MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
DICULIK



Hessel keluar dari kamar mandi, didapatinya istrinya sudah selesai berkemas. Lalu, dia perlahan mendekat ke arah istrinya, dipeluknya dengan lembut istrinya dari belakang. Nana sedikit terkejut, dia tersenyum menunduk melihat tangan suaminya melingkar di atas perutnya. Nana memutar badannya agar bisa melihat wajah suaminya dengan jelas.


Kemudian Nana melepas pelukkan itu, dia berjalan ke arah almari mengambil setelan jass yang akan dikenakan suaminya untuk ke kantor.


"Kamu tidak perlu melakukan ini sayang, aku bisa mengambil setelan sendiri." ucap Hessel sambil tersenyum menyeringai dipagi hari.


"Nana ingin hari ini mas memakai setelan kantor warna blue sky dan kemeja putih." Sahut Nana sambil memakaikan kemeja pada tubuh suaminya juga mengancingkannya. Lalu, Nana mengenakan jass beserta dasi polkadot yang melengkapi penampilan Hessel dihari pertamanya masuk kantor setelah beberapa bulan Hessel vakum dari kantor.


Hessel sedari tadi hanya menatap istrinya, senang dan merasa diperhatikan itulah yang Hessel rasakan saat istrinya sudah mendapat keberanian untuk membantunya dalam mengatur penampilan.


Tiba-tiba Hessel menarik pinggang Nana, lalu mengalungkan tangannya ke leher sang istri. Dibelainya wajah Nana dengan begitu mesra, diiringi dengan sedikit cumbuan di wajahnya.


Datanglah Devan yang main masuk aja ke kamar kakaknya. Devan berteriak-teriak tidak jelas memanggil-manggil nama Nana. Hessel merasa risih mendengar teriakkan adiknya itu, dan dicubitnya pelan si Devan.


"Nana, ada temanmu di bawah." ucap Devan kasar lalu langsung keluar.


"Mas, Arin sudah datang Nana turun ke bawah ya."


"Iya Na, nanti aku menyusul."


Nana turun ke lantai dasar dilihatnya Arin duduk di ruang tamu, Nana sedikit lega ternyata adik iparnya bisa menghargai temannya, setelah Nana pikir Devan tidak akan menyuruh Arin menunggu di dalam rumah, tapi ternyata Nana salah sangka.


"Sudah lama Rin?" tanya Nana sedikit membuat Arin kaget.


"Nana, baru aja aku sampai." kata Arin langsung bangkit dari duduknya begitu melihat Nana.


Mata Arin membulat sempurna saat melihat temannya itu benar-benar sudah tinggal di rumah megah, Arin masih sulit percaya bahwa Nana sudah menjadi istri pak Hessel. Rasa penasaran dalam benak Arin tentang bagaimana Nana bisa menikah dengan pak Hessel terus mengambang dipikirannya.


"Arin duduklah jangan malu-malu." mempersilakan temannya yang tampak canggung agar duduk kembali, Arin dengan malu-malu menurut begitu saja.


Devan yang sudah berseragam lengkap datang menghampiri Nana.


"Heh Nana, aku pamit ke sekolah dulu." kata Devan yang tiba-tiba ingin menyalimi tangan Nana, entah apa gerangan anak ketus itu bersikap baik, apa mungkin dia hanya mencari muka didepan orang lain agar citranya terkesan baik, ah tapi mana mungkin anak seusia Devan peduli akan citra diri.


"Dia siapa Na, kok ngomongnya ketus banget sama kamu?" tanya Arin setelah Devan pergi.


"Itu adik iparku Rin, namanya Devan, dia memang seperti itu dari awal aku datang ke rumah ini dia sudah tidak menyukaiku, aku tidak tau apa yang membuatnya benci kepadaku tapi aku biarkan saja dia seperti itu." kata Nana tanpa terbebani.


"Kamu yang sabar ya Na." seketika suasan hening Nana hanya manggut-manggut memikirkan bahan yang ingin diperbincangkan.


Arin melamun sempat berpikir, apakah Nana masih sudi mempunyai teman miskin seperti dirinya karna melihat kehidupan Nana yang sekarang sudah bergelimang kemewahan.


Seorang pelayan datang menghampiri mereka sambil menawarkan minuman pada Arin.


"Kau mau minum apa Rin, jangan malu-malu." kata Nana mengingatkan Arin agar bersikaplah biasa saja tanpa harus berprasangka yang aneh-aneh.


"Nana kau mau minum apa?" tanya Arin balik, Nana malah tertawa kecil.


"Aku minum susu ibu hamil, apa kamu juga mau mencobanya Rin?" jawab Nana sedikit menggoda Arin yang dibalas gelengan oleh Arin, Arin bingung saat membaca daftar menu minuman yang disuguhkan oleh pelayan.


