
Suasana hening, hanya tinggal pasutri yang ada di dalam ruang kesehatan itu. Hessel baru saja mengunci pintu tersebut, lalu berjalan perlahan ke arah Nana, langkah demi langkah begitu dinikmati semakin mendekati Nana, dia membungkukkan setengah badannya dan tersenyum sambil diraihnya dagu sang istri karna Nana tertunduk seperti orang bingung. Nana menolehkan wajahnya kesamping, Hessel menghadapkan kembali tatapan Nana agar melihat dirinya. Saat saling berhadapan kedua bibir merah muda itu saling bersentuhan dengan lembut.
Ciuman lembut itu berubah jadi ciuman menggairahkan, diiringi suara decakkan demi decakkan yang membuat ciuman itu semakin memanas, ditambah dengan gigitan kecil dari Nana pada bagian bawah bibir Hessel begitu gemas, saling menikmati cumbuannya yang membuat Hessel gelap mata hendak melepas dress istrinya, ketika itu Nana langsung melepas ciumannya dan kembali menundukkan kepalanya.
"Sudah mas hentikan semua ini, kita berada di kampus." ucap Nana.
"Maaf Na, aku khilaf." cengir Hessel, karna tidak bisa mencium bibir istrinya, dia mencium pipi sang istri tapi Nana malah terlihat tidak senang.
Diraihnya kembali dagu sang istri diangkatnya sedikit untuk melihat wajahnya, ditatapnya sang istri dengan lembut dan penuh ketulusan.
"Aku lihat kau tidak bahagia, ada apa Na? apa kau tidak senang aku mengakuimu?"
"Bukan itu mas, Nana hanya merasa kasihan pada Bu Laras dan Jessi, apa mas sungguhan akan melaporkan masalah ini pada rektor dan mengeluarkan mereka dari kampus?"
"Kau masih memikirkan nasib orang seperti mereka, dia hampir membuat nyawa calon anak kita melayang, apa kau masih kasihan pada mereka, hukuman itu tidak seberapa beratnya."
"Mas, Nana mohon jangan adukan masalah ini pada rektor, biarkan saja mereka masih berada di kampus ini, Jessi juga sama seperti Nana dia seorang murid yang berjuang mati-matian supaya bisa menjadi sarjana, Nana hanya kasihan pada orang tuanya mas jika di DO bagaimana dia bisa ikut ujian, pasti orang tuanya sangat sedih." ucap Nana membuat Hessel mengerti dan memahami perasaan Nana.
Hessel melihat mata istrinya dan kagum pada rasa simpati sang istri yang begitu besar, mungkin jika dia menjadi Nana dia tidak akan bisa memikirkan semua itu. Dikecupnya kening sang istri, lalu di bawanya Nana kedalam pelukkannya.
"Aku melakukan ini hanya untukmu, aku akan memberi mereka berdua kesempatan, tapi kau harus berjanji padaku jika mereka masih mengganggumu segera beritahu aku, jangan takut untuk mengatakannya karna aku suamimu, aku tempatmu mengadu, tempat berbagi rasa suka dan duka."
"Terima kasih mas, Nana tidak menyangka mas bisa sepeduli ini sama Nana."
"Jadi selama ini menurutmu aku tidak peduli padamu?"
"Tidak juga seperti itu mas, hanya saja hari ini Nana senang mas sudah mau mengakui Nana, Nana tau mas mengatakan itu karna anak yang sedang Nana kandung, tapi Nana sudah cukup senang mas meski begitu alasannya."
"Kau sepertinya sangat pandai membaca pikiranku, jadi kau menganggap aku hanya mengakuimu karna anak ini, kau tidak merasakan sesuatu yang lain?"
"Memangnya kenapa mas, apa mas juga mencintai Nana?"
"Menurutmu bagaimana?"
"Nana pikir mas tidak mencintai Nana, tapi Nana senang asalkan mas menerima anak yang sedang Nana kandung ini."
"Berarti itu sama saja kau belum mengenal aku sepenuhnya." ucap Hessel bicara dengan nada pelan sehingga Nana tidak bisa mendengarnya dengan jelas.
"Hm, tapi mas senangkan Nana hamil?"
"Tentu saja aku senang, kenapa tidak kan ini anakku, aku yang sudah menghamilimu jangan lupakan itu." ucap Hessel diiringi tawa kecilnya sehingga Nana jadi malu.
"Semoga anak ini bisa membuat suami Nana mencintai Nana ya mas."
"Aamiin, aku tidak pernah menduga akan menjadi seorang ayah secepat ini, terima kasih Na." ucap Hessel membawa Nana ke dalam dekapannya dan diciumnya kepala Nana dengan lembut.
