MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
MANJA



Mobil melaju memasuki pekarangan rumah, seorang penjaga langsung membukakan gerbang agar tuan rumah tersebut bisa masuk. Hessel memarkir mobilnya di depan rumah tanpa memasukkannya ke garasi.


"Sebentar Na, aku turun dulu." ucap Hessel sembari turun untuk membukakan istrinya pintu dan membantunya keluar dari dalam mobil.


"Pelan-pelan Na." sambil membantu istrinya bangkit.


"Makasih mas, udah Nana bisa jalan sendiri kok mas gak perlu diiringi." ucap Nana saat suaminya hendak menggendongnya, tapi Hessel tidak menggubrisnya dan masih saja menggendong sang istri. Nana tak bisa apa-apa selain mengalungkan tangannya agar berpegangan erat di pundak suaminya.


Saat masuk ke dalam rumah, pelayan sudah menyambut tuan dan nona mereka datang. Mereka melihat ada noda darah dibawah bokong Nana, tapi mereka tidak berani bertanya apa yang sudah terjadi.


"Bi, segera siapkan selimut tebal gelar diatas kasur." perintah Hessel.


"Baik tuan." angguk mereka, dan langsung berjalan menuju kamar tuan mereka.


Hessel pelan-pelan membaringkan istrinya diatas ranjang yang sudah dialasi selimut tebal. Dipakaikannya selimut untuk sang istri, lalu membelai kepalanya dan mengecup kening Nana.


"Aku ganti baju sebentar ya." ucap Hessel, Nana hanya membalasnya dengan anggukan dan ditemani oleh beberapa pelayannya.


Selesai berganti pakaian Hessel kembali menemani istrinya diatas ranjang.


"Bibi bantu saya ganti baju." lirih Nana pada pelayannya.


"Biar saya aja bi yang mengganti bajunya." timpal Hessel.


"Mas..." bantah Nana lembut karna malu.


"Nana, kalau kamu perlu apa-apa bilang saja padaku, aku akan membantu dan mengurus kamu." kata Hessel, Nana tersenyum menatap lembut suaminya yang begitu perhatian padanya.


"Bi, tolong ambilkan bajunya beserta dalamannya di almari." perintah Hessel dan segera dikerjakan oleh pelayannya.


"Ini tuan baju nona." kata pelayan sembari mengunjukkan pakaian Nana pada Hessel.


"Makasih bi, bibi boleh keluar sekarang." kata Hessel.


Setelah pelayannya keluar, Nana mencoba turun dari tempat tidur untuk berganti pakaian di kamar mandi.


"Nana ganti di sini saja."


kata Hessel sembari menahan istrinya.


"Lebih baik di kamar mandi mas baju Nana kan kotor harus segera di cuci, biarkan Nana mencucinya mas." ucap Nana.


"Hei siapa yang menyuruhmu mencuci pakaian, pelayan di rumah ini yang akan mencucinya."


"Tapi mas baju ini terkena darah, alangkah lebih baik Nana mencucinya sendiri."


"Ya sudah begini saja biar aku yang mencuci pakaianmu Na."


"Ja-jangan mas, mas sembarangan aja kalau bicara."


"Aku serius Na, bukankah aku suamimu? aku bertanggung jawab mengerjakan itu semua."


"Iya Nana tau mas bertanggung jawab tapi Nana bisa kok mencucinya sendiri."


"Baiklah kalau kamu sudah sembuh silakan, tapi sekarang kamu masih sakit aku tidak mau terjadi apa-apa pada anakku kalau kamu masih ngotot buat kerja, hanya itu aku khawatir pada buah hatiku yang ada di dalam perutmu ini." sambil mengelus perut istrinya, sebenarnya Hessel sudah sering melarang istrinya mencuci hanya saja Nana yang sudah terbiasa hidup sederhana tidak bisa dibantah, namun saat istrinya sakit Hessel menegaskan perintahnya.


Tiba-tiba Nana merasa bagai terbang di udara saat Hessel menggendongnya tiba-tiba dan membawanya ke kamar mandi.


"Astaga mas padahal Nana udah bisa jalan sendiri, mas bilang pada anak kita kalau Nana ini manja tapi kenyataannya mas yang memanjakan Nana." gerutu Nana di dalam gendongan Hessel sementara Hessel tersenyum dan tetap fokus menuju kamar mandi.


Didudukkannya dalam ke dalam bath-up, Nana masih tercengang sambil mengisyaratkan agar Hessel keluar karna dia mau mandi. Namun, Hessel tetap diam sambil menatap istrinya.


"Mas, keluar." pekik Nana sedikit kesal.


"Kenapa mengusirku bukankah aku akan menemanimu di sini?"


