
Nana diantar oleh bu Sarah menuju kamar Hessel. Karena sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri maka Nana harus berada satu kamar bersama dengan Hessel.
"Bi, apa Nana harus masuk ke dalam?" Nana ragu-ragu.
"Nana biasakanlah memanggil saya mama jangan bibi lagi sekarang kamu sudah resmi menjadi menantu saya."
"Iya ma."
"Masuklah Na, temui suamimu, mama tinggal dulu ya Na." ujarnya tersenyum dan meninggalkan Nana di depan kamar Hessel.
Nana masih terbalut gaun pengantin membuka pintu dengan hati-hati berharap Hessel tidak ada dikamarnya, namun ternyata Hessel sedang menggelar sajadah dan Hessel terlihat memakai baju koko dan kain sarung sepertinya dia akan melaksanakan shalat isya.
"Masuklah." ujar Hessel Nana pun mendekat kearahnya.
Nana tidak menyangka ternyata Hessel juga taat beribadah, Nana pikir Hessel orang yang dingin.
"Kau sudah shalat?" tanyanya tanpa melihat Nana.
"Belum."
"Cepat gantilah pakaianmu, dan wudhu kita akan shalat bersama-sama." ujar Hessel.
Bagi Nana ini jauh diluar dugaannya Nana pikir Hessel akan membencinya setelah pernikaha ini terjadi, tapi sepertinya Hessel melakukan sesuatu yang bisa membuat Nana semakin jatuh cinta.
"Bajumu semua sudah tertata di dalam lemari itu." ujar Hessel menunjuk kearah lemari disamping lemari miliknya.
Nana pun mengambil bajunya dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dan berwudhu.
Nana membasuh wajahnya dengan air untuk membersihkan noda makeup yang masih menempel. Nana melihat cermin di hadapannya dan terlihatlah senyum bahagia menyelimuti bibirnya
"Ya Allah apa seperti ini rasanya menjadi seorang istri? aku akan melaksanakan shalat bersama suamiku." batin Nana lalu melanjutkan wudhunya.
Setelah wudhu Nana pun keluar dari kamar mandi, dan berjalan mendekati Hessel yang sedang menunggunya.
"Itu mukenahmu." ujar Hessel menunjuk mukena yang sudah tersedia di atas ranjang.
Meski ragu takut semua ini hanya hayalan, Nana memakai mukenanya dan mereka pun melaksanakan shalat dengan khusyuk.
Selesai shalat Nana melihat Hessel sedang berdoa dengan khusyuk entah apa yang sedang Hessel sebut dalam doanya hanya dia dan Tuhan yang tau, Nana pun ikut berdoa.
"Ya Allah Nana tau pernikahan kami bukan keinginan kami, semua terjadi atas kehendakmu, berilah kami keikhlasan untuk menjalankan dengan rasa ikhlas." tutur Nana, Hessel mendengar kalimat doa yang terlentar dari bibir Nana.
"Ya Allah tumbuhkanlah rasa cinta yang tanpa batas dalam hati kami berdua, buatlah kamu saling menerima satu sama lain." lanjut Nana.
"Aamiin..." sambung Hessel sambil memutar badannya melihat Nana yang kini akan selalu menjadi makmumnya setiap melaksankan shalat. Hessel tersenyum padanya sambil merapikan sajadahnya dan Hessel berjalan kearah lemari menempatkan kembali sajadahnya.
Nana merasa kikuk dia mematung saat Hessel pertama kali tersenyum melihatnya.
Hessel mengambil pakaian di lemarinya dan pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Nana sehabis melipat mukena dan sajadahnya dia menempatkan kembali ke dalam lemari lalu Nana duduk di meja rias menghadap cermin.
Hessel keluar dari kamar mandi dan melihat Nana sedang duduk di kursi meja rias.
"Nana, aku keluar sebentar." ujar Hessel, Nana pun menoleh kearahnya dan tersenyum padanya.
Nana merasa ini bagaikan mimpi, tapi ini nyata Hessel memang memperlakukannya dengan baik.
Setelah Hessel keluar, mama datang menghampiri Nana dengan sebuah kado ditangannya.
"Sayang, ini untukmu kau harus memakainya malam ini." ujar Mama.
"Apa ini ma?" tanya Nana dengan polosnya.
"Pakai saja sayang, mama turun kebawah dulu ya." Mama dengan senyum usilnya pun meninggalkan Nana.
"Ini baju apa kenapa bahannya tipis sekali?" gumam Nana dengan polosnya.
