
Hessel keluar dari kamar mandi karna terlalu lama menunggu Nana, dia masih bertelanjang dada mendekati istrinya yang tampak cemas bersandar di muka pintu.
"Hei ada apa denganmu?" tanya Hessel masih belum tau apa yang sedang Nana alami.
"Shuttt." Nana mengunci bibir suaminya dengan jari telunjuknya membuat Hessel kebingungan.
"Mas, pak Henry."
"Ada apa dengannya?"
"Pak Henry ada diluar mas, dia ada di depan kamar." jelas Nana panik.
Hessel yang mendengar Henry ada di depan kamar sedikit terkejut, tapi dia tidak masalah mungkin sudah waktunya temannya itu tau. Hanya saja dia merasa tidak suka mungkin Henry sudah melihat penampilan istrinya yang hanya memakai handuk pendek.
"Kau senang dia melihatmu berpenampilan seperti ini?" cetus Hessel pura-pura kesal, Nana pun sadar bahwa dia hanya berbalutkan handuk.
"Nana gak tau mas kalau pak Henry akan datang." jawab Nana dengan tampang kesal.
"Kau pakai bajumu, biar aku yang menemuinya." perintah Hessel menyuruh istrinya.
"Tapi mas bagaimana jika pak Henry mencurigai kita?" tanya Nana gelisah.
Diraihnya tengkuk kepala Nana, lalu diusapnya pipi Nana dengan lembut.
"Akan aku urus dia, kau tutupi dulu tubuhmu gunakan pakaian yang sopan walau bagaimanapun dia itu pria asing, hanya aku yang boleh melihatmu seperti ini." ucap Hessel yang langsung dimengerti oleh Nana.
Henry melongo terbelalak kaget melihat temannya itu keluar dari kamar dengan bertelanjang dada, dia seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan, tadi Nana hanya memakai handuk sekarang temannya bertelanjang dada, ahhh pikiran Henry bercampuraduk.
Benarkah temannya menikahi mahasiswi bernama Nana secara Henry tau Hessel tidak pernah menyukai Nana, atau mungkin Hessel hanya bermain-main saja dengan Nana, apa benar Hessel juga termasuk kedalam kategori pria hidung belang atau om om yang suka pada daun muda seperti Nana, apa benar Nana menjadi santapan om om, rupanya gosip-gosip di kampus mulai mempengaruhi Henry walaupun begitu Henry segera membuang jauh-jauh pikiran jahatnya itu dan berusaha tenang.
"Katakan, tumben kau kemari?" tanya Hessel.
"Rektor meminta data magang tahun lalu." jawab Henry sambil berusaha tenang.
"Oh itu, rektor sudah memberitahuku." ucap Hessel tanpa ditanggapi oleh Henry karna Henry melongo lagi melihat Hessel.
"Hen, serius amat melihatku sampai segitunya, aku makin tampan ya, apa aku masih terlihat seperti abg, apa tubuhku masih kekar seperti dulu, aku rasa otot-otot perut dan tanganku mulai mengendur hampir 5 bulan kita tidak pernah ke gym lagi, kapan-kapan kita ke gym." celetuk Hessel, sedikit pun tidak ada tampang cemas diwajah Hessel, dia tenang meski sudah membuat Henry menatapnya penuh curiga.
"Benar-benar tidak waras." ucap Henry menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan yang terfokus pada tubuh Hessel.
"Kau apakan gadis lugu itu Hes, tega sekali dirimu telah kau renggut kesuciannya, dia hanya gadis polos Hes jika tidak suka padanya jangan kau permainkan dia seperti itu, sungguh aku kasihan pada Nana kau sebut dia istrimu kenyataannya kau hanya membeli Nana, apa orang tuamu tau kau seperti ini?" kata Henry masih tidak habis pikir sambil mengusap dadanya sendiri, sedangkan Hessel diam sambil mendengarkan dan mencerna kata-kata Henry.
"Astaga kau bicara apa Hen, siapa yang aku permainkan hah?" tanya Hessel saat Henry berhenti nyerocos.
"Aku tau sebelumnya kau tidak seperti ini, tapi jangan hanya karna sakit hati dengan masalalumu, anak muridmu sendiri kau jadikan mainanmu, arghhh ini sulit dipercaya." ucap Henry lagi.
