
Nana berada sendirian di kamarnya sudah hampir jam 5 sore, suaminya masih di kantor sementara Devan belum pulang dari tadi pagi kebetulan Devan ikut bimbel jadi dia selalu pulang petang, sedangkan asisten rumah tangga mereka sibuk di dapur dan ada juga yang keluar pergi berbelanja keperluan dapur.
Saat Nana sedang belajar di kamar untuk persiapan ujian, tiba-tiba terdengar seseorang memencet bel sontak Nana buru-buru turun ke bawah untuk membukakan pintu karna dia pikir suaminya atau Devan yang pulang.
Namun, begitu pintu dibuka Nana tidak melihat siapa-siapa di luar rumah bahkan pagar rumah masih terkunci dengan baik.
"Devan kamu sudah pulang dek?" panggil Nana mencari di sekitar rumah namun memang tidak ada orang.
Nana heran tapi tidak ingin berpikir buruk, apa mungkin bel rumah rusak makanya berbunyi sendiri tanpa ada yang memencetnya pikir Nana, Nana tidak mau ambil pusing lebih baik dia lanjut belajar. Ketika Nana hendak masuk ke dalam rumah Nana menginjak selembar kertas putih di depan pintu.
Nana pun mengambilnya ternyata disebalik kertas itu ada tulisan dengan tinta hitam.
Hai manis! Senang berkenalan denganmu. Ini pertama kalinya aku melihatmu, aku langsung jatuh hati padamu. Manis, kita akan bertemu lagi dan kau akan menjadi milikku
Kamu jangan takut manis, aku akan menyingkirkan suamimu dengan begitu kita bisa bersama SELAMANYA
Dari Kekasih Masa Depanmu
Dunia Nana seketika itu seolah runtuh setelah membaca isi kertas dari peneror itu. Nana langsung ketakutan dan berlari ke dalam kamar mengambil teleponnya untuk menyuruh suaminya pulang karna dia baru saja diteror oleh seseorang.
Hessel bisa mendengar dengan jelas suara tersendat-sendat istrinya sedang ketakutan sehingga setelah menutup telepon Hessel buru-buru pulang ke rumah menemui Nana.
Sesampainya di rumah Hessel buru-buru ke dalam kamar langsung dipeluknya Nana yang duduk meringkuk di atas ranjang sambil terisak tangis.
"Sayang, tenanglah mas ada di sini." memeluk Nana sambil mengusap belakang Nana agar Nana tenang.
Saat merasa mulai tenang, Nana melepaskan diri dari pelukkan suaminya lalu mengambil kertas itu dan memperlihatkannya kepada Hessel.
"Mas, Nana takut." rintih Nana kembali memeluk suaminya.
"Kamu jangan takut sayang, perbuatan seperti ini hanya seorang pengecut yang melakukannya, mereka hanya ingin menakut-nakutimu. ucap Hessel membalas pelukkan Nana sambil mengelus kepalanya.
"Mas, tapi Nana rasa ini sungguhan, dia tidak main-main, Mas Nana takut kehilangan kamu, Nana tidak mau hidup bersama orang lain selain kamu mas, tolong mas seriuslah menanggapinya jangan selalu berbaik sangka ini tidak main-main mas, kita harus melaporkannya ke polisi sebelum semuanya terlambat."
"Nana, aku juga sedang berusaha tolong kamu bersabarlah dan tetap tenang." bujuk Hessel lembut mencoba membuat Nana tenang.
"Bagaimana aku bisa tenang mas, aku sedang hamil aku takut terjadi sesuatu pada calon anak kita dan kamu." rintih Nana .
"Iya aku mengerti rasa takutmu, tapi kamu tidak boleh banyak pikiran sayang justru itu yang bisa memicu stress dan membahayakan kandunganmu."
"Nana hanya takut mas, Nana tidak akan kuat jika sesuatu terjadi padamu mas."
Nana sangat ketakutakan, Hessel melepas pelukkannya dan meraih kedua tangan Nana.
