
Sekitar 1 km jaraknya dari kampus Hessel menghentikan mobilnya tiba-tiba membuat kepala Nana terbentur mengenai bagian depan mobil.
"Aduh... kenapa berhenti mendadak sih mas, sakit kepala Nana." ucap Nana dengan nada kesakitan tapi pandangan Hessel hanya lurus ke depan diam tanpa ekspresi.
Setelah kejadian itu Hessel menjadi lebih banyak diam, bahkan dia tidak melihat Nana sekalipun padahal dia tau Nana sedang ke sakitan.
"Masss" panggil Nana.
"Hm" hanya berdehem kasar.
"Kamu marah mas?" tanya Nana.
"Tidak ada gunanya marah." jawab Hessel tanpa menoleh ke arah Nana.
"Mas maafin Nana jika Nana salah, Nana hanya menghargai pemberian darinya sebagai tanda persahabatan kami, apakah Nana salah menghargai pemberian orang mas, jika Nana menolak maka dia akan berkecil hati dan Nana merasa tidak enak." jelas Nana dengan nada sedih.
"Sahabat, apa persahabatan, pria dan wanita bersahabat sulit dipercayai." celotehnya dalam hati.
"Lagi pula mas yang bilang jika diluar kita jalani kehidupan masing-masing seperti biasanya, Nana hanya mengikuti kemauanmu mas, lalu apakah Nana bersalah, mas juga bertemankan dengan bu Laras." sambung Nana terdengar isak tangis dari Nana.
Hessel langsung menoleh kearah Nana, dan mengangkat dagu gadis lugu yang menangis sambil menunduk untuk menghadap wajahnya.
"Kamu menangis Na?" lirih Hessel, seakan tangisan Nana membuat hatinya kembali tersentuh.
"Jangan seperti ini Na, aku mohon jangan menangis, aku sudah memaafkanmu Na, aku hanya tidak suka ada laki-laki lain yang menyentuhmu apalagi aku melihat dia memakaikan jam tangan ke tanganmu seperti tadi." ucap Hessel sambil mengusap pipi Nana untuk menghapus air matanya.
"Berhentilah menangis Na, aku jadi merasa bersalah melihatmu seperti ini." ucap Hessel merangkul Nana ke dalam pelukkannya sambil mengusap pucuk kepala Nana.
Nana masih menangis di dalam pelukkan Hessel.
"Kenapa mas sangat jahat sama aku, apa salahku mas." lirih Nana dengan nada sedih.
"Nana tidak salah, sudah jangan menangis lagi, lihatlah bajuku jadi basahkan karna air matamu ini." canda Hessel, seketika Nana jadi kesal memukul dada Hessel dengan lembut.
"Maaf, maaf Nana, aku minta maaf banget." ucap Hessel seketika Nana kembali tersenyum.
"Nah, senyum beginikan manis, tetaplah tersenyum untukku." puji Hessel dan Nana mengangguk.
"cuppp... kamu ini sangat menggemaskan Na." Hessel mendaratkan ciuman di bibir Nana sekilas.
"Aku akan membawamu jalan-jalan, mau gak?"
"Emh... kemana mas?" tanya Nana sambil mendongakkan kepalanya ke atas melihat Hessel.
"Jalan-jalan kemana aja sesuka hati kita." ucap Hessel terdengar menggoda, senyum Nana mengembang seketika.
"Mas pipi kananmu..." tiba-tiba Nana menyentuh pipi Hessel yang memar.
"Tidak masalah, yang penting hari ini aku akan menemani istriku kemana pun dia mau pergi."
"Kita pulang aja mas, pipimu memar nanti aku akan mengompresnya di rumah."
"Yakin mau pulang aja, kita pulang awal lho Na masa kamu gak mau jalan-jalan."
"Nana mau banget malah mas, tapi Nana lebih mengutamakan mas dulu, luka di wajah mas harus segera di obati." ucap Nana.
Hessel yang mendengar kata-kata istrinya jadi tertegun, kemudian dipeluknya lagi tubuh istrinya.
