
Di kamar Hessel dan Nana
Hessel berbaring di samping Nana. Hampir setengah jam dia menunggu kode keras dari Nana, beberapa kali dia menyinggitkan badannya untuk melihat Nana berharap Nana akan melihat dirinya.
"Naaa ayo" bujuk Hessel dengan manja.
"Enghhh gak mas." lenguh Nana menolak.
"Na baby, aku mau baby"
"Tadi siang kan udah mas"
"aaa mau lagi." rengeknya.
"Gak mas, Nana bilang enggak ya enggak."
"Baby, aku mau baby, baby, baby" rengeknya dengan sedikit berteriak sambil mengusap-usap bagian perut Nana.
"Hm" Nana cuek aja berbalik membelakangi suaminya.
"Nana... Nana... mau yaaa" di peluk-peluknya Nana dari belakang, Hessel bertingkah sangat manja dan kekanak-kanakan
"Matilah aku, mas Hessel akan menghabisiku lagi."
"Aku masih letih mas" ucap Nana.
"Aku pijetin ya Na" rayunya kemudian memijat-mijat badan Nana.
"Udah belum Na?"
"Aku haus mas" rengek Nana mencari alasan agar suaminya itu tidak punya waktu untuk minta jatah lagi.
Segera diambilkannya Nana minum.
"Udah hilang hausnya Na?" tatapan Hessel membuat Nana merasa kasihan.
"Hm, tapi bahuku masih terasa pegal mas, pijetin lagi mas, kakiku juga ya"
"Iya Na, apapun akan aku lakukan untukmu malam ini"
"Mas Hessel benar-benar, apa aku ngalah aja ya"
Nana menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya. Hessel kesal dengan tingkah istrinya dia sudah menuruti semua yang Nana keluhkan sampailah dia kehabisan kesabaran ditariknya selimut Nana lalu dia masuk ke dalam sana.
"Ahkkk" sontak Nana berteriak kaget saat sesuatu yang mengklitik bersentuhan dengan tubuhnya.
Tanpa Nana sadari tangan Hessel masuk ke dalam bajunha dan meremas-remas payuda**nya.
"Enghhh" desahan Nana membuat Hessel semakin ingin menjalankan kewajibannya.
Lalu di ciumnya bibir Nana dengan gairah.
"Aku mau sekarang Na" bisik Hessel.
"Masss, Nana ragu"
"Emm kenapa ragu Na?"
"Apa gak sakit lagi seperti..."
"Tenang aja gak sakit kok"
"Hmm janji ya mas"
"Iyaa Nana, sekarang sudah bolehkan"
"Emm boleh mas" Nana kembali berbisik membuat Hessel semakin gairah mendengar bisikan sang istri yang terdengar menggoda.
"Makasih Na" dikecupnya kening Nana sebelum menjalankan aktivitasnya.
"Kenapa wajahnya ditutup Na?" karna Nana menutup wajahnya dengan selimut.
"Umm malu mas" ucap Nana.
"Buka Na, aku suka ekspresi malu tapi menikmati itu" goda Hessel sambil menarik selimut yang menutupi wajah imut istrinya.
"Enghhh jangan mas ahh"
"Cupp... cupp... cupp... cupp" Hessel sesering mungkin mengecup semua yang ada dibagian wajah Nana sampai membuat Nana hanya bisa terdiam, wajahnya bagaikan kepiting rebus karna saking malunya.
Pagi Hari
Nana mengecek perlengkapan kuliahnya sebelum ia berangkat ke kampus.
Lalu ia turun kebawah dilihatnya nenek di sana.
"Nenek" sapa Nana.
"Lho nenek mau kemana bawa koper?"
"Nenek mau pulang nak, kan nenek banyak kerjaan ada kebun teh yang harus nenek urus."
"Yah nenek, bermalamlah lebih lama lagi di sini, jika nenek mau nenek boleh tinggal di sini kan ini rumah nenek juga, Nana senang nenek disini rumah ini terasa ramai." ucap Nana sedih.
"Jangan sedih sayang." dipeluknya Nana.
