MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
MENJAGA AMANAH



Nana menghampiri Devan di taman belakang rumah sekalian membawakan Devan sarapan dan obat penurun panas. Devan melihat dari kejauhan yang membuat Devan terlihat takut sehingga dia pindah dari duduknya menjauh sebelum Nana datang.


Kenapa Devan takut melihatku? batin Nana dari jauh bisa melihat sikap berbeda dari Devan.


"Devan, sarapan dulu dek setelah itu minum obat, lihatlah aku bawakan roti bakar untukmu." ucap Nana lembut menaruh sarapan yang dibawanya ke atas meja di pinggir kolam lalu Nana mendekati Devan.


"Ayo Dev sarapan dulu, nanti belajarnya dilanjutkan lagi." kata Nana lagi, Devan hanya menoleh sekali tanpa menjawab apa-apa.


"Kamu mau aku suapi Dev?" tanya Nana.


"Aku enggak mau makan, simpan saja makanannya kak." jawab Devan.


Nana memegang kening depan dan mengecek suhu badannya dengan termometer.


"Kamu demam Dev, ayolah makan dulu lalu minum obatnya."


"Devan enggak mau kak, kakak saja yang makan sana." ketus Devan mulai kasar padahal Nana berusaha membujuknya.


"Kamu enggak boleh gitu Dev, tidak baik marah-marah di depan makanan, Allah tidak senang melihat hambanya suka menolak rezeki nanti Allah cabut rezeki kita sampai kita kesulitan untuk makan sebiji nasi." ucap Nana menasehati Devan.


"Pasti kak Hessel yang menyuruhmu untuk membawakan aku sarapan, aku tidak mau makan makanan dari kak Hessel." sahut Devan.


"Tidak Dev, aku yang membawakan untukmu tanpa disuruh olehnya, jadi aku mohon kamu makan ya." Nana bersusah payah membujuk Devan.


"Kamu ada masalah? jika ada kamu bisa cerita denganku, aku akan mendengarkan semua keluhanmu, Dev." ucap Nana, Devan diam sambil memikirkan sesuatu.


"Kak Hessel sudah pergi ke kantor kak?" lalu Devan bertanya.


"Hari ini dia ke kampus, sepulang dari kampus dia langsung ke kantor mungkin akan pulang malam nanti." jelas Nana.


Devan akhirnya mau makan setelah tau kakaknya tidak berada di rumah. Setelah makan Devan meminum obatnya lalu lanjut bermain game bukannya belajar, Nana tidak bisa mencegahnya dan hanya bisa memperhatikan Devan bermain.


"Dev, kamu marah sama kakakmu?" tanya Nana pelan sambil mengusap kepala Devan.


"Aku kesal sama kakak, dia senang sekali memarahiku." jawab Devan. Nana mengerti bagaimana perasaan Devan, anak seusia dia jika dimarahi memang mudah sekali mendedam tapi Nana terus berusaha menjelaskan kesalah pahaman yang mungkin belum bisa dimengerti oleh Devan.


"Dev, kakakmu tidak marah sama sekali dia hanya menasehatimu supaya kamu tidak salah langkah, asal kamu tau dia sangat sayang sama kamu makanya begitu kamu hilang dia pergi kesana kemari mencari kamu."


"Tapi dia membentakku kak walau aku sudah memberinya alasan kenapa aku tidak pulang semalam."


"Dengar Dev! Kamu merupakan amanah yang harus dijaga oleh kakakmu, papa dan mama yang memintanya untuk menjaga kamu. Jika kamu tidak mau mengecewakan papa dan mama maka jangan buat kakakmu cemas, kamu harus mematuhi kakakmu karna seorang kakak adalah pengganti orang tua disaat orang tua kita tidak ada, jangan pernah kamu berpikir kalau kakakmu marah, dia marah sebab dia menyayangimu, dia tidak ingin gagal dalam menjaga dan mendidik adiknya, apa kamu mengerti Dev?" ucap Nana lemah lembut penuh ketenangan menjelaskan secara rinci pada Devan berharap Devan akan mengerti.


"Terima kasih kak Nana sekarang aku mengerti, terima kasih kakak sangat memahamiku, kak Hessel sangat beruntung mempunyai istri seperti kakak, maafkan aku dulu sempat membandingkan kakak dengan kak Laras." lirih Devan mendadak dia memeluk Nana yang sudah membuat hatinya tenang.


"Itu hanya masalalu bahkan aku sudah melupakannya Dev jangan diungkit lagi."


"Sekarang kamu istirahat di kamar supaya besok bisa masuk sekolah, tidak lama lagi kalian mau ujiankan, jadi kamu harus banyak istirahat dan belajar jangan mikirin apa-apa lagi."


"Iya kak, tapi janji ya kakak bujuk kak Hessel supaya dia tidak marah-marah lagi."


"Hmm... siap, komandan kecil." ucap Nana bertingkah seperti sedang memberi hormat pada komandannya sampai Devan jadi gemas dan ingin terus memeluknya.


Nana lalu mengantar Devan ke kamar, Devan berbaring di ranjangnya dan Nana menyelimuti tubuh Devan.


Setelah itu Nana keluar untuk mengantarkan piring kotor ke dapur sementara Devan setelah Nana keluar langsung mengambil ponselnya yang sedang dicharger lalu menelepon seseorang.


"Kamu baik-baik sajakan?" tanya Devan.


"Hari ini aku tidak masuk sekolah, apa kamu ke sekolah?" tanya si penerima telepon yang ternyata adalah Nuri.


"Aku demam jadi aku bolos sehari, bagaimana paman dan bibi apa mereka curiga dan memarahimu?"