"Na, apa aku harus memilih salah satu yang ada didaftar ini, seriuskan rumah ini punya daftar minuman untuk tamu seperti di cafe-cafe?" tanya Arin hampir tidak percaya.


"Iya Rin dulu aku awal-awal juga bingung, tapi ini gratis Rin kau tinggal pilih saja salah satu." jawab Nana menjelaskan tapi Arin masih bingung harus meminum apa begitu banyak minuman yang membuatnya tergiur.


"Bibi, buatkan susu coklat panas aja buat temanku dan cemilannya stick kentang." hingga akhirnya Nana yang turun tangan.


Arin memandang Nana penuh haru, pikirannya telah salah karna sempat mengira bahwa Nana akan berubah setelah menikah dengan dosen.


"Na, kamu masih mengingat semua apa yang aku suka?"


"Tentu saja Rin, setiap kita mampir ke cafe selalu itu yang kita pesan." Nana menjawab sambil tersenyum.


"Kenapa wajahmu seperti orang bingung?" tanya Nana.


"Maaf Na, tadinya aku sempat berpikir kamu akan melupakanku dan tidak mau lagi berteman denganku." kata Arin dengan nada ragu-ragu.


Begitu mendengar pernyataan yang mengejutkan dari Arin, Nana langsung memeluk Arin agar Arin tidak berpikir buruk tentangnya lagi.


"Kita berteman sedari SMP, kamu sudah seperti saudariku bagaimana kamu bisa berpikir seperti itu Rin, justru aku bangga mempunyai sahabat sepertimu hanya kamu satu-satunya sahabat yang selalu bersamaku, kamu juga siap membelaku disaat aku terkena masalah." kata Nana sambil meyakinkan sahabatnya.


"Aku pikir setelah kau menjadi istri orang kaya kau tidak mau lagi berteman denganku Na." lirih Arin sedikit terisak.


"Kau salah berpikir seperti itu Rin, justru sekarang aku senang karna dia sudah mengizinkan aku untuk mengajakmu kemari, jadi kita bisa sering bertemu Rin tidak perlu bertemu saat di kampus aja."


"Um, pak dosen baik banget ya Na, makasih juga kau tidak melupakanku Na."


"Iya Arin udah jangan menangis, ngomong-ngomong pak dosen baik ya dia memang sangat baik." kata Nana.


"Apa kamu benar-benar hamil anak pak dosen, Na?" tanya Arin memastikan tanpa seizin Nana Arin menatap perut Nana dengan tangannya seolah sedang memastikan kalau Nana sedang hamil.


Nana merasa geli saat temannya itu meraba perutnya.


"Udah Rin, udah aku geli." kata Nana dengan cepat Arin meminta maaf.


"Na, kok perutmu gak ada pergerakan sama sekali, kau sungguhan hamil atau bagaimana?" tanya Arin sangat polos membuat Nana cekikian.


"Ya ampun Arin usia kandunganku baru memasuki 5 minggu mana ada bayinya gerak-gerak diusia semuda itu." jawab Nana sambil menertawakan Arin.


"Hehe, jadi kau memang hamil anak pak dosen Na? pak dosen sungguh-sungguh menghamilimu? kapan itu terjadi Na kapan pak dosen mulai menyukaimu?" lagi-lagi Nana terbahak-bahak tertawa.


"Sudah Rin jangan bahas itu aku malu sumpah, rasanya kupingku seperti ada yang mengklitik saat mendengarmu bicara seperti itu." ucap Nana sambil mengunyah stick kentang.


"Sorry Na, apa pak dosen memperlakukan kamu dengan baikkan Na? apa pak dosen pernah kasar padamu selama kalian menikah?"


"Ehem!!!" suara deheman sontak membuat Arin dan Nana menoleh ke arah sumber suara.


Tampaklah Hessel sambil menenteng bag packnya berjalan menghampiri Nana, tanpa canggung dia duduk di samping Nana. Arin tidak mau mengganggu sehingga dia berpindah tempat duduk di depan Nana dan Hessel.


"Pagi pak." sapa Arin.


"Pagi juga Rin." balas Hessel dengan ramah.


"Silakan diminum Rin." ujar Hessel mempersilakan Arin, kemudian berpaling merangkul istrinya.


"Sayang, kamu juga harus minum susunya jangan malas buat minum susu." kata Hessel sambil meraih minuman di atas meja dan mengunjukkannya untuk Nana, dengan senang hati sambil tersenyum Nana menerima minuman yang disodorkan oleh suaminya lalu meminumnya perlahan.


Arin juga ikut senang melihat kehangatan rumah tangga sahabatnya, Arin bisa bernafas lega saat melihat sahabatnya bisa berbahagia dengan laki-laki yang sahabatnya cintai.