"Nek, pulangnya nanti saja setidaknya nunggu mas Hessel pulang nanti biar cucu nenek itu yang mengantar nenek pulang." bujuk Nana.
"Nenek sudah dijemput supir sayang, jaga diri baik-baik sayang, nenek tunggu kabar bahagia dari kalian." nenek mengecup kening Nana, lalu dia pun masuk ke dalam mobilnya.
"Dadahhh nenek, hati-hati." ucap Nana sambil melambaikan tangan ke arah nenek.
"Iya sayang bye bye muach."
Rumah kembali sepi setelah nenek pergi, Nana mengunci pintu rumahnya dan hendak ke kampus.
Pak supir datang menghampirinya sembari memberikan sebuah buket bunga mawar putih.
"Nona, tuan mengirim ini untuk nona." ucap pak Sud.
"Tuan siapa pak, siapa yang mengirimi saya bunga?" Nana bertanya bingung.
"Pak Hessel non."
"Emm kenapa dia manis sekali" batin Nana gak biasanya suaminya itu bersikap sangat manis.
"Makasih pak" ucap Nana hendak meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.
"Nona silakan, mobil sudah siap, mulai hari ini nona akan saya antar ke kampus." ucap pak Sud tiba-tiba menghalanginya.
"Aaa mobil, ini mobil siapa pak" tanya Nana karna bingung gak biasanya ada mobil baru di depan rumahnya.
"Mobil untuk nona, silakan masuk non" mempersilakan Nana masuk.
Nana tercekat kaget siapa yang membeli mobil baru, mungkin nenek pikirnya.
"Mobil baru untuk saya?" tanyanya memastikan.
"Iya ini mobil pribadi untuk nona." ujarnya lagi.
"Saya diantar pak, Nana kan gak pernah minta diantar naik mobil." Nana melihat dengan jelas sebuah mobil keluaran terbaru.
"Tuan yang mengutus saya untuk mengantar nona, tuan bilang nona tidak boleh jalan kaki atau naik angkot lagi." jelas pak Sud.
"Emm tumben mas Hessel memperlakukanku seperti ini, pertama memberi bunga lalu membeli mobil baru, mana mobilnya bagus banget pasti harganya lebih dari 200 juta" gumam Nana sambil melihat-lihat mobilnya.
dalam perjalanan Nana melihat ponselnya. Ada beberapa pesan masuk yang dikirim oleh suaminya.
"Pesan dari mas Hessel, tumben pagi-pagi ngirim pesan." gumam Nana lalu membuka kotak pesan di ponselnya.
"Pagi istriku, gimana mobil barunya apa kau menyukainya, bilang ya kalau gak suka biar nanti aku ganti yang lain"
"Aku sengaja membeli mobil itu untukmu, karna perbedaan waktu aku tidak bisa berangkat atau pulang kampus bersama denganmu, setidaknya dengan adanya mobil pribadi untuk istriku jadi istriku tidak akan kepanasan, kehujanan dan kecapean lagi jalan kakinya, gak perlu himpit-himpitan lagi di dalam angkot."
"Kesambet apaan mas Hessel, kenapa tiba-tiba jadi manis gini ya." gumam Nana tersenyum.
Hatinya benar-benar senang saat itu. Dia bingung harus menulis apa untuk membalas pesan dari suaminya, hingga tanpa terasa angkot yang di tumpanginya sampai di depan gerbang utama kampus.
"Arghhh syal ini membuatku gerah, tapi jika aku lepas maka habislah aku jadi bahan gosipan mereka." ucap Nana saat mulai memasuki gedung kampuas.
Dari atas sana Hessel berdiri di lantai 3 memperhatikan istrinya yang baru sampai dikampus, masih menaiki angkutan umum.
"Ya ampun dia masih saja betah dengan kendaraan seperti itu, dasar Nana." Hessel hanya mampu tersenyum dan menggeleng.
Ditengah jalan menuju kelasnya Nana tanpa sadar menabrak Andrean dan membuat Andrean tersungkur ke lantai.
