MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
KUNTILANAK LAKI-LAKI



"Hei kalian berdua kenapa saling pandang, ngomongin nenek ya?" cetus nenek jengkel menarik kuping Hessel dan Nana ke dekat wajahnya.


"Kalian tidak menipu nenekkan, cepat katakan kapan kalian melakukannya."


"Astaga nenek, kenapa bertanya seperti itu." keluh Hessel.


"Kau ini nenek hampir mati, jika nenek mati sebelum nenek melihat cicit nenek, nenek tidak bisa tenang." dijitaknya kepala cucu laki-lakinya itu.


"Tapi pertanyaan itu memalukan nek" bantah Hessel.


"Cup, cup, cup nenek, jangan bicara seperti itu, Nana tau nenek sangat menginginkannya tapi kami juga perlu waktu nek, hehe." Nana membawa nenek dalam pelukkannya berusaha menenangkan hati nenek tua itu.


"Sampai kapan nenek harus menunggu, nenek tidak tahan lagi aaa."


"Nenek sayang, jangan ngambek donk, Nana dan mas Hessel akan segera memberi nenek cicit yang manis dan lucu."


"Tapi kapan, hari ini ulang tahun nenek tapi kalian gak ingat sama sekali, dan ibu juga ayah kalian malah pergi keluar negeri tidak menghubungi nenek, nenek sangat sedih mungkin dengan adanya cicit kesedihan nenek bisa berkurang." ucap nenek seperti anak kecil yang sedang merengek.


"Umm nenek sayang jangan menangis" bujuk Nana sembari mengelap air mata nenek.


"Kau cucu yang baikkan, kau mau kan memberi nenek cicit"


"Iya nenek, nanti pasti Nana kabulin, tapi semua perlu proses nek, jadi nenek harus tenang dan sabar dulu ya." berusaha membujuk nenek.


"Shuttt... kau sungguh-sungguh sudah siap untuk nanti malam" bisik Hessel menggoda istrinya.


"Ishhh mas, jangan ganggu Nana, jangan bikin nenek sedih." sahut Nana bicara pelan di telinga suaminya.


"Cucu sialan, apa kau tidak mau menjamu nenek, hari ini nenek ulang tahun lho." celoteh nenek.


"Selamat ulang tahun nenekku sayang, semoga panjang umur, dan selalu jadi neneknya Hessel." ucap Hessel seketika berubah manja pada neneknya.


"Heh nenek tau kau menginginkan nenekmu cepat mati, kau seperti ini karna kau ingin terlihat baik di depan istrimu kan, padahal kau sama sekali tidak peduli sama nenek." gerutu nenek, sementara Nana lelah menahan tawanya.


"Ayo cucuku kita duduk di sofa saja, nenek mau bicara banyak sama kamu nak." Nenek mengarahkan Nana untuk duduk.


"Siapa yang cucunya sekarang, nenek lebih sayang pada istriku."


"Eh cucu sialan, kau kemarilah duduk di samping istrimu ini, jangan malu-malu bukankah kalian sudah... nenek pengen lihat seromantis apa kalian sekarang."


"Bisa gak nek jangan panggil cucu sialan" ucap Hessel dengan wajah memelas kasihan.


"Suka-suka nenek donk, nenek gak suka diatur, cepat kalian tunjukkan pada nenek"


"Hessel gak romantis nek, makanya Nana gak pernah puas." ucap Hessel cekikikan, Nana menampar pahanya di depan nenek yang membuat Hessel berteriak kesakitan tapi suara Hessel terkalahkan oleh


aaaaa... tiba-tiba nenek berteriak histeris entah apa gerangan dia begitu bersemangat.


"Minggir" pekik nenek


menggeser duduk Hessel sampai Hessel terjerembab ke lantai.


"dasar nenek lampir, aku benar-benar dianiaya olehnya, aku jadi tidak yakin dia nenek kandungku, mana ada nenek menganiaya cucunya." batin Hessel


Tanpa peduli pada cucu lelakinya yang teraniaya itu.


"Nana, kau ini sangat manis nenek sangat suka padamu." diraihnya wajahnya Nana dengan kedua tangannya.


Nana tersenyum tertunduk malu juga was-was menjaga lehernya, takut nenek akan melihatnya juga.


