MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
TERJADI PENCULIKKAN



"Mas, aku sama Arin turun duluan ya!" rayu Nana memohon diizinkan untuk menunggu di mobil. Karna Nana tahu jika sudab membicarakan bisnis dengan client pasti memakan waktu yang lama.


"Tidak boleh! Bahaya kalau cuma kalian berdua. Tunggu Tuan Retno dulu baru kita sama-sama turun." Titah Hessel yang masih menunggu si penyelenggara acara sekaligus akan membahas sedikit kesepakatan kecil.


"Kalau gitu sama Yoga juga!" lagi-lagi memaksa. Hessel memanggil Yoga bersama dengan Arin yang tengah asyik minum.


"Ada apa Pak?" tanyanya


"Kalian berdua temani istriku, dia mau menunggu di mobil." perintah Hessel.


"Baik Pak!" Yoga langsung menjalankan tugas yang diberikan. Dia dan Arin beriringan menuntun serta mengawasi memastikan Nana tetap aman.


Mereka bertiga sampai di depan lift. Nana berada di tengah sedikit maju ke depan, Yoga dan Arin di sisi kanan dan kiri bak seorang bodyguard. Nana hendak menekan tombol lift tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara "Gedebug! Gedebug", beberapa kali suara pukulan senjata tumpul berhasil mengenai kepala Yoga dan Arin secara bergantian yang membuat mereka langsung jatuh pingsan.


Aaaaa


Siapa kamu?


Nana menjerit panik bukan kepayang, menyaksikan Yoga dan Arin jatuh bersamaan dan di depannya ada orang aneh memakai jubah hitam dan wajahnya tertutup topeng menyeramkan, sementara tangan kanan dan kirinya memegang kayu balok dan rantai. Seolah menjadikan Nana sasaran selanjutnya. Begitu pintu lift terbuka, Nana segera menyadari dan masuk ke dalam namun sosok itu tak akan membiarkan Nana lolos dari cengkramannya.


"Apa maumu, hah?" sentak Nana dengan suara kasar


"Kenapa kau ganggu aku?" Keringat dingin mulai ikut membasahi tubuh Nana yang menambah rasa takutnya. Sosok itu sudah masuk ke dalam lift dengan kedua tangan mengarah ke arah Nana. Nana siap siaga melambai-lambaikan tangan ke arah CCTV yang ada di dalam lift dengan harapan segera mendapat pertolongan. Sosok itu terus memandangi wajah Nana yang masih diselimuti kecemasan, kemudian dia menjatuhkan barang berbahaya yang di bawanya saat itu tangan Nana ikut melemas dengan perasaan sedikit lega dan berusaha mengambil kayu balok yang baru saja di jatuhkan.


Haps!!!


Hessel mengakhiri perbincangan penting dengan Tuan Retno, berniat dalam hati untuk segera menemui Nana dan pulang karna malam juga sudah cukup larut kasihan juga dengan putra kecil mereka pasti sedang kehausan pengin minum susu bundanya.


"Terima kasih sudah mau bergabung dengan perusahaan kami, Pak. Ini merupakan kehormatan buat kami." tutur Pak Retno dengan wajah gembira.


"Sama-sama Pak. Selamat bekerjasama." balas Hessel seraya menjabat tangan Pak Retno sambil tersenyum ramah.


"Mari Pak sama-sama turun ke bawah!" tawar Pak Retno setelah beberapa saat kemudian. Mereka dan beberapa orang lainnya akan turun bersamaan dari gedung tempat acara. Hessel masih tidak merasakan bahaya apa-apa, masih seru-seruan mengobrol dengan Pak Retno dan orang-orangnya, karna dia tahu Nana selalu aman bersama asisten pribadinya itu.


Tetapi tidak! Ketika mereka sampai di depan lift semua mata langsung terbelalak kaget menemukan dua manusia tersungkur dengan sedikit memar di kepala. Hessel bersama orang-orang Pak Retno langsung bergegas mendekati Yoga dan Arin yang mulai sadar, seketika wajah Hessel berubah cemas matanya liar mencari keberadaan istrinya.


"Apa yang terjadi? Di mana Nana?" ujar Hessel cemas sekaligus tegang. Yoga terkejut ketika sadar kepalanya pusing ditambah tidak melihat Nana.


"Pak, kami tadi di serang oleh orang berkostum aneh." ungkap Yoga hati-hati agar tidak membuat Hessel naik pitam. Hessel tak yakin bagaimana bisa ditempat aman seperti ini bisa terjadi tindakan kriminal.


"Lalu Nana di mana sekarang?" sentak Hessel sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


"Kemungkinan besar dia menculik Nana, Pak." lanjut Arin dengan sangat menyesal tidak bisa menjaga Nana. Jantung Hessel seolah melompat, meronta, wajah memerah marah ingin sekali bisa segera menemukan penjahat yang telah menculik Nana. Hessel ingin memarahi Yoga yang dianggapnya sudah lalai menjalankan tugas, tapi Yoga menjelaskan bahwa mereka diserang lewat belakang sehingga tidak siap membela diri.


"Kita harus segera lapor ke pihak ke amanan Pak untuk melihat rekaman CCTV." usul Pak Retno menghentikan perselisihan kecil antara Hessel dan Yoga. Hessel langsung diam dari ceramahnya dan menuruti Pak Retno.


"Nanti di rumah obati luka kalian." ucap Hessel kemudian setelah merasa baikkan.


"Iya Pak." angguk Yoga. Sekarang Yoga hanya ingin bisa segera menemukan Nana, dia merasa bertanggungjawab atas hilangnya istri Boss.