MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
JANGAN SEPERTI BUNGLON



Saat Nana sedang menunggu angkot, tak berselang lama sebuah mobil yang sudah sangat di kenalnya berhenti di hadapannya.


Hessel ke luar dari dalam mobil dan segera menghampiri istrinya di tepi jalan.


"Mas, kamu kok udah rapi aja, kenapa kemari bukannya ke kantor?" tanya Nana heran, padahal saat ditinggalnya suaminya itu masih belum mandi.


"Ikut denganku." ucap Hessel sambil menarik tangan Nana.


"Bukannya mas mau ke kantor?" tanyanya lagi.


"Sehabis mengantarmu aku akan ke kantor" ucap Hessel ketus.


"Eh mas tunggu" Nana mengendus-enduskan hidungnya ke tubuh Hessel dihirupnya tubuh suaminya itu sangat wangi.


"Nana suka bau ini mas" ucap Nana cekikikan, ditatapnya tubuh suaminya dengan tatapan sedikit mesum.


"Apa yang kau lakukan, kita di pinggir jalan jangan malu-maluin" kata Hessel sedikit mendorong Nana dengan pelan karna merasa terganggu.


"Mas, belum mandi ya, ketahuan belum mandi" ucap Nana menerka-nerka dengan tingkahnya yang usil sambil menarik-narik kemeja Hessel.


"Sok tau kamu, orang ganteng dibilang gak mandi, aneh." ucap Hessel mempertahankan harga dirinya.


"Nana tau mas ke kantor gak mandi tercium baunya, lagian ngapain sih nyusul Nana segala, harusnya mas itu mandi dulu." kata Nana.


"Jangan sok tau, jangan mengajariku, nurut aja aku lagi baik sama kamu, kalau gak mau ya udah aku balik lagi." kata Hessel sambil pura-pura berjalan ke arah mobilnya agar Nana mengejarnya.


"Tunggu mas, tega banget sih mau ninggalin aku" menahan lengan Hessel.


"Nah gitu donk" cetusnya terdengar sangat dingin tapi sebenarnya Hessel sengaja ingin mengantar Nana.


Dibukakannya Nana pintu mobil, kemudian Nana masuk. Mereka pun segera menuju kampus.


"Mas, mas tidak mandi pun Nana tetap suka." kata Nana dengan senyum polosnya.


"Kenapa hari ini mas sangat baik, mas itu seperti bunglon kadang baik, kadang menyebalkan, kadang pemarah, moodnya suka berubah-ubah, Nana bingung banget, apa hanya perasaan Nana ya." sambungnya lagi sambil tertawa, sementara Hessel hanya mendengarkan tanpa menjawab sepatah katapun sambil menahan senyum.


"Mas, kalau Nana lulus kira-kira Nana cocoknya bekerja dimana, Nana cocok gak jadi wanita kantoran seperti bu Laras, dia selain jadi dosen juga jadi wanita kantor, karirnya begitu cemerlang."


"Jangan kagum padanya"


"Kenapa emangnya mas?"


"Kamu mau kerja habis kuliah?" tanya Hessel mengalihkan pembicaraan.


"Mau banget malah mas, tapi Nana bingung dengan kekurangan yang Nana miliki ada gak ya kantor yang mau menerima karyawan seperti Nana."


"Ya udah kamu jadi sekretaris pribadiku aja, kamu gak perlu repot-repot melamar sana sini, interview, untung diterima kalau ditolak kamu akan patah hati."


"Nana udah biasa ditolak mas, bahkan suami sendiri juga menolak cinta Nana, benar begitu kan, mas?"


"Kau ini sangat polos Na, untuk apa bekerja lagi emangnya aku ini belum mencukupi segala kebutuhanmu." batin Hessel.


"Kenapa jadi nyindir sih" ucapnya kesal.


"Gak nyindir kok, emang kenyataannya gitu mas, Nana terus terang mas kalau Nana suka sama sesuatu Nana akan terus mengejarnya sampai dapat, tapi jika Nana tidak bisa mendapatkannya maka dengan sendirinya Nana akan berhenti mengejar sesuatu yang memang bukan untuk Nana." ucap Nana terdengar sangat serius


"Kok sakit banget mendengarnya bicara seperti itu" ucap Hessel hatinya merasa perih, kupingnya terasa sakit.


"Sebenarnya kamu lagi ngomongin apa, pekerjaan atau perasaanmu, jika kau mengajakku bicara soal perasaan kamu salah orang." kata Hessel masih bersikap dingin.


"Kejam sekali mas, tadi aja baik sekarang jadi bunglon lagi" ucap Nana kemudian dia pun diam.


"Mas, Nana turun di sini aja" ucap Nana saat gedung kampus mulai terlihat, sementara Hessel masih meneruskan mobilnya tanpa memperdulikan Nana.


"Mas, turunin Nana sekarang." pinta Nana, tapi Hessel semakin melaju hingga mereka memasuki kampus dan Hessel memarkirkan mobilnya.