"Semoga nenek tidak melihatnya, semoga, semoga." batin Nana


Kedua tangan nenek terus membelai pipi lembut Nana, lalu tangannya berhenti membelai, kini matanya tertuju pada leher Nana yang dipenuhi kiss mark yang sangat banyak dibalik kerah kemeja yang Nana pakai.


Nenek menunduk sambil tersenyum sesekali dia melirik Hessel mereka bicara dari hati ke hati.


"Cucuku kau sudah dewasa."


"Apa ini ulahmu Hes?" tanya nenek.


"Ya tentu saja nek, apa sih yang gak bisa aku lakukan." ucapnya tampak bangga tanpa ada rasa malu, sementara Nana manggut-manggut heran melihat nenek dan cucunya itu.


"Astaga disiang bolong juga, kau mirip sekali dengan kakekmu, kerja bagus ini baru cucuku." pertama kalinya nenek membangkitkan Hessel yang terjatuh lalu memujinya.


Sementara Nana benar-benar tersipu malu nenek melihat semuanya dan bicara terang-terangan padahal di situ juga ada anak kecil si Devan.


"Sudah lama nenek menantikan ini akhirnya ini terjadi lagi, dulu papa dan mamamu juga seperti ini, mereka tidak bisa menyembunyikannya dari nenek."


"Dasar nenek, matanya masih sangat awas."


Devan ikut melihat lebih dekat bercak-bercak yang ada di leher Nana, diamatinya dengan serius.


"Nek, ini apaan seperti luka memar, wahhh kalau kata mama ini namanya hisapan kuntilanak." ucap Devan dengan polosnya.


"Devan juga pernah melihat tanda seperti ini di leher mama, eh Nana kau harus segera diruqiyah, mama ku bilang kalau ada tanda seperti ini tandanya setan kuntilanak sedang bersarang di tubuhmu." sambungnya.


"Astaga... Iya benar ini ulah kuntilanak laki-laki." sambung nenek cekikikan.


"Apa ada kuntilanak laki-laki nek, setau Devan yang laki-laki itu genderuwo."


"Kuntilanak, genderuwo, apapun yang jelas nenek suka tanda seperti ini." nenek terus mengusap leher Nana hingga Nana merasa risih dan canggung.


"Nek, aku akan menelpon pak ustads Amir, beliau yang akan meruqiyah Nana nanti jinnya dimasukkan dalam botol dan tidak akan mengganggu dia lagi." ujar Devan.


"Ehhh jangan sayang, kau ini masih kecil, kau tidak akan mengerti, biar nanti kakakmu yang mengurus Nana." Nenek menarik ponsel Devan, Devan tercengang sambil berpikir.


"Arghhh... aku dibilang jin, masuk dalam botol, apa-apa nenek dan Devan." pasrah Hessel jengkel mendengarnya.


"Semua ini karnamu mas, aku harus di ruqiyah, menyebalkan sekali." batin Nana. Dia dan Hessel saling bermain mata karna terhalang oleh nenek dan Devan yang ada di tengah-tengah mereka.


Hessel meringis dan mengusap tubuhnya yang terkena pukulan nenek, serta pantatnya terasa pedas setelah terjatuh dari sofa juga karna nenek.


"Ishhh lembek sekali... apa ini yang di namakan laki-laki." menyindir Hessel.


Lalu nenek kembali mengalihkan pandangannya melihat Nana. Diraihnya dagu Nana.


"Suami dan mertuamu itu sangat tidak pengertian, mereka mengandalkanmu untuk mengurus rumah dan memasak, tapi nenekmu ini tidak akan membiarkan kamu bekerja keras lagi, kamu harus jadi ratu di rumah ini sayang." ujar nenek.


"Ahhh nenek tidak perlu begitu, Nana senang menjalankan tugas sebagai istri."


"Hehhh dengar nenek, rumah ini sangat besar perlu banyak pelayan untuk mengurusnya, sebentar lagi kamu akan membawa penerus baru di rumah ini jadi nenek akan memanggil banyak pelayan untuk mengurus rumah ini, nenek tidak ingin melihat menantu nenek kelelahan."


