
Shine Group
Kemarin Arin baru saja diterima menjadi bintang iklan di perusahaan Shine Group. Arin buru-buru masuk ke dalam karna dia merasa sudah sangat telambat meski masih tersisa waktu lima menit, langsung saja Arin menghampiri bagian resepsionis.
"Saya Arin Ayuandari orang yang kemarin ikut casting untuk jadi bintang iklan dan sudah lolos casting, saya ingin bertemu dengan Pak Yoga kemarin saya diminta untuk menemui beliau, ruangannya di sebelah mana ya?" jelas Arin sembari memperkenalkan diri dan bertanya.
"Maaf mbak, Anda datang terlambat, kami sudah mencari model pengganti, silakan mbak keluar." kata resepsionis sontak Arin terkejut mendengarnya. Arin kembali melihat jam di ponselnya masih tersisa 1 menit lantas bagaimana pihak kantor bisa menolaknya.
"Saya diminta datang tepat waktu sebelum jam 3 dan saya menepatinya, lantas kenapa saya di usir padahal waktunya masih tersisa 1 menit." jawab Arin membela diri.
"Maaf mbak seharunya Anda datang 30 menit yang lalu, perusahaan ini tidak menerima pekerja yang tidak disiplin."
"Disuruh datang jam 3 ya jam 3 mbak, saya hanya mengikuti peraturan yang ada mbak tidak bisa membuat keputusan seperti ini."
"Maaf mbak, tapi memang seperti itu peraturan di kantor ini."
Arin geram rasanya dia ingin mencela-cela resepsionis tersebut namun disekitarnya banyak orang berlalu lalang jadi Arin tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kantor macam apa ini mbak, saya datang sudah tepat waktu malah dibilang terlambat, saya butuh pekerjaan ini mbak untuk biaya sekolah adik-adik saya."
"Kami tidak bisa berbuat apa-apa mbak, peraturannya memang seperti ini."
"Siapa yang membuat peraturan seperti itu..." tiba-tiba terdengar suara parau yang membuat Arin dan resepsionis sontak menoleh ke arah lift di belakang mereka.
Seorang pria memakai setelan abu-abu berkaki jenjang baru saja keluar dari lift dan mulai berjalan perlahan ke arah bagian resepsionis.
"Wah bersinar..." gumam Arin begitu terpesona melihat sosok pria keren datang menghampiri mereka.
"Tidak ada perturan seperti itu, kantor ini selalu memberi toleransi tidak ada penolakkan atau pemberhentian hanya karna melakukan satu kesalahan." jelas Yoga dengan tegas pada resepsionis.
"Bagi siapa yang membuat peraturan sendiri silakan buat surat pengunduran diri sekarang, saya tunggu." kata Yoga lagi dengan nada suara parau membuat resepsionis itu tak mampu berkutik sementara Arin melongo menatap penampilan sosok pria asing di hadapannya.
"Saya minta maaf pak, saya tidak menyukai nona ini makanya saya mengusirnya." sahut resepsionis lalu menunduk.
"Wah wah, geser kali otak mbaknya bisa-bisanya tidak menyukai saya, memangnya mbak kenal sama saya?" sahut Arin tidak terima.
"Enggak kenal makanya saya enggak suka." sahutnya lagi.
"Hah menyebalkan sekali." Arin mengeluh dan hendak berbalik untuk keluar dari kantor.
"Nona." tiba-tiba Yoga memanggilnya sontak Arin berbalik melihat kebelakang sambil tersenyum.
"Nona karyawan baru?" tanya Yoga.
"Bukan pak, saya peserta yang ikut casting kemarin karna saya sudah diterima dan saya diminta untuk bertemu dengan orang yang namanya Yoga Anggara tapi mbak ini bilang saya datang terlambat posisi saya sudah diisi sama orang lain." jelas Arin panjang lebar tapi Yoga malah tersenyum melihat tingkah Arin.
"Oh kamu mencari Yoga Anggara, saya bisa tunjukkan dimana ruangannya." kata Yoga pura-pura tidak mengenali dirinya sendiri.
"Tidak perlu pak, saya sudah dipecat saya pulang saja." jawab Arin sambil manggut-manggut undur diri.
"Saya Yoga Anggara." teriak Yoga. Arin berhenti mendadak suara Yoga masih terngiang di pikirannya.
Yoga mendekati Arin sontak Arin membuang muka.
"Kamu masih bisa bekerja di sini." ujar Yoga sontak Arin mendongak melihat Yoga.