"Jauh sebelum kau hamil pun aku sudah mulai menyukaimu, aku mengakuimu bukan hanya karna anak ini tapi karna aku juga mencintaimu, aku sayang padamu Na." ucap Hessel dalam hati sambil memeluk Nana.
Kemudian Hessel turun dari tempat pembaringan Nana, dikemaskannya buku-buku Nana yang tergeletak diatas meja. Setelah selesai berkemas Hessel kembali mendekati istrinya yang masih berbaring.
"Apa kau lapar?" tanya Hessel.
"Iya mas sedikit."
"Aku keluar sebentar, kamu istirahat ya sayang." ucap Hessel lirih sembari mengusap pucuk kepala Nana dan menutupi tubuh Nana dengan selimut. Saat Hessel berbalik tiba-tiba Nana menahannya yang membuat Hessel kembali melihat istrinya.
"Tadi mas bilang apa? sayang? barusan mas manggil Nana sayang ya?" tanya Nana, memastikan apa yang baru saja didengarnya.
"Kamu gak apa-apa kan aku tinggal sebentar?" ucap Hessel seolah mengulangi.
"Oo itu ya tidak apa mas, memangnya mas mau kemana?"
"Cari makanan karna aku juga lapar nanti kita makan sama-sama di sini."
"Iya mas, perginya jangan lama-lama."
"Iya baik-baik di sini."
Nana mengangguk sambil tersenyum dan dibalas oleh Hessel. Sambil menunggu suaminya membeli makanan di kantin Nana menontom youtube di ponselnya.
Tiba-tiba Andrean masuk ke ruang kesehatan itu tanpa memberi salam atau mengetuk pintu, Nana menyadari suara pintu saat dibuka, dia melihat Andrean mulai masuk dan perlahan mendekatinya.
"Aku minta maaf masuk tanpa izin, karna aku sangat cemas saat mendengar kau pingsan lagi Na." ucap Andrean sembari duduk di kursi samping Nana dimana tadi Hessel yang mendudukinya, Nana hanya menatapnya tanpa menggubrisnya.
"Sebenarnya kau kenapa Na, apa yang dokter katakan, apa sakit jantungmu kumat lagi?" tanya Andrean penuh kekhawatiran dan Nana bisa melihat raut wajah Andrean.
"Dre, aku sudah baikkan dokter tidak mengatakan apapun padaku karna dokter hanya bicara pada pak Hessel." ujar Nana.
"Lalu dimana pak Hessel, apa dia tidak mengatakan apapun padamu?"
Nana menghela nafas yang terasa berat itu, dia bingung apakah ini saat yang tepat untuk memberi tau Andrean.
"Kau kenapa Na, apa dadamu sesak?" karna begitu khawatir Andrean hampir saja menyentuh dada Nana tapi Nana dengan cepat menangkap tangan Andrean dan menurunkannya kembali.
"Aku baik-baik saja Dre, sudah jangan cemas berlebihan seperti itu, gimana pertandinganmu, kau menang atau kalah?" langsung saja Nana mengubah topik pembicaraan dan itu tak masalah bagi Andrean.
Andrean malah tersenyum membuat Nana penasaran, diraihnya sesuatu dari saku celananya dan terlihatlah sebuah medali emas.
"Tada! Aku menang lagi Na, tim basket kampus kita juara 1 lagi dan akan dibawa ketingkat internasional." kata Andrean begitu semangat.
"Wah! selamat ya Dre, kamu memang juara kapten basket, aku ikut senang." Nana tersenyum ikut bahagia.
"Tapi sayang, tadi kamu gak nonton, coba kalau kamu nonton pasti aku lebih semangat mainnya." Andrean tiba-tiba tampak sedih.
"Maaf ya Dre, tapi aku selalu yakin kau pasti bisa melewatinya meski pun aku tidak ada di hadapanmu, kau harus terbiasa Dre karna aku tidak selamanya bisa menonton pertandingan basketmu seperti dulu." ucap Nana.
"Aku mengerti Na, lagipula kau kan sedang sakit, aku hanya berharap kau cepat sembuh supaya bisa ikut ujian bersama-sama."
"Iya besok pasti aku sudah sembuh."
"Aku percaya itu, ngomong-ngomong setelah lulus nanti kau mau lanjut kuliah atau kerja?"
"Hm aku ya, aku tidak lanjut, tidak juga bekerja." jawab Nana.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak memikirkan semua itu saat ini, kalau kamu gimana Dre?"
"Aku pengen lanjut S2 dan S3, aku ingin membangun bengkel motor yang besar, tapi ayah ingin aku meneruskan bisnisnya, aku bingung harus gimana?"