"Dan kau cucu sialan, perhatikan dan jaga baik-baik istrimu, perhatikan pola makannya, jangan bikin pikirannya stress, dan selalu manjakan lah dia."


"Nenek pulanglah, mengganggu tidur siangku saja." tanpa sadar Hessel salah bicara.


"Brengsekkk kau cucu sialan, kau mengusir nenekmu... nenek hajar kau sampai babak belur, biar bonyok wajahmu sekalian, akan ku buat istrimu tidak menyukai wajah bonyokmu itu."


"Bibir ini kenapa kau asal bicara, ribetkan urusannya" batin Hessel sambil menampar-nampar pelan bibirnya.


gupp... gupp... nenek terus memukuli Hessel dengan bantal yang ada di sofa.


"Apa kau bahagia nak punya suami seperti inj, jika kau tidak bahagia katakan pada nenek, biar nenek yang memberinya pelajaran, supaya dia jadi suami yang pengertian sama kamu nak."


Nana tertawa terbahak-bahak. Sudah lama dia menantikan saat-saat seperti ini, rumah terasa ramai penuh canda tawa ketika nenek datang. Nana juga tau jika Hessel dan nenek ternyata sering bertengkar tidak jelas, tapi itu yang membuat Nana tersenyum.


*****


Setelah makan malam bersama nenek, Nana memang paling bisa mengambil hati nenek dari suaminya itu.


Dia memijat-mijat punggung dan kaki nenek tanpa nenek perintahkan. Nenek sangat menyukai Nana.


"Berhenti nak, kau istirahatlah temui suamimu, besok kau kuliahkan sayang."


"Nana mau sama nenek, boleh gak malam ini Nana tidur sama nenek, Nana takut sama mas Hessel."


"Haha... kenapa kau takut sama suamimu sayang, memangnya dia melakukan apa sama kamu?" nenek tertawa mendengarnya.


"Emh... itu nek... mas Hessel sekarang lebih menakutkan, dia anu... anu nek..."


"Ya, ya nenek mengerti sayang, kau tidur saja malam ini bersama nenek."


Nana berbaring di paha nenek, dia amat manja dengan sang nenek.


"Nenek, gimana kalau tanda ini gak ilang sampai besok, Nana malu nek."


"Suamimu itu saat jiwa kelelakiannya memuncak sepertinya dia tidak memberi ampun pada istrinya."


"Hmmm benar nek, masa dia maksa malam ini mau lanjut ronde ke 2, kan Nana capek nek tadi siang aja udah 2 ronde masa malam.2 ronde lagi, mana anu Nana masih perih, rasanya Nana mau ngumpet dimana gitu biar gak kelihatan sama mas Hessel."


"Nenek dengan kakek dulu lebih parah lagi Na, masa iya gara-gara nenek nolak satu malam kakekmu nekat manjat pohon rambutan dulu di belakang rumah ini ada pohon rambutan besar, dia naik dan ngancam mau lombat, semua orang satu kampung panik sampai-sampai petugas pemadam kebakaran juga datang untuk menyelamatkannya, tapi apa dia bilang Na, semua ini karna nenek menolak permintaannya untuk itu, nenek sangat malu kakekmu terang-terangan mengatakannya di hadapan banyak orang, kami jadi bahan tertawaan di rumah kami sendiri, rasanya nenek mau menenggelamkan wajah nenek ke dalam tanah kala itu karna saking memalukannya."


"Astaga nek, kakek sampai segitunya sama nenek luar biasa, andai mas Hessel yang kayak gitu gimana ya nek?"


"Hush... jangan dibayangin sayang, sungguh itu sangat memalukan, nenek saja jika membayangkannya selalu senyum-senyum sendiri, nenek jadi rindu sama kakek, jika kakek masih ada dia pasti sangat senang punya menantu seperti Nana."


"Kakek itu seperti apa sih nek, siapa yang lebih menawan, kakek atau mas Hessel?"


"Jelas kakek donk, suamimu itu tidak ada apa-apanya di banding kakek."


"Haha... kalau bagi Nana sih lebih menawan suami Nana nek."


"Dasarrr Nana, siapapun pasti akan memuji suaminya."


"Haha... iya nenek juga begitukan memuji kakek."


mereka pun tertawa bersama.