"Untuk apa aku melakukan semua itu, kau ini makanya berpikir yang jernih." sekali lagi Hessel menjawab yang membuat Henry berpikir dan kembali meyakinkan dirinya sendiri bahwa temannya itu tidak mungkin melakukan hal seperti yang dia pikirkan.
"Lalu gadis lugu itu, kenapa kau dan dia bisa berada dalam satu kamar, dan apa ini kau tidak memakai..." Henry berhenti bicara ketika Hessel malah cekikikan menertawakannya.
"Aku sudah terbiasa, setiap malam aku menidurinya." timpal Hessel tanpa ada rasa malu atau bersalah.
"Astaga, apa aku salah dengar?" Henry ternganga saking tak percaya.
"Kenapa, apa ada yang salah?" tanya Hessel santai sambil senyum-senyum karna melihat ekspresi temannya sangat lucu.
"Dengar Hen, dia itu istriku." sambung Hessel.
"Astaga, aku tidak percaya bagaimana dia menjadi istrimu?" kata Henry yang masih tak percaya dan merasa jengkel pada Hessel yang tak merasa bersalah.
Belum sempat Hessel menjawabnya, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka ternyata Nana keluar dari kamar, dia sudah rapi, rambutnya dikepang 2 membuatnya semakin imut dan menggemaskan.
"Pagi, pak Henry." sapa Nana.
"Pa-pagi." jawab Henry terbata-bata.
Nana mengembangkan senyuman ke Henry dan bokongnya langsung dicubit oleh Hessel membuat Nana menunduk, dia lupa suaminya tidak suka jika dia terlalu banyak senyum pada pria lain termasuk pada dosen Henry.
"Mas, Nana kebawah dulu perut Nana sudah lapar, nanti kalau mas turun sekalian ajak pak Henry sarapan, mari pak saya tinggal dulu." ucap Nana sembari pamit menjauh dari kedua laki-laki itu, menuruni tangga menuju ruang makan.
Henry tanpa berkedip memperhatikan Nana yang berjalan menuruni tangga, dia masih tidak percaya dengan apa yang barusan dilihatnya, Mas panggilan dari Nana untuk temannya itu terdengar sangat mesra bagi Henry, bagaimana orang yang membenci Nana bisa seakur ini saat di rumah, apa yang sebenarnya Hessel sembunyikan darinya, Henry mencoba mencari tau untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Jangan melihatnya seperti itu, ingat anak bini di rumah Hen." seru Hessel menyadarkan Henry, Henry pun langsung berbalik melihat temannya.
"Aku tidak salah dengarkan, sebenarnya apa yang kau rencanakan Hes, berhentilah memanfaatkan gadis polos itu."
"Dia istriku, Hen berapa kali aku harus mengatakannnya."
"Hah istri, bagaimana ini bisa terjadi?"
"Itu bisa saja terjadi, dia sungguh-sungguh istriku, sudah hampir genap 6 bulan pernikahan kami." jelas Hessel yang membuat Henry semakin berpikir keras antara percaya dan tidak percaya.
"Tidak mungkinlah kalian suami istri, kau kan sangat membenci Nana, pernikahan musuh dengan pengagumnya bagaimana mungkin, arghh kepalaku jadi nyut-nyut."
"Kalau kau tidak percaya, silakan tanyakan langsung padanya." tambah Hessel.
"Iya iya aku percaya walau seperti mimpi, lantas kenapa kau merahasiakan pernikahanmu?" jawab Henry sembari bertanya.
"Aku terpaksa merahasiakannya, malu aja dipaksa nikah sama daun muda, sedangkan kita udah berumur untung gak jamuran." jelas Hessel membuat Henry tertawa terbahak-bahak karna temannya punya rasa malu juga hanya karna menikahi daun muda, sementara Henry mengaku kalau dia malah berharap punya istri muda.
"Kalau kau malu punya istri muda seperti Nana, berikan saja padaku aku siap menikahinya, lumayankan punya 2 istri ahh halusinasiku mulai bermain sekarang." kata Henry memanas-manasi Hessel.
"Sial lho Hen, kalau dia mau sama kamu silakan." sahut Hessel memukul belakang Henry.
"Omong-omong kau cinta gak sama Nana?" tanya Henry.
"Bisa dibilang cinta, bisa dibilang tidak."
"Pasti cintakan, kau cintakan padanya, aku tau pasti karna kau sudah dikasih jatah akhirnya kau luluh padanya."
"Aaa manis sekali, aku jadi penasaran." kata Henry, Hessel tersenyum menyeringai.
