
Devan membawa Nuri ke rumahnya selepas isya. Nana yang melihat kedatangan adiknya langsung menyambut mereka dengan gembira, dipeluknya Nuri penuh rasa rindu.
Masih terlihat dengan jelas kekesalan di wajah Devan, tapi Nana tidak bisa menebaknya.
Devan menyuruh kakak iparnya untuk mengumpulkan semua anggota keluarganya. Devan terpaksa harus berkata jujur karna tidak ingin dianggap sebagai pengecut oleh Nuri.
Mama dan papa jelas sangat tegang dengan situasi ini, mereka penasaran dengan Devan yang terlihat ragu-ragu untuk bicara.
"Ayo Dev katakan kau ingin apa!" kata Hessel.
Nana diam merangkul adiknya, Devan berada di depan mereka semua.
Devan langsung memohon ampun bertekuk lutut di hadapan kedua orang tuanya yang membuat mereka bingung dengan sikap Devan. Nuri sendiri tidak menyangka Devan sampai seperti itu.
"Ma, Pa, Devan sudah mengecewakan kalian berdua." kata Devan membuat semuanya tercekat kaget dan bertambah penasaran.
"Apa yang kamu bicarakan sayang, beritahu mama!" Mama mengangkat kepala Devan yang tertunduk memohon terlihat raut wajah itu penuh penyesalan.
Devan bangkit dan meraih tangan Nuri, Nuri berdiri mengikuti Devan dengan ragu-ragu.
Nana dan Hessel sudah punya feeling yang tidak menyenangkan saat melihat Devan mengajak Nuri untuk berdiri dengan cara meraih tangan Nuri.
"Pa, Ma, semuanya, Devan ingin menikah dengan Nuri." ungkap Devan di depan keluarganya. Sontak semua langsung berdiri dengan ekspresi masing-masing. Papa terlihat sangat marah namun masih berusaha menahannya.
"Bicara apa kamu Dev, mama ingin menjadikan kamu sebagai TNI mengapa kamu ingin menikah, apa yang kalian pikirkan, menikah itu tidak semudah yang kalian bicarakan, sudahlah mama tidak mau tau kamu dan Nuri harus selesaikan sekolah dulu bila perlu mama yang akan biayai Nuri kuliah nanti, setelah itu terserah kalian mau menikah atau lanjut S2 lagi." tegur mama.
"Benar Dev, Papa setuju dengan mamamu, kalian sekolah yang benar jangan memikirkan pernikahan dulu." ucap papa.
"Pa, Ma, semuanya sudah terlambat, Nuri hamil karna khilafan kami berdua." kata Devan lagi sontak mengguncang jiwa mama dan papa, mereka sangat shock mendengarnya.
Papa bahkan ingin menampar wajah Devan namun Hessel saat itu langsung menahan tangan papa yang nyaris saja berlabuh mengenai wajah Devan.
"Hessel, mama dan papa memintamu untuk menjaga adikmu bagaimana ini terjadi?" tanya mama dengan nada marah pada Hessel.
"Aku tidak tau ma, sungguh." jawab Hessel.
"Sudah ma, ini bukan salah Hessel tapi Devan yang tidak pernah bisa diatur dan inilah akibatnya dia sangat keras kepala tidak pernah mau mendengarkan nasehat orang tua." kata papa marah meremehkan Devan.
Devan hanya bisa menahan rasa, rasa yang begitu perih sehingga membuatnya merasa ini semua terjadi karna Nuri.
"Pa, Ma, Devan minta maaf sudah membuat kalian kecewa." rintih Devan tidak ada kata lain yang mampu dia utarakan selain kata maaf. Nuri tidak sanggup untuk berkata apa-apa sehingga dia hanya mampu diam dan cukup menjadi pendengar. Nana juga tidak bisa bicara apa-apa, apa yang sudah adiknya lakukan membuat Nana malu sebagai istri Hessel.
"Apa kamu punya pekerjaan, apa kamu mampu menghidupi istri dan anak-anakmu nanti, kenapa kamu lakukan ini, kalian telah membuat malu keluarga, papa kecewa sama kalian berdua benar-benar kecewa." cela papa benar-benar marah pada Devan dan Nuri sementara mama hanya bisa menangis anak manjanya sudah membuat dirinya kecewa.
"Pa, tolong maafkan Devan kali ini saja tolong terima kesalahan kami." Devan memohon meraih tangan papanya lalu mencium kedua tangannya.
