
Di kampus sedang gempar berita terhangat saat salah satu mahasiswi dilaporkan hilang namun masih tidak diketahui apa sebab dan siapa pelakunya.
Hessel buru-buru berjalan menyusuri lorong kampus mencari keberadaan Arin, tiba-tiba tangan Hessel ditarik oleh seseorang yang ternyata adalah Arin, Arin membawa Hessel ke ruang perpustakaan dimana Nana telah menghilang, di sana juga ada Henry.
Arin Flash Back
Sebelumnya Arin bersama Nana bertemu Andrean di lapangan olah raga.
"Lepaskan tangannya Dre, kau hanya menyakiti Nana." kata Arin sambil melepas tangan Andrean yang mencengkram lekat tangan Nana.
"Ah, aku minta maaf aku tidak sadar." ucap Andrean tampak seperti sedang menginginkan sesuatu menatap sekujur tubuh Nana.
"Dre, kami pergi dulu." Nana yang merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang Andrean tunjukkan membuatnya memutuskan untuk pergi sambil menarik tangan Arin menjauh dari Andrean.
Nana mengajak Arin ke perpustakaan yang masih sangat sepi saat di pagi hari, begitu sampai di perpustakaan Nana baru sadar kalau dia kehilangan sesuatu di jarinya. Cincin pernikahannya hilang mungkin terjatuh.
Arin pun meninggalkan Nana sendirian di perpustakaan, sementara Arin mencari cincin Nana kesana kemari meski sudah bolak balik mencari ke tempat mana saja yang sudah mereka kunjungi pagi ini, namun tetap tak kunjung membuahkan hasil. Arin pun menghentikan pencariannya lalu memutuskan untuk menemui sahabatnya kembali.
Namun, pada saat Arin kembali dia sudah tidak melihat Nana di perpustakaan, tapi tas beserta ponsel Nana masih tergelat di atas meja.
"Nana, Nana dimana kamu, jangan becanda donk Na, aku bisa kena marah sama pak Hessel kalau kamu hilang." Arin mencari Nana di balik rak-rak buku. Arin mulai cemas, tidak ada rasa tenang dalam dirinya dia sangat khawatir pada sahabatnya yang tengah mengandung itu.
Henry yang kebetulan mampir ke perpustakaan melihat Arin yang sedang gelisah, lalu di hampirinya Arin setelah Arin bercerita pada Henry, mereka pun berusaha mencari Nana ke setiap ruangan yang ada di kampus itu, sampai bertanya ke pada semua mahasiswa/i namun tak ada yang melihat Nana, bahkan petugas keamanan yang menjaga kampus tersebut juga sudah berusaha mencari mahasiswi yang hilang itu tapi tetap tidak ada hasilnya, sepertinya Nana sudah dibawa pergi makanya dia tidak bisa ditemukan lagi.
Back
Wajah Hessel mulai menggelap, matanya memerah dan sekujur tubuhnya seakan melemah saat istrinya di culik namun dia tidak tau siapa pelakunya. Sekarang pihak kampus sudah melaporkan kejadian tersebut pada pihak berwajib, polisi segera melakukan pencarian.
Hessel sangat mengkhawatirkan istri dan calon anaknya tidak mungkin baginya untuk menunggu kabar dari polisinya yang tidak tau kapan istrinya akan ditemukan, sehingga dia pun buru-buru berlari ke ruang cctv.
"Putar ulang semua rekaman cctv disetiap penjuru kampus." ucap Hessel dengan tegas langsung di laksanakan oleh petugas.
Hessel benar-benar serius memperhatikan rekaman cctv itu berharap akan menemukan pelaku yang telah menculik istrinya.
"Putar mundur dan perlambat videonya." perintah Hessel sesaat setelah melihat kejanggalan.
Di dalam video tersebut terlihat Nana sedang membaca buku dengan tenang, tiba-tiba tubuh Nana bergerak refleks memutar kepalanya menengok kebelang dan tampak Nana terlihat seperti sedang berteriak setelah itu videonya rusak tidak ada lanjutannya sehingga wujud si pelaku tidak berhasil terlihat.
"Sepertinya cctv diperpustakaan sengaja ada yang merusaknya, pasti pelakunya sudah akrab dengan kampus ini." kata Henry.
"Bagaimana mereka bisa masuk sedangkan di depan ada security? apa mungkin pelakunya juga mahasiswa atau dosen?" tanya Arin menimpal.
"Gerbang tua belakang kampus, iya itu gerbang lama sebelum kampus ini dibangun gedung baru pasti mereka masuk dan keluar lewat sana, kita kecolongan sekarang Hes." kata Henry lagi.
