MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
KEDEKATAN YANG TERGANGGU



Malam hari, sehabis makan malam Hessel dan Nana duduk berdua di atas ranjang. Hessel memangku laptopnya untuk menghubungkan panggilan video kepada orang tuanya yang sedang berada di luar negeri, sementara orang tua Nana sudah di kabari melalu panggilan telepon.


Begitu panggilan saling tersambung, mereka pun saling bertegur sapa, mama dan papa ikut senang melihat Hessel dan Nana duduk berdua dengan jarak yang sangat dekat ditambah Nana menyenderkan kepalanya di pundak Hessel dan Hessel merangkul tubuh Nana tanpa rasa canggung di hadapan panggilan video.


"Pa, Ma, Hessel punya kabar gembira buat kalian, mau dengar tidak?"


"Kabar apa sih sayang, mama penasaran banget ."


"Nana, kau saja yang beritahu."


"Mas aja, Nana malu."


Kedua orang tua hanya menatap heran anak-anak mereka yang saling berseteru untuk mengatakkan kabar gembira itu.


"Mama mau Hessel yang mengatakannya." ujar mama.


Hessel tampak menarik nafas dalam-dalam, setelah dia tenang dan rasa gugupnya hilang barulah memberanikan diri untuk bicara.


"Ma, Pa, sebentar lagi Hessel akan menjadi seorang ayah, Nana hamil ma, pa benar-benar positif." kata Hessel begitu semangat.


"Oalah pa, kita sebentar lagi juga akan jadi kakek dan nenek." kata mama terdengar bicara pada papa sangat antusias.


"Iya pa, ma, kalian akan jadi opa dan oma, Hessel berhasil ma." sahut Hessel.


"Apaan sih berhasil mas." ucap Nana pelan sambil mencubit perut suaminya karna merasa malu.


"Selamat ya sayang, mama dan papa senang banget kami sangat bahagia." kata mama, sambil tersenyum Hessel membawa Nana dalam pelukkannya, kemudian dia menundukkan kepalanya menempel di permukaan perut Nana sambil mengelus perutnya.


Mama dan papa histeris berteriak melihat Hessel sangat agresif, tapi mereka juga sedih karna tidak bisa memeluk anak dan menantunya.


"Nana, mama ingin sekali memeluk kamu nak, pa kita pulang yuk mama pengen liat cucu kita, mama mau merawat menantu kita, pa." rengek mama saat membujuk papa yang tidak bisa apa-apa untuk pulang karna masih banyak pekerjaan yang belum selesai.


"Mama yang tenang di sana dampingi papa, mas Hessel akan selalu menjaga Nana dan cucu kalian ini." kata Nana berusaha menenangkan ibu mertuanya.


"Mama cuma bisa berpesan Na, kamu jaga baik-baik kandungan kamu, dan Hessel jaga baik-baik istrimu itu, sudah sekian lama mama menunggu kabar bahagia ini mama gak mau kalau terjadi sesuatu pada cucu pertama mama ini." imbuh mama mengingatkan anak-anaknya agar lebih berhati-hati.


"Hes, kamu harus jadi suami yang baik apalagi saat istrimu sedang hamil muda seperti itu, kamu harus siap siaga saat dia rewel." kata papa.


"Siap ma, pa."


Usai sudah panggilan video itu, Hessel menyimpan kembali laptopnya di atas meja kerjanya. Lalu dia kembali mendekati istrinya yang sedang duduk di depan cermin rias.


"Na, ayo tidur udah jam 10." kata Hessel.


"Nana pakai lipstik sebentar mas."


"Kita di rumah kamu gak perlu dandan berlebihan."


"Nana hanya merasa pucat mas, gak enak banget pas liat muka di depan cermin."


"Ya udah cepat olesi sedikit aja jangan merah-merah."


"Apa Nana pucat karna sedang hamil ya mas?"


"Iya Na itu salah satu penyebabnya, dokter bilang tensi darah kamu juga rendah, makanya kamu harus banyak istirahat dan minum vitamin juga susu."


