MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
MENGINTIP



"Uahhh... emmm... dimana Nana?" gumam Hessel, melihat di sampingnya sudah tidak ada Nana.


Srekkk...


Nana keluar dari kamar mandi, dia sudah rapi dan sangat cantik, membuat mata Hessel yang tadi masih setengah ngantuk tapi begitu melihat Nana matanya langsung melek.


"Selamat pagi Na." sapa Hessel tersenyum.


"Pagi." kata Nana tanpa melihat suaminya, Nana mengemaskan buku-bukunya ke dalam tas.


"Apa Nana masih marah?" batin Hessel sambil mengingat perlakuannya terhadap Nana kemarin sampai membuat Nana pingsan.


"Aku, berangkat duluan, itu diatas meja sudah aku siapin roti bakar dan susu buat sarapan." ujar Nana.


"Makasih istriku." Hessel tersenyum.


"Hari ini dan untuk beberapa minggu kedepan papa dan mama keluar kota, jadi mereka meminta kita untuk menjaga Devan." ucap Nana.


"Mereka sudah pergi?"


"Iya tadi setelah azan subuh."


"Oo ya ampun aku belum shalat, kenapa kau tidak membangunkanku?" Hessel baru ingat kalau dia belum shalat subuh dan dia kesal Nana tidak membangunkannya.


Nana hanya diam sambil melirik jam dinding, sebenarnya Nana sudah berusaha membangunkan Hessel untuk shalat tapi Hessel lah yang bersalah dia tidak memperdulikan Nana tadi malam.


"Na, kamu masih marah?" tanya Hessel.


Nana keluar dari kamar tanpa menjawab pertanyaan Hessel.


"Hah... Kau memang sangat bodoh Hes, sekarang apa yang bisa kamu lakukan?" Hessel bingung bagaimana cara untuk membujuk seorang istri.


"Ah, biarkan saja lah, masa bodoh." Hessel tidak ambil pusing.


"Lebih baik aku mandi, lalu sarapan, terus ke kantor."


Hessel bangkit menuju kamar mandi dengan perasaan masa bodohnya.


*****


"Ya kancing bajuku lepas, baju yang satunya sudah kekecilan, gimana ini?." keluh Devan, kebetulan Nana baru turun dari atas dan dia melihat Devan kebingungan.


"Ada apa Dev?" tanya Nana mendekat.


"Tidak ada, pergi sana." Devan malah mengusirnya.


"Sini biar aku jahitin." pinta Nana.


"Tidak perlu, aku tidak butuh bantuanmu." menolak.


"Ya sudah aku juga tidak peduli kau akan terlambat datang kesekolah dan teman-temanmu akan menertawaimu." kata Nana meledeknya.


"Nana, tunggu." panggil Devan setelah Nana hendak keluar.


"Kenapa Dev?"


"Jahitin kancingnya." unjuk Devan malu-malu, dia tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan Nana karna sekarang hanya Nana yang bisa menjahit bajunya.


"Nah gitu dong, sini ambilkan benang dan jarumnya."


Devan pun mengambilkan Nana peralatan menjahit.


"Sudah siap." tak perlu waktu lama hanya 2 menit Nana sudah selesai menjahitnya.


"Cepat sekali, kau yakin kancingnya gak akan lepas?"


"Iya Dev, cepat pakailah seragammu atau kau akan telat nanti."


"Iya." Devan masih ketus pada Nana, sejujurnya dia sedikit malu sekarang pada kakak iparnya yang sangat baik hati itu


"Dev, di meja makan sudah aku siapain roti bakar buat kamu, sebelum kamu berangkat sekolah kamu sarapanlah lebih dulu." kata Nana.


"Iya, aku sudah memakannya." ketus Devan.


"Baguslah, aku berangkat ke kampus." ujar Nana berlalu pergi.


Devan mulai berpikir tapi dia tetap gengsi punya kakak ipar bodoh dan tidak bisa masak.


"Ihhh... amit-amit aku mau mengakuinya, karna dia semua orang tidak menyayangiku lagi, aku tidak akan peduli dia mau baik atau jahat pada diriku." batin Devan, gengsinya itu melebihi Hessel, kakaknya.


"Nana sudah pergi?" tanya Hessel mengagetkan Devan.


"Iya dia sudah pergi beberapa menit yang lalu." ketus Devan.


"Ayo berangkat." Kata Hessel.


"Tunggu sebentar kak, Dev ambil tas dulu."


"Ok, cepatlah "


*****


"Selamat pagi Nana." Sapa Andrean.