Hessel tertunduk sambil menekuk keningnya, dan mengurut pelan-pelan kepalanya yang terasa pusing karna memikirkan kondisi istrinya.
"Apa jangan-jangan Laras pelakunya Hes." kata Henry hanya sekedar menebak.
"Laras sudah resign dari kampus apa mungkin dia pelakunya, aku malah mencurigai salah satu dari mahasiswa kita." ucap Hessel.
"Maksudmu siapa?"
"Panggil Andrean dan Jessi suruh mereka berdua menghadapku, aku tunggu di ruanganku." perintah Hessel pada Arin segera Arin melaksanakannya.
Di ruang Hessel
Hessel mengintrogasi kedua muridnya tak lain adalah Andrean, laki-laki yang teramat menyukai istrinya, dan juga Jessi teman sebaya Nana yang sangat membenci Nana.
Saat Hessel sedang marah-marah mata Andrean tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis sebelah kiri pak Hessel. Andrean seperti merasa pernah melihat cincin yang sama, langsung saja Andrean teringat dengan cincin yang dilihatnya jatuh dari jari Nana tadi pagi.
"Pak, saya menemukan cincin milik Nana." kata Andrean setelah mengambil sebuah cincin dari saku celananya lalu memberikannya pada pak Hessel.
"Inikan cincin Nana yang hilang bagaimana bisa ada ditangannya, apa jangan-jangan dia yang menculik Nana, dia pasti mencoba mengelabuiku dengan berpura-pura menemukan cincin ini supaya dia tidak dicurigai, anak ini cukup cerdas ternyata." ucap Hessel dalam hati sambil memainkan cincin pernikahan dengan jarinya dan sesekali melototi Andrean.
"Pak, saya benar tidak tau apa-apa tentang Nana apakah saya boleh permisi sekarang? kata Jessi dengan santai sambil bangkit dari duduknya.
"Silakan kamu keluar saya tidak ada urusan lagi dengan kamu, tapi kamu tetap di sini." Hessel mengusir Jessi keluar tapi dia menahan Andrean.
"Cepat katakan dimana kau sembunyikan Nana!" pinta Hessel dengan nada tegasnya.
"Apa urusan bapak dengan hilangnya Nana, seharusnya saya yang sangat khawatir tentang dia tapi kenapa malah bapak yang seperti ini, bukankah bapak membenci Nana siapa tau saja bapak yang menculik Nana, asal bapak tau saya sangat khawatir apa lagi Nana terlihat masih sangat pucat saya mencemaskan keadaannya sekarang, begitu mendengar Nana hilang saya berusaha mencarinya juga lalu untuk apa saya menculiknya." ucap Andrean lagi
"Anak ini terlalu pintar bicara, apa kau pikir saya akan mempercayaimu, bukankah cincin ini milik Nana bagaimana bisa berada di tanganmu, pasti kau kan yang menculik dia?" lagi-lagi Hessel marah menuduh Andrean.
"Demi tuhan pak bukan saya pelakunya, sa-saya menemukan cincin itu di dekat lapangan saat saya tak sengaja berpapasan dengan Nana, jika bapak tidak percaya silakan tanya Arin karna Arin juga bersama Nana."
"Benar pak sepertinya bukan Andrean yang membawa Nana pergi, cincin itu hilang sebelum Nana diculik." timpal Arin menjelaskan pendapatnya.
Hessel mengurut keningnya yang serasa mengkerut semakin bertambah bingung untuk mencurigai pelakunya, Jessi bukan, Andrean juga bukan, Laras sudah dikeluarkan, lalu siapa pelakunya mereka hanya bisa menerka dengan pemikiran masing-masing.
"Apa yang harus ku lakukan sekarang melacak keberadaan Nana sedangkan ponselnya ada di sini, semoga Engkau selalu melindungi istri dan calon anakku dimana pun mereka berada sekarang." batin Hessel terduduk di kursinya dan terlihat lemah.
Tak berhasil menemukan pelaku yang menculik Nana membuat sekujur tubuh Arin mendadak lemas, tangisnya tak terbendung lagi begitu mencemaskan keadaan sahabatnya.
Mendengar tangisan Arin membuat Hessel bertambah panik dan frustasi saat memikirkan bagaimana caranya agar bisa dengan cepat menemukan keberadaan sang istri.
Saat mereka hening memikirkan cara tercepat untuk menemukan Nana, tiba-tiba ponsel Hessel bergetar.
