MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
TERPAKSA MENIKAH



Nuri masuk ke dalam rumah setelah di antar pulang oleh Riki, sedangkan Riki lansung pulang setelah mengantar Nuri karna dia harus bekerja lagi.


Begitu Nuri hendak membuka kamarnya tiba-tiba ibu dan ayah memanggilnya dan menyuruh dia untuk duduk.


"Apa benar kau hamil, Nuri?" tanya ibu dengan nada marah.


Nuri tertunduk ketakutan tidak berani menatap mata kedua orang tuanya. Rasa bersalah terus menghantui batin Nuri, dia merasa tidak berguna menjadi seorang anak karna tidak bisa membanggakan orang tuanya, yang dia bisa hanya membuat orang tuanya malu.


"Jawab Nur, jangan diam saja, tadi Pak Betran dan Sarah datang kemari kami sudah mendengar semua darinya." tegas ayah mengejutkan Nuri.


"Ayah, Ibu, ampuni Nuri, Nuri khilaf yah, bu!" Nuri langsung bersujud mencium kaki ayah dan ibunya sambil menangis.


"Lalu siapa laki-laki yang mengantarmu tadi?" tanya ibu, Nuri shock ternyata ibu melihat segalanya.


"Dia, dia orang yang Nuri cinta bu." ungkap Nuri. Apa yang ada dipikiran ibu, bagaimana anaknya bisa melakukan hal menjijikan dengan orang lain sementara cintanya juga untuk orang lain.


"Cinta kamu bilang, apa seperti ini yang namanya cinta? kamu melakukannya bersama putra kak Betran tapi kamu mencintai laki-laki lain, apa ini yang kau sebut dengan cinta?" bentak ibu membuat Nuri tidak mampu berkutik.


"Bu, Nuri khilaf..."


"Ibu tidak habis pikir denganmu, siapa yang sudah mendidikmu seperti ini sampai kau mampu membuat kami menanggung malu."


Ayah emosi ditariknya tangan Nuri lalu,


Plakkk... menampar wajah Nuri sekuat mungkin hingga wajahnya merah seperti terbakar.


Nuri baru pernah melihat ayahnya semarah ini, sementara ibunya tidak bisa membelanya.


"Dasar anak tidak tau diuntung, dari mana kamu mendapatkan seragam ini, tas, ponsel, laptop, dan siapa yang membiayai sekolahmu, itu semua dari kakakmu lalu siapa yang membiaya hidup kakakmu di sana suami dan mertuanya yang membiayainya, ayah sudah tidak bekerja semenjak ayah sakit, kamu bukannya berterima kasih pada kakakmu tapi kamu malah menyia-nyiakan masa-masa sekolahmu."


"Ayah, Nuri minta maaf." hiks...hiks... sekalipun Nuri menangis sesegukkan ayah sudah tidak bisa memaafkannya.


"Aku benar-benar malu punya anak sepertimu, bisa-bisanya kamu melakukan perzinahan dengan anak sahabatku sendiri, aku malu, mau ditaruh dimana wajahku sekarang, Pak Betran tidak mau mengakui Devan sebagai putranya lagi, begitu juga aku tidak akan mengganggap kamu sebagai putriku lagi." ucap ayah dengan suara lantang.


"Ayah, aku mohon jangan berkata seperti itu, aku tetap putrimu, maafkan aku yah." sekali lagi Nuri bersujud di kaki ayah. Nuri ingin mendapat ampunan dan diberi kesempatan kedua tapi ayah sangat kecewa padanya sehingga ayah tidak segan-segan mendorong Nuri.


"Pak Betran dan Sarah orang yang sangat baik bahkan mereka mau menanggung biaya kuliahmu nanti sampai kamu jadi sarjana, tapi kamu belum apa-apa sudah membuat mereka kecewa, aku tidak tahan lagi mendidik anak sepertimu, aku dan ibumu merasa gagal menjadi orang tua dari anak yang tidak tau diuntung." kata ayah lagi.


"Ibu, Ayah, Nuri minta maaf, ampuni Nuri untuk kali ini saja, hal ini bisa terjadi pada siapapun bu, teman Nuri juga pernah mengalaminya tapi orang tuanya bisa menerima kesalahan mereka, kenapa ayah dan ibu tidak bisa memaafkan Nuri?" rintih Nuri sambil menangis di hadapan ayah dan ibunya.