Sementara Nana memantau-mantau situasi diluar lewat jendela mobil.


"Kau kenapa?" tanya Hessel melihat tingkah aneh Nana.


"Mas, kau turun duluan." kata Nana sambil memutar tubuhnya mengahadap Hessel.


"Hei kenapa emangnya?"cengir Hessel.


"Nana tidak bisa keluar mas, mereka akan membully Nana nanti."


"Siapa yang membully kamu?" tiba-tiba Hessel menarik lengan Nana saat Nana hendak membuka pintu mobil.


"Jessi" refleks Nana langsung menjawab.


"Dia bilang apa?"


"Ahhh sudahlah mas, Nana turun aja, mas mau ke kantorkan cepatlah, jangan turun juga nanti mereka melihat mas."


"Beritahu aku, apa yang Jessi katakan padamu"


"Bukan apa-apa mas" sahut Nana mencoba merahasiakan.


"Cepat beritahu aku, dia bilang apa sama kamu, aku tidak suka dibohongi." tegasnya sambil memelototkan biji matanya membuat Nana sedikit takut.


"Dia hanya bilang kalau Nana ini wanita bayaran, dia tau kejadian yang di dalam kelas itu, dia melihat semuanya mas." jawab Nana dengan nada sedih.


"Hanya kamu bilang, dia itu sudah keterlaluan, aku akan memberinya pelajaran." Hessel sedikit emosi saat tau istrinya direndahkan.


Hessel tau semua ini karna dirinya, harga diri Nana jadi terinjak-injak, tapi Hessel merasa belum mampu untuk mengatakan perasaannya pada Nana, penghianatan yang Laras lakukan membuat Hessel takut untuk menjalin hubungan yang baru, rasa gengsi karna memiliki istri yang jauh lebih muda juga berpengaruh dalam diri Hessel.


"Hatimu pasti sangat sakit karna aku kamu harus menanggung semua hinaan, aku tidak boleh seperti ini lagi, aku tidak boleh egois, aku harus bertindak." ucap Hessel dalam hati, lalu dibawanya Nana kedalam pelukkannya.


"Mas, katakan sekali saja kalau mas mencintai Nana meskipun hati mas tidak bisa menerima Nana, kita sudah menikah apa mas tidak bisa mengakui Nana sebagai istri dihadapan mereka semua" lirih Nana saat berada dalam pelukkan suaminya.


"Mas, jika memang mas masih mencintai bu Laras, Nana siap bila memang harus berpisah dari mas, Nana tidak akan mengganggu mas lagi, Nana akan memulai hidup Nana yang baru tanpa melibat kamu mas, untuk apa mempertahankan pernikahan saat salah satu diantaranya masih tidak bisa menerima satu sama lain, jika mas bertanya apakah Nana sudah menerima mas sebagai suami dari awal menikah Nana juga sudah menerima mas tapi mas bilang kita harus merahasiakan pernikahan, sekarang Nana mengerti kenapa mas bicara seperti itu karna mas tidak bisa menerima Nana, mas malukan punya istri bodoh dan kampungan seperti Nana." kata Nana panjang lebar sambil melepaskan diri dari pelukkan Hessel.


Hessel tersentak begitu sering Nana bicara yang seolah menunjukkan bahwa dirinya sudah mulai lelah menjalani hubungan pernikahan secara sembunyi.


"Jangan bicara seperti itu Na, kau tidak akan mengerti" kata Hessel.


"Apa yang tidak ku mengerti mas, aku selalu mencoba memahami dirimu, memahami perasaanmu, aku menuruti semau kemauanmu, tapi apa yang bisa kamu lakukan untukku, aku hanya meminta hakku sebagai istri, tidak salahkan mas aku ingin diakui, hanya itu aku gak minta banyak darimu mas."


"Aku tidak bisa Na" menolak secara halus.


"Kenapa tidak bisa, apa masalalu yang mas rasakan begitu menyakitkan sampai mas tidak bisa mempercayaiku."


Hessel diam dan menunduk tampak sedih.


"Aku tidak akan memaksamu mas, aku akan mempersiapkan diriku jika sewaktu-waktu kau mengakhiri pernikahan maka aku sudah siap." kata Nana, kemudian dia langsung turun dari mobil dan bergegas ke kelasnya.


Sementara Hessel ada di dalam mobil teringat masalalunya saat dia masih bersama Laras, dimana hari itu menjadi hari berakhirnya hubungannya bersama Laras yang membuat Hessel menjadi seperti sekarang.


Flash Back


Beberapa tahun yang lalu,


Hessel bukanlah tipe laki-laki yang romantis saat menjalin suatu hubungan, dia memang tipe laki-laki yang sedikit bicara, dingin, dan selalu serius jarang sekali bercanda tapi dia setia pada satu pasangan.