"Ups astaga... apa yang ku lakukan...". batinnya kaget.
Andrean masih tersungkur di sana sambil berusaha berdiri.
"Aduh, maaf maaf maaf Dre, aku gak sengaja, beneran, sumpah" ucapnya songak membantu Andrean bangkit dengan tingkah yang selalu konyol.
"Tenagamu kuat sekali Na, habis sarapan apa kamu tadi kau bisa membuatku terjatuh hanya dalam satu kali senggolan."
"Kau marah ya, aaa kau pasti marah, sorry sorry Dre sungguh makananku masih sama seperti biasanya, jangan marah ya, please ku mohon jangan marah, tolong maafkan aku Dre." lagi-lagi sikap Nana membuat Andrean gemas.
"Haha dasarrr... tenanglah Na." Andrean malah tertawa cekikikan
tiba-tiba ditariknya Nana mendekat kearahnya hingga tidak ada jarak diantara mereka.
"Aaa.. apa yang kau lakukan Dre, Dre lepasin aku mereka semua melihat kita" ucap Nana merasa tidak nyaman.
"Ya Allah selamatkan aku, selamatkan aku, jangan sampai mas Hessel melihatku seperti ini bersama Andrean, bisa rusuh nanti satu kampus."
"Na, kenapa kau begitu cantik, semalaman aku tidak bisa tidur karna memikirkanmu." lirihnya sambil memandang wajahnya Nana sangat dekat.
"Dre sadarlah, mereka melototi kita." Nana berusaha memalingkan wajahnya.
"Na, kapan kau akan menerima cintaku, aku merasa hampir tidak waras terlalu lama menunggumu"
"Heh sadarlah, wajahmu apa wajahmu masih sakit"
"tidak sakit lagi, aku hanya tidak bisa tidur karna memikirkanmu"
"Apa yang kau katakan Dre, kita sahabatkan, kenapa bicara seperti itu pada sahabatmu"
"Tidak ada salahnya kan sahabat jadi cinta, aku sudah lama mencintaimu Na, kau begitu sering menolakku, tapi aku tetap saja masih mencintaimu, apakah kau tidak ingin mencoba membuka hatimu untukku dan melupakan dosen itu."
"Jangan seperti ini Dre, mereka semua melihat kita lepasin aku Dre" ucap Nana dengan nada memohon.
"Ehem" terdengar suara yang membuat Andrean langsung melepaskan Nana.
"Ada apa kau kemari?" cetus Andrean, dia langsung berada di depan melindungi Nana dari Jessi.
"Kau menolakku, tapi kau juga di tolak, nasib kita tidak jauh beda, tapi kau masih saja mengejar orang yang bahkan tidak pantas untuk menjadi temanmu." ucap Jessi.
"jangan bicara sembarangan Jes, aku bisa saja menampar wajahmu di sini jika kau berani menyakiti dia."
"Heahhh... kau, berapa banyak laki-laki yang ingin kau goda, apa kau masih tidak puas kemarin kau menggoda pak Hessel, lalu hari ini kau mencoba merayu Andrean juga, kau ini cantik tapi murahan, kau goda laki-laki ke sana kemari hanya demi mendapatkan uang, berapa kemarin pak Hessel membayarmu sampai kau rela menjual dirimu bahkan di dalam kelas" ucap Jessi menyindir.
Nana kala itu menjadi bahan gunjingan bagi siapa saja yang mendengar kata-kata Jessi.
"Tutup mulutmu, atau aku yang akan memaksa kau menutup mulutmu, jangan macam-macam kau Jes." ancam Andrean.
"Andrean, Andrean, kau ini sangat bodoh, kau tidak tau siapa gadis lugu ini, kau hanya tau dia cantik dan lugu tapi kau tidak tau siapa dia sebenarnya."
"Apa yang kau katakan Jes, jangan asal nuduh"
"Haha... Nana sebaiknya kau jujur padanya, katakan apa yang kau lakukan kemarin bersama pak Hessel, atau aku saja yang akan mengatakannya pada Andrean."