"Sayang, kau dan temanmu berangkat ke kampus diantar supir ya, jangan jalan kaki atau naik angkot lagi aku gak mau kau kecapean kandunganmu itu masih sangat lemah." ucap Hessel sambil membelai pipi dan rambut istrinya dengan penuh perhatian.


"Iya mas, kan udah mas ingatkan tadi malam." jawab Nana.


Kedua sahabat itu kompak mengangguk.


"Kalau gitu Nana berangkat kuliah dulu ya, mas di kantor kerjanya yang semangat." kata Nana berpamitan sambil menyalimi tangan kanan suaminya.


Sebelum Nana keluar rumah Hessel tak lupa mengecup kening Nana terlebih dulu, dia ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia sangat mencintai istrinya.


"Sudah mas, malu ada Arin." Dengan cepat Nana berpaling dan Arin juga ikut memalingkan badan, tapi begitu Arin menghadap kebelakang Nana malah berbalik menghadap suaminya dengan cepat Nana memberanikan diri mencium pipi suaminya secara sekilas hingga tak disadari oleh Arin.


"Hati-hati sayang." kata Hessel saat Nana sudah masuk ke dalam mobil, dan Hessel pun ikut masuk ke dalam mobilnya untuk berangkat ke kantor.


Di Kampus


Saat Nana bersama Arin menyusuri lorong kampus menuju ke kelasnya yang tadinya riuh tiba-tiba hening dan ada beberapa orang yang mungkin pernah berbuat salah pada Nana terlihat menundukkan kepala tidak berani menyapa Nana yang lewat di depan mereka. Nana merasa agak kaku meski sebelumnya dia lewat sering dibully tapi saat melihat orang-orang tak menyapanya itu juga membuat Nana tidak nyaman.


"Rin, mereka kok pada diam ya?" kata Nana memelankan suaranya .


"Udah Na, kita langsung ke kelas aja jangan hiruakan mereka." Arin menarik tangan Nana dan mempercepat langkah kaki mereka.


Begitu Nana melangkah masuk ke kelas, teman-teman sekelas menatap Nana dengan tatapan penuh kebencian, Nana dan Arin tidak menghiraukan mereka tapi mereka mencari gara-gara dengan menghujat Nana.


"Kamu senang sekarang, Jessi dan bu Laras di keluarkan dari kampus?" kata salah satu mahasiswi.


"Kenapa ya pak Hessel lebih ngebelain stupid ini dari pada bu Laras, heran sekali."


"Iya padahal Jessi juga tidak sengaja mendorongnya, kasihan sekali Jessi."


"Kalian bisa diam gak sih!" pekik Arin geram melihat temannya dihujat. Arin balik menatap mereka dengan tajam.


"Asal kalian tau Nana adalah istri pak Hessel, kalian akan menerima akibatnya jika kalian masih berani mengganggu Nana." ucap Arin yang malah ditertawakan.


"Sinting kamu ya, emangnya kamu pikir kami bakal percaya, mimpi kali berharap jadi istri pak Hessel, bu Laras aja ditolak apa lagi dia." mereka terus memperolok dan menertawakan Nana, mereka belum tau saja kejelasan yang sebenarnya seperti apa karna mereka masih mempercayai gosip yang simpang siur mengenai Nana.


"Sudah Rin biarkan saja, kita keluar aja dari kelas aku pusing Rin mendengar mereka." bisik Nana.


Setelah keluar dari kelas Nana bisa bernafas lega,


Nana dan Arin mencari tempat yang agak sepi, mereka pergi ke lapangan olahraga dimana ada Andrean. Saat melihat Andrean di sana Nana langsung putar balik tapi Andrean mengejarnya.


"Nana, tunggu." kata Andrean langsung menarik tangan Nana sehingga langkah Nana terhenti.


"Ada apa Dre?" cetus Nana.


"Kenapa kamu menghindar dariku?" tanya Andrean, Andrean tidak tau apa-apa tentang berita yang beredar di kampus.


"Aku tidak menghindar Dre."


"Lalu kenapa kamu pergi saat melihatku di lapangan, kamu kenapa Na?"


"Dre, kau melihat Jessi tidak?" tanya Nana kebiasaan mengalihkan pembicaraan.


"Jessi, kenapa apa dia tidak masuk kampus?"


"Aku serius Dre, biasanya Jessi suka menghampiri kamu, apa kau melihatnya?"


"Kalian kan sekelas kenapa kamu tiba-tiba menanyakan soal Jessi padaku, aa apa kau mulai cemburu?"


"Bu-bukan Dre, aku tidak melihatnya dari tadi."