"Iya mas, Nana akan menuruti semua yang mas tetapkan."


"Sebelum tidur aku bikinin kamu susu dulu ya, setelah itu baru kita tidur."


"Baiklah mas."


"Mas tinggal sebentar ya, pakai lipstiknya dikit aja jangan merah-merah mas tidak suka." Hessel kembali mengingatkan sebelum pergi.


"Siap mas." Nana tersenyum mengolisi bibirnya dengan sedikit lipstik.


Hessel pun turun kebawah untuk membuatkan Nana susu, tak lama kemudian dia datang dengan membawa segelas susu di tangannya.


"Nana, susunya datang." ucap Hessel sambil membuka pintu menyusup masuk ke dalam kamar, Nana tersenyum melihat suaminya dan Hessel pun segera duduk di samping istrinya.


Nana meneguk susunya dengan begitu nikmat, sebelumnya Nana kurang menyukai minum susu apalagi susu yang warnanya putih tapi sekarang dia merasa sangat suka minum susu, mungkin karna susu itu di buat oleh suaminya.


"Um, nikmat sekali minum susunya." kata Hessel sambil menatap Nana dengan serius.


"Susunya enak mas." jawab Nana sambil sesekali menjilati sisa-sisa susu yang menempel dibibirnya membuat Hessel gemas dan ingin sekali mengecup bibir itu pasti rasanya sangat manis.


"Siapa dulu yang membuatnya." kata Hessel merasa bangga.


"Pasti bi Rum." tebak Nana seolah tidak tahu.


"Aku Na, aku yang membuat susunya." kata Hessel kesal, dipeluknya Hessel dari samping dan Nana menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Mas, makasih ya sudah mengurus Nana, sekarang Nana benar-benar merasa baikkan." lirih Nana.


"Tidak perlu berterima kasih Na, aku suamimu sudah seharusnya aku seperti ini, maaf ya Na jika sebelumnya aku pernah kasar dan memperlakukanmu dengan tidak baik, aku sempat tidak mengakui bahwa kamu istriku tapi dengan tidak tau dirinya aku malah meminta hakku sebagai suami, karnaku juga kamu harus menanggung hinaan dari mereka, tapi sungguh aku sangat menyesali itu." kata Hessel sambil membelai kepala Nana dan sesekali mengecupnya dengan tulus.


Kemudian Hessel melepasakan pelukkannya dan meraih kedua tangan Nana lalu mencium punggung tangannya begitu tulus.


"Aku benar-benar merasa berdosa Na." Sesal Hessel tanpa dia sadari air matanya keluar begitu saja, Nana yang melihat air mata bergenang di pelupuk mata suaminya segera menghapus air mata itu.


"Mas kenapa menangis, apa yang mas perbuat selama ini mas tidak pernah kasar sama Nana, iya Nana akui mas sedikit dingin tapi Nana mengerti kok karna tidak mudah menerima orang yang tidak dicintai lalu tiba-tiba masuk ke dalam hidup mas tanpa mas inginkan, semua itu bukan salah kamu mas, ini sudah takdir kita dan Nana ikhlas menerima semua itu." kata Nana.


"Na, apakah kamu masih berpikir untuk meninggalkanku? apa kamu tega menjauhkan seorang ayah dari anaknya?" tanya Hessel dengan mata berkaca-kaca.


"Beri Nana waktu untuk menjawabnya mas." jawab Nana pasrah.


"Aku mohon jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku Na, aku tidak mau kehilangan kamu, aku takut Na aku takut membayangkan kamu pergi dari sisiku." pinta Hessel penuh harap.


"Apa maksud mas bicara seperti itu, kenapa mas takut Nana pergi bukankah kita seharusnya tidak bersama mas?"


Hessel menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Nana, diraihnya tengkuk kepala Nana lalu menangkupkan kedua tangannya di pipi istrinya.


"Aku sayang kamu Na." ucap Hessel menatap mata istrinya dalam-dalam.