"Bapak serius? bukankah posisi saya sudah diganti?"
"Tidak ada yang menggantikanmu karna saya menunggumu."
"Terima kasih pak, terima kasih banyak sudah mau menerima saya." kata Arin dibalas senyuman oleh Yoga.
Arin melongo memperhatikan bibir Yoga saat bicara, bibir berwarna merah jambu sangat sexy ditambah senyumnya yang manis membuat Arin merasakan debaran tidak biasa di dalam jantungnya yang belum pernah dia alami sebelumnya.
"Bapak menunggu saya? Apa saya seperti jodoh yang sedang bapak tunggu-tunggu kedatangannya?" celetuk Arin seolah tidak sadar dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Apa?" Yoga pura-pura tidak mendengar, mendadak Arin sadar dia salah bicara sehingga Arin mengunci bibirnya rapat-rapat agar dia tidak sembarangan bicara lagi.
"Dengar! Saya sudah menikah." kata Yoga membuat Arin terbelalak dan malu sendiri, ternyata Yoga adalah suami orang tentu saja Arin merasa galau. Padahal baru saja dia mulai mengagumi sosok Yoga.
Yoga sendiri menahan tawa dengan tetap memasang ekspresi datar, padahal kenyataannya Yoga sama sekali belum punya pacar apalagi istri. Dia tidak mengenal Arin tapi Yoga sepertinya menyukai Arin terlihat dari senyum Yoga yang begitu manis saat melihat Arin.
"Maaf pak, saya tidak sengaja bicara seperti itu." sesal Arin lalu menunduk.
"Tidak perlu minta maaf, ayo kamu ikut saya." ajak Yoga tanpa diberi izin Yoga menarik tangan Arin. Arin pun kontan berjalan di belakang Yoga mengikuti arah kaki Yoga melangkah dengan tangannya yang digenggam erat oleh Yoga.
Sepanjang jalan Arin hanya fokus menunduk melihat tangannya digenggam oleh seseorang sementara pandangan Yoga datar lurus ke depan, ini pertama kalinya Arin bersentuhan dengan lawan jenisnya tentunya ini pengalaman aneh yang baru Arin rasakan setelah sekian lama menjadi gadis tomboy.
Mendadak Yoga menghentikan langkahnya sehingga membuat Arin yang berada di belakangnya terhuyung cukup kuat menabrak belakang Yoga yang membuat mereka berdua terjatuh ke lantai dengan posisi telungkup dan Arin menimpa tubuh Yoga.
Orang-orang di sekitar mereka sontak kaget melihat seorang sekretaris perusahaan jatuh dengan posisi yang tidak biasa. Arin langsung bangkit sambil mengumpatkan wajahnya dibalik tangan. Sedangkan Yoga berusaha bangkit tapi malah terjatuh lagi, sontak Arin membantunya bangkit dan meminta maaf pada Yoga.
Awalnya Yoga ingin marah karna merasa malu terlihat dari raut wajahnya yang memerah tanpa ekspresi.
"Bapak pasti marah ya?" tebak Arin dengan bibir bergetar.
"Sekali lagi saya mohon maaf pak, saya benar-benar tidak sengaja karna saya tekejut bapak tiba-tiba berhenti." kata Arin lagi memohon maaf namun Yoga malah membuang muka seakan tidak terima.
Yoga memperhatikan orang-orang di sekitar mereka tampak sedang bergunjing, Yoga pun memubarkannya dengan memerintah mereka supaya kembali ke tempat masing-masing dan tetap fokus bekerja.
Setelah karyawan pergi, Yoga kembali menatap Arin yang tertunduk takut, pelan-pelan Arin mengangkat kepala ditatapnya jass yang Yoga pakai terlihat ada debu menempel di sana.
Kontan Arin mengambil beberapa lembar tissue dari tasnya dan hendak membersihkan baju Yoga.
"Baju bapak ada debu, saya bersihkan." namun dengan cepat Yoga menahan tangan Arin lalu menghempaskannya.
"Tidak perlu!" ketus Yoga terdengar sedang marah. Yoga malah pergi meninggalkan Arin di tengah aula yang biasa di pakai untuk melakukan syuting iklan.
Mata Arin sendu menatap kepergian Yoga yang perlahan semakin tak terlihat. Arin merasa sangat bersalah, padahal Yoga orang yang sudah menolongnya namun dia malah membuat Yoga malu dan kecewa.