Hari itu, Hessel yang baru pulang dari luar negeri selama 1 tahun menjalin hubungan jarak jauh dengan kekasihnya, mencoba menjadi pria yang romantis demi membuat kekasihnya senang dihari kedatangannya. Hessel langsung menyuruh para karyawannya menata sebuah ruangan yang romantis dimana nanti dia akan melamar kekasihnya, mereka sudah 3 tahun berpacaran.


"Kenapa Laras tidak mengangkat telponku." ucap Hessel merasa khawatir.


"Apa aku jemput saja, dia pasti sangat senang bertemu denganku, aku juga rindu kepadanya."


Malam itu Hessel datang ke sebuah apartemen mewah, dimana kekasihnya itu tinggal. Dia begitu semangat, senyum dan wajahnya berseri, malam ini adalah ulang tahun kekasihnya bertepatan dengan acara lamaran yang akan di laksanakannya tanpa sepengetahuan kekasihnya.


"Semoga Laras menyukai bunga ini" gumam Hessel saat dia sudah berada tepat di depan kamar kekasihnya.


Perlahan Hessel pun mengetuk pintu kamar, tapi tidak ada jawaban atau tanggapan dari dalam kamar.


"Pintunya gak terkunci, hmmm apa Laras sengaja melakukan ini?" berpikir sedikit kotor.


Dipegangnya gagang pintu yang tidak terkunci, Hessel pikir Laras sengaja tidak mengunci pintu agar memudahkan dirinya untuk masuk.


Namun, apa yang dia lihat didepan matanya, diatas ranjang sana ada seorang wanita dan pria tanpa busana sedang memainkan adegan bugil dengan begitu leluasanya tanpa dilindungi oleh selimut.


Laras dan teman laki-lakinya sontak kaget saat melihat Hessel melihat perbuatan mereka. Malahan saat mereka akan bangkit anu mereka sulit lepas, Hessel yang tertegun kaget hanya bisa menggeleng dengan mata terpejam dan merasa sangat jijik.


huek... huek...


saking menjijikkannya Hessel sampai mual hingga muntah. Dia tidak pernah membayangkan akan melihat kejadian menjijikkan seperti itu, dia juga tak pernah mengira kekasihnya berkhianat dengan cara seperti itu.


Tanpa sadar air mata Hessel menetes dan dia perlahan melangkah keluar dari kamar tersebut. Hatinya sangat hancur, 3 tahun menjalin hubungan ternyata dikhianati begitu saja.


"Aku bisa jelaskan semuanya." Kata Laras.


"Jadi ini yang kamu lakukan saat aku pergi ke Itali, kau bersenang-senang bersama pria asing." ucap Hessel.


"Aku terpaksa melakukannya, semua itu karna dirimu"


"Aku bekerja siang malam untukmu, kau tau aku membawa apa kemari ini bunga dan cincin untuk melamarmu, aku serius dengan hubungan kita tapi ini balasan kamu untukku, didepan mataku kamu melakukannya, astaga Laras aku tidak pernah menduga ini sebelumnya, aku pikir kau wanita baik-baik, tapi aku salah mengenal dirimu."


"Ya itu salah kamu, kamu tidak memberiku banyak waktu supaya kita bisa bersama-sama, kamu malah sibuk membantu ayahmu, dan kamu tidak pernah mau menuruti keinginanku untuk melakukan hal biasa seperti itu, bahkan untuk menciumku saja kamu tidak berani, kamu ini laki-laki seperti apa selalu mempertahankan iman, iman apaan jangan sok suci, sedangkan dia setiap aku membutuhkannya dia selalu ada untukku, dia memenuhi segala kebutuhanku, menuruti semua kemauanku, laki-laki seperti dialah yang aku butuhkan."


"Sudah berapa sering kau melakukannya Ras?"


"Tidak terhitung, hampir setiap malam" ucapnya tanda rasa malu.


"Astaga, tega kamu memperlakukan aku seperti ini."


Hessel melempar bunga dan cincin yang dibawanya kehadapan Laras.


"Aku minta maaf" cetusnya terdengar sama sekali tidak tulus.


"Baguslah aku tau lebih awal kebusukanmu, jika aku tau setelah kita menikah maka aku akan lebih tersakiti, jika kamu bahagia bersama dia maka lebih baik kita akhir saja hubungan ini." kata Hessel mengancam.


"Ok memang itu yang aku tunggu darimu, jangan pernah hubungi aku lagi." jawab Laras santai.


"Ok, dan kamu jangan menyesal, aku akan mendapatkan wanita yang lebih baik."


"Aku tidak peduli, lagipula aku tidak akan menyesalinya."


"Dan ini undangan pernikahanku" kata Laras sambil mengunjukkan sebuah undangan pernikahan, Hessel tidak menerimanya.


"Menjijikkan" maki Hessel sambil membuang ludah.


"Baiklah jika kamu tidak mau, tapi aku mau beri tahu kalau aku dengan dia akan menikah di luar negeri, jika kau punya waktu kau datanglah, tapi jika tidak aku juga tidak akan mengharapkan kedatanganmu."