"Aku paham dan sangat mengerti rasa cemas yang kamu rasakan, sekarang aku hanya perlu doa dan dukungan darimu, doakan aku supaya aku selalu dalam lindungan-Nya dan bisa segera menemukan siapa pelaku yang meneror kita."
"Mas taukan betapa Nana sangat mencintai kamu mas, bagaimana Nana sanggup untuk hidup tanpamu mas, mengurus anak kita sendirian Nana rasa tidak akan sanggup, Nana dan calon buah hati kita perlu kamu mas."
"Tenanglah sayang, sabar dan jangan lupa berdoa insha allah kita semua akan baik-baik saja." Hessel menghapus air mata istrinya lalu kembali membawanya dalam pelukkan.
"Iya mas, berjanjilah padaku jangan pernah tinggalkan Nana dan tunu."
"Aku janji sayang tidak akan meninggalkanmu, tapi tunu siapa ya?"
"Tunu anak kita mas."
"Jelek sekali namanya." ledek Hessel
"Biarin kan kita belum tau anak ini laki-laki atau perempuan makanya Nana panggil saja dia tunu sekarang." ketus Nana.
"Terserah kamu saja yang penting kamu senang, bentar lagi magrib kita shalat dulu yuk biar perasaan kamu tenang." mencubit gemas pipi Nana.
"Ayo mas, wudhu bareng ya!"
"Iya istriku yang manis calon ibu dari anak-anakku."
"Aish! Dasar kata-katamu sudah basi, mas."
"Bilang saja kamu serasa ingin terbang menari-nari di angkasa."
"Sudah mas hentikan, bercandanya nanti saja habis shalat."
Mereka pun wudhu bersama-sama sambil menunggu waktu azan magrib untuk melaksanakan ibadah shalat wajib.
*****
Sehabis pulang dari bimbel lalu mengantar temannya, Devan berencana langsung pulang ke rumah. Namun, di persimpangan jalan tidak jauh dari tempat bimbel Devan melihat Nuri dari kejauhan sedang diganggu oleh 3 orang laki-laki teman sebaya mereka hanya saja mereka beda kelas.
Tangan Nuri ditarik-tarik dengan kasar, ternyata Nuri dipaksa untuk ikut bersama mereka ke tempat yang sepi. Tentu saja Nuri menolak dan berusaha berontak untuk menyelamatkan diri, saat mereka menarik tangan Nuri lagi Devan langsung menendang mereka satu persatu, lalu mengayunkan tas gendongnya sampai mengenai wajah ketiga laki-laki tersebut. Ketiga laki-laki itu langsung menghindar dan lari sejauh mungkin.
Devan mengambilkan tas Nuri yang terjatuh di tanah serta bukunya yang berantakkan di tanah karna dijahili oleh laki-laki tadi.
"Terima kasih Dev sudah menolongku, aku tidak tau mereka akan berbuat apa padaku jika kamu tidak datang tepat waktu." sambil mengambil tas beserta bukunya yang Devan unjukkan.
"Sama-sama lain kali hati-hati jika ada orang yang memperhatikanmu terus-menerus segera menghindar jangan ikut menoleh ke arah mereka." jawab Devan sambil mengingatkan.
"Iya aku mengerti sekali lagi terima kasih."
"Ayo biar aku antar kamu pulang!" ucap Devan menawarkan.
"Tapi ini sudah magrib pasti kak Hessel mencarimu, lebih baik kamu pulanglah biar aku di sini nunggu angkot." Nuri menolak karna dia belum pernah boncengan sama seorang laki-laki berduaan lagi.
"Kamu jangan bawel seperti kakakmu, kamu mau kejadian seperti tadi terjadi lagi?"
"Enggak maulah, aku takut Dev."
"Makanya biar aku antar pulang saja."
Dengar rasa ragu-ragu Nuri pun menerima tawaran Devan. Devan dengan senang hati mengantarkan Nuri pulang ke rumah agar Devan bisa memastikan Nuri sampai di rumah dengan selamat. Walaupun kemarin Nuri dan Devan sama-sama menyebalkan, setiap bertemu pasti selalu bertengar tapi kali ini mereka terlihat seperti sepasang muda-mudi yang mulai merajut kasih.