"Ya sudah baiklah mas, bantu Nana lepasin kancing belakang ini." Nana berbalik membelakangi suaminya dan menunjuk kancing dress yang dipakai supaya Hessel melepasnya karna dia kesulitan menggapainya.


Hessel pun melepas kancingnya, Nana hanya memintanya melepas kancing tapi Hessel malah melucuti dress itu dan sekarang Nana jadi malu hanya memakai dalaman saja, walau Hessel sudah sering melihatnya tapi Nana tetap malu dan deg degan.


"Tenanglah Na, aku tidak akan melakukannya, aku hanya ingin melihat seberapa parah luka yang ada di sel*angkanganmu biar aku mudah mengolisinya salep, dan aku ingin memastikan apakah pendarahannya masih mengalir atau sudah berhenti." kata Hessel sambil menundukkan kepalanya agar bisa melihat bagian paling intim itu.


"Jangan mas, Nana malu." Nana benar-benar tidak tahan sehingga dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat suaminya pelan-pelan juga melepas cd yang dipakainya.


"Astaga mas Hessel aku merasa seperti sedang diperkosa jin." batin Nana sangat malu.


Hessel mengangkat kedua kaki Nana dan menekuknya agar mudah melihat bagian paling intim itu.


"Syukurlah pendarahannya sudah berhenti Na." Hessel merasa lega sambil disapunya dengan air bagian intim itu.


"Ahkkk... perih mas." rintih Nana saat suaminya menyentuh anunya.


"Maaf Na, tapi ini memar dan merah-merah pantas saja kamu ke sakitan sampai sulit berjalan." jelas Hessel setelah dia membersihkan noda darah dan terlihat jelas di tepi sel*ngkangan Nana terdapat luka memar.


"Seberapa kuat dia mendorong kamu Na, bisa-bisanya dia mencelakai istriku sampai seperti ini." gerutu Hessel tidak habis pikir.


"Sangat kuat mas sampai membuatku terpental, Nana gak tau kalau Nana hamil jika Nana tau lebih awal pasti Nana akan menghindari dia dan tidak akan jadi seperti ini." sesal Nana, Hessel sangat geram mendengarnya.


"Aduh mas perih banget." Nana semakin merengek ketika suaminya itu mencuci area paling intim itu menggunakan sabun khusus.


"Tahan ya Na, bismillah." Hessel pelan-pelan menyapukan tangannya dan membersihkan anu istrinya sementara Nana menahan malu sekaligus menahan rasa perih.


"Auh, perih banget mas." lagi-lagi merengek.


"Tidak apa-apa nanti selesai mandi kita olesi salep yang dokter berikan."


"Iya mas, Nana mau keramas juga." ucap Nana setelah suaminya selesai mencuci anunya sampai bersih.


"Tunggu sebentar ya, aku ambil handuknya dulu." kata Hessel sambil berjalan untuk mengambil handuk yang tergantung di muka pintu.


Lalu Hessel mengeringkan rambut dan tubuh bugil istrinya dengan handuk, dan terakhir dia membawa Nana duduk di atas ranjang.


"Buka handukmu Na." ucapnya tiba-tiba.


"Mau ngapain lagi mas, Nana kan sudah selesai mandi." bantah Nana.


"Hei jangan cemas gitu mukanya, aku cuma mau mengoleskan salep ini ke itu kamu."


Mau tidak mau Nana akhirnya menuruti suaminya, karna mulai sekarang suaminya itu tidak akan mendengar alasan apapun lagi dari Nana jadi percuma saja Nana mengelak dan menolak.


"Apa mungkin kau mulai mencintaiku, atau kau hanya merasa kasihan padaku yang membuatmu melakukan semua ini?" batin Nana diam-diam memperhatikan suaminya yang sangat perhatian padanya. Nana kualahan menahan air matanya tapi dengan cepat dia menghapusnya sebelum Hessel melihatnya menangis.


Selesai mengobati istrinya, Hessel membantu Nana mengenakan dress selutut karna Nana memang suka memakai dress dibanding menggunakan celana.


"Sini Na, aku akan menyisir rambutmu." kata Hessel dengan sisir yang di pegangnya.


"Udahlah mas, Nana bisa kok menyisir rambut sendiri." Nana mengambil sisir dari tangan suaminya dan mulai merapikan rambutnya.


"Apa kita perlu mengabari orang tua kita sekarang? dan memberitahu bahwa kamu sedang hamil." tanya Hessel.


"Hm, terserah mas saja." Nana tersenyum.


"Nanti malam kita bicara pada mereka." sambil mengelus pipi Nana.


"Aku ke bawah sebentar ya, mau ambil makan siang buat kamu."


"Kenapa cuma Nana, mas juga harus makan."