"Kau bodoh, gara-gara kau aku juga ikut-ikutan bodoh." gumam Hessel seakan dia tak percaya dengan apa yang tadi sudah di lakukannya menonjok anak murid sendiri bahkan berkelahi benar-benar tidak mencerminkan seorang Hessel Steven yang biasanya sangat profesional. Kayaknya Hessel mulai bucin karna cinta Nana😄
"Mas meledekku, baru aja minta maaf udah meledek lagi." gerutu Nana dalam pulukkan suaminya.
"Tidak Na, udah diam aja seperti ini, biarkan aku menghangatkanmu."
"Ini tengah hari lho mas, yang ada Nana pengap."
"Oh... maaf ya Na, aku pikir cuaca sedang hujan." ucapnya salah tingkah.
"Mas aneh deh." Nana tersenyum simpul.
"Maaf ya Na, aku sudah membuatmu menangis." sesal Hessel sambil menghapus sisa air mata yang ada dipelupuk mata Nana.
Nana mengangguk pertanda dia sudah memaafkan suaminya.
*****
"Nana, kita sudah sampai di rumah." ucap Hessel tanpa menoleh ke arah Nana yang tertidur sambil memeluk Hessel yang sedang mengemudi.
"Ya ampun ternyata dia tidur." gumam Hessel sedikit tersenyum.
Walau pun Hessel masih kesal teringat Nana yang berpegangan tangan dengan laki-laki lain, tapi Hessel tidak tega melihat istrinya tertidur dengan perasaan sedih.
"Berat rasanya untuk mengatakan... ah, tapi egoisnya aku ingin kamu hanya menjadi milikku... cup..." lirih Hessel terputus-putus tanpa membuat Nana terbangun kemudian mencium keningnya.
"Bangun kita udah sampai." ucap Hessel sembari membangunkan Nana.
"Huah... Nana ketiduran ya mas." ucapnya kaget tanpa sadar dia sendiri tertidur sambil memeluk pinggang Hessel.
"Ayo turun." ucap Hessel.
Nana pun mengikuti perintah Hessel masuk ke dalam rumah.
"Ada apa dengan wajah kakak?" tanya Devan cemas.
"Wahhh apa kakak berkelahi, asikkk kapan-kapan ajarin Devan juga ya kak." ujarnya.
"Dev, tolong ambilin kompresan dan kotak p3k." perintah Nana sembari mendudukkan Hessel di ruang tamu.
"Kau ambil saja sendiri, punya mata, punya tangan, punya kaki kan, ngapain nyuruh orang lain." cetus Devan.
"Hadeuh ni anak... cepat ambil aja Dev, ini untuk kakakmu apa kau masih tidak mau." ujar Hessel kesal, barulah si Devan mau menurutinya.
Tak lama kemudian Devan pun datang membawa mangkok berisi air es serta kain perca untuk mengompres juga kotak p3k. Nana bergegas menerimanya dan dengan hati-hati mengompres wajah Hessel.
"Auhh... pelan-pelan donk Na, sakit tau." rengek Hessel seakan dia sangat menderita karna lukanya.
"Sudah jangan bawel begitu aja kok merengek mas, Nana juga pelan-pelan kok." gerutu Nana.
"Heh Nana, memangnya kakakku berkelahi dengan siapa?" tanya Devan yang duduk mengamati mereka.
"Ehh anak kecil kau ke kamar saja sana, anak kecil jangan suka kepo ini urusan orang dewasa." Hessel berujar membuat Devan diam memperhatikan mereka.
"Perih ya mas, salepnya emang agak perih tapi ini bisa cepat meredakan nyeri dan menghilangkan tapak memarnya." ucap Nana sambil mengoleskan salep ke pipi Hessel.
"Iya gak apa-apa Na, asal kamu yang ngobatinnya semuanya akan terasa baik." gombal Hessel, seketika Nana mencubit lengan suaminya.
"Apaan sih mas, malu tau di dengar Devan." ucap Nana pelan yang hanya terdengar oleh Hessel.
"Ishhh tidak serasi sama sekali." celoteh Devan masih mengawasi kakaknya.
"Eh anak kecil kau masih di situ aja, cepat masuk kamar sana." ujar Hessel.