"Apa maksudmu mas?" tanya Nana mulai berkaca-kaca.


"Aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu." kata Hessel langsung memeluk tubuh istrinya.


Waktu seakan berhenti saat itu juga begitu mendengar suaminya mengatakan rasa cinta untuk pertama kali. Nana tercengang dengan mata yang membulat sempurna, dan berusaha menyadarkan dirinya karna takut semua hanya hayalan lagi.


gup... gup... Nana memukul-mukul dada Hessel.


"Ah, kenapa memukulku?" rengek Hessel.


"Mas, tadi mas bilang apa coba ulangi." pinta Nana merayu.


"Emangnya aku bicara sesuatu?" tanya Hessel mendadak lupa.


"I-itu, itu..." Hessel terbata-bata dan Nana semakin tidak sabar untuk mendengar kepastian. Hessel mendekatkan wajahnya ke wajah Nana semakin dekat dan semakin dekat saat bibir itu saling bersentuhan,


tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu kamar mereka yang membuat Hessel terkejut langsung melepaskan bibirnya yang menempel di bibir Nana.


"Siapa sih jam segini masih ganggu orang aja." gerutu Hessel kesal.


"Udah mas bukain sana!" perintah Nana senyum-senyum sendiri melihat tingkah suaminya saat sedang kesal.


"Aku salah pendengaran atau aku sedang berkhayal lagi, ah apa iya mas Hessel tidak mengatakan apapun padahal aku merasa suaranya terdengar sangat jelas di telingaku." ucap Nana dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya karna bingung.


"Astaga Devan." teriak Hessel kaget saat membuka pintu melihat adiknya membawa bantal dan selimut ke kamarnya.


"Siapa mas?" panggil Nana penasaran.


"Adik iparmu." sahut Hessel.


"Ada apa kau kemari, kenapa kau belum tidur dan malah membawa bantal juga selimut ke kamarku?" tanya Hessel cukup kesal.


"Kakak, aku bolehkan tidur bareng kakak." pinta Devan dengan wajah memelas sambil memohon.


"Kau kenapa Dev?" tanya Nana tiba-tiba datang.


"Devan mau tidur di sini." namun Hessel menjawabnya.


Dengan senang hati Nana mau menerima adik iparnya tapi Hessel malah terlihat resah dan kesal.


"Ajak Devan masuk mas." ucap Nana memohon dengan manja.


"Nana, apa kau tidak mengerti kita ini suami istri masa iya harus berbagi tempat tidur dengan anak yang sudah memasuki masa puber." bisik Hessel pada istrinya.


"Kalian menerimaku atau tidak, kalau tidak aku akan tidur di luar saja." kata Devan terlalu lama menunggu karna dia sudah lelah menahan kantuknya.


"Ayo Dev silakan masuk, kau boleh tidur di sini." kata Nana, begitu diizinkan Devan langsung nyosor masuk dan merebahkan tubuhnya di atas kasur kakaknya tanpa memperdulikan nasib pasutri itu lagi.


"Astaga Nana, dia tidur ditengah-tengah kita, aku benar-benar tidak nyaman kalau seperti ini." ucap Hessel tidak habis pikir adiknya langsung molor, sedang dia sudah terbiasa tidur sambil memeluk istrinya tapi sekarang malah ditengahi oleh adiknya.


Nana terlihat tidak berdosa, diliriknya suaminya bermuka masam.


"Mas kenapa menggerutu seperti itu?"


"Aku harus tidur dimana sekarang, dia mengambil posisiku." gerutu Hessel.


"Biarkan saja mas kan hanya sesekali Devan tidur di sini." kata Nana menenangkan.


"Heh Dev bangun-bangun, kau tidur di sofa sana." tapi Hessel malah memaksa adiknya untuk berpindah tempat.


"Dev, di sini tempatku dan Nana, kau jangan tidur di sini, sana tidur di sofa." Hessel menampar-nampar lengan adiknya tapi tak diperdulikan oleh Devan.