"Iya maksudku kita makan sama-sama." Hessel tersenyum dan mengelus pucuk kepala istrinya.


"Mulai sekarang pola makan kamu harus selalu diperhatikan, kamu gak boleh makan asal-asalan lagi, aku yang akan menentukan makanan apa saja yang boleh dikonsumsi ibu hamil."


"Mas terlalu berlebihan makanan aja harus ditentukan, padahal Nana baik-baik aja kalau bukan karna terjatuh Nana pasti sehat-sehat aja." protes Nana pada suaminya.


"Itu harus Nana, tidak ada suami yang membiarkan istri dan calon buah hatinya makan sembarangan, setiap suami pasti ingin memastikan mereka tetap sehat." kata Hessel pada istrinya, membuat Nana terharu dan hanya bisa mengangguk.


"Janji ya jangan makan asal-asalan lagi, kamu harus menjaga dirimu dan calon buah hati kita baik-baik." Nana mengangguk, lalu Hessel mencium kening istrinya sebelum da pergi turun ke lantai dasar.


Hessel menghampiri beberapa pelayannya yang sedang memasak di dapur dan menata santapan makan siang di meja makan.


"Tuan, makan siangnya sudah siap." kata salah satu pelayan yang menyadari kedatangan Hessel, dan beberapa lainnya ikut membungkuk memberi rasa hormat dibalas senyuman oleh Hessel, lalu Hessel melihat menu makan siang diatas meja.


"Bibi, saya mau menu makannya ditambah jangan terlalu pedas, berminyak, dan asem."


"Kenapa tuan?" tanya mereka heran.


"Mulai sekarang makanan yang dimakan oleh Nana harus benar-benar diperhatikan gizinya agar seimbang, sediakan juga buah-buahan segar setiap hari saya tidak mau ada buah-buahan yang dimalamkan." kata Hessel menjelaskan.


"Ada apa dengan nona tuan, apa nona sakit?"


Hessel tersenyum, dia sedikit canggung untuk memberitahu pelayannya.


"Anu bi, dokter bilang istri saya sedang hamil." jawab Hessel memberanikan diri.


"Itulah sebabnya saya mengubah menu makan sekarang bi, saya harap bibi bisa bekerja sama dengan saya untuk menjaga istri dan calon buah hati saya." pinta Hessel.


"Siap tuan."


"Kalian tenang saja masalah uang belanja akan saya lebihkan, dan sisanya bisa kalian tabung." kata Hessel agar pelayannya semakin bersemangat.


Jelas saja pelayan bersemangat selain mendapat uang tambahan, mereka juga sudah tidak sabar menunggu kelahiran tuan muda dari rumah ini yang akan membuat rumah seperti tanpa penghuni ini meriah lagi.


Nana yang merasa bosan berada di kamar dan sudah terlalu lama menunggu suaminya, akhirnya memutuskan untuk turun ke bawah dengan berhati-hati menuruni anak tangga akhirnya Nana sampai di dapur tak ada yang menyadari kedatangan Nana.


Nana melihat suaminya sedang mengiris bawang, sepertinya Hessel sedang membantu pelayannya memasak secara Hessel juga pandai memasak.


Tiba-tiba dipeluknya suaminya dari belakang membuat Hessel sedikit terkejut.


"Mas bilang hanya mengambil makanan, tapi kok lama sekali?" rengek Nana begitu manja sambil memeluk pinggang Hessel dan menempelkan wajahnya dibahu Hessel.


Hessel menatap lekat tangan Nana yang melingkar diatas perutnya, digenggamnya tangan itu sambil menghadap istrinya dan mengecup kening istrinya dengan mesra lalu melingkarkan tangannya di pinggang Nana sambil bertatapan.


"Aku kan sudah bilang tetaplah berada di kamar kalau kau jatuh dari tangga gimana, bahayakan?" kata Hessel pura-pura marah.


"Habisnya mas lama sih." gerutu Nana cemberut.


"Aku baru aja mau masak, tapi kau malah menggodaku seperti ini." kata Hessel sambil mengecup bibir istrinya tak peduli dihadapan pelayan. Nana menggeliat kesal.


"Kangen ya?" bisik Hessel menggodanya.


"Gak." bantah Nana.


"Lalu?" tanya Hessel sambil mengedip-ngedipkan matanya.


"Rindu, pengen peluk mas aja." kata Nana akhirnya mengakui walau terlihat malu-malu.


"Hah kau ini sangat menggemaskan, bi lihatlah istriku sudah bisa ngegombal." kata Hessel sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya dan tubuh Nana yang saling berpelukkan, pelayannya menoleh dan senyum secara sembunyi melihat majikannya yang seakan tak ada rasa malu itu bermesraan dihadapan pelayan.


Bersambung...


dulu ya guys😊