MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
TETAP MESRA



"Du... du... du... du...


Kutimang-timang anakku sayang, pejamkan matamu rasakan dekapan papa, tidurlah sayang hari sudah malam."


"Cepat besar jagoanku, jadi anak yang sholeh dan berbudi luhur baik. Buah hati papa dan mama, kebanggaan kami, harta yang paling berharga tiada tara."


Di tepi ranjang ada Nana yang termenung membesitkan senyumnya memperhatikan sang suami kerepotan menidurkan Gio kecil. Hessel masih bersibuk menggendong si kecil yang rewel hanya mau tidur di dalam gendongannya, sampai Nana dan Hessel pusing dibuatnya sudah seminggu Hessel tidak bisa ke kantor karna si kecil tidak mengizinkannya.


"Berikan padaku mas, kau tidurlah dulu sudah seminggu kau kurang tidur." Nana mendekati suaminya yang tengah menggendong bayinya.


"Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan istriku kelelahan mengurus si rewel sendirian." kata Hessel sembari merangkul Nana dan mencium keningnya dan Nana tersenyum semakin mencintai sang suami.


"Mas." panggil Nana.


"Iya sayang kenapa?"


"Nana mau ngomong sesuatu tentang kita."


serr... serr..


Jantung Hessel mendadak berdebar tidak karuan, wajahnya mulai cemas.


"Ada apa Na?"


"I love you mas." lirih Nana mesra.


Dub... dub...


detakkan jantungnya mulai seirama lagi, senyumnya kembali terbesit.


"I love you to my wife." dikecupnya lagi kening sang istri.


"Gio sudah bobok mas, sini biar aku yang membawanya ke dalam ranjangnya." Nana mengambil alih posisi Gio dengan hati-hati menggendongnya tanpa membuat Gio terbangun Nana meletakkan si kecil Gio di dalam ranjangnya.


Hessel datang memeluk Nana dari arah belakang membuat Nana selalu kaget.


"Kenapa mas?"


"Aku mencintaimu." bisik Hessel.


"Hmm, aku juga cinta sama kamu mas, cinta banget tanpa syarat." Nana pun memutar ke depan agar melihat Hessel lalu mengecup pipi suaminya dengan mesra.


"Nak lagi bolehkan baby?" racau Hessel sambil menggesek leher Nana dengan brewoknya yang mulai tumbuh memanjang.


"Enggak, masih belum boleh mas. Gio masih sangat kecil masa iya mas mau nambah lagi." Nana langsung bisa menebak pikiran suaminya.


"Iya istriku, aku pasti bersabar menunggu kau siap seperti kau menungguku sampai aku siap menjadi suamimu seutuhnya." mencubit dagu Nana sehingga wanita itu tertunduk malu membenamkan wajahnya sesaat di dada bidang sang suami.


"Brewokmu ini membuatku geli mas untung aku tidak kelepasan berteriak atau Gio akan menangis, pokoknya besok harus dicukur baru kau boleh menggesek leherku yang mulus ini dengan pipimu." sindir Nana sambil membelai wajah sang suami.


"Kau tahu Na, brewok ini yang membuatku semakin terlihat gagah perkasa." serunya dengan nada sombong bangga.


"Benarkah mas ini gagah? ototmu mulai kendur mas mana bisa dibilang gagah perkasa." ledek Nana.


"Ya ini faktor usia sayang, tapi kalau aku ke gym lagi kau pasti semakin klepek-klepek melihat otot-otot lengan dan roti sobekku."


"Mas, Mas, kau memang paling bisa mengeles." Nana mencubit perut sang suami karna gemas.


"Ayo mas kita tidur, besok mas harus kembali ngantorkan." Nana mulai beranjak ke tempar tidur.


"Iya Nana si bawel aku tidur tapi belum dapat jatah." Hessel mengkerutkan kening sambil mengikutinya memasukkan setengah tubuh mereka ke dalam selimut.


"Siapa yang nyuruh tidur, nah dia masih baca buku." Hessel kesal sekali.


"Mas yang tidur, Nana mau bergadang jagain Gio." Hessel mengambil buku dari tangan Nana.


"Ayo tidur."