"Sayang, pakailah syal ini." nenek memberikan sebuah syal berwarna merah muda pada Nana.


"Ini untuk apa nek?"


"Untuk melindungi dirimu dari gosip-gosip yang ada di kampus, kau tutupilah lehermu dengan ini, nenek jamin penampilanmu juga terlihat sangat keren jika kau memakai syal milik nenek ini."


Dengan senang hati Nana menerimanya, nenek sangat pengertian dengan masalah yang sedang Nana hadapi.


Tiba-tiba Hessel datang matanya berbinar begitu Nana melihat suaminya. Hessel tersenyum menawan pada istrinya, kemudian mengedipkan sebelah matanya kearah nenek, lalu didekatinya sang nenek.


deg... deg... deg... jantung Nana tidak karuan tatapan suaminya begitu menggoda.


"Nenek, apa kau sudah selesai meminjam istriku, sekarang sudah jam 8 malam waktunya aku menjemput istri nek." ucap Hessel mendadak baik merayu neneknya.


"Kau pikir cucuku ini barang yang bisa dipinjam kapan saja."


"Bukan begitu nek, sekarangkan Hessel sudah punya istri masa Hessel nganggur sendirian dikamar kan aneh rasanya." tersenyum genit.


Hessel berpindah duduk di samping Nana dan dirangkulnya istrinya itu. Memandang istrinya, lalu menoleh kearah neneknya kemudian dia tersenyum.


Nana merasa risih dengan perlakuan Hessel yang dirasanya terlalu buka-bukaan di depan nenek.


"Nana, kau ikutlah denganku, malam ini apa kau tidak ingat." sebuah bisik kecil terdengar dikuping Nana seketika itu bulu kuduk Nana berdiri, tubuhnya menggelinjang karna Hessel menarik tali branya dari belakang.


"Heh cucu sialan, bicara apa kau pada cucu perempuanku?"


di dorongnya suaminya, lalu Nana langsung memeluk kencang tubuh sang nenek.


"Nenek selamatkan Nana, Nana tidak mau ikut dengannya nek, sakit nek sakit, perih nek perih anu Nana." rengek Nana mengais-ngaiskan tangan Hessel berharap suaminya itu pergi.


sementara Hessel tertawa geli mendengar rengekan istrinya.


"Malam ini cucu perempuanku akan tidur bersamaku."


"Apa nenek lupa, apa nenek tidak menginginkan hadiah itu dariku, jika istriku bersama nenek bagaimana aku bisa memberi nenek hadiah itu."


"Tolong nek kembalikan istriku dengan suka rela, ayolah nek apa nenek yakin tidak mau hadiah yang selalu nenek nanti-nantikan itu." Hessel pun terus merayu dan memohon pada neneknya.


"Tidak nek, tidak, tidak, Nana gak mau, Nana lari aja kalau gitu."


Nenek tampak berpikir jelas dia memilih hadiahnya dibanding Nana, toh nenek lebih sayang cicit dibanding cucunya jadi dia dengan suka rela menyerahkan Nana pada suaminya.


"Ambillah istrimu, lakukan sepuasmu habisi istrimu, jangan kasih ampun dia." rayuan Hessel lebih berpengaruh untuk nenek.


"Siap, dengan senang hati aku akan melakukannya nek." Hessel saling mengedipkan mata dengan nenek sementara Nana berancang-ancang ingin lari tapi Hessel dengan cepat menggapai tubuhnya dan menggendongnya.


"Nenekku, terima kasih banyak, Hessel bawa dia pergi dulu yaaa..." ucap Hessel dengan senang hati.


"Astaga nenek, nenek sudah berjanji padaku akan menyelamatkanku dari mas Hessel, kenapa nenek malah memberikanku padanya dengan suka rela." Nana yang berada di gendongan Hessel berusaha menjangkau nenek dengan tangannya tapi apa yang nenek lakukan, dia berbaring dan membiarkan kedua suami istri itu.


"Nenek minta maaf Na, nenek tidak bisa memisahkan suami dari istrinya." teriak nenek lalu dia tertawa.


"aaaaa nenek, mas, kalian berdua telah menjebakku." teriaknya jengkel, dipukul-pukulnya Hessel tapi Hessel semakin mengeratkan tangannya menggendong Nana.