
Sesampainya mereka di rumah,
Mama langsung memopong Nana mengiringinya berjalan menaiki tangga menuju kamar. Mama sangat mencemaskan kondisi Nana melebihi rasa cemas pada anaknya sendiri.
"Hes, cepat telpon dokter." perintah mama.
"Ma, Nana sudah baik-baik saja tidak perlu diperiksa dokter." ucap Nana.
"Kau ini jangan turuti suamimu yang suka membantah mama, kalau kau tidak mau mama akan menelpon nenek kalian biar kalian dilabrak lagi seperti kemarin, kalian mau hah?" ucap mama dengan wajah serius dan memelototi Hessel.
"I-iya ma, Hessel akan menelpon dokter." jawab Hessel sambil sesegera mungkin mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi dokter.
"Cerita sama mama nak, apa yang terjadi padamu?" tanya mama bicara pada Nana.
"Nana sudah baikkan ma, Nana hanya pingsan mungkin karna sakit kepala." jawab Nana.
tiba-tiba mama bangkit dan menggetok kepala Hessel lalu menjewer kuping Hessel.
"Auhh, ma lepaskan sakit ma." rintih Hessel sementara Nana sibuk menertawakan suaminya, bukan hanya nenek yang menganiaya suaminya tapi mama juga melakukan hal yang sama.
"Heh, kau ini suami macam apa istrimu pingsan tadi kau kemana saja, kenapa tidak mengawasi istrimu, mama kan sudah bilang jaga istrimu dia itu punya penyakit jantung yang sewaktu-waktu bisa kumat, jangan kau sepelekan, kau harus selalu mengawasinya." gerutu mama memarahi Hessel.
"Siapa dia, apa dia tuan putri yang harus dikawal 24 jam, hah gak mau lah ma, malu-maluin masa di kampus harus mengawasinya terus kan malu." sahut Hessel membantah.
"Heh." sekali lagi mama menarik kuping Hessel sehingga Hessel meringis kesakitan.
"Ampun ma."
"Ampun-ampun, kau pikir kau ini siapa hah, berani membangkang mama, Nana apa suamimu selalu memperlakukan kamu seperti ini, beritahu mama nak."
"Gak ma, dia baik kok sama Nana hanya sedikit nakal." jawab Nana.
"Mama dengarkan apa yang dia katakan." timpal Hessel.
"Heh mama lihat lho kamu memicingkan matamu ke arah Nana, pantas saja kau dipukuli nenekmu ternyata kau lebih bandel dari ayahmu."
"Rasakan ini." mama menghajar Hessel dengan jurus andalannya.
"Kau membuat menantuku takut sampai dia tidak mau jujur, tapi mama tau kalau dia berbohong itu karnamu." celoteh mama sambil menghajar Hessel.
bukkk... bukkk...
"Tega banget ma anak sendiri dianiaya, Hessel juga sudah berusaha kok menjaga dia." ucap Hessel sambil mengusap-usap kupingnya yang habis dijewer.
"Jangan cuma berusaha kau juga harus serius menjaganya."
"Iya ma." sahut Hessel begitu tunduk dan patuh.
"Na, jika suamimu berlaku kasar padamu kau bilang saja sama mama bila perlu lapor sama nenekmu, biar dia yang akan memberi suamimu pelajaran."
"Tega banget ma sama anak sendiri, mama lebih sayang menantu dibanding anaknya." ketus Hessel sembari duduk di tepi ranjang bersama istrinya.
"Heh mama itu capek mengurus tiga kadal di rumah ini, ayahmu, kau dan adikmu kalian semua sama saja selalu sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak memperhatikan mama, mama sudah lama ingin memiliki anak perempuan agar mama ada yang merhatiin, akhirnya doa mama terjawab melalui istrimu, mama jadi punya teman ngobrol dan gak kesepian lagi saat di rumah selama ada Nana." kata mama.
"Ahhh mama bisa aja." timpal Nana malu-malu.
"Enak banget jadi istri lalu jadi menantu kesayangan." cengir Hessel menggoda istrinya, dihadapan mama Hessel berani mencolek dagu Nana sampai membuat pipi Nana memerah karna malu.
"Gantian donk, giliranku yang jadi istri biar mama sayang juga padaku." ucap Hessel didekatinya Nana lalu dipeluknnya Nana dari samping bahkan Hessel tidak malu-malu mengecup bibir Nana dihadapan mama, sedangkan mama tidak berani melihatnya sehingga harus menutup mata dengan kedua tangannya sampai Hessel berhenti mencium Nana.