"Bagaimana malam pertama kalian ceritakan sedikit saja, aku penasaran saat musuh dan pengagumnya menikah seperti apa malam pertamanya?" sambung Henry sembari menggoda Hessel.
Hessel langsung membuang muka, karna dia sadar pipinya memerah saat Henry menanyakan hal itu.
"Tidak ada malam pertama Hen, sudahlah berhenti bicara yang tidak-tidak." jawab Hessel membuat Henry pangling tak percaya bagaimana orang yang sudah menikah hampir setengah tahun tidak melakukannya.
"Ahhh apa kau sama sekali tidak tergoda pada gadis polos itu, bagaimana mungkin pria dan wanita berada dalam satu kamar, tidur di atas ranjang yang sama tidak menghabiskan malam panjang mereka, astaga jangan-jangan kau tidak punya hasrat bercinta." ledek Henry membuat Hessel kesal hingga kepala Henry dijitaknya.
"Bicaralah yang wajar Hen, bagaimana bisa aku menjawab pertanyaan yang memalukan seperti itu, lagipula aku ini masih normal." ketus Hessel kesal.
"Kau akan menjadi saingan terberat mahasiswa terpopuler di kampus, kira-kira kalau dia tau Nana itu istrimu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana murid dan dosen bersaing merebutkan satu wanita, yang ternyata itu istri dosennya." kata Henry maksudnya menjadi saingan terberat Andrean dalam menaklukkan cinta Nana. Hessel tak tanggung-tanggung dia geram mendengar kata bersaing, temannya ini benar-benar sudah membullinya habis-habisan.
"Dia bukan sainganku, Nana itu sudah aku beri hampir setiap malam mana mungkin dia berani meninggalkanku, kalau dia berani meninggalkanku itupun tidak akan terjadi." jawab Hessel yang ternyata ucapan Henry hanya untuk memancing Hessel agar Hessel mau berterus terang tentang pernikahannya.
"Nah kena kau, ngaku jugakan akhirnya, aku suka gayamu bro, diam-diam tapi menghanyutkan, hebat-hebat rajanya drama." ucap Henry tertawa terpingkal-pingkal saking lucunya saat berhasil menggoda Hessel.
"Ciih, memalukan." ketus Hessel membuang muka bersikap sok angkuh, tapi sebenarnya Hessel susah payah menahan tawa.
"Aku akan umumkan di kampus nanti, biar seisi kampus tau bahwa Nana tidak bertepuk sebelah tangan dan mereka tidak akan membully Nana lagi."
"Hahhh terserah kau saja, emang ada yang percaya padamu, gak ada kan." kata Hessel sambil menepuk pundak Henry diiringi senyumnya yang menyeringai, Henry mematung tak habis pikir.
"Turun yuk, ikut sarapan." sambung Hessel mengajak temannya itu untuk sarapan bersama tapi sebelum itu Hessel balik ke kamarnya sebentar untuk memakai bajunya.
Di ruangan makan Nana tengah membantu para pelayan menghidangkan makanan di atas meja. Setelah sarapan tertata rapi Nana melihat suaminya dan pak Henry memasuki ruang makan.
"Istrimu itu masih muda tapi sangat berpengalaman." celetuk Henry menggoda Hessel saat dia melihat Nana tampak rajin berberes di dapur meski ada pelayan. Hessel hanya tersenyum, istrinya memang seperti itu tidak selalu bergantung pada pelayan.
"Silakan duduk pak Henry, jangan sungkan-sungkan." ucap Nana sembari mempersilakan Henry untuk duduk. Henry pun duduk, begitu juga Hessel dia langsung duduk di samping Nana. Henry yang duduk berhadapan dengan mereka, masih meragukan kedekatan Hessel dan Nana yang berbanding 360° dengan apa yang dia lihat sewaktu di kampus.
"Kau Nana anak didik Hessel kan, atau kau kembarannya Nana?" tanya Henry membuka pembicaraan.
Nana sedikit melirik Hessel, Nana takut salah bicara jadi dia ingin Hessel yang menjelaskannya pada Henry, tapi Hessel mengisyaratkan agar Nana yang mengatakannya sendiri.
"Saya Nana, pak."
"Nana Daryanani murid yang paling Hessel benci itukan?" tanya lagi memastikan.
"Iya itu benar pak."
"Astaga, kau sungguh-sungguh menjadi istrinya dosen killer ini?" kata Henry sedikit meledek, Nana mengangguk da tersenyum malu-malu.