Baju berbahan benang sutra yang tipis itu pun Nana pakai dia tidak tau itu baju apa yang jelas Nana hanya menjalankan perintah dari ibu mertuanya.
"Baju ini sangat tipis aku jadi malu, apakah pak Hessel akan memarahiku nantinya saat melihatku memakai baju seperti ini." batin Nana.
Nana pun menunggu Hessel datang tapi tanpa sadar dia malah ketiduran.
Hessel yang berada diruang tamu karna baru selesai bicara dengan Kepala Rektor saat ini akan kembali ke kamarnya Hessel tau Nana belum makan jadi Hessel menyempatkan diri ke dapur membawakan Nana roti bakar selai kacang, meskipun Hessel tidak tau apa makanan kesukaan Nana Hessel hanya berusaha menjalankan kewajibannya sebagai suami sekalipun dia tidak mencintai Nana.
Saat Hessel masuk ke kamar dia malah melihat pemandangan yang bisa membuat imannya goyah karna melihat Nana tergeletak dikasur dengan balutan gaun malam yang tipus itu memperlihatkan secara jelas setiap lekuk tubuh Nana.
"Dari mana dia mendapatkan baju seperti itu, apa dia juga sudah menyiapkan segalanya untuk merayuku." gumam Hessel setelah menempatkan makanan di atas meja dan mendekati Nana yang tergeletak diatas ranjang.
"Hei bangun!" ucap Hessel menampar wajah Nana dengan lembut untuk membangunkannya.
Nana kaget melihat Hessel di depannya dan dia sadar bajunya sangat tipis Nana pun langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa masuk tidak ketuk pintu?"
"Aku sudah mengetuknya beberapa kali tapi kamu tertidur bagaimana kamu bisa mendengarnya."
"Oh iya aku lupa."
"Kamu tidak perlu menutup tubuhmu seperti itu aku sudah melihatnya dengan jelas, aku ini suamimu bukan orang asing lagi."
Hessel beranjak dari tempat tidur dan duduk diatas kursi sambil mengunyah roti.
"Apa kau menyentuhku?" tanya Nana.
"Tidak, kamu jangan khawatir aku tidak akan melakukan apapun padamu, kamu masih anak sekolah aku bukan laki-laki yang mau menghamili anak sekolah."
"Kau gantilah pakaianmu itu, dan temani aku makan sekarang."
Nana pun beranjak dari tempat tidur dia pikir malam ini akan terjadi sesuatu antara dia dan Hessel namun itu tidak seperti yang pikiran Nana.
Jujur saja Hessel terus menatap Nana yang berlalu lalang didepannya, baju yang Nana pakai membuat Hessel tidak bisa berhenti menatapnya, meski Hessel sering melihat para gadis memakai pakaian sexy tapi kali ini entah kenapa Hessel merasa tertarik saat melihat tubuh gadis muda yang kini sudah menjadi istrinya itu.
Namun Hessel berusaha menutupinya karna masih memikirkan nasib Nana yang masih kuliah dan Hessel juga tidak mau jika Nana hamil itu pasti akan membuat kekacauan dikampus.
Saat Nana mengganti baju di kamar mandi Hessel berdiri memandang cermin.
"Pernikahan adalah ibadah, aku akan menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami dan Nana dia akan patuh pada setiap perintahku." batin Hessel.
Nana mendekati Hessel yang sedang berdiri didepan cermin menatapnya dengan heran.
"Pak..." panggil Nana, Hessel menoleh Nana yang ada dibelakangnya.
"Panggil saja Hessel."
"Tapi pak....."
"Dirumah ini aku suamimu jadi panggil saja Hessel."
"Baik Hessel."
"Nana, kita sudah resmi menjadi suami istri tapi bukan berarti diluar sana orang akan tau bahwa kita suami istri, aku tetaplah dosenmu, aku tidak mau orang-orang tau kalau kita sudah menikah, jadi saat diluar jangan memanggilku Hessel panggil saya bapak, jangan bertingkah seperti kita suami istri, jangan membuat orang-orang curiga, aku melakukan seperti yang biasa kulakukan sebelum kita menikah, dan kamu lakukanlah seperti apa yang kamu lakukan biasanya, kamu mengertikan?"
Nana mengangguk tidak ada yang bisa dia lakukan selain menjawab dengan anggukan. Nana mengerti pak Hessel terpaksa menikahinya, Nana tidak akan memaksa Hessel untuk mengakuinya sebagai istri karna yang terpenting bagi Nana hanyalah ke dua orang tuanya sekarang, ayah bahagia melihat pernikahannya maka Nana juga ikut bahagia.