
Pukul 16.15 Wib
Lebih dari 2 jam mereka tidur hari rupanya mulai sore Hessel terbangun dari tidurnya. Hessel masih meringkuk memeluk istrinya yang tidur begitu nyenyak di dalam pelukkannya.
dengan pelan Hessel membelai pipi istrinya, dia mencoba membangunkan Nana namun istrinya tetap tidak mau bangun.
"Menggemaskan sekali... rasanya inginku terkam lagi dia, jika ditanya apakah aku puas, maka aku akan menjawab aku tidak pernah muas." gumam Hessel sambil menyinggitkan kepalanya dan tersenyum melihat wajah sang istri.
"Hahhh tapi kasian juga melihatnya merengek kesakitan kau kejam sekali pada istrimu, tidurlah yang nyenyak sayang aku akan selalu disini bersamamu." Hessel membelai lembut kepala sang istri. Kalimat sayang yang kala itu tanpa sadar dia ucapkan membuat Nana yang masih terpejam mengembangkan senyuman seketika.
"Ya dia tersenyum, sedang mimpi basah kali ya" ucap Hessel terkekeh bertambah gemas. Mentang-mentang masih dalam keadaan tidak berbusana, Hessel yang tak kuat menahannya menarik selimut yang menutupi tubuh mereka, mulai mencumbui leher dan beberapa bagian tertentu dari tubuh Nana hingga meninggalkan bercak merah muda di sana sementara Nana tidak sadarkan diri bahwa suaminya masih bermain.
Seketika Hessel senyum menyeringai melihat bercak-bercak yang terlukis indah di leher dan di tubuh istrinya, dia merasa sudah benar-benar berjaya menjadi suami yang handal dalam bercinta.
"Indah sekali... aku suka ini... waktu itu hanya 30 menit aku tidak bisa membuat tanda seperti ini, tapi hari ini aku berhasil melakukannya." ucapnya menatap lekat bercak yang ada di bagian pay*d*ra istrinya.
"Menggiurkan sekali, dan menggugah selera, Hessel kau harus seperti ini setiap hari, maka kau akan selalu merasa bahagia seperti sekarang." dengan tatapan puas dan tanpa rasa malu Hessel mengungkapkan apa yang ada dikepalanya.
Di hisapnya pay*d*ra istrinya secara bergantian begitu juga tangannya meremas pay*d*ra istrinya secara bergantian hingga Nana mengeluarkan suara yang membuat Hessel semakin bergairah.
"enghhhh aahhh" terdengar suara desahan Nana.
"Mendesahlah yang keras istriku, aku suka suara itu..."
Dilihatnya wajah istrinya sangat mengemaskan.
"Aku mau baby Na" bisik Hessel.
"emm"
"Aku suka ini"
"bolehkan setiap hari"
"emmm ahhh" lenguhan Nana kembali terdengar.
"Aku suka ekspresimu seperti ini"
"enghhh... udah mas... hentikan..." desahan Nana membuat Hessel tidak bisa berhenti.
"nikmati istriku... aku suka ini"
"enghhh aahhhh emmm"
"enakkan sayang, nikmati saja aku tau ini enak."
"Aahhkkk" seketika Nana terkejut saat anu Hessel memasuki bagian paling sensitif itu.
"masss, udah ahhh... enghhh hentikan, tidak, emmm terus masss sttt ahhh." racau Nana dibawah alam sadarnya karna ulah Hessel.
Hessel tersenyum puas melihat istrinya begitu menggoda saat mencapai klimaks.
"Aneh sekali bisa bicara dengan mata tertutup, dia tidur atau sedang menikmati" gumam Hessel, lalu mengecup bibir istrinya.
Lalu di sudahinya permainannya.
"Tapi sepertinya aku harus mandi dulu, istriku kau tidurlah dulu nanti malam aku akan menghukummu seperti ini lagi." ucapnya sembari menutupkan selimut ke tubuh istrinya lalu mengecup keningnya, dan dia bergegas membersihkan badan.
"terima kasih istriku, maafkan aku membuatmu kelelahan." cuppp kecupan lagi di bibir Nana yang tidak sadarkan diri.
Saat Hessel sedang membersihkan diri, Nana tiba-tiba saja terbangun.