"Tenang saja mereka tidak bicara apa-apa."


"Maaf untuk apa Dev?"


"Kejadian semalam, aku minta maaf untuk itu."


"Aku tidak ingin mengingatnya lagi, aku merasa sangat berdosa Dev."


Saat Devan hendak menjawab tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekati kamarnya.


"Aku tutup dulu teleponnya sebelum kak Nana datang, nanti aku telepon lagi." ucap Devan mengakhiri telepon mereka. Devan langsung meletakkan ponselnya dan berbaring kembali masuk ke dalam selimut.


Malam hari


Hessel memanggil Devan, rupanya Hessel masih membahas masalah semalam. Nana juga ada di sana duduk di samping Devan sambil merangkul Devan sementara Hessel berdiri di depan mereka memarahi Devan.


"Lain kali kakak tidak ingin mendengar kamu membawa anak gadis orang lagi, jika terjadi sesuatu sama anak orang apa kamu siap tanggungjawab?" tegas Hessel membuat Devan hanya mampu menunduk.


"Mas, yang Devan bawa itu bukan anak orang lain Nuri adikku mas, Devan bersama Nuri sama saja sudah seperti kakak dan adik mereka tidak pacaran." ucap Nana, Nana tidak ingin membela siapa-siapa dia hanya tidak tega melihat Devan bersedih.


"Justru karna Nuri adikmu Na, aku sampai seperti ini, Nuri juga sama seperti Devan, mereka berdua adikku, mereka masih sangat muda jaman sekarang pergaulan sangat bebas aku tidak mau mereka berdua terjerat dalam dunia gelap."


"Mas, semuanya sudah jelas Devan sudah memberi kita alasan kenapa semalam mereka tidak pulang dan dimana tempat mereka menginap."


"Iya kamu memang benar Na, aku hanya mengingatkan Devan saja supaya mereka tidak salah langkah dalam menjalin hubungan."


"Tidak salah mas menasehati adik sendiri, tapi mas perlu mengubah nada suara mas, biasakan menasehati dengan lembut jangan dengan suara yang keras, kuping Nana juga sakit mendengarnya." tutur Nana, Hessel pun hanya mampu diam.


"Apa Devan salah menolong Nuri dari orang-orang yang mengganggunya, karna kejadian itu kami pulang kehujanan sehingga harus mampir untuk berteduh, kami hanya berteman, kami tidak saling mencintai lalu bagaimana mungkin kami diam-diam berpacaran." sahut Devan membela diri dengan lantang setelah cukup lama diam.


"Ok, ok Dev, kakak minta maaf sudah berlebihan menasehatimu." sesal Hessel lalu memeluk Devan.


"Kakak memang berlebihan, adukan saja semua kelakuanku pada mama dan papa." tapi Devan marah menolak pelukkannya dengan mendorong Hessel, lalu dia berlari masuk ke kamarnya sambil menangis.


"Mas lihatkan bagaimana reaksinya, itulah akibatnya jika mas selalu kasar kepadanya, dia akan semakin menjadi anak yang pembangkang." ucap Nana lalu menarik tangan Hessel untuk duduk di sisinya.


"Aku sudah lelah Na, menjaga amanah papa dan mama, aku tidak sanggup Na." Hessel telungkup membenamkan wajah di pangkuan Nana.


"Mas jangan bicara seperti itu, ada Nana yang mendampingi kamu untuk menjaga Devan, sebenarnya Nana tidak ingin mencampuri masalah kakak dan adiknya tapi karna ini amanah papa dan mama Nana akan menjadi penengah untuk kalian mas." ucap Nana sambil mengelus pucuk kepala Hessel.


Hessel bangkit lagi dan langsung memeluk Nana. Nana selalu menjadi penenang untuk Hessel kala amarahnya sedang membeludak, dengan mendengarkan nasehat dari istrinya Hessel bisa meredam amarahnya.


"Mas jangan marah lagi, bagaimana pun kita juga pernah muda kita pasti pernah merasakan cinta monyet itu seperti apa, selama mereka tidak berbuat macam-macam kita tidak perlu marah, kita hanya perlu menasehati mereka mas." ucap Nana.


"Iya sayang aku mengerti, kamu memang yang terbaik Na." Hessel langsung mencium kening Nana.


"Ke kamar yuk, mas! pinggang Nana mulai pegal-pegal padahal kandungan Nana belum sampai 3 bulan tapi rasanya lemas banget."


Melihat istrinya kesakitan, Hessel lansung menuntun Nana menaiki tangga membawanya ke kamar dan membaringkannya di atas ranjang.


Hessel ikut berbaring di samping Nana, tangannya mulai bermain di atas dada Nana lalu turun ke bawah meraba perut Nana dan bagian sensitif yang tertutup selimut.


"Geli ah mas!" lenguh Nana menjauhkan tangan suaminya dari tubunya.


"Sayang, bolehkan malam ini sekali saja!" bisik Hessel yang membuat bulu tengkuk Nana merinding karna Hessel sedang meniup-niupnya.


"Biarkan Nana tidur nyenyak mas selama masa kehamilan." Nana mencoba membantah.


"Ya sudah aku tidur di lantai saja, kalau kamu enggak mau lagi bercinta dengan suamimu yang sudah tua ini." ucap Hessel dengan nada memelas kasihan dengan harapan Nana akan memberinya jatah.


Nana tidak tega setelah endengar suara menyedihkan itu dan menoleh wajah memelas sang suami. begitu Hessel hendak turun Nana langsung menarik tangannya.


Hessel pun dengan semangat merentangkan selimut membuat tubuh mereka masuk sepenuhnya ke dalam selimut.