Ada sebuah pesan masuk yang berasal dari nomor tak dikenal. Saat Hessel membuka pesan tersebut dia tampak terkejut setelah melihat foto istrinya terlampir di dalam pesan tersebut. Nana terlihat tidak sadarkan diri duduk di sebuah kursi dengan posisi tangan dan kaki terikat. Serta mulut Nana di tutup menggunakan lakban hitam.
Foto tersebut tidak begitu jelas menunjukkan dimana tempat Nana berada. Ruang yang gelap hanya dengan satu lampu kecil yang menggantung di atas kepala Nana menjadi penerang satu-satunya, begitulah latar belakang fotonya.
"Brengsek!!!" umpat Hessel sambil mengepal tangannya.
"Ada apa Hes?" Henry menyadari Hessel menggeram, belum sempat bercerita
tak berselang lama ponsel Hessel kembali bergetar, rupanya Hessel mendapat sebuah pesan video. Di dalam video tersebut Nana sudah sadarkan diri tapi masih terikat oleh tali. Hessel menonton videonya sementara yang lain mendengarkan suara Nana.
"Siapa kalian, kenapa kalian menyekapku?" tanya Nana dengan suara bergetar karna merasa ketakutan saat melihat laki-laki yang tidak dikenalnya berperawakkan seperti preman menakutkan berada di sekelilingnya sedangkan dia hanya sendirian.
"Apa mau kalian?" tanya Nana lagi tidak menyadari bahwa dirinya sedang di videokan.
"Lepaskan aku, ku mohon jangan menyakitiku, aku tidak kenal siapa kalian tolong kasihi aku, aku sedang hamil jangan sakiti aku." rengek Nana memohon sambil menangis, malah menjadi bahan tertawaan laki-laki tersebut.
Nana menggeliat mencoba memberontak namun sebuah tangan menekan tubuhnya hingga Nana merasa lemas.
Lalu datang sebuah tangan yang melayangkan sebuah tamparan keras ke wajah Nana, sehingga wajah mulus itu berubah menjadi merah dengan sedikit darah di sudut bibirnya.
"Mas tolong aku, mereka memaksaku menggugurkan kandunganku, cepat datanglah kemari mas aku perlu kamu, aku takut mas sangat takut." rintih Nana disela-sela kesedihan dan rasa takutnya.
Video pun berakhir begitu saja, mata Hessel berkaca-kaca dan memerah seperti ingin menangis dan marah.
"Arghhh sial !!!" Hessel berteriak frustasi, hingga melampiaskan kemarahannya dengan meninju meja yang ada di hadapannya hingga meja itu hampir ambruk sedangkan dia tak merasakan sakit pada tangannya membuat Henry dan Arin terkejut melihat kemarahan Hessel.
"Nana hamil, lalu siapa yang dia panggil dengan sebutan mas?" batin Andrean. Sementara itu Andrean masih tercengang.
"Henry, ikut denganku, kita harus bertindak cepat." perintah Hessel setelah merasa cukup tenang walau sebenarnya tidak bisa tenang karna anak istrinya sedang dalam bahaya.
Begitu Hessel dan Henry keluar dari ruangan tersebut Andrean hendak mengejarnya, namun ditahan oleh Arin.
"Aku mau mencari Nana lepaskan Rin." bantah Andrean.
"Pak Hessel adalah suami Nana, biarkan pak Hessel yang mencarinya." ungkap Arin.
"Apa, suami?" sontak Andrean kaget bukan main.
"Kamu jangan shock Dre, kamu bisa lihatkan betapa pak Hessel sangat mencemaskan Nana dan juga calon anak mereka itu tandanya pak Hessel mencintai Nana, jadi aku mohon kamu jangan ikut campur urusan mereka Dre, biarkan Nana bahagia bersama pak Hessel."
"Jadi Nana sudah menikah dengan pak Hessel, dan Nana hamil anaknya." Andrean tampak shock dan lesu setelah tau kebenaran.
"Panjang ceritanya Dre tapi intinya Nana sudah menikah dengan pak Hessel, aku harap kamu bisa berlapang dada mengikhlaskan Nana untuk pak Hessel, aku harap kamu tidak akan membenci Nana juga Dre."
"Jujur saja aku sedikit sedih rasanya hatiku sangat sakit tapi aku sadar ini bukan salah Nana, Nana sudah sering mengingatkanku agar aku menjauh dan melupakannya tapi aku tetap saja mengabaikannya ternyata ini alasan Nana."
Meski hati Andrean sedikit terluka tapi dia tetap ingin membantu dalam pencarian Nana yang hilang tanpa memperdulikan status Nana lagi Andrean benar-benar ingin menemukan Nana, kali ini Arin tak bisa mencegah Andrean sehingga terpaksa Arin mengikuti Andrean.