"Enghhh" lenguh Nana
"Ahhh... kok nyeri sih." saat duduk dia sedikit merasakan nyeri dibagian paling sensitif itu, Nana belum menyadari apa yang terjadi dibawah.
"Sudah bangun?" terdengar suara dari laki-laki yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Emhhh... kamu habis mandi mas" ujarnya dengan nada lesu bangun tidur.
"Sudah puas tidurnya?" tanya Hessel sembari mendekat lalu duduk di tepi ranjang samping Nana.
"Emh." ucap Nana mengangguk.
"Nana" panggil Hessel sontak Nana menoleh kearah suaminya dan lagi-lagi Hessel mencium bibir istrinya yang kenyal.
"Mas, hentikan, sakit" ucap Nana.
"Kenapa, apa yang sakit"
"Itu mas anu, anuku rasanya sakit kenapa ya" tanya Nana seolah dia tidak tau apa-apa. Dipandanginya wajah istrinya, Hessel pun menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal pertanyaan Nana membuatnya bingung.
Nana melihat di sekeliling kamarnya yang tampak berantakan di lantai tergeletak pakaian Hessel. Nana melihat dress merah muda yang tak asing baginya di tepi ranjang. Nana memperhatikannya dengan seksama memastikan apakah itu miliknya diraihnya dress itu dan benar itu dress yang dia kenakan tadi pagi saat ke kampus. Nana refleks melihat tubuhnya yang ternyata hanya terbungkus selimut tebal, begitu melihat ke dalam sontak Nana berteriak.
"aaaa...tidaakkk... memalukan" teriaknya histeris begitu nampak tubuhnya tanpa busana.
Dan tambah terkejutnya Nana saat melihat tubuhnya serta pay*d*ranya yang di penuhi bercak-bercak merah.
"Di mana cermin, ponsel, dimana ponsel... aku perlu ponsel, cermin apapun itu." Nana heboh sendiri.
"Ini ponsel." Hessel mengunjukkan ponselnya serta senyum menggodanya.
tanpa memandang suaminya Nana dengan cepat membuka aplikasi kamera dan bercermin melalui kamera itu.
"aaaaa... tidak mungkin... apaan ini..." teriaknya lagi histeris terlihat jelas di lehernya juga ada beberapa bekas ciuman.
"Apa yang kau lakukan mas... kau membuatku telanj*ng... lalu aaa leherku... aaa tidak mungkin..."
Nana yang begitu shock baginya itu tak biasa malah membuatnya terlihat menggemaskan di mata Hessel.
"Kenapa Na, kau terlihat sangat terkejut... bukankah itu sangat indah." tanya Hessel dengan ekspresi menggoda.
"Arghhh... kapan kau melakukan semua ini mas, kau tidak izin padaku... tidak mungkin..."
"Ya ampun kau sungguh-sungguh tidak mengingat yang terjadi diantara kita beberapa jam yang lalu."
Nana memutar tubuhnya membelakangi Hessel. Dia melihat tubuhnya ke dalam selimut, sebenarnya dia ingat semuanya tapi malu untuk mengakuinya.
"Emmm tubuhku... ishhh memalukan"
Wajahnya memerah dan dia tetap berusaha menyembunyikan rasa malunya, dengan posisi yang masih membelakangi suaminya tanpa berani menoleh untuk sekedar bertatap muka dengan suaminya.
"Nana, mandilah kita masak sama-sama yuk." bisik Hessel.
"Aku sudah... dan mas Hessel... kami sungguh-sungguh melakukannya." Sementara Nana masih melamun. Ditariknya kembali selimut menutupi tubuhnya lalu membenamkan wajah meronanya ke dalam selimut.
Hessel mengintip wajah istrinya dari samping, benar Nana sedang tersipu malu membuatnya bertambah gemas saja.
Ditariknya tubuh Nana menyeretnya kembali ke dalam pelukkannya. Lalu diciumnya dengan lembut bibir istrinya.
"Hangat tau" lirih Hessel berbisik di telinga Nana.
"Apa" Nana sontak kaget.
"Jangan terlalu di pikirkan... nikmati saja..." ucap Hessel tangannya begitu saja menyusup ke bawah selimut mencari bagian paling sensitif.
"Hah... dasar laki-laki taunya hanya menikmati saja." celoteh Nana dalam hati sangat jengkel pada suaminya.
