
Hessel memasuki ruangannya sambil menggendong Nana yang belum sadarkan diri. Dibaringkannya Nana di atas sofa yang ada di sudut kanan ruangan, lalu Hessel menutupi sebagian tubuh Nana dengan jass yang dia pakai karna Nana sedikit menggigil.
Hessel terduduk di lantai tepat di depan Nana, diusapnya pucuk kepala Nana terasa sedikit panas. Kemudian Hessel meraih ponsel di dalam saku celananya dan menghubungi keluarganya.
"Ma, bilang sama papa Hessel tidak bisa ke kantor hari ini, Nana tadi tiba-tiba pingsan ma." kata Hessel
"Iya tapi Nana gimana keadaannya, apa kata dokter?" tanya mama sangat khawatir.
"Hessel belum memanggil dokter ma, biar nanti di rumah saja mengecek kondisinya."
"Ya sudah sekarang bawa Nana pulang, mama cemas Hes, atau mama ke kampus kamu aja untuk menjemput Nana."
"Ma jangan kemari, kampus punya peraturan sebelum jam pelajaran pertama berakhir siapapun dilarang untuk izin pulang."
"Ok ok, tapi jika ada apa-apa sama Nana cepat beritahu mama."
Setelah menelpon Hessel pun kembali menatap lekat wajah istrinya sambil memegang dada Nana merasakan detak jantung Nana.
"Apa jantungmu kumat lagi, maafkan aku semua ini karnaku aku memarahimu padahal dokter sudah mengingatkanku agar tidak membuatmu banyak pikiran dan tidak membentakmu, tapi kenapa aku masih melakukannya, begitu sering aku meninggikan suaraku saat bicara denganmu, aku sangat bodoh, benar-benar bodoh, maafkan aku Na, buka matamu sekarang jangan seperti ini." rintih Hessel, digenggamnya tangan Nana dengan erat, tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja saat melihat istrinya sakit dengan wajah dan bibir yang pucat pasi.
"Sadar Na, berhentilah membuatku cemas aku tidak suka kamu seperti ini, jadilah Nana yang sehari-harinya riang dan kuat, ku mohon buka matamu Naaa."
Tiba-tiba Nana menggeliat dan Hessel refleks mengambil kembali jassnya lalu dia buru-buru kembali ke tempat duduknya. Duduk dengan wajah datar tanpa ekspresi dan sedikit memelototkan matanya ke arah Nana.
Terlihat Nana mulai bangun sambil mengucek-ngucek matanya dan merasa sakitnya sedikit lebih reda. Dia masih belum sadar sedang berada di ruangan Hessel.
"Sudah puas tidurnya!" ucap Hessel dengan suaranya yanh terdengar sangat berat membuat Nana kaget dan langsung bangun menoleh kearah sumber suara.
"Nana kok bisa di sini mas?" tanya Nana masih bingung tidak bisa mengingat apa yang sudah terjadi.
"Enak banget ya tiduran-tiduran, gimana mau lulus kalau kerjanya hanya molor." gerutu Hessel.
"Ya ampun mas, jam pertama sudah habis kenapa mas tidak membangunkanku, mas kenapa mas tidak ke kantor bukankah hari ini ada jadwal ke kantor." ujar Nana begitu panik saat melihat jam di dinding.
"Mas, Nana mohon jangan hukum Nana tidak masuk dijam mata kuliah mas, Nana tidak tau bagaimana Nana bisa tidur di sini." rengek Nana memohon, Hessel mengulum senyumnya saat melihat tingkah istrinya yang selalu merasa berdosa.
"Kebiasaan dia selalu tidak mengingat apapun saat bangun dari tidurnya, jika begini terus saat pria lain menidurinya pun dia tidak akan ingat, aku harus ekstra hati-hati mengawasinya." gerutu Hessel dalam hati, sedangkan Nana masih memandangi Hessel dengan ekspresi yang mengharapkan penjelasan.