"Kamu ikuti saja kata hatimu Dre, tapi kalau aku jadi kamu aku akan membantu ayahmu, maksudku seperti ini kamu kan anak satu-satunya siapa lagi jika bukan kamu yang meneruskan bisnisnya, lagi pula membantu orang tua itu sebuah keharusan Dre, kamu juga bisa kuliah dan bisa membangun bengkel impianmu saat kamu sukses meneruskan bisnis orang tuamu."
"Aku salut sama kamu Na, sepertinya aku akan mengikuti saran darimu.
Andrean sangat senang dia merasa beruntung bisa jatuh cinta pada Nana walau cintanya tidak pernah terbalas, dia akan selalu menyayangi Nana tidak akan ada yang menggoyahkan rasa sayangnya pada gadis yang sudah menolak cintanya 3 kali itu.
Tak lama kemudain Hessel datang membawa 2 piring nasi goreng, Hessel pun masuk dilihatnya ada Andrean duduk di samping istrinya. Andrean menoleh ke arah pak Hessel, dia heran dan bingung melihat dosen itu.
"Pak." sapa Andrean tersenyum, Hessel balas dengan senyuman sambil menuju kursi yang ada disebelah kiri Nana dan duduk di sana.
"Pak Hessel bawa makanan untuk Nana, apa mereka akan makan berdua?" Andrean bertanya-tanya dalam batinnya.
"Andre, saya cuma bawa 2 piring saya gak tau kalau kamu di sini jadi saya tidak melebihkannya." ucap Hessel.
"Saya lihat kau begitu perhatian pada Nana, apa kamu sudah tau kalau Nana punya hubungan dengan saya?" ujar Hessel, Andrean sedikit terkejut dan bingung.
"Pak, apa yang bapak katakan padanya, sini pak saya sudah lapar." kata Nana, sementara Andrean diam melihat mereka.
"Pak, kalau gitu saya permisi dulu sebentar lagi masuk jam ke dua." ucap Andrean sembari undur diri, Nana tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Andrean.
Saat Andrean sudah tak terlihat, Hessel menunjukkan wajah kesalnya dan menggapai tangan kanan istrinya yang melambai itu.
"Kau senang dijenguk olehnya?" cetus Hessel.
"Kenapa mas, dia kan hanya menjenguk Nana jadi tidak ada yang salah kan?"
"Iya sudah-sudah, sekarang aku suapi kamu dulu, kamu harus makan dan minum obat."
Dibantunya istrinya sedikit bangkit dan Nana bersandar dengan bantal yang menopang belakangnya. Nana menikmati suapan demi suapan dari suaminya, dan Nana juga menyuapi Hessel makan. Selesai makan Hessel memberi Nana obat.
"Tumben mas perhatian?" Nana tersenyum.
"Aku memang perhatian, kau saja tidak tau itu."
"Hm, biasanya mas selalu marah-marah, wajahnya datar, cuek terus sama Nana."
"Kau lupa sekarang kau sedang sakit, jika orang tuamu tau kausm seperti ini maka aku akan dimarahi dan aku tidak mau dimarahi."
Nana merasa gemas melihat suaminya nyerocos terus bicaranya.
"Oh, cium mas!" pinta Nana dengan manja sambil mendekatkan bibir dan memejamkan matanya ke hadapan Hessel, Hessel sedikit kaget istrinya tiba-tiba bicara aneh dan ditatapnya bibir monyong merah muda sang istri.
"Serius minta dicium?" bisik Hessel, Nana langsung sadar dan menundukkan wajahnya.
"Nanti di rumah aja mas." jawab Nana dengan pipi merona.
"Hm, aku mau mau aja sekalipun di depan umum, mencium bibir istri itu rasanya bagaikan menghisap sebuah rokok."
"Ishhh apaan sih mas, Nana disamain dengan rokok, emangnya mas pernah gitu ngisap sepuntung rokok?" kata Nana kesal dan refleks mencubit perut suaminya yang membuat Hessel geli.
"Hehe gak pernah Na, hanya saja bibirmu itu membuatku kecanduan."
"Ah mas, memalukan sekali."
"Kamu mau pulang atau ikut belajar?" tanya Hessel mengganti topik pembicaraan.
"Kayaknya Nana mau masuk aja mas, kemarin Nana sudah ketinggalan banyak pelajaran." jawab Nana.
"Kita pulang aja, kamu harus banyak istirahat."
"Gak mau mas, Nana mau masuk ke kelas aja."
"Jangan ngeyel."
"Mas, please Nana gak mau ketinggalan mata kuliah lagi."
"Tenanglah, nanti biar Arin yang mengajarimu."
