bertemu silakan tunggu di ruang tamu." ujar Hessel tegas.
"Ah! Apa masih ingin menolak jika tamunya Nona Nana." Yoga menggoda Hessel. Saat mendengar nama istrinya raut wajah kesal langsung berubah berseri-seri.
"Kau serius, Ga? Istriku datang kemari." tanya Hessel penasaran.
Yoga tersenyum langsung menepuk tangannya memberi kode menyuruh Nana masuk.
1 2 3
Surprise!!! teriak Arin sambil membawa Nana ke hadapan Hessel.
Nana tertunduk malu-malu, temannya dan Pak Yoga terlalu berlebihan.
"Ayo dong dipeluk istrinya." tegur Yoga karna Hessel dan Nana malah saling diam dan malu-malu.
"Pak jangan malu-malu untuk memeluk istrinya, kami semua sudah tau kalau bapak sangat mencintai Nana." sambung Arin ikut menggoda mereka.
"Mas, maaf ya Nana datang kemari enggak bilang-bilang sama mas." Nana buka suara tapi terlihat menyesal. Hessel membuang rasa canggungnya dengan memeluk erat tubuh Nana lalu mencium setiap inci wajah Nana yang membuat Yoga dan Arin menjerit-jerit kecil tak kuasa melihatnya.
"Sama siapa kamu kemari, sayang?" tanya Hessel setelah usai mencium Nana. Nana menunjuk Arin, Arin tersenyum melihat Pak Hessel.
Yoga langsung mengenalkan Arin sama Hessel, setelah memberitahu Arin adalah model yang di terimanya, Hessel suka dengan pilihan Yoga yang memilih Arin sebagai model baru mereka.
Karna Yoga dan Arin sudah mempertemukan Hessel dengan istrinya jadi sepulang dari kantor Hessel akan mentraktir mereka makan malam di cafe, biar suasana anak mudanya dapat jika makan di hotel atau restoran itu terlalu formal. Yoga dan Arin jelas sangat senang diajak makan malam bersama boss.