"Situasi keluarga kita berbeda dan kamu harus tau itu, jangan samakan aku dengan orang tua temanmu itu." bentak ayah.


Lalu ayah menyeret Nuri ke dalam kamar dan mengurungnya di sana.


"Sampai hari pernikahan kamu harus tetap di sana, sudah hamil dengan laki-laki lain tapi masih saja berteman dengan laki-laki lainnya, benar-benar tidak tau malu." kata ayah sambil mengunci kamar. Ibu ikut menangis mendengar suara tangisan anak perempuannya, walau ibu kecewa tapi yang namanya seorang ibu tetap tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Sudah bu, biarkan saja anak itu memang pantas diberi beri pelajaran, setelah dia menikah kita tidak berhak lagi mengaturnya biarlah dia atur hidupnya sendiri karna bukan lagi tanggungjawab kita, mungkin dia pikir menikah dan berumah tangga itu mudah makanya dia mempermalukan kita." kata ayah lalu menarik ibu pergi dari kamar Nuri.


Nuri langsung berlari menghempaskan diri di atas tempat tidurnya sampil meringkung menangis sepuasnya. Penderitaan bertubi-tubi menimpa dirinya, sekarang tidak ada siapapun yang membela dirinya.


Di rumah keluarga Betran


"Menikah bukan hanya tentang tanggungjawab dengan berkata kamu bersedia menikahinya, tapi menikah itu dimana kamu siap bertanggungjawab lahir batin, dan mampu menafkahi keluargamu, menikah cukup sekali seumur hidup jangan sekali-sekali kau mempermainkan dunia pernikahan karna azabnya sungguh pedih Allah melaknat orang-orang yang mempermainkan pernikahan mereka, kau siap menikah berarti kau siap sehidup semati bersama istrimu menjalani susah senangnya berumah tangga." ujar papa bicara pada Devan serta memberinya nasehat sebelum Devan melangkah ke pernikahan.


Devan hanya menunduk dengan pikiran yang kosong, tidak tau dia mendengarkan atau tidak apa yang sedang ayahnya bicarakan.


"Kau sudah melakukannya itu berarti kau sanggup menanggung semua kebutuhannya nanti, kau sanggup menjadi imam dan kepala keluarga untuk istrimu, aku tidak bisa membantu kalian, kalian harus belajar hidup mandiri, jangan bergantung pada kami lagi, ingat itu jangan bergantung pada kami." ucap papa tegas tapi Devan tetap tidak menggubrisnya.


Sejenak Devan diam mencari bahan pembicaraan untuk menjawab apa yang baru saja ayahnya kagakan.


"Aku tidak mencintainya Pa, bagaimana mungkin aku bisa membangun rumah tangga bersama dengannya." ungkap Devan.


"Ini kesalahanmu, kau harus bertanggungjawab, cinta atau tidak itu urusan belakangan, kalian bisa berbuat itu berarti kalian pernah mempunyai rasa yang sama." ujar mama.


"Ma, tidak seperti itu, dia yang merayuku, laki-laki mana yang tidak tergoda saat seorang perempuan datang merayunya, sekarang dia hamil dan menyalahkanku." ucap Devan membela diri.


"Dia tidak merayumu tapi kalian memang sama-sama mau, kalian tidak bisa melindungi kehormatan keluarga, jadi kami tidak ingin membela siapapun karna semuanya sudah jelas." jawab mama, Devan hanya bisa diam dengan segala kejengkelannya terhadap Nuri.


*****


Pernikahan telah usai dilaksanakan sehabis ashar. Orang tua Nuri sudah menyerahkan Nuri sepenuhnya agar Devan mengurusnya, mereka tidak mau lagi mengurus Nuri sekarang Nuri adalah tanggungjawab suaminya.


Nuri sangat sedih semua orang menjauhi dirinya, bahkan dimalam pertama pernikahan Devan juga menjauh darinya. Devan laki-laki yang sudah menodainya kini ikut membencinya.


"Kalian boleh tinggal di sini untuk 3 hari sampai kami mendapatkan rumah untuk kalian." ujar mama nada bicaranya masih jengkel.


"Terima kasih Ma..."


"Tidak perlu berterima kasih, kami membeli rumah hanya untuk cucu kami bukan untuk kalian, tapi kalian beruntung karna bayi itu telah menyelamatkan kalian sehingga kalian tidak akan hidup di jalanan." jawab mama memotong pembicaraan Nuri, setelah itu mama langsung pergi meninggalkan Nuri dan Devan yang masih berada di ruang tamu.