Hessel bangkit dari kursi putarnya lalu mendekati Nana yang masih terduduk di sofa, di sentuhnya kening Nana dengan tangannya membuat Nana mendongak heran saat Hessel menyentuh keningnya.
"Mas kenapa menyentuh keningku, apa Nana sakit ya?" tanya Nana.
"Tadi suhu tubuhmu panas, tapi sepertinya sekarang sudah normal." jawab Hessel sembari duduk di samping Nana.
Tiba-tiba Hessel menarik Nana diperintahkannya Nana untuk berbaring di atas pahanya. Nana nurut saja berbaring, dia jadi lupa untuk masuk pelajaran dijam ke 2.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Hessel dingin.
Nana mendongak keatas melihat suaminya, senyumnya mengembang begitu saja dan Hessel menunduk melihat senyum istrinya.
"Hei jangan tersenyum." seru Hessel masih terdengar dingin, seketika Nana pun memanyunkan bibirnya karna kesal.
"Senyum saja gak boleh." kata Nana.
"Aku tanya bagian mana yang sakit?" tanya Hessel lagi.
"Sini mas." kata Nana menunjuk perutnya, Hessel pun menyentuhnya dan mengusap pelan-pelan perut Nana.
"Ceritakan padaku kronologis penyakitmu?" ucap Hessel.
"Penyakit apa sih mas?" tanya Nana heran.
"Tadi kamu pingsan." jelas Hessel singkat.
"Nana pingsan mas, sumpah Nana gak ingat saat Nana pingsan." Nana langsung tersenyum berpikir bahwa suaminyalah yang sudah membawanya kemari.
"Lalu siapa yang membawa Nana kemari, apa mungkin mas yang menggendong Nana lalu menidurkan Nana di sofa ini." ucap Nana menerka-nerka.
"Jangan terlalu banyak berkhayal, ceritakan saja bagaimana kau bisa pingsan." ucap Hessel tanpa basa-basi.
"Nana hanya ingat tadi Nana sakit kepala, lalu Andrean datang membawakan Nana bubur dan susu tapi begitu Nana ingin memakannya perut Nana mendadak sakit dan mual sampai muntah-muntah." jelas Nana.
"Arghhh kau bersamanya lagi." keluh Hessel, Nana mendongak melihat mata Hessel memerah.
"Maaf mas." bujuk Nana.
"Aku kan sudah melarangmu jangan terlalu dekat dengannya, bila perlu kau jauhi dia."
"Mas jangan marahi Nana, Nana minta maaf mas, nasehati saja Nana tapi tolong jangan marah-marah." ucap Nana dengan nada sedih, sehingga Hessel tak kuasa untuk memarahinya apalagi melihat ekspresi Nana saat merasa bersalah yang ada dia makin gemas.
Hessel menghela nafas dan membuang jauh-jauh amarahnya.
"Apa dadamu sakit dan terasa sesak?" tanya Hessel melembutkan nada suaranya.
"Tidak mas, hanya kepala dan perut Nana yang sakit, mas tidak marahkan?" tanya Nana yang merasa takut dimarahi suaminya.
"Tidak Nana, intinya kau harus ingat batas kewajaran antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya." kata Hessel mengingatkan.
"Iya mas Nana selalu ingat batasan itu, tapi kalau sama mas apa Nana harus ingat juga batasannya?"
"Emang kita punya batasan?"
"Punya."
"Apa?"
"Bukankah cinta Nana masih mas batasi."
"Maksudmu?"
"Cinta yang belum terbalas."
"Apa kau sungguh-sungguh mencintaiku?"
"Kenapa mas selalu bertanya tentang perasaan Nana?"
"Memastikannya saja."
"Lalu bagaimana dengan perasaan kamu mas, Nana bertanya tentang perasaan kamu mas."
"Aku tidak punya alasan untuk menjawabnya."
"Nana sudah menduganya, mas tidak akan bisa menjawab pertanyaan Nana, Nana tidak akan bertanya lagi."