"Mas, jangan gitu donk mama lihat lho." ucap Nana sedikit mendorong tubuh Hessel, Nana tersipu dengan pipi kemerah-merahannya.
Mama senang dan tersenyum, ternyata anak dan menantunya itu sering bertengkar tapi tetap ada manis-manis, mama tetap berharap Hessel dan Nana bisa cepat saling menerima satu sama lain.
"Ini dokter kok gak datang-datang, Hes cepat telpon lagi dokternya." ujar mama. Hampir setengah jam setelah Hessel menelpon tapi dokternya belum kunjung datang.
Yang datang malah Laras, entah apa gerangan wanita ini senang sekali membuntuti Hessel sampai-sampai dia datang ke rumah Hessel karna saking penasarannya dengan kedekatan Hessel dan Nana. Laras sedikit terbelalak saat dia masuk ke kamar Hessel, dia melihat Hessel yang acuh padanya sambil memeluk erat istrinya dari samping.
"Aku tau kau pasti sengaja memeluknya di hadapanku, kau tidak mungkin semudah itu melupakan cintamu padaku." batin Laras sambil berjalan mendekat kearah mereka. Kenyataannya Hessel sudah memeluk Nana sebelum Laras datang.
"Siang tante." sapa Laras tersenyum sembari mengulurkan tangannya ke arah Sarah dan di balas dengan terpaksa oleh Sarah,
"Aku kesana dulu." ucap Hessel bicara pada istrinya yang dibalas anggukan oleh Nana, sementara itu Hessel bangkit dan memilih duduk di kursi sedikit menjauh dari perkumpulan para wanita, tetapi pandangan matanya hanya tertuju pada sang istri, Hessel memilih diam selama Laras bersikap baik pada Nana tapi dia akan bertindak jika Laras macam-macam.
Sarah tidak terlalu menanggapi Laras, dia mencurahkan seluruh perhatian pada menantunya. Laras benar-benar merasa kesal, dikacangin oleh Hessel dan keluarganya.
"Emh, Hes ini aku bawa bingkisan untuk Nana." kata Laras sembari mengunjukkan bingkisan pada Hessel.
Sarah paling benci melihat tingkah anggun dan sopannya Laras yang dibuat-buat itu.
"Eh nak Laras, kenapa diberikan ke Hessel, kan Nana yang sakit bukan Hessel jadi berikan saja langsung pada menantu saya yang cantik ini, benarkan sayang." kata mama, Nana dan mama saling bertatapan mereka memiliki jalan pikir yang sama.
"Kenapa harus ada tante Sarah sih, aku kan jadi tidak bisa mendekati Hessel." batin Laras geram, sambil berjalan kearah Nana yang bersandar diatas ranjang.
"Berikan yang ikhlas, jangan seperti itu." kata mama, Laras bertambah kesal.
"Nana, ini untukmu." ucap Laras bertingkah lemah lembut.
"Terima kasih bu Laras, ibu baik sekali pada saya." cengir Nana sambil melirik mama.
"Minggir Laras!" ucap mama mengusir Laras dari hadapan Nana membuat Laras kesal, rasanya dia ingin sekali mencekik Sarah agar tidak ada yang menghalangi aksinya.
"Laras, saya dengar kau mengajar di kampus yang sama dengan Hessel, benar begitu?" tanya Sarah seolah-oleh dia ingin memastikannya.
"Benar tante, hampir 6 bulan saya masuk di kampus itu." jawab Laras.
"Oo berarti kau sudah sangat mengenal Nana juga, bukan?"
"Iya tante, saya kenal tapi saya bukan dosen Nana."
"Baguslah jika sudah saling kenal, kau tau Nana ini menantu saya, ya mungkin tidak banyak orang yang tau jika Hessel sudah menikah dengan Nana, tapi saya akan memberitahumu bahwa mereka ini menikah secara sah, kau tau Hessel semenjak kau memilih menikah dengan orang lain dia itu hampir putus asa, tapi setelah bertemu dengan Nana sekarang dia menjadi lebih baik, Nana sudah banyak membawa perubahan besar dalam diri anak saya." kata Sarah sengaja memanas-manasi Laras, sudah gerah malah di panas-panasin Laras merasa sangat muak tapi dia hanya diam dengan segala kebencian yang dia pendam.
huekkk...
tiba-tiba Nana kembali merasa mual tapi tidak ada yang dimuntahkannya. Hessel panik dan langsung didekatinya istrinya.
"Mas, aku mual... huek..."