"Biarkan aku tidur di sini kak, aku takut habis mimpi buruk dikejar-kejar setan." lenguh Devan dengan suara berat karna sangat mengantuk lalu kembali tertidur.


"Arghhh menyebalkan, ya sudah biar aku yang tidur di sofa." kata Hessel pasrah, langsung mengambil bantal dan menuju sofa tanpa mengajak Nana.


"Dan kau, jika mau kau tidurlah dengannya biar aku yang mengalah." kata Hessel terdengar sangat pasrah, sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.


Nana masih tertegun di depan tempat tidur sambil menatap suaminya dari kejauhan.


"Kenapa dia kesal, padahal itu adiknya sendiri." gumam Nana.


Akhirnya Nana pun memutuskan untuk memilih suaminya, dihampirinya Hessel yang sedang kesal sampai tidak mau melihat dirinya. Tanpa aba-aba Nana duduk diatas pangkuan suaminya, dilingkarkannya tangan Hessel ke perutnya.


"Mas, kita tidur di sini malam ini." kata Nana, Hessel tidak bisa marah terlalu lama karna saat melihat wajah polos nan lugu sang istri kemarahannya mereda begitu saja.


Diangkatnya tubuh Nana lalu dibaringkannya di sofa, sementara dia masih dalam posisi duduk sambil membelai kepala Nana, Nana mendongak ke atas melihat suaminya.


"Kenapa mas marah?" tanya Nana.


"Aku gak marah Na, hanya kesal sama adikku."


"Kenapa mas kesal kan dia adik kamu mas?"


"Kesal aja, tadi aku mau bicara banyak sama kamu tapi dia malah datang, gimana aku gak kesal coba."


"Memangnya mas mau bicara apa, katakan saja sekarang."


"Na, besok aku ke kantor karna ada rapat penting yang gak bisa aku wakilkan, kamu hati-hati ya di kampus kalau ada apa-apa segera hubungi aku. kata Hessel mengalihkan pembicaraan.


"Oh gitu ya mas, gak apa-apa kok."


"Besok temanmu itu akan menjemputmu di rumah kalian akan naik mobil bareng-bareng, kamu senangkan kalau temanmu sudah aku izinkan datang kemari?"


"Iya mas, aku senang kok malahan senang banget, Nana pikir mas itu egois tapi sepertinya mas tidak seburuk yang Nana pikirkan."


"Memangnya menurutmu aku suami yang sangat buruk?"


"Tidak kok mas, mas tidak terlalu buruk."


"Ah apa bedanya, sekarang tidurlah sayang." kata Hessel sebelum tidur dia tak lupa mengecup kening istrinya.


"Mas bilang apa tadi?"


"Sayang." kata Hessel mengulang.


"Mas manggil Nana sayang?" Nana sempat tidak yakin.


"Memangnya aku salah memanggil istriku dengan sebutan sayang?"


"Tidak, Nana suka mas mendengarnya."


"Kalau gitu mulai sekarang aku akan memanggilmu Nana sayang." kata Hessel tiba-tiba menempelkan kening mereka dan mencium bibir istrinya sekilas.


"Nana bolehkan mas, panggil mas dengan sebutan sayang juga?" tanya Nana ragu-ragu.


"Um???" Hessel berpikir.


"Pasti tidak boleh ya mas, maaf mas Nana sudah lancang."


"Hei hei siapa bilang tidak boleh, kau boleh memanggilku apa aja asal jangan pak lagi seperti awal kita menikah."


"Aaa makasih ya mas." Nana sangat senang.


"Iya istriku, sekarang tidurlah." perintah Hessel memaksa istrinya supaya tidur karna malam hampir larut.


"Nak, papa akan menjaga kamu dan mamamu, kamu sehat-sehat ya di dalam sana." tutur Hessel mengusap-usap perut Nana saat Nana tengah tertidur.


"Selamat malam Nana, tidurlah yang nyenyak." tutur Hessel setelah mengecup istrinya, dia pun ikut tidur di sofa sambil memeluk istrinya.