"Jessi ada kok, tadi aku melihatnya di parkiran tapi kelihatannya wajahnya agak masam gitu, gak ada gairah tidak seperti biasanya, aku juga tidak tau dia kenapa?" kata Andrean


"Huh, syukurlah Jessi masih masuk, itu berarti mas Hessel menepati janji padaku tapi Andrean kasihan juga." ucap Nana dalam hati.


"Na, kamu melamun ada apa?" tanya Andrean.


"Ah, tidaka apa-apa Dre."


"Gimana kalau aku antar kamu ke kelasmu."


"Jangan Dre, aku sama Arin." Nana mengelak karna dia tidak ingin Andrean mendengar gosip-gosip miring tentangnya sementara Andrean mempererat tangannya mencengram tangan Nana yang membuat Nana mulai merasakan sakit.


Di Kantor


"Pak, ada berita buruk." ujar salah satu karyawan.


Di pagi hari Hessel harus mempersiapkan mentalnya, ini hari pertama dia kembali memimpin perusahaan tapi harus mendengar berita yang tidak sedap.


"Pak, 2 investor asing kita memutuskan untuk berhenti menanam saham di perusahaan kita dan berpindah ke perusahaan sebelah perusahaan Sun Glow Group, dengan adanya kejadian ini kita mengalami banyak kerugiaan investor yang sudah bertahun-tahun setia pada perusahaan kita dengan mudahnya berpaling setelah mendapat banyak diskon dari perusahaan sebelah." jelas sekretaris.


"Langsung saja pada intinya!" perinta Hessel dengan penuh wibawa.


"Mereka bermain curang pak sepertinya ada unsur kesengajaan untuk membuat perusahaan kita mengalami kerugian dengan menetapkan harga penjualan dibawah standar pada investor, sekarang kami tidak bisa berbuat apa-apa kami berharap bapak punya solusi untuk mengatasi masalah ini tapi tidak ada salahnya jika kita menurunkan harga jual agar kita bisa lebih mudah mendapatkan investor dan menarik pelanggan, pak."


"Kita tingkatkan kualitas barang yang di produksi, utamakan gunakan bahan-bahan yang berkualitas berdasarkan standar, keamanan bahan dalam pembuatan kosmetik harus selalu diperhatikan, jangan mencampur bahan-bahan kimia yang terlarang, jika bahan kimia diperlukan maka gunakan menurut standar yang ada, kita tidak perlu takut saat investor berpindah tangan biarkan mereka mencoba sesuatu yang baru setelah mereka mencobanya barulah mereka akan membandingkan produk yang satu dengan yang lain, kita juga tidak perlu mempertimbangkan harga jual, perusahaan kita selalu konsisten dalam menetapkan harga, harga jual selalu sepadan dengan kualitas dan keamanan barang sehingga kita tidak akan mendengar keluhan dari customer, selalu ingatlah customer yang pintar akan selalu bijak dalam memilih barang apa lagi seperti kosmetik dan alat kecantikan, jadi kita tidak perlu takut akan kekurangan pembeli." jawab Hessel menjelaskan secara rinci, Hessel selalu tanggap dalam menyikapi masalah itulah yang membuat pegawai-pegawainya sangat senang menyambut Hessel.


"Terima kasih penjelasannya pak." kata sekretaris Yoga dibalas anggukan oleh Hessel.


"Pak, boleh saya mengajukan pendapat." kata salah satu staf langsung dipersilakan oleh Hessel.


"Pak, jika kita melibatkan seorang model untuk mengiklankan beberapa kosmetik, bagaimana pendapat bapak?"


"Model, tapi perusahaan kita sudah memiliki beberapa model handal." kata Hessel.


"Menurut saya kita perlu model yang lebih fresh, maksud saya begini pak, kita perlu model wanita yang lebih muda misalnya anak sekolahan atau kuliahan, jadi nanti saat iklan kita tampil di berbagai media anak-anak muda bisa dengan mudah tertarik saat melihat model yang tampil sesusia mereka."


"Ok, saran yang bagus saya sangat setuju, segera edarkan lowongan pencarian model iklan."


Tiba-tiba ditengah perbincangan Hessel dengan beberapa bawahannya, Hessel mendapat panggilan telepon dari Arin.


"Pak, Nana di culik, bapak segeralah kemari." kata Arin terdengar terengah-engah, Hessel sontak kaget mendengarnya.


"Ok, saya segera ke sana!" kata Hessel langsung menutup telepon.


Hessel berusaha tenang di depan karyawannya.


"Ada apa pak?" tanya salah satu staf saat melihat wajah Hessel merah padam.


"Saya ada urusan penting, saya permisi." kata Hessel langsung saja pergi, langkahnya tergesa-gesa menyusuri lobby kantor, semua mata menatapnya keheranan.