"Kau mau muntah, ayo aku bantu ke kamar mandi." ujar Hessel sambil memopong tubuh Nana berjalan ke kamar mandi. Laras menatap lekat pasutri itu dengan penuh amarah, dia tidak suka melihat Hessel memberi perhatian pada Nana.
"Aduhhh ini bu Dokter kok lama banget, menantu sayaa ini kenapa sebenarnya kok beliau gak datang-datang." sementara itu Sarah menggerutu di depan Laras.
Hessel mengamati istrinya yang terus muntah-muntah tapi hanya memuntahkan angin tidak ada cairan dari mulut yang keluar, dia bertambah khawatir sambil menerka-nerka bagaimana jika penyakit Nana bertambah parah.
Akhirnya saat Hessel dan Nana keluar dari kamar mandi dokter Vira pun datang setelah sekian lama mereka menunggu.
"Saya mohon maaf atas keterlambatannya bu Sarah, tadi dijalan mobil saya ada masalah terpaksa saya perbaiki lebih dulu." jelas dokter Vira.
"Yang mana menantu ibu?" tanya dokter Vira sambil melirik kedua wanita muda yang cantik-cantik.
Hessel membaringkan Nana diatas ranjangnya lalu dia ikut bicara.
"Ini istri saya dok." kata Hessel sambil menyelimuti setengah tubuh Nana.
Dokter Vira tersenyum melihat Nana begitu pun Nana membalasnya, Hessel naik ke atas tempat tidur duduk di sisi kiri Nana, digenggamnnya tangan Nana dengan erat dan sesekali diusapnya pucuk kepala Nana agar Nana tidak merasa takut jika sewaktu-waktu akan disuntik oleh dokter Vira.
"Nak Nana sudah pernah di suntik belum?" tanya bu dokter.
"Pernah sewaktu kecil dok, tapi sekarang saya jadi ngeri." jawab Nana.
"Heh Nana gak sakit kok, rasanya seperti digigit semut." ucap Hessel lalu diciumnya tangan Nana dikuatkannya istri kecilnya yang penakut itu.
"Dok, gimana keadaan istri saya? apa ada penyakit yang serius?" tanya Hessel setelah dokter Vira selesai memeriksa dan menyuntiknya.
"Tidak ada yang serius, tapi saya belum bisa memastikannya." kata dokter Vira menahan kalimatnya, bukannya dia merahasiakan kalau Nana sedang hamil menurut pemeriksaannya, dia perlu waktu 1 minggu lagi untuk memastikan bahwa Nana benar-benar hamil bukan hamil anggur.
"Maksud dokter bagaimana, kenapa tidak bisa dipastikan apa istri saya punya penyakit?" terlihat Hessel begitu serius mengkhawatirkan Nana, dan Nana senang saat suaminya mulai merasa khawatir.
"Kita tunggu 3-7 hari kedepan nak Hessel."
"Baiklah terima kasih, dok." ucap Hessel.
"Jangan khawatir suntikkan yang saya berikan itu hanya vitamin." kata dokter Vira.
"Dasar lebay, sok penyakitan biar diperhatikan, kok Hessel mau sama orang seperti ini." ucap Laras dalam hati, karna bertambah kesal sedaru tadi melihay Hessel terus memegang tangan istrinya sambil membelai kepalanya.
Tanpa berpamitan Laras langsung pergi dari rumah Hessel dengan rasa kesal dan marah tapi tak ada yang peduli saat dia pergi.
Malam hari
Sehabis magrib papa dan mama mendadak harus segera terbang ke Itali lagi. Nana merasa sedih belum genap 2 hari mertuanya datang sekarang harus pergi rasa rindu juga belum terobati, begitupun mama terasa berat harus jauh dari menantunya apalagi disaat menantunya sedang sakit seperti sekarang. Namun, bisnis suami diluar negeri membuat mama harus rela meninggalkan anak-anaknya demi mendampingi suaminya.
Setelah mengucapkan salam perpisahan dengan orang tua, Hessel kembali mengantar Nana ke kamar sementara itu Devan terus merengek minta makan mengikuti kakaknya sampai di kamar.
"Kamu lapar Dev?" tanya Nana lemah lembut.
"Iya aku lapar cepat kau masak untukku." cetusnya memerintah.
"Devan, jangan membentak Nana walau bagaimanapun dia yang sudah mengurusmu saat mama tidak ada, sekarang dia sedang sakit kakak yang akan masak untukmu." tegas Hessel.
"Heh kau pasti pura-pura sakit kan supaya kakak peduli padamu." bagaimana pun sikap Devan tapi Nana tidak pernah berniat untuk membalasnya.