"Kakak menyebalkan sekali aku bukan anak kecil tapi hampir remaja." cetus Devan lalu berlalu masuk ke kamarnya.
"Kenapa Devan nya di usir sih mas, biarkan aja dia disini." ucap Nana.
"Kau ini tidak ngerti sama sekali, atau kau pura-pura polos." ketus Hessel, Nana termenung melihat wajah Hessel mendadak kesal sendiri.
Siang itu cuacanya memang panas hanya Hessel yang merasa kedinginan.
"Heh Nana, ingat baik-baik..." ucap Hessel tiba-tiba terdengar serius.
"Kenapa mas?"
"Awas aja kalau kamu masih membolehkan laki-laki lain menyentuhmu sekalipun hanya tanganmu, maka aku pastikan kamu akan mendapat hukuman yang setimpal dariku." ancam Hessel yang membuat Nana bergedik, suara Hessel terdengar sangar dan menakutkan.
"Kenapa gitu banget sih mas, kan mas tidak cinta sama Nana, ngapain melarang sampai segitunya." ucap Nana protes.
"Heh kau menurut saja, dan ingat itu baik-baik." ucapnya dengan tatapan sangar.
"Iya deh mas, Nana nurut aja." ucap Nana pasrah.
"Bantu aku menaiki tangga, kau harus mengiringiku berjalan." perintah Hessel.
"Tapi kaki mas kan baik-baik aja." lagi-lagi Nana protes.
Hessel langsung saja menarik tangan Nana dan merangkulkan tangan Nana di bahunya. Mereka pun berjalan menaiki tangga.
"Kamu masih memikirkan dia mas, mas masih marah kepadaku?" tanya Nana yang ternyata diam-diam mengamati wajah Hessel terlihat sangat dingin tanpa ekspresi.
"Kamu bersalah padaku, karna kamu aku jadi seperti ini, berkelahi dengan murid itu sangat memalukan." jawab Hessel menggerutu.
"Maafin Nana mas, lagian mas juga sih gak biasanya marah-marah kayak gitu."
"Gak biasanya kamu bilang, huhh..." mendengus kasar.
"Iya benarkan mas, Nana kan tidak berarti..." tiba-tiba kalimat Nana terhenti karna Hessel sedang menahan bibirnya dengan ciuman sekilas.
"Senang banget mencium diwaktu yang tidak tepat." batin Nana kesal.
Lalu Hessel tiba-tiba menggendong tubuh Nana.
"aaa... mas, apa yang kamu lakukan turunin Nana mas." Nana memohon sambil memukul lengan Hessel.
Hessel diam saja menaiki anak tangga, sampai membuka pintu kamarnya lalu melabuhkan tubuh istrinya dengan lembut ke atas kasurnya.
"Aku sudah tidak tahan Na, cuaca dingin membuatku seperti ini." ucap Hessel.
"Dingin, bahkan ini tengah hari sangat panas untung kamar ini ber AC." batin Nana dengan rasa gerogi melihat tatapan mata Hessel yang nanar memandangnya.
Dengan cepat Hessel membuka rompi, lalu melepas dasinya dan membuka kedua kancing kemeja di kedua pergelangan tangannya, lalu menariknya keatas secara paksa hingga nampaklah tubuh kekar dan roti sobek Hessel yang bisa membuat iman Nana melemah.
"Mas, apa ini tidak terlalu cepat" Nana tampak gugup membuat Hessel berhenti.
"Kau masih ragu Na, seminggu lagi kau akan lulus jangan khawatir aku juga akan melakukannya dengan lembut" bisik Hessel mesra sesekali mengecup leher Nana hingga meninggalkan bekas di sana.
"Mas, kau yakin akan melakukannya di siang bolong..." lagi-lagi suara Nana menghentikan Hessel yang hendak melakukan aktivitasnya.
"Kenapa lagi Na, apa kamu takut aku tidak bisa memuaskanmu?"
"Buk..."
belum selesai bicara Hessel langsung mengecup bibir istrinya dan melahap habis tubuh istrinya. Kemudian mereka pun tertidur karna kelelahan setelah melakukan hubungan suami istri.