
Kampus
Pagi hari yang cerah,
Nana kembali menyapa teman-teman di kampusnya setelah sehari dia tidak masuk kampus. Banyak mata yang melihat Nana masih tampak pucat, mereka masih dengan asumsi masing-masing.
Hanya ada satu teman yang selalu setia sama Nana. Arin, dia selalu datang saat Nana sedang dibully, Arin membawa Nana menjauh dari keramaian orang-orang yang sudah membullinya.
Nana dan Arin duduk di lapangan basket sambil menunggu pagi ini ada pertandingan basket.
Dari sudut kiri lapangan tampaklah Andrean begitu melihat Nana, dia pun langsung saja menghampiri Nana.
"Gimana, sudah baikkan?" tanya Andrean sembari duduk dan menyodorkan minuman pada Nana. Nana hanya mengangguk dengan sedikit senyuman, mulai sekarang dia akan membatasi pergaulannya dengan laki-laki lain.
"Dre, aku dan Arin kembali ke kelas." kata Nana sambil menarik tangan Arin
"Kok buru-buru Na?" Andrean heran.
"Dokter bilang aku tidak boleh berjemur terlalu lama dibawah terik matahari." jelas Nana meski harus berbohong.
"Apa benar begitu Rin, temanmu ini kenapa kok aneh?"
"Kau kan tau Nana sedang sakit." sahut Arin.
"Semangat Dre, semoga menang." ucap Nana sebelum berlalu pergi dia sempat menyemangati Andrean.
"Aku akan menemui setelah pertandingan selesai." teriak Andrean, sudahlah Andrean cukup senang karna bertemu Nana dan dia melakukan pemanasan sebelum pertandingan.
*****
Nana dan Arin selangkah masuk ke kelas, tiba-tiba Jessi, Bella, dan Lala menghadang mereka. Ditariknya tubuh Nana hingga Nana terpental ke dinding cukup keras, untunglah Nana tidak apa-apa hanya saja dia merasa tulang belakangnya sakit.
"Heh, perempuan gatal, belum puas juga sama satu laki-laki, ngapain kau ke lapangan basket, mau minta belas kasihan pada Andrean juga, begitu?" caci Jessi.
"Aku heran kenapa laki-laki mudah sekali tertarik padamu, apa aku harus menjadi wanita penggoda sepertimu supaya banyak laki-laki yang mengejarku." sambung Jessi sambil berjalan mengelilingi Nana membuat kepala Nana serasa berputar.
"Eh Jessi, kami tidak tau kalau di sana ada Andrean, lagian bukan Nana yang mendekat tapi Andrean yang memilih Nana dibanding kamu." sahut Arin.
"Ini urusanku dengan dia, kau jangan ikut campur." kata Jessi menekan kalimatnya pada Arin.
"Dia sahabatku, aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti dia."
"Sudah Rin jangan kita ladeni, mereka ini memang tidak ada habisnya menggangguku, mereka hanya iri kepadaku karna mereka tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan." ucap Nana sembari membangkitkan Arin yang jatuh karna di dorong oleh Jessi.
"Wah, apa kau bilang, aku iri padamu, hah sok banget kamu ya?"
"Jika bukan iri apalagi namanya, kau itu serakah, kau tau kenapa Andrean tidak menyukaimu meskipun kau sangat cantik, itu karna sikapmu yang selalu seperti ini membuat dia berpikir berulang kali untuk bersama denganmu." ucap Nana sambil berlalu mengiringi Arin berjalan.
Jessi mengejar Nana dan Arin yang hendak menuju tempat duduknya, ditariknya Nana dengan kasar hingga salah satu kaki Nana terpeleset dan dia jatuh terhentak ke lantai.
Nana langsung mengaduh kesakitan, merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya, Arin tercengang dan langsung menuntuti temannya itu, sedangkan Jessi tidak menghiraukan Nana yang ke sakitan dianggapnya Nana hanya mencari muka agar ada yang perhatian padanya.
"Maksudmu sikapku ini buruk, heh kau lebih buruk dariku, wanita penggoda." maki Jessi tanpa memandang Nana yang kualahan menahan sakit.
"Jessi bantu Nana panggil dosen atau siapapun, Nana berdarah kita harus membawanya ke rumah sakit." kata Arin, saat melihat darah mengalir dari sel*ngkangan Nana hingga kakinya.
"Rin, perutku sakit, ahkkk." Nana terus mengaduh kesakitan dan tangannya begitu kuat mencengkram pundak Arin, Arin tau pasti rasanya sakit sekali. Jessi langsung ketakutan dan berusaha kabur, dengan cepat Arin menangkapnya dan membuat Jessi tunduk ketakutan.
Kedua teman Jessi meminta bantuan ke salah satu mahasiswa yang berlalu lalang di depan kelasnya. Nana sudah tergeletak pingsan, tubuhnya begitu lemah dan pucat.
Diruang Hessel
Hessel yang sedang didampingi oleh Laras sedang menerima tamu dari dinas pendidikan, tiba-tiba Henry datang ke ruangannya dengan nafas tak beraturan.
"Hes, itu, itu, di sana..." kata Henry terbata-bata masih berusaha mengatur nafasnya.
"Ada apa pak Henry?" tanya Hessel.
"Itu istrimu, istrimu jatuh di kelasnya." ungkap Henry.
Hessel tercengang dan lansung cemas.
"Pak, pertemuan hari ini saya akhiri sampai disini, besok kita akan menyambungnya kembali, saya harus menemui istri saya." kata Hessel sembari pamit undur diri.
Langsung saja Hessel bergegas menuju kelas Nana, disusul oleh Laras dan Henry. Seketika Hessel terbelalak saat sampai di kelas, jantungnya seakan akan copot, dia tak percaya melihat darah mengalir dari sel*ngkangan istrinya.