"Hadeuh anak ini, ayo keluar kau ini hanya mencari ribut." ucap Hessel sambil memapah Devan keluar dari kamarnya.
Nana berjalan dengan hati-hati menuruni tangga, menuju dapur menghampiri suami dan adik iparnya.
"Mas." panggil Nana seketika Hessel menoleh kebelakang melihat istrinya sudah berdiri di depan meja makan.
"Hm, kau harus makan juga Na." sahut Hessel.
"Mas masak apa?" tanya Nana sembari mengintip yang suaminya masak ternyata suaminya hanya membuat nasi goreng.
"Kau duduk saja Na, sebentar lagi masak kok." Nana pun menurutinya duduk berhadap dengan Devan yang selalu memasang wajah datar setiap melihat Nana.
"Dev, kau memakai jam tangan pemberianku?" ucap Nana mencairkan kebisuan diantara mereka.
"Terserahkan ini sudah milikku, terserah aku mau memakainya atau membuangnya, kenapa kau sewot." cetus Devan masih saja dingin sedangkan di dalam hatinya mulai bisa menerima Nana sebagai kakak iparnya.
"Hm iya, kamu mau aku bikinin susu gak?" tanya Nana mengganti topik pembicaraan.
"Nana, biar aku yang membuatkannya susu." ucap Hessel menimpal sembari menghidangkan makanan di atas meja.
Devan ingin sekali Nana yang membuatkannya susu karna dia rasa buatan Nana lebih nikmat dibanding buatan kakaknya, tapi Devan malu untuk mengakui itu kan selama ini dia selalu jahat pada Nana.
*****
Kembalinya di kamar Nana langsung merebahkan kembali tubuhnya di atas kasur, disusul oleh Hessel yang ikut berbaring tapi kemudian dia mengubah posisinya menjadi duduk. Diangkatnya tubuh Nana lalu dibaringkannya kepala Nana di atas pahanya.
"Gimana kondisimu, apa sudah lebih baik?" tanya Hessel sambil mengusap-usap rambut Nana.
"Iya mas sudah baikkan."
"Perutmu masih sakit gak?"
"Coba deh mas pegang." kata Nana sambil mengalihkan tangan suaminya untuk menyentuh perutnya.
"Ada apa denganmu, saat di kampus kau mengeluh karna aku menyentuhnya." kata Hessel dengan nada menggoda.
"Gak tau mas, rasanya Nana senang banget saat mas mengusap perut Nana seperti ini." ucap Nana sambil menikmati usapan tangan suaminya diatas perutnya.
"Dasar kau ini nakal sekali." seru Hessel dicubitnya hidung istrinya lalu dibalas oleh Nana mencubit hidung suaminya.
"Besok kamu gak usah masuk kuliah dulu." kata Hessel.
"Rugi donk mas, ujian tinggal beberapa hari lagi masa Nana harus ketinggalan mata pelajaran lagi."
"Kau harus istirahat dulu Na, ingat kata mama aku harus menjagamu, besok aku tidak akan masuk kuliah, aku juga tidak akan ke kantor."
"Baiklah mas, mas apa mas menjaga Nana hanya karna permintaan dari mama?" tanya Nana.
"Tidak sepenuhnya dari mama, entahlah aku merasa aku hanya ingin merawat kamu sampai kamu sembuh." ucap Hessel membuat senyum indah Nana mengembang.
"Nana senang mendengarnya mas, makasih ya mas sudah mau merawat Nana."
"Iya sama-sama, aku juga senang melihat senyummu seperti ini." sambil menunjuk bibir Nana lalu dicubitnya pipi Nana dengan gemas.
"Tapi mas tidak marah lagikan soal Andrean itu."
"Kau masih memikirkannya, tenanglah aku tidak marah karna aku tau dialah yang mendekatimu bukan kamu."
"Iya mas, mas bolehkan Nana tidur di pangkuan mas seperti ini."
"Iya tentu saja Na, tidurlah aku akan menidurkanmu."
"Jangan deh mas, bagaimana mas bisa tidur dengan posisi duduk, Nana enak tidur dipangkuan mas."
"Lalu maumu gimana?"
"Emh mau Nana itu, mas peluk Nana dan menyanyikan Nana sebuah lagu tidur."
"Baiklah aku kan menuruti permintaanmu." Hessel pun mengubah posisinya dan Nana, mereka berbaring dan Hessel memeluk Nana sambil bernyanyi hingga akhirnya mereka pun sama-sama terlelap.