"Nanti mas."


Nana masih berusaha menjangkau buku yang ada di atas nakas sebelah Hessel.


"Tidur atau rasakan ini..."


"Ah! Mas geli." dengan tawanya Nana berusaha menahan tangan Hessel yang menggelitik perut serta pinggangnya.


"Berhenti mas! Geli ah." tawa Nana semakin menjadi akibat ulah sang suami.


"Ayo mau tidur atau terus seperti ini?" ancam Hessel semakin menjadi.


"Ah sudah hentikan kita tidur sekarang mas." akhirnya Nana mengalah sambil berusaha lepas dari sang suami.


"Dasar nakal." tambahnya lagi.


"Makanya tidur jangan bantah."


Hessel sudah bersiap-siap memonyongkan bibirnya untuk melahap bibir sang istri sementara Nana menundukkan kepala.


"Wah! Air kencing Nana sudah diujung mas." Nana mendadak bangkit saat bibir Hessel tinggal beberapa cm akan menghantam bibirnya.


Nana pun terbirit-birit lari ke kamar mandi dengan tingkah menggemaskan saat menahan pipis yang katanya sudah di ujung.


"Awas ya." sambil tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri.


5 menit kemudian


"Tidurlah sayang." Hessel menarik tubuh Nana membaringkan istrinya di atas pangkuannya. Hessel mengusap kepala Nana penuh kelembutan, Nana pun tersenyum melihat Hessel yang begitu menyayangi dirinya.


"Mas, Nana bolehkan bersama Gio datang ke kantor mas kapan saja yang kami mau?" tanya Nana.


"Tidak ada yang bisa melarang Nyonya Nana Daryanani Steven dan si kecil putra kebanggaanku untuk datang menemui Boss Hessel." kata Hessel membuat Nana tersenyum bangga mendengarnya.


Cup...


Kecupan itu mendarat di kening Nana begitu saja.


"Mas."


"Emm, kenapa sayang?"


"Mas tahu tidak kenapa wanita sangat suka kelembutan?"


"Hmm, memangnya kenapa?"


"Karna sudah kewajiban para lelaki untuk memberi mereka kelembutan contoh seperti ciuman di kening, dengan begitu mereka juga merasa suaminya tetap hangat dan romantis."


"Ada yang lebih hangat dan romantis." kata Hessel.


Belum sempat Nana membuka mulutnya, si Hessel nyosor mencium bibir Nana lebih dulu.


"Ahkkk." Nana seperti terkejut saat rahangnya kemasukkan lidah Hessel.


"Ada apa Na?" membuat Hessel panik, Nana malah tersenyum malu-malu sambil berusaha duduk.


Hessel memeluknya, Nana langsung membenamkan wajahnya di pelukkan Hessel sambil mengumpatkan pipi merahnya itu karna malu.


"Aku heran kenapa istriku terus merasa malu saat aku menciumnya, apa kau akan terus seperti ini Na?"


"Ya tentu." Nana kesal memukul dada Hessel dan Hessel hanya tersenyum.


"Aku suka melihat pipi meronamu itu." bukannya senang dengan pujian Hessel Nana malah merasa dirinya sedang diledek sehingga tanpa ampun Nana mencubit pinggang suaminya.


"Ah maaf maaf Nana." seketika mereka sama-sama diam.


"Malumu itu membuatku merasa kita seperti pengantin baru lagi." goda Hessel membisikinya.


"Aish! menyebalkan."


"Awwww sakit Nana." rengek Hessel karna Nana kembali mencubitnya.


"I love you bawel." kata Hessel.


"Nothing said to night." bantah Nana buru-buru berangsur tidur.


Cup... cup... cup...


tetapi suaminya itu lebih bawel dari pada Nana, Hessel malah menghabisi setiap inci wajah Nana dengan ciumannya sehingga Nana yang kaget hanya mampu mematung.


"Good night Nana bawel." kata Hessel mencubit pipi Nana.


"Good night to mas nakal." balas Nana sambil tersenyum bangga.


.


.


.


THE END


Jika kalian suka episodenya jangan lupa like dan vote ya😘 Berikan komentar terbaikmu!