"Minggir semua." teriak Hessel.
"Henry, cepat panggil dokter kampus." pinta Hessel.
"Apa yang terjadi di sini?" tanya Laras pada murid-murid yang ada di dalam kelas.
Tak ada yang berani menjawab, tak ada satupun yang berani mengatakan bahwa Jessi yang sudah membuat Nana seperti itu, mungkin jika Arin ada di tempat dia pasti akan memberitahu Laras, tapi Arin malah ikut mengejar temannya yang dibawa oleh Hessel walau dia dilarang masuk ke dalam sana, Arin tetap menunggu Nana dari luar.
"Hah sudahlah, dia memang senang membuat pihak kampus cemas." kata Laras, lalu Laras pergi dari kelas tersebut dan bergegas menghampiri Hessel bersama Nana di ruang kesehatan, disusul juga oleh Jessi yang penasaran.
"Dok, bagaimana keadaannya?" tanya Hessel setelah dokter selesai memeriksa dan membersihkan darah Nana.
"Sebentar ya pak, saya periksa kembali." ucap dokter.
"Iya dok, silakan."
Sambil menunggu dokter, Hessel duduk disamping Nana yang ada di atas pembaringan, diraihnya tangan Nana lalu dikecupnya punggung tangan Nana.
"Buka matamu Na, jangan membuatku cemas seperti ini." Lirih Hessel sambil mengusap pucuk kepala istrinya.
tok... tok...
terdengar ketukkan pintu, meski Arin sudah berusaha melarang kedua wanita itu masuk, tapi Laras dan Jessi tetap nekat.
"Pak, bagaimana keadaan Nana?" tanya Laras.
"Siapa yang telah membuatnya seperti ini?" tanya Hessel tegas melotot melihat kedua wanita yang selalu berbuat jahat pada Nana.
"Saya tidak tau pak, saya sedari tadi mendampingi Anda dipertemuan." ucap Laras.
"Sa-saya juga tidak tau pak." sahut Jessi dengan tampang bersalahnya.
"Awas saja jika aku tau siapa yang sudah membuatnya seperti ini." ancam Hessel kemudian dia duduk kembali menatap lekat wajah sang istri.
"Bu, ada apa dengan pak Hessel kenapa dia sangat marah?" tanya Jessi berbisik ditelinga Laras, Hessel mendengarkan suara Jessi namun Laras tidak menjawab apa-apa meski dia sudah tau kebenaran antara Hessel dan Nana.
"Pak, sepertinya dia hamil dan keguguran." ucap Jessi membuat Hessel senang jika benar istrinya hamil.
"Baguslah aku sangat senang jika itu benar, tapi jika aku tau siapa yang sudah membuat dia seperti ini aku tidak akan memberi ampun pada orang itu." sahut Hessel, membuat Jessi semakin gemetar takut hingga berkeringat dingin.
"Pak, bapak jangan mau sama Nana bisa saja dia menyebar virus HIV secara dia wanita mau-mauan, jika benar dia hamil diluar nikah maka akan terbukti bahwa dia memang bukan wanita baik-baik." tambah Jessi lagi, agar pak dosennya membenci Nana.
"Hati-hati saat bicara, mencemarkan nama baik seseorang bisa di pidana." sahut Hessel mengingatkan Jessi.
"Saya tidak menjelek-jelekkannya pak, memang adanya seperti itu bagaimana mungkin dia bisa punya banyak uang dalam waktu singkat, dia bisa membayar biaya kuliahnya setiap bulan, pasti dia menjadi wanita bayaran untuk mendapatkan uang."
"Tutup mulutmu Jessi, kau berani bicara seperti itu di depan dosenmu dan dihadapan dokter, keluar kau atau saya yang akan mengusirmu dari sini." bentak Hessel benar-benar marah pada Jessi yang sedari tadi bicara ngelunjak.
"Maaf pak, kalau boleh saya tahu siapa walinya?" tanya dokter.
"Saya dok, saya wali pasien." ucap Hessel, Jessi tersentak kaget mendengarnya, apa yang dimaksud wali.
"Bisa kita bicara berdua saja pak." pinta dokter, Hessel pun mengarahkan dokter ke ruangannya.
"Dok, apa istri saya baik-baik saja?" tanya Hessel.
"Jadi dia istri bapak?"
"Iya dok, lalu bagaimana dia?"
"Begini pak, istri bapak sedang hamil 5 minggu." ucap dokter memberitahu.
Saking senangnya mendengar kabar bahagia itu, Hessel meloncat kegirangan tanpa sadar dia memeluk dokter wanita paruh baya itu, hingga pipinya harus memerah setelah sadar apa yang dilakukannya pada dokter.
Namun, rasa bahagia itu juga berimbang dengan rasa cemas mengingat darah yang mengalir di kaki Nana.
"Lalu darah itu dok?" tanya Hessel yang tiba-tiba sedih.
"Syukurlah pak, kandungan istri bapak baik-baik saja hanya saja dia mengalami pendarahan kecil akibat benturan itu."
"Apa saya perlu membawanya ke rumah sakit dok?"
"Pak Hessel tenang saja kita bisa melakukan rawat jalan pak, tapi setiap minggu istri bapak harus check-up di rumah sakit."
"Baiklah dok saya akan melakukannya, bahkan setiap hari pun saya sanggup menemaninya ke rumah sakit."
"Bapak harus menjaganya lebih hati-hati lagi, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi."
Kemudian Hessel kembali menghampiri Nana yang masih belum sadarkan diri.
Jangan lupa tinggalkan like 👍 ya semuanya😊 biar author tambah semangat😍