MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
DIGANGGU



Nana meminta izin suaminya untuk pergi ke toilet sebentar, setelah mendapat izin Nana pun pergi ke toilet sendirian sementara Hessel berbincang-bincang dengan clientnya sekaligus mempromosikan produk terbaru berupa parfum dan lipstik yang sangat recomended untuk semua kalangan.


Banyak yang memuji perusahaan Shine Group karna selalu mengeluarkan produk kecantikkan yang terjamin mutu dan kualitasnya, setiap harga tergantung kualitas jadi sudah dipastikan customers tidak ada yang kecewa saat memakai produk yang diproduksi oleh perusahaan Shine Group.


Dibalik kesuksesan yang Hessel raih, tentu saja ada orang yang iri padanya. Salah satunya yaitu Tn. Rehan Triansyah yang sudah sejak lama ingin menjatuhkan perusahaan Shine Group, namun hingga sekarang niatnya tak kunjung terlaksana.


Tn. Rehan mengepal sebelah tangannya, dan tangan satunya menghempaskan gelas ke atas meja di sampingnya. Tatapannya sangat lekat melihat Hessel dipuji dan disanjung oleh banyak orang, sementara perusahaannya sendiri semakin mengalami penurunan omset karna kurangnya pemasukan dari hasil penjualan, bahkan beberapa investornya beralih menanam saham di perusahaan Shine Group, sia-sia selama ini usahanya yang sempat berhasil mengelabui investor Shine Group tapi pada akhirnya malah investornya sendiri yang berpindah ke Shine Group.


Tn. Rehan geram sambil memikirkan cara bagaimana menyingkirkan Hessel, karna selama Hessel kembali memimpin perusahaan menggantikan posisi ayahnya perusahaannya semakin makmur. Sekarang Hessel adalah musuh terberat bagi Tn. Rehan.


Nana masih berada di toilet dan hendak mencuci tangannya, tapi tiba-tiba Nana melihat Andrean berdiri tegap di depan pintu toilet sambil menatapnya.


"Andrean, kok kamu di sini inikan toilet wanita, toilet pria di sebelahnya, kamu salah masuk Dre." kata Nana berusaha berpikir positif.


"Enggak salah kok, aku memang ingin kemari." jawab Andrean datar.


"Kenapa kamu kemari Dre?" tanya Nana, Andrean diam saja terus menatap Nana dengan sedikit bengis.


"Kamu mengikutiku?" tanya Nana lagi tetap tidak digubris oleh Andrean malah tiba-tiba kedua tangan Andrean berusaha menyentuh bahu Nana membuat Nana takut dan berusaha menghindarinya.


"Jangan sentuh aku Dre." kata Nana mengingatkan sambil berjalan mundur berusaha menghindar dari jangkauan tangan Andrean.


"Kamu tidak perlu takut Na, di sini tidak ada orang mereka sudah keluar sebelum aku datang, aku juga tidak akan menyakitimu." Tatapan Andrean mulai liar semakin mendekat ke arah Nana yang sudah bersandar di pojokkan.


"Apa yang kamu inginkan dariku?"


"Aku hanya ingin memelukmu, izinkan aku memelukmu sekali saja, setelah aku ke luar negeri aku tidak tau kapan aku bisa melihatmu lagi."


"Tidak Dre, aku tidak mau, aku sudah punya suami dan aku tidak akan pernah mengizinkan laki-laki manapun untuk memelukku kecuali suamiku, tolong kamu jangan macam-macam denganku."


"Kali ini saja Na, apa kamu tidak kasihan padaku."


"Aku tidak mau!"


"Minggirlah aku ingin mau keluar." bentak Nana sambil memberanikan diri mendorong Andrean ke samping.


"Kamu tidak bisa pergi kemana-mana Nana." dengan gerakkan yang cepat Andrean mencengkram lengan Nana dan menghalangi jalan Nana.


"Lepaskan Dre." sekuat tenang Nana berusaha menyelamatkan diri.


"Aku sudah melakukan berbagai cara untuk mendapatkanmu tapi aku selalu saja gagal, pak Hessel yang bahkan tidak tau cara memperlakukan seorang wanita dengan benar tapi kenapa dia selalu menang dan akhirnya mendapatkanmu? Apa kamu tidak tau aku tidak senang, aku cemburu melihatmu bersama dosen itu, Na."


"Cukup Andrean! Hentikan semua omong kosongmu! Ingatlah siapa wanita yang kau ajak bicara, sadarlah Dre tidak pantas bicara seperti itu pada orang yang sudah menikah."


"Aku selalu sadar aku bukan siapa-siapa di matamu, bahkan aku tau aku sama sekali tidak penting bagimu."


"Kamu jahat Na, kamu pembohong merahasiakan pernikahanmu dariku sampai aku jatuh terlalu dalam mencintaimu seperti ini, sekarang apa yang aku dapatkan aku yang berjuang untuk mendapatkanmu tapi malah dosen itu yang menikmatinya, bukankah Tuhan tidak adil kepadaku?"