"Apa kau puas sekarang? keluargaku bahkan tidak ingin melihatku lagi." sindir Devan dengan tatapan tajam melihat Nuri.


Nuri hanya diam sambil menangis, tapi Devan malah bilang air mata buaya kepada Nuri lalu dia ikut meninggalkan Nuri sendirian.


Nana dan Hessel menghampiri Nuri, Nuri langsung memeluk kakaknya sambil menangis, Nana membalas pelukkannya Nana tak kuasa menahan air matanya tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Nuri, kami tidak bisa membantumu, kami sudah punya masalah yang cukup berat sampai sekarang belum terselesaikan, kami hanya bisa mendoakanmu semoga kamu kuat menghadapi semua ini." ujar Nana sambil mengusap lembut kepala Nuri.


Hessel menyeka air mata adik iparnya itu, dan ikut menenangkan Nuri.


"Awalnya aku juga tidak percaya cinta bisa datang setelah pernikahan tapi kakakmu sudah membuktikannya dan aku jadi percaya itu sekarang, bahwa cinta itu tidak hanya datang disaat seseorang saling berkenalan, jadi kamu tetaplah percaya bahwa akan ada cinta setelah menikah." ucap Hessel menasehatinya.


Nuri tersenyum kecil, Nana dan Hessel langsung menyuruh Nuri untuk menemui Devan di kamarnya bagaimanapun mereka sudah resmi menikah jadi Nana dan Hessel berharap mereka bisa menerima satu sama lain.


Saat Nuri masuk ke dalam kamar, Devan sudah duduk di tempat tidur dengan raut wajahnya yang mendadak terlihat amat senang sambil tersenyum melihat Nuri.


Kenapa dia terlihat bahagia? apa dia akan menerimaku?


Nuri berjalan dengan ragu-ragu ke arah Devan, sebelum Nuri sampai Devan bangkit dari duduknya. Devan lebih dulu mendekati Nuri lalu mengulurkan tangan ke hadapan Nuri.


"Apakah kau mengizinkanku?" kata Devan memulai pembicaraan. Nuri gugup tidak bisa berkata apa-apa sambil menatap tangan Devan.


"Aku akan memperlihatkan terdapat apa-apa saja yang ada di dalam kamarku." ujar Devan lagi, Nuri dengan ragu-ragu membalas uluran tangan Devan. Devan tersenyum dan membawa Nuri ke depan cermin besar sambil merangkulnya.


"Lihat cermin di hadapanmu, sekarang ini akan menjadi milikmu." kata Devan, Nuri hanya mengangguk senang.


"Dan di sisi kanan dari kamar ini ada walk in the closet itu juga akan menjadi milikmu." kata Devan lagi.


"Di sisi kiri kamar ini ada meja belajar yang sangat cantik, meja ini juga akan menjadi milikmu." kata Devan lagi, Nuri hanya diam dia tak menyangka Devan ternyata masih bersikap baik padanya.


"Mulai sekarang semua yang ada di kamarku ini aku harus berbagi denganmu, apa kau senang sekarang?" ucap Devan sambil membawa Nuri duduk di tempat tidur.


"Nuri, kakak benar cinta bisa datang setelah menikah, aku minta maaf karna kemarin aku membencimu." ucap Devan, Nuri mulai luluh dan tersenyum padanya.


"Dev, tapi aku tau kamu membenci pernikahan ini jadi bagaimana kita..." kata Nuri saat punya keberanian untuk bicara tapi Devan mengunci bibir Nuri dengan jari telunjuknya.


"Sekarang tidak ada gunanya membenci, mungkin memang sudah seharusnya masa depan kita bersama seperti ini." jawab Devan. Nuri tersenyum mendengarnya seolah ada harapan untuknya.


Nuri terlihat malu-malu saat Devan terus menatapnya. Devan mendorong sedikit tubuh Nuri ke tempat tidur. Nuri pikir Devan akan memanjakannya malam ini karna melihat senyum Devan yang begitu manis.


"Aku tidak tau apa yang mereka lakukan dimalam pernikahan, tapi aku rasa kita sudah melakukannya yang membuat aku tidak tertarik lagi kepadamu." tapi tiba-tiba Devan mendorong Nuri hingga terhempas kasar ke atas tempat tidur.