Papa menarik semua fasilitas yang dia berikan pada Devan karna saking kecewanya, untung saja motor yang Devan gunakan tidak ikut ditarik karna motor itu murni Devan beli dari hasil menabung sewaktu SD.
Tidak bisa mendapat maaf dari ayahnya, Devan meminta maaf pada ibunya tapi ternyata ibunya juga kecewa.
"Pergilah Dev, saat ini mama tidak ingin melihatmu lagi, mama butuh waktu untuk memaafkanmu." ucap mama tegas berusaha tegar.
"Pa, Ma, apa tidak keterlaluan mengusir Devan? mereka masih muda dimana mereka akan tinggal?" tanya Hessel.
"Biarkan saja, inilah akibatnya mereka sudah membuat papa dan mama kecewa, mereka harus siap menanggung risikonya." ucap papa tanpa menoleh ke arah Devan, papa bahkan sudah tidak mau lagi melihat wajah Devan.
Kenapa nasibku begitu kejam, sejak aku berteman dengan gadis ini hidupku jadi berantakkan aku telah kehilangan segalanya hanya demi bertanggungjawab pada gadis ini, benar-benar sial aku menyesal menjadi temannya.
Aku tidak menduga kamu berusaha sekeras ini untuk bertanggungjawab, aku pikir kamu tidak akan menerimaku Dev, ternyata aku salah berpikir demikian, pertengkaran tadi siang hanya untuk menakut-nakutiku.
"PEGRI KALIAN!!" Bentak papa sekali lagi mengusir Devan dan Nuri.
"Dev, antar Nuri pulang sekarang biar aku dan kakakmu yang bicara sama papa dan mama." bisik Nana pada Devan.
Devan pun menggiring Nuri keluar untuk mengantarnya pulang sementara Hessel dan Nana berusaha membujuk orang tua mereka supaya mau memaafkan Devan dan Nuri.
"Pa, Ma, apa kalian tidak kasihan dengan janin yang sedang Nuri kandung, jika kalian mengusirnya dimana mereka akan tinggal, Devan belum bekerja Pa, bagaimana dia mampu menafkahi istri dan anaknya jika bukan kita yang membantu mereka." ucap Hessel berusaha membuat orang tuanya mengerti.
"Mereka melakukan perbuatan seperti itu tandanya mereka mampu untuk berumah tangga, papa tidak mau peduli lagi pada adikmu itu Hes." jawab papa. Mata papa menjelaskan segalanya dia sangat kecewa pada putra bungsunya.
"Hes, kami bisa menerima anak yang Nuri kandung tapi kami saat ini tidak bisa memaafkan perbuatan mereka berdua." kata mama, begitu juga mama jelas sangat kecewa pada Devan.
"Benar yang mama bilang, mereka harus segera menikah atau aib ini akan tersebar ke teman-teman papa, tapi setelah menikah mereka harus pergi dari rumah ini, papa tidak mau ada anak pembawa aib di rumah ini." ujar papa.
Hessel dan Nana tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka sama-sama anak yang patuh pada orang tua sehingga tidak bisa membantu banyak untuk Devan dan Nuri. Keputusan papa dan mama sudah membuat mereka sedikit lega setidaknya papa dan mama mau menikahkan kedua bocah itu dan masih mau menerima janin tak berdosa itu.
"Semua ini salahku Na, aku gagal menjaga amanah papa dan mama." kata Hessel setelah orang tuanya pergi dari ruang keluarga.
"Mas, ini bukan salahmu, aku tau betul bagaimana kamu bekerja keras untuk menjaga Devan, tapi benar kata papa beginilah akibatnya jika seorang anak selalu melawan kehendak orang tuanya mas, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri mas."
Nana memeluk Hessel, Hessel membalas pelukkan itu.
"Terima kasih Na, kamu sudah mendukungku, menemaniku di setiap situasi, aku mencintaiu Na." ucap Hessel sontak Nana tercengang di dalam pelukkan Hessel.
Aku sudah seharusnya bersama denganmu mas karna aku memang pantas untukmu, aku bahkan lebih mencintai dirimu, mas.
Sejak awal pernikahan sampai sekarang, ini kali pertamanya suaminya mengatakan cinta walaupun Nana tau Hessel menyayangi dirinya. Setelah sekian lama akhirnya Nana bisa mendengar langsung kata cinta dari mulut Hessel.