"Pagi juga Drean." jawab Nana tersenyum.


"Kau sudah enakkan?"


"Iya sudah lebih baik kok."


"Ke kantin yuk Na."


"Maaf Drean, aku gak bisa."


"Kenapa Na, temanin aku makan sebentar aja."


"Kamu aja ya Drean."


"Sorry ya Drean."


*****


Shuttt... shuttt...


Nana berada ditoilet sendirian tiba-tiba dia mendengar suara aneh dari luar.


"Siapa sih?" gumam Nana sedikit merinding tapi Nana tidak memperdulikannya.


Shuttt... shuttt... suara itu terdengar lagi.


"Siapa diluar? jangan coba-coba ngintip ya." ucap Nana.


Naa... Naaa...


suara itu terdengar samar-samar memanggil nama Nana.


"Ihhh, siapa sih menggangguku saja." Nana kesal dan membuka pintu untuk melihat siapa orang yang berada diluar.


"AAAaaa..." Nana berteriak kaget ternyata Hessel yang menakut-nakutinya.


"Shuttt... jangan berteriak." Hessel membekap mulut Nana.


"Emmm... bapak ngapain di sini, ngintip ya?" kata Nana.


"Iya emang tidak boleh mengintip istri sendiri." goda Hessel.


"Ihhh dasar... katakan apa yang bapak lakukan?"


Hessel menyandarkan tubuh Nana ke dinding, dengan tangan kiri Hessel letakkan di dinding agar Nana tidak bisa pergi.


"A-apa mau bapak?" ucap Nana terbata-bata, jantungnya berdebar kencang saat Hessel menekan tubuhnya ke dinding.


"Jika aku tidak melakukan ini, apa kau akan bicara padaku? kau masih marahkan?"


"Saya, marah? memangnya apa yang bapak lakukan?"


"Ah, lupakkan itu."


"Pak lepaskan saya, jika mereka lihat kita seperti ini mereka akan berpikir..."


"Apa yang mereka pikirkan, katakan saja kau adalah istriku."


"Kalau begitu bapak saja yang mengatakannya."


"Ah... maaf aku tidak bisa." ucap Hessel langsung melepaskan Nana.


"Kenapa tidak bisa? bukankah baru saja bapak akan mengatakannya apda semua orang."


"A-aku, Aku tidak bisa Na."


"Ikutlah keruanganku." kata Hessel.


"Apa saya melakukan ke salahan lagi? bapak yang menggoda saya, saya tidak mau disalahkan."


"Bukan itu, ikut saja."


Ruangan Hessel


"Ini untukmu." Hessel memberi sebuah kotak pada Nana.


"Tidak perlu repot-repot pak, bapak bisa memberikannya saat di rumah nanti."


"Kau bukalah lebih dulu, baru setelah itu bicara."


"Hmmm..." Nana mengangguk dia penasaran apa isi yang ada di dalam kotak tersebut lalu Nana pun membukanya.


"Sepatu ini?" Nana bingung.


"Iya kenapa, apa aku tidak suka?" tanya Hessel.


"Sa-saya suka, tapi saya tidak bisa berjalan dengan sepatu ini."


"Kenapa tidak bisa, aku pikir semua wanita bisa memakainya."


"Aku tidak pernah memakainya, bapak lihatlah saya hanya memakai flatshoes tanpa hils."


"Arghhh... salah lagi." Hessel kesal, seharusnya dia melihat sepatu jenis apa yang biasa Nana gunakan.


"Maaf pak, saya tidak bisa memakainya."


"Kau harus memakainya untukku nanti malam." ucap Hessel tiba-tiba.


"Nanti malam, pak?" Nana bingung.


"Ki-kita makan malam diluar." kata Hessel serba salah mengatakannya.


"Hah, makan malam pak? serius?" Nana sangat senang.


"Iya..."


"Baiklah pak, aku akan memakainya dan dandan yang cantik nanti malam."


"Terima kasih pak, terima kasih, saya keluar dulu." kata Nana dengan tingkahnya yang lucu.


"Simpan sepatu itu dalam tasmu, jangan sampai ada yang tau." Hessel mengingatkan.


"Iya pak." Nana keluar dari ruangan Hessel dengan gembira.


Hessel tersenyum, melihat istrinya bahagia, Hessel tidak pernah membayangkan akan mendapat istri seperti Nana, yang tingkahnya lucu dan menggemaskan baginya.


"Pak Hessel mengajakku makan malam, oh Nana mimpi apa kau semalam." gumam Nana kegirangan, sampai semua mata tertuju menatapnya dengan aneh.