Terdengar suara yang menggedor-gedor pintu, pak supir yang biasa berjaga di depan pintu langsung membukakan pintu.
"Astaga nyonya besar datang" pak supir was-was saat melihat nenek.
"Dimana cucu dan menantuku itu."
"Dimana mereka, mereka melupakan hari ulang tahun neneknya yang hidup sendirian, tidak pernah menelpon sama sekali, akan ku culik anak mereka kelak."
Pak supir yang mendengar kemarahan nenek moyang dari rumah itu merasa bar-bar takut jadi sasaran amarah sang nenek.
"Tenang nyonya tua, eh maksud saya nyonya besar, saya akan memanggil tuan muda." ucap supir dengan gugup, nenek melotot tajam kearahnya.
"Cepat" suara nenek yang sangar.
"Nenek." panggil Devan langsung memeluk neneknya
"Dimana kakakmu itu?" tanya nenek.
"A-ada nek, kakak di kamar kayaknya."
"Heiii... cucu sialan keluar kau..."
"Nenek." batin Hessel seketika melepaskan hisapan bibir istrinya.
"Arghhh... aku kenal suara itu..." dengus Hessel yang sedang asik-asiknya mencumbu istrinya.
"Hah... mas... itukan... mas bagaimana ini... mas aku... mas leherku... hah mas tubuhku juga... mas nenek tidak boleh melihatku seperti ini... aduh gimana ini mas." Nana bertambah panik dia mengenal suara nenek, bagaimana dia akan menemui nenek dengan kondisi banyak bercak kiss mark di lehernya.
"Kau mandi sana, tutup saja dengan apapun yang penting gak kelihat oleh nenek."
"Mas, mas, dengan apa aku harus menutupnya" ucap Nana.
"Apa saja sayang, daaah." ucap Hessel berbisik ketelinga Nana.
"Hah sayang... mesra sekali kedengarannya" dia tertegun sambil menggigit selimutnya, kata sayang membuat dirinya seakan sedang terbang mengudara.
lalu Hessel dengan wajah kesal keluar dari kamarnya untuk menghampiri sang nenek yang terdengar meronta-ronta.
Pak supir yang tak sengaja melihat sedikit ke dalam kamar Hessel karna saat Hessel membuka pintu terlihat sangat jelas kamar itu berserakan. Pak supir sudah tau habis terjadi perperangan di dalam sana, dia pun hanya menyiratkan senyuman dengan kepala menunduk.
Sementara Nana berdiri di depan cermin mengamati lehernya yang penuh kiss mark. Kiss mark itu sangat membuatnya malu, Nana pikir setelah di olesi foundation bercak itu tak akan terlihat tapi nyatanya masih menonjol.
Hessel turun dari lantai atas menghampiri neneknya di ruang tamu. Hessel mendekat seolah tidak tau apa-apa.
"Nenek... nenek kenapa datang tidak beritahu aku, aku kan bisa menjemput nenek." ucap Hessel tersenyum centil tanpa rasa bersalah.
"Tidak berguna, cucu kurangajar, gak tau diuntung, kau melupakanku hari ini aku ulang tahun tapi kau tidak mengunjungiku sama sekali, bedebah, kurangajar, bagaimana jika aku sudah tiada mungkin kau tidak akan berziarah ke pemakamanku."
gup... gup... memukul-mukul Hessel dengan keras, nenek sangat jengkel pada cucunya itu.
"aa... aa... hentikan nek, sakit.. sakit..." happ Hessel menangkap kedua tangan neneknya lalu mencium pipinya.
"Cucu sialan... dasar mesum..." celoteh nenek.
tiba-tiba terdengar suara teriakan Nana.
"aaaaa... mas bekasnya gak bisa hilang, aaa gimana"
krikkk... krikkk
Hessel dan nenek terdiam dan mendongak ke lantai 2.
"Apa yang kau lakukan pada cucu perempuanku pria mesum." nenek bergeming tanpa segan dia menarik rambut cucunya sampai membuat kepala Hessel tersinggit.
Hessel menutup wajahnya dan merasa malu, nenek sadis menatapnya penuh curiga.
"Cepat panggil cucu perempuanku itu!" perintah nenek pada Hessel.
"Nana, turunlah nenek memanggilmu." panggil Hessel berteriak.