"Nana, jujur padaku yang Jessi katakan tidak benarkan"
"Sial kau Jes, asal kau tau pak dosen itu suamiku, arghhh pasti kejadian tidak akan seperti ini."
"Kenapa kau diam?" cetus Jessi disenggolnya Nana sehingga Nana sedikit terdorong.
"Kau takut Andrean akan menjauhimu setelah dia tau bagaimana sifat aslimu" ucapnya lagi.
"Aku tidak takut, silakan kau katakan pada Andrean, ayo katakanlah." sahut Nana.
"Besar juga nyalimu."
"Ada apa sebenarnya, katakan padaku"
"Kau tau Dre wanita ini rela menyerahkan harga dirinya demi mendapatkan uang, aku melihat dengan jelas dia mencium pak Hessel di dalam kelas, dia ini wanita yang pandai merayu laki-laki, kau tidak pantas bersama wanita sepertinya Dre, bahkan untuk jatuh cinta pun dia terlalu rendahan untukmu"
plak.. plakkk...
suara tamparan mendarat 2 kali di wajah Jessi, mereka semua terkejut saat melihat sosok yang menapar Jessi ternyata Nana.
"Sudah puas bicaranya?" tatapan Nana sangat tajam, wajahnya merah padam mendadak tegas bicaranya.
"Perempuan brengsekkk... kenapa kau menamparku, aku bicara sesuai faktanya."
"Heah kau sadar tidak saat kau membicarakan tentangku, merendahkanku pada orang lain, sebenarnya secara tidak sadar kau itu sedang mengumbar aibmu sendiri, terkadang apa yang kita lihat dan kita dengar memang tidak sesuai faktanya, mereka kapan saja bisa mengubah isi dari topik pembicaraan, ya itulah dirimu kau sangat senang mempermalukan orang lain, tanpa sadar akan kesalahanmu sendiri." ucap Nana membuat hati Jessi tersentak.
Jessi dan semuanya yang menyaksikan itu tercengang melihat sikap Nana.
"Bicara apa kamu, beraninya kamu bicara seperti itu padaku." ucap Jessi.
"Hemm sudahlah aku paling tidak senang sebenarnya untuk berdebat dengan orang-orang sepertimu, tapi aku rasa hari ini kau sudah sangat keterlaluan sehingga sesekali kau perlu diberi pelajaran." kata Nana tampak sangat berani.
"Awas kau Nana aku akan membalasmu"
"Silakan balas saja kalau kau berani, sebaiknya kau berkacalah lebih dulu sebelum kau membicarakan keburukan orang lain, bye, aku permisi." cetus Nana sambil berlalu pergi dan berjalan santai, siapapun yang melihatnya pagi itu tercengang melihat sikap pemberani yang Nana tunjukkan.
*****
Toilet
"Astaga Nana, kau luar biasa, sangat luar biasa" ucap Arin dengan lantang dan bersemangat.
"Hm, kenapa Rin, apanya yang luar biasa?" ucap Nana dan tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
"Kau sekali lagi berani melawan Jessi Na, aku melihat dengan jelas perdebatan kalian, Jessi bahkan tidak sanggup berkata-kata lagi, dari mana kau mendapat keberanian seperti itu Na?"
"Arin, Arin, jangankan kamu, aku aja heran aku berani melawannya, mungkin kali ya aku sudah terlalu lelah mendengar hinaan darinya yang membuatku berani seperti ini"
"Bisa jadi sih, aku senang sangat senang Na, dia itu memang pantas di kasih pelajaran, kita gak boleh diam aja saat dia menghina kita agar dia gak merasa berkuasa lagi di kampus ini."
"Hmmm" Nana tersenyum dan mengangguk.
"Eh tapi Na apa iya kau sungguh melakukannya dengan pak Hessel?"
"Apa kau curiga padaku Rin, apa kau mempercayai kata-kata Jessi yang mengatakan sahabatmu ini wanita bayaran"
"Umm gak gitu sih, tapi aku pengen dengar aja secara langsung dari kamu Na kejadian yang sebenarnya seperti apa."