"Iya baguslah." cetus Hessel tanpa rasa bersalah.
"Apa perutmu masih sakit?" lanjutnya menanyai Nana.
"Masih." ketus Nana singkat.
"Aku olesi freshcare ya!" ucap Hessel sambil meraih freshcare yang ada di atas meja.
"Aku saja." ketus Nana sambil merampas minyak angin dari tangan Hessel.
"Mas tidak berhak." ucap Nana, Hessel pun terdiam dan menyerahkan minyak angin ke tangan Nana.
Dipandanginya terus-menerus istrinya yang masih sangat polos.
"Tutup matamu mas." perintah Nana.
"Kenapa aku harus tutup mata?" tanya Hessel padahal hanya mengoleskan minyak angin.
"Bra Nana sangat mencekam dada Nana, aku mau mengendurkannya sedikit." ucap Nana terpaksa memberitahu walau sebenarnya dia sangat malu.
"Olesi dulu perutmu." ucap Hessel.
"Nanti setelah braku kendur." jawab Nana.
"Ya sudah biar aku saja yang mengendurkannya."
"Mas, kau tidak waras kita di kampus lho."
"Tenanglah aku hanya mengendurkannya, tidak akan ada yang melihat."
"Terserah mas saja."
"Iya, berbaliklah."
Nana pun membelakangi Hessel, lalu pelan-pelan Hessel mengangkat baju Nana ke atas dan terlihatlah kait bra Nana. Sesaat Hessel menatap lekat tubuh bagian belakang istrinya yang putih mulus dan bersih itu, body Nana yang sederhana terlihat jelas menggiurkan untuk seorang Hessel.
Dicumbunya tubuh istrinya, Nana sedikit terkejut mendapat perlakuan aneh dari Hessel tapi dia membiarkan suaminya mengecup tubuh bagian belakangnya dan tidak melakukan penolakkan.
"Sudah mas, cepat benarkan kait bra ku."
Mendengar perintah dari Nana, Hessel berhenti menciumnya dan memindahkan kait branya ke bagian ke dua, Nana pun tidak merasa sesak lagi.
"Terima kasih mas." kata Nana sambil berbalik menghadap suaminya.
"Sekarang beri perutmu obat, nanti di rumah baru kita periksa ke dokter." ucap Hessel.
"Hm iya mas."
"Biar aku yang mengolesinya, bolehkan?" kata Hessel sembari meminta izin dan Nana hanya mengangguk menyetujui.
Pelan-pelan Hessel mengusapkan minyak angin dengan tangannya ke perut Nana. Ditekannya sedikit perut Nana sehingga Nana merasa geli.
"Mas jangan menggodaku di sini, sudah hentikan." ucap Nana.
"Kapan ya babyku akan hadir di dalam rahimmu." ucap Hessel tiba-tiba membuat Nana seketika menertawakan suaminya.
"Ishhh mas apa-apaan sih, kalau di luar nanti ada yang dengar gimana?"
"Pelan-pelan saja bicaranya Na, mereka tidak akan mendengar lagipula ruangan ini kedap suara."
"Hahh terserah mas saja, sudah cukup mas minyak anginnya yang ada perut Nana terbakar gara-gara kebanyakkan mas olesi minyak."
"Udah kok gak aku tambahin, aku hanya ingin mengusap perutmu seperti ini."
"Nana geli mas, udah hentikan."
"Aku kurang ekstra mungkin ya, sudah beberapa kali melakukannya tapi babyku belum juga tumbuh-tumbuh."
"Ya ampun mas, kau bicara apa emangnya biji jagung yang tumbuh begitu di tanam dua sampai 3 hari."
"Baby itukan ibarat biji jagung, nanti malam kayaknya aku perlu menyiramnya lagi supaya gak gersang, mungkin karna tempat menanamnya gersang babyku gak numbuh-numbuh."