"Kenapa menyebut namanya, panggil lebih mesra." perintah nenek lagi.
"Aaa nenek banyak maunya, gimana sih Hessel udah berusaha." bantah Hessel.
"Sayang, turunlah nenek memanggilmu sayang." panggil Hessel lagi.
"Ciih, mesra sekali, pantas aja dia berkali-kali membiasakan diri memanggilku sayang ternyata ini alasannya karna nene akan datang kemari."
"Setelah membuatku seperti ini, bagaimana aku bisa menemui nenek, habislah kau Nana" rengek Nana kemudian memberanikan diri turun ke lantai dasar untuk menemui nenek.
"Nenek haiii." sapa Nana canggung karna nenek juga memelototinya.
"Kalian berdua ini sama saja, kalian lupa hari ini hari apa hah." suara nenek mencekam ditelinga Hessel dan Nana.
"Hari kamis nek." sahut Hessel santai.
"Brengsekkk... cucu sialan, hari ini ulang tahunku, kau lupa akan hal itu dan kau tidak mengingatkan istrimu, kurangajar."
Nenek tidak segan-segan menghajar Hessel dihadapan Nana. Sementara Nana tertawa terpintal-pintal melihat pertarungan mereka.
"Ayo nek hajar terus, ayo nenek jangan beri ampun, Nana mendukungmu nenek." Nana menyoraki nenek dengan semangat.
"Aku pastikan akan menghajar cucu sialan ini."
"Rasakan itu mas, ayo nek hajar terus." Nana merasa dendamnya pada suaminya tersalurkan melalui nenek.
buk
bukk
bukkk
"auh... atit nek, atit... nek hentikan." rintih Hessel memelas kasihan.
"Tidak akan, kau harus di hukum terus."
"Nenek hentikan, aku malu, di sini ada istriku, istriku tolong bantu aku." rengek Hessel.
Nana masih tertawa terbahak-bahak menyaksikan mereka sampai membuat perutnya sakit.
"Kau ini laki-laki atau perempuan, meminta perlindungan dari cucu perempuanku."
"ampun nek, ampun... aku sudah menyiapkan hadiah untuk nenek." ucap Hessel, seketika nenek pun berhenti memukulnya saat mendengar hadiah.
Nenek tua yang kurang kasih sayang dari anak dan cucunya itu tentu saja senang mendengar ada hadiah yang akan di terimanya.
"Dimana hadiahku, cepat berikan" ucap nenek dengan tangan menagih ke arah Hessel.
Hessel menoleh ke arah Nana, nenek juga ikut menolehnya.
"Itu..." ujar Hessel.
"Dia... dia kau sebut hadiah..." Nenek mendekati Nana dan meraih dagu Nana mengangkatnya ke atas Nana tersenyum canggung berharap nenek tidak melihat kiss mark dilehernya yang di tutupinya dengan kerah baju.
"Bedebah kau pria mesum, istrimu kau bilang hadiah." lagi-lagi nenek memukul cucunya.
"Ampun nek, sungguh nanti hadiahnya akan keluar sembilan bulan lagi."
"Siapa maksudmu?"
"Cicit yang nenek dambakan."
"Hahaha benarkah itu." seketika nenek tertawa lepas, dia tidak salah dengarkan.
"Heh kau tidak menipu nenekmu kan?" bisik nenek menggoda Hessel.
"Emh... untuk apa aku menipu nenek, tapi nenek habis-habisan memukulku, rasanya aku mau mati saja."
"Kau jangan mati sebelum nenek, kau harus hidup, ini yang nenek nantikan darimu." ucap nenek gembira.
Ditariknya Nana dan Hessel ke dalam pelukkannya.
"Heh Nana, apa suamimu itu bicara sungguh-sungguh, beritahu nenek kapan dia melakukannya padamu?"
"aa.. anu nek..." malu-malu.
"Ayolah cucuku... ceritakan pada nenekmu ini, apa dia hebat?" tanya nenek menggoda Nana.
Nana bertambah malu dan pipinya merona hingga tak sanggup bicara.
"Aku suka gadis pemalu ini, Hessel cucuku kau sungguh beruntung, mereka tidak salah menikahkan kalian berdua, yang satu nakal yang satunya pemalu sangat manis, pasangan serasi." gumam nenek berdecik tersenyum senang.