Mendadak wajah bahagia Devan berubah menjadi sangar dan menakutkan. Nuri terhuyung di kasur berusaha berbalik melihat Devan.


"Bangun dari mimpimu, Putri Tidur! Kembalilah melihat kenyataan di depanmu." ucap Devan dengan kasar menatap Nuri dengan tajam.


"Inilah kenyataannya, kamar ini bukan milikmu, semua yang ada di sini bukan milikmu. Apakah kamu sedang berpikir bahwa Devan Steven akan berubah? Devan akan memberimu bagian dari kamar ini? setelah apa yang kamu lakukan padaku, aku tidak akan pernah menerima semuanya. Setiap hari, setiap saat aku akan membencimu, aku berjanji pada diriku sendiri." kata Devan dengan suaranya yang tajam menggelar di telinga dan hati Nuri.


Nuri hanya bisa diam dan tercengang dengan setiap kata-kata yang terucap dari mulut Devan.


"Selamat datang di penjara, Putri Tidur." Devan menekankan ucapannya. Lalu dia bangkit dan menertawakan Nuri.


"Kenapa kau sangat terkejut, Putri Tidur? Apa kau baik? Dengar! Aku lebih terkejut saat mendengar kau hamil anakku yang membuatku terpaksa harus menikahimu, aku tidak tau permainan apa yang sedang kamu mainkan."


"Berhenti Dev! Tutup mulutmu!" Nuri bangkit dan melawan Devan.


"Kamu benar berpikir kalau aku ingin menikah denganmu, itu karna sudah seharusnya kau menikahiku dan bertanggungjawab pada anak ini, aku tau ini penjara tapi demi anak ini aku akan mempertahankannya, jangan pernah berpikir aku mencintaimu, aku menghormatimu karna sekarang kau suamiku jika kau masih seorang teman mungkin aku tidak akan tinggal diam untuk menutup mulutmu." balas Nuri dengan lantang. Devan terdiam Nuri langsung ke kamar mandi untuk berganti pakaian tapi sebelum itu Nuri mengambil pakaian di dalam kopernya.


Devan sangat kesal dan menggerutu sendirian sambil mengganti pakaiannya setelah itu dia berbaring di tempat tidurnya.


Nuri keluar dari kamar mandi tapi suasana kamar sudah gelap, Nuri tidak suka kegelapan sehingga dia mencari kontaknya untuk menghidupkan lampu. Saat lampu hidup kembali Devan langsung bangun di lihatnya Nuri tepat berada di depan.


"Siapa yang memberimu hak menyentuh barang-barangku?" ketus Devan kesal.


"Siapa? tidak ada siapa-siapa, bukankah kau sudah setuju dengan pernikahan ini, itu berarti aku berhak memiliki kamar ini juga, aku pernah membaca situs dimana ada yang bilang hak suami adalah hak istri, tapi hak istri suami tidak berhak memilikinya." sahut Nuri. Kali ini Nuri terlihat lebih berani melawan Devan.


Nuri langsung tidur di samping Devan. Sedangkan Devan masih duduk dan menatapnya dengan sangat geram.


Terpaksa Devan harus tidur bersama dengan istrinya dengan memasang pembatas bantal guling agar keduanya tidak bersentuhan. Devan kesulitan tidur karna lampu kamar sangat terang sementara Nuri sudah nyenyak mimpi indah dalam tidurnya.


Sial, dia benar-benar akan mengaturku, aku tidak akan membiarkan hidupku diatur olehnya.


Tiba-tiba Nuri menggeliat kuat sehingga kakinya menerjang tubuh Devan sampai Devan terjatuh dari tempat tidur.


Devan terkejut mendapat perlakuan seperti itu, dia sudah tidak bisa tidur sekarang malah ditendang dari tempat tidur. Devan ingin sekali mencakar Nuri atau menjatuhkan Nuri yang sedang tidur ke lantai tapi Devan juga tidak sanggup melukainya.


Rasakan pembalasanku, kau pantas mendapatkan itu.


Gumam Nuri dalam hatiternyata Nuri tidak tidur, dia hanya memejamkan mata mengawasi setiap gerak-gerik Devan.


Kisah Devan dan Nuri akan berlanjut dalam novel terbaru author "KETIKA HATI MEMILIHMU."


Jangan lupa mampir yaaa!!!