"Shuttt jangan ngawur mas, sudah hentikan." ucap Nana sambil menutup bibir Hessel dengan jari telunjuknya sementara tangan kirinya menurunkan tangan Hessel dari perutnya.
srekkk...
tiba-tiba Andrean, Laras, dan Henry masuk ke dalam ruangan Hessel tanpa mengetuk pintu dulu.
Untungnya Hessel dan Nana refleks saat mendengar suara langkah kaki, Nana dan Hessel langsung menjauh sehingga mereka tidak tertangkap basah.
"Eh pak Henry." kata Hessel sambil tersenyum menghilangkan kecurigaan.
"Kalian berdua-duaan, pak Hessel kau tidak cabulkan pada muridmu?" ucap Henry.
"Sinting lho Hen, lho kira gue ini apaan." bantah Hessel.
Henry dan Andrean berjalan ke arah Nana lalu mereka duduk di samping Nana, dan Henry menyentuh kening Nana sudah tidak terasa panas lagi.
"Hei hei hei, pak Henry ingat anak istri di rumah." sindir Hessel seketika Henry pun teringat istrinya, sementara Nana menahan senyumnya.
"Lupa Hes, habisnya Nana sangat menggemaskan, aku kan jadi merasa masih bujangan setiap kali lihat Nana." kata Henry sedikit bercanda membuat mereka semua tertawa.
"Ini namanya cabul." timpal Hessel.
Disela-sela candaan Hessel tetap mengawasi Andrean yang ternyata menggenggam tangan Nana. Nana yang menyadari tangannya di genggam oleh Andrean langsung dilepaskannya, Hessel suka sikap Nana seperti itu.
"Pak Hessel, Nana sebaiknya diantar pulang dia tetap harus istirahat, apa di sini ada yang mau mengantarnya pulang?" ucap Henry.
"Biar saya saja yang mengantarnya pak." kata Andrean menawarkan diri.
"Ya sudah Andrean, kau antar Nana pulang ke rumahnya." kata Henry.
Sementara Nana hanya diam, dia berharap Hessel lah yang akan mengantarnya bukan orang lain.
"Tunggu sebentar." kata Hessel saat Andrean hendak mengiringi Nana berjalan.
"Kenapa pak?" tanya Andrean.
"Kamu ada ujian praktek bukan, sebaiknya kamu masuk ke kelasmu jangan ketinggalan mata pelajaran karna rugi rasanya jika mahasiswa cerdas sepertimu ketinggalan satu saja mata kuliah, jangan sampai nilaimu menurun hanya karna ketinggalan satu mata pelajaran." ucap Hessel, Andrean pun mulai memikirkan kata-kata Hessel dan dia pun merasa itu benar.
"Lalu siapa yang akan mengantar Nana, apa kau menyuruhku Hes?" tanya Henry.
"Tidak, aku lah yang akan mengantarnya." jawab Hessel.
Nana merasa sangat senang, meski mereka masih bersandiwara di depan orang lain.
"Bapak serius mau mengantar saya pulang?"
"Iya." jawab Hessel sangat dingin.
"Udah Na kau jangan bertanya lagi, tumben hari ini dia baik sama kamu." bisik Henry dan Nana tersipu malu-malu.
"Hes, aku ikut kalian." ucap Laras.
"Laras kau di sini saja, dosen pergi tanpa alasan tidak mendapat izin." kata Henry.
Hessel pun mengenggam tangan Nana, mereka berjalan beriringan, sementara Nana menunduk kebawah melihat tangannya yang digenggam oleh suaminya dihadapan banyak orang. Hessel tidak peduli meski saat itu banyak mata yang melihatnya berjalan berdampingan dengan Nana sambil menggenggam tangan Nana, sehingga Laras merasa kesal dan terbakar cemburu.
Bersambung
Jika suka ceritanya tolong biasakan like dan favoritkan😊 sebagai tanda kalian menghargai karya author, asal kalian tau 1 like itu sangat berharga untuk kami para author, kami sangat berterima kasih untuk itu. Jadi tolong jangan pelit-pelit jempol🙏