Devan dan Nuri menikmati setiap perjalanan mereka dengan menunggangi sepeda motor, tapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya yang membuat mereka basah kuyup serta kedinginan. Devan sangat kedinginan sehingga membuatnya tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan, sementara Nuri tidak tau caranya memainkan sepeda motor karna Nuri tidak pernah mencobanya bahkan dia tidak memiliki motor.
Terpaksa mereka berhenti mencari tempat berteduh, kebetulan ada rumah kosong jadi mereka berdua mampir berteduh di sana.
Suasana rumah gelap gulita Devan dan Nuri masuk ke dalam rumah kosong itu dengan memakai sentar ponsel sebagai penerangnya, mereka duduk di ruang tamu kebetulan di sana ada kursi.
Tubuh Devan menggigil kedinginan sampai bibirnya ikut bergetar dan pucat pasi. Nuri khawatir tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Devan.
"Dev, aku minta maaf gara-gara aku kamu jadi kehujanan." Nuri merasa sangat bersalah.
"Aku memang seperti ini setiap kali diguyur hujan, aku akan baik-baik saja tapi besok pagi pasti flu langsung menyerangku." kata Devan.
"Baik apanya jika sudah flu pasti kamu akan demam, kamu jangan sok kuat." gerutu Nuri tapi Devan langsung diam.
"Sekarang aku harus apa untuk menghangatkanmu, Dev?" tanya Nuri bingung.
"Pasti kak Hessel, kak Nana dan orang tua kita sekarang sedang gelisah menunggu kita." ucap Nuri.
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa dan tenang saja dulu semoga hujan cepat berlalu dan kita bisa segera pulang." ujar Devan.
"Dev telepon kak Hessel sekarang beritahu dia kalau kita sedang terjebak hujan." pinta Nuri.
"Aku belum isi pulsa, kamu saja telepon kak Nana."
"Ponselku low Dev!"
"Sudahlah tenang saja, nanti biar aku yang menjelaskan pada mereka."
"Tapi aku takut mereka mencemaskan kita, rumah ini juga gelap mana ponselmu tinggal 25% bagaimana kalau ponselmu mati sebelum hujannya reda? aku takut gelap Dev."
"Kamu ini penakut sekali, sini duduk di sebelahku." ledek Devan kontan Devan menarik tangan Nuri sehingga tubuh Nuri tercekat kaget tiba-tiba saja tubuhnya berlabuh di sebelah Devan.
Devan menatap wajah Nuri, mereka saling bertatapan. Pelan-pelan Devan melepas ikat rambut Nuri sehingga rambut Nuri terurai panjang dalam keadaan basah kuyup.
"Apa yang kamu lakukan Dev?" tanya Nuri gugup, mendadak jantungnya berdebar-debar.
"Aku baru sadar ternyata kamu lebih cantik dengan rambut terurai." ucap Devan dengan tatapan yang tak bisa berpaling dari wajah Nuri, sehingga Nuri tersipu.
Nuri tak ingin tersipu terlalu lama dan segera mungkin untuk mengikat rambutnya kembali tapi Devan malah mencegahnya.
"Jangan kuncir rambutmu, biarkan saja seperti ini." ucap Devan lirih dengan sebelah tangan menahan tangan Nuri.
"Dev lepaskan tanganku, ingat kita hanya berdua di sini." tiba-tiba saja Nuri jadi gugup tidak karuan sehingga Devan melepaskannya padahal Devan hanya memegang tangannya.
"Maaf Nuri, aku tidak sengaja." ucap Devan langsung berpaling.
Cuaca di luar semakin bertambah lebat, udara juga bertambah dingin. Nuri ikut merasa kedinginan, tidak ada sweater atau selimut yang bisa mereka gunakan untuk menghangatkan tubuh. Mereka merasa bagaikan sedang terjebak yang tidak tau entah dimana, suasana hujan dan gelap berada berdua di rumah kosong, ada rasa takut akan setan dan ada rasa takut akan terbawa nafsu.
Visual Devan dan Nuri