"Maksud mas apa?"
"Kau boleh mengajak sahabatmu itu ke rumah, supaya kau tidak ketinggalan mata kuliah hari ini."
"Mas serius, Nana boleh mengajaknya ke rumah?"
"Iya aku serius, asal kamu senang."
"Nana senang banget mas, terima kasih, terima kasih mas, tapi mas sendiri gimana bukankah mas harus mengajar di kelas sebelah?"
"Tidak usah pikirkan aku, aku sudah mendapat izin dari rektor untuk mengurus istriku yang sedang hamil muda."
Nana mencubit perut Hessel, dia kesal karna suaminya itu menceritakan masalahnya pada rektor.
Hessel mengembangkan senyumannya, dan mencubit pipi sang istri.
"Sini aku bantu turunnya." Hessel hendak membantu Nana turun dari atas pembaringan tapi dilarang oleh Nana.
"Nana bisa sendiri mas, mas ambilkan tas Nana aja." kata Nana menunjuk tasnya yang tergantung, Hessel pun menuruti perintah istrinya.
Saat Nana berusaha turun ternyata sel*ngkangannya sakit yang membuatnya tidak bisa merangkak dan hampir jatuh dari atas pembaringan
"Ahkkk... mas tolong Nana..." panggilnya terisak kesakitan sambil memegang bagian bawahnya, mendengar suara istrinya Hessel langsung berbalik dan sigap menopang tubuh sang istri.
"Ini kalau ngeyel dibilangin." gerutu Hessel, membuat Nana jengkel.
"Mas, anuku sakit." rengek Nana. Hessel tau karna Nana baru saja mengalami pendarahan.
"Nanti di rumah biar aku obati anumu itu." goda Hessel.
"Ihhh mas nyari kesempatan aja, Nana serius mas ini sakit gak bisa jalan Nana."
Hessel menyengirkan senyumnya dan mengacak rambut istri sangat menggemaskan.
"Biar aku gendong ya!" ucap Hessel.
"Jangan mas, malu nanti mereka liat kan baju Nana dibawahnya juga banyak darah."
"Tenang saja, ruangan ini punya pintu keluar yang tembus langsung ke parkiran jadi tidak akan ada yang melihat istriku."
"Ah, iya Nana lupa mas kalau kampus ini penuh persiapan." Nana sedikit terkekeh saat melihat pintu keluar yang Hessel tunjukkan.
Hessel pun menaikkan Nana dalam gendongannya, langsung saja mereka menuju lorong tersembunyi itu dan akhirnya sampai di parkiran mobil.
Pelan-pelan di dudukkannya istrinya agar tidak merasa sakit di atas kursi mobil bagian depan tepat di sampingnya lalu memakaikan sabuk pengaman untuk sang istri. Hessel melihat tangannya yang terkena bercak darah tapi dia tidak merasa jijik kemudian dia masuk juga ke dalam mobil dan menutup pintunya rapat-rapat, sedangkan Nana merasa tidak nyaman sudah menyusahkan suaminya.
Nana mengambil tissue untuk mengelap darah di tangan Hessel.
"Sudah Nana, biar aku lap sendiri." kata Hessel.
"Mas maaf Nana jorok, mas pasti sangat jijik dengan darah itu."
"Tidak sama sekali Na, kau itu istriku aku sama sekali tidak pernah merasa jijik sekalipun aku harus membuang kotoranmu." kata Hessel, diusapnya kepala Nana lalu turun kebawah mengelus perut istrinya.
"Sekarang kita harus menjaga calon buah hati kita Na, aku akan selalu menjaga kalian berdua."
"Nak, jika kau bisa mendengarku maka dengarkan aku, kau yang tenang ya di dalam sana jangan buat mamamu ini kesakitan, kasihan dia begitu manja, papa akan kerepotan nanti mengatasinya." ucap Hessel seolah sedang bicara pada calon buah hatinya yang membuat Nana tak bisa berhenti tersenyum mendengarnya.
"Mas, apa mas sangat menyayangi anak ini?"
"Jangan pernah bertanya hal seperti itu, sudah pasti jawabnya aku sangat sayang."
Lalu dipeluknya Nana, diciumnya kening Nana dengan lembut.
"Aku menyayangi kalian berdua, sangat sangat menyayangi kamu dan buah hati kita." ucap Hessel, saat mendengar kalimat sayang dari bibir suami yang dianggapnya tak pernah mencintai dirinya, Nana membalas pelukkan Hessel dan mengeratkan dekapannya, Hessel berharap Nana bisa memahami perasaannya bahwa dia mencintai istrinya juga bukan hanya karna anak yang sedang Nana kandung.