"Kau sengaja ya menjelek-jelekkan aku didepan istriku." sahut Hessel semakin jengkel.
"Nana lihatlah wajahnya merah padam, rahangnya mulai mengeras." ledek Henry lagi, Nana seketika langsung menoleh kesamping melihat wajah suaminya benar-benar lucu saat sedang kesal sehingga mereka berdua tertawa.
"Selera makanku hilang." cetus Hessel, Nana dan Henry bermain mata masih menertawakan Hessel.
tiba-tiba karna keasikkan tertawa,
huekkk... huekkk...
terdengar Nana mual-mual, dia pun langsung bangkit dan berlari ke kamar mandi. Henry menatap lekat Nana yang masih muntah-muntah seperti kemarin, lalu di alihkannya pandangannya ke arah Hessel yang ada di depannya.
"Istrimu kenapa?" tanya Henry.
"Dokter bilang dia sakit." jawab Hessel.
Kemudian Nana datang lagi dan kembali duduk di tempatnya, lalu dengan sigap Hessel menyodorkan segelas air putih untuk Nana.
"Pelan-pelan minumnya." kata Hessel sambil mengusap-usap belakang Nana agar Nana tidak tersedak.
"Kau hamil Na." ucap Henry tiba-tiba, membuat Hessel dan Nana terbelalak kaget.
"Heh jangan asal bicara kau Hen." ketus Hessel.
"Aku sudah berpengalaman Hes, saat istriku awal-awal hamil dia juga seperti itu." jelas Henry.
"Itu istrimu, lah istriku sudah dokter bilang dia sakit, tapi 3-7 hari lagi dokter minta untuk check-up ulang memastikan keluhannya yang Nana rasakan."
"Nah dokter memang seperti itu, dia baru berani memastikan saat usia kehamilan memasuki 4-5 mingguan, kau tanya saja istrimu dia sudah datang bulan atau belum, kadang wanita itu suka lupa kapan terakhir dia datang bulan." kata Henry lagi.
Hessel tak canggung-canggung langsung dikaitkannya sebelah tangannya kebahu Nana dan merangkulnya. Hessel senang jika memang istrinya hamil, tapi Nana malah takut hamil sebelum lulus kuliah.
"Kau tidak bohongkan Hen?" tanya Hessel memastikan.
Belum sempat Henry menjawab,
"Nana tidak hamil kok, Nana masih kuliah beberapa hari lagi ujian, Nana gak bisa hamil dalam melaksanakan ujian bagaimana kalau Nana di DO, apa mas mau tanggung jawab." ucap Nana yang rada-rada polos membuat Henry cekikikan.
"Hes, apa kau belum memberitahu dia kalau anak kuliah tidak dilarang untuk hamil, asal jangan hamil diluar nikah, kau ini bagaimana istrimu jadi takut begitu." timpal Henry masih cekikikan karna Nana terlalu polos untuk Hessel.
"Pak Henry gak bohongkan?" tanya Nana sangat polos, Hessel hanya diam melihat istrinya dan menahan tawanya.
"Astaga anak ini benar-benar polos, dia tidak tau peraturan seperti itu, tenanglah suamimu itu dosen aku pastikan rektor tidak akan mengeluarkanmu, lagipula tidak ada sejarahnya mahasiswi dilarang hamil, kecuali dia hamil di luar nikah atau mengambil jurusan keperawatan otomatis mahasiswi dilarang untuk hamil sebelum kuliahnya selesai." ucap Henry menjelaskan, penjelasan secara detail dari Henry mudahkan otak Nana mencernanya.
"Kau sudah mengerti Na?" tanya Hessel, Nana mengangguk dan tersenyum sekarang dia tidak akan khawatir jika dirinya benar-benar hamil, Nana malah bertambah senang mungkin dengan dia hamil suaminya itu bisa mencintainya.
"Aku berhasil menghamilimu." Hessel berbisik di telinga Nana yang ditatap lekat-lekat oleh Henry, membuat pipi Nana merona canggung, jantungnya dag dig dug tidak beraturan.
Nana menjadi canggung dan malu saat kehamilannya diketahui oleh pak Henry.
"Mas, Nana ke atas dulu ya, silakan dilanjut makannya pak Hen." sehingga Nana tiba-tiba beranjak dari meja makan meninggalkan ke dua laki-laki yang sedari tadi hanya menggodanya.