"Aku sendiri bahkan tidak pernah menduga hubunganku dengan pak Hessel akan berakhir dalam ikatan pernikahan, aku tidak pernah berharap akan menjadi istrinya meskipun aku sangat mencintainya karna aku sadar saat itu cintaku bagaikan sebutir pasir yang tidak berarti apa-apa di matanya, tidak ada gunanya aku membohongimu Dre."


"Bagaimana denganku, apa nanti aku bisa memilikimu seperti kamu memiliki pak Hessel."


"Apa kau tidak waras Dre? kau tidak akan bisa memilikiku."


"Kenapa? kenapa tidak bisa, kau bisa memiliki dia walau berawal dari cinta yang bertepuk sebelah tangan itu berarti tidak menutup kemungkinan aku juga bisa memilikimu."


"Andrean mengertilah situasi saat itu dan sekarang berbeda, aku bisa memilikinya karna dia bukan milik siapa-siapa saat itu, sementara aku sekarang sudah menikah, aku istri orang kau tidak bisa memilikiku Dre seharusnya kamu mengerti dan menerima kenyataan."


Plakkk!!!


mendengar ucapan Andrean yang sudah keterlaluan sontak Nana menampar wajah Andrean yang membuat Andrean marah-marah dan membentak Nana, segala emosinya seakan sudah tercurah dengan marah-marah dan meninju dinding hingga Nana terperanjat kaget berulang kali, Nana tidak menduga Andrean bisa sekasar ini sehingga Nana takut dan menangis, untung saja Andrean tidak memukul atau mencoba melecehkan Nana.


Mendadak Andrean melepaskan genggamannya dari tangan Nana dan dia langsung menjatuhkan diri ke lantai menyesali sikap kasar yang di lakukannya, sementara Nana masih ketakutan.


"Aku minta maaf Na, tolong jangan menangis." sesal Andrean hendak menyentuh wajah Nana untuk menghapus air matanya namun Nana menepisnya.


"Kamu membuatku takut Dre." rintih Nana memeluk tubuhnya sendiri menahan rasa takut.


"Aku, aku tidak bisa mengontrol emosiku Na, aku minta maaf sudah membuatmu takut." Andrean menyesal sambil memohon maaf.


Hessel mencari Nana di sekitar tempat acara berlangsung namun tidak melihat Nana di sana. Hessel langsung menuju toilet untuk mencari Nana karna hampir setengah jam Nana belum kembali, Hessel sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Hessel masuk ke toilet wanita tidak ada siapa-siapa di sana ternyata Nana meringkuk di pojokkan.


Hessel berlari menghampiri istrinya yang tampak ke takutan, langsung dipeluknya tubuh Nana dengan erat.


"Apa yang terjadi padamu Na?" tanya Hessel sambil menghapus air mata Nana.


"Mas aku takut." Nana kembali memeluk Hessel, Hessel bingung tidak tau apa yang dialami istrinya.


"Ada apa sayang?"


"Nana takut kehilangan kamu mas." lirih Nana masih terisak tangis. Hessel bingung mendadak istrinya ketakutan padahal sedang tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Apa tadi ada orang yang mengganggu?"


"Andrean mas, Andrean bilang mas akan tiada." ucap Nana gugup.


"Sudah sayang jangan takut tidak akan terjadi apapun percayalah kamu tidak aka kehilanganku, aku hanya cemas apa Andrean menyakitimu?" sekarang di pikian Hessel hanyalah keselamatan dan keamanan istrinya, bahkan dia tidak terlalu khawatir akan ancaman Andrean.


"Mas, Nana hanya takut mas akan meninggalkan Nana."


"Tenanglah Nana jangan takut dengan ancaman seperti itu." Hessel berusaha menenangkan kegelisahan yang mengganggu Nana.


Hessel pun mengajak Nana pulang tapi sebelum pulang, Hessel menghampiri Yoga sekretaris perusahaan dan memerintah Yoga supaya mengawasi Andrean putra semata wayang Tn. Rehan.


"Apa yang terjadi dengan Nona, Tuan?" tanya Yoga melihat raut wajah Nana seperti sedang trauma.


"Ada yang mengganggu istriku." jawab Hessel dengan nada parau.


"Aku minta kamu awasi ayah dan anaknya itu." perintah Hessel.


"Maksud Tuan siapa mereka?"


"Rekan bisnis kita, Pak Rehan bersama putranya, aku merasa mereka punya niat lain." jelas Hessel.


"Astaga ada apa sebenarnya dengan mereka." gumam Yoga.


"Kau awasi saja mereka."


"Baik Pak! Mau saya antar Tuan dan Nona?" ucap Yoga menawarkan tumpangan.


"Kau langsung saja ikuti Andrean bersama ayahnya, beritahu aku jika menemukan sesuatu yang janggal." ucap Hessel memerintah dengan tegas.