MY STUDENT IS MY STUPID WIFE

MY STUDENT IS MY STUPID WIFE
MENCARI



Hessel, Henry, Andrean dan Arin pergi ke belakang kampus. Mereka mencari barang bukti di sana sampai akhirnya Andrean menemukan sobekkan baju.


"Pak, ini seperti sobekkan baju Nana." Kata Andrean sambil berjongkok mengambil sobekkan baju yang tertutup dedaunan. Sontak Hessel merampasnya dari tangan Andrean, ditatapnya dengan merana sobekkan baju itu benar adanya itu baju yang Nana pakai tadi pagi.


"Kau jangan menyentuh apa pun jangan ada yang menyentuh istriku." ancam Hessel pada Andrean, tiba-tiba Hessel berjongkok sambil menekuk lutut dan membenamkan kepalanya.


Andrean mencoba mendekati Hessel untuk menenangkannya tetapi Henry menahannya, karna Henry tidak ingin Andrean membuat Hessel bertambah cemas.


"Mereka membawa istriku pergi, aku tidak bisa bayangkan dengan kasarnya mereka menyeret istriku." lirih Hessel disela isak tangisnya.


"Hen, aku tidak bisa terima ini mereka kasar pada istriku, kita harus segera menemukan Nana."


"Kita harus kemana, kita tidak tau siapa pelakunya, satu-satunya harapan kita hanya menunggu polisi melacak keberadaan Nana."


"Mau sampai kapan aku harus menunggu, polisi bertindak sangat lambat istriku keburu dalam bahaya."


"Tenang dulu Hes, polisi juga sedang menyelidiki kediaman Laras, aku sudah meminta mereka untuk mengawasi Laras."


Tiba-tiba ponsel Hessel berdering, rupanya dia mendapat panggilan dari kepolisian.


Di sebuah gedung tua


Rambut Nana dijambak oleh preman-preman itu, lalu tubuh Nana didorong hingga terhuyung ke lantai.


"Bawa dia menghadap boss." perintah ketua preman.


Dengan kasarnya Nana di seret, dipaksa melangkah, Nana tak bisa berbuat apa-apa tangannya masih terikat dibelakang sambil menahan sakit diperutnya. Nana tidak akan berhenti mempertahankan janin dalam kandungannya walaupun dia tidak tau apakah janin dikandungannya bisa bertahan setelah ibunya banyak mendapat perlakuan kasar.


Nana tak berharap suaminya akan datang menyelamatkannya, setahu dia suaminya tidak mencintai dirinya jadi mana mungkin akan peduli jika dirinya hilang.


Nana hanya bisa berharap ada celah yang bisa membawanya keluar dari siksaan ini.


Sekali lagi Nana di dorong dihadapan wanita yang berdiri tegap membelakangi dirinya. Nana menatap lekat wanita berkaca mata hitam yang berbalik menghadapnya.


Wanita itu menunduk meraih dagu Nana, lalu ditepisnya wajah Nana dengan kasar. Wanita berkacamata itu pun melepas kacamatanya, tampak jelaslah wajah dari wanita itu.


"Bu Larasss !" ucap Nana sangat terkejut.


"Kau masih mengingatku?" tanyanya dengan arogan.


"Apa maksud ibu memperlakukan saya seperti ini, salah saya apa bu?"


"Salahmu, kau tidak salah anak manis." diselingi dengan tawanya yang tidak karuan.


"Suamimu lah yang bersalah." menegaskan suaranya.


"Apa hubungannya dengan mas Hessel, bukankah ibu tidak ada hubungan lagi dengan suami saya, apa ibu dendam dengannya?


"Jika kamu tidak bersamanya sudah pasti saya akan bersama dengannya lagi, tapi gara-gara kamu datang dalam hidupnya, saya tidak punya kesempatan untuk mendekatinya lagi."


"Tapi kenapa ibu menyakiti saya, saya tidak tau apa-apa mengenai masalah kalian."


"Heh, kamu lah sumber masalahnya, tapi kamu tenang saja saya tidak akan membunuhmu asal kamu mau menggugurkan anak yang ada diperutmu ini, sebagai tanda kita impas, aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaanku jadi kamu juga tidak boleh bahagia bersamanya."


"Aku tidak mau, aku tidak mau." bantah Nana.


"Silakan ledakkan kepalaku, aku tidak akan menggugurkan janin ini, lebih baik aku tiada bersama dengannya." sahut Nana penuh keberanian.


"Besar juga nyalimu !"


"Cepat bawa dia masuk ke dalam mobil." perintah Laras pada anak buahnya.


"Kalian mau membawaku kemana?"


"Aku akan memaksamu menggugurkan janinmu, kau dan suamimu itu harus hidup sengsara kalian tidak boleh bahagia."


"Tolong... tolong... tolong saya." Nana berteriak-teriak berharap ada bantuan.


"Silakan kamu berteriak sekeras-kerasnya tidak akan ada yang menyelamatkanmu di sini." tubuh Nana terus didorong-dorong dipaksa untuk berjalan.


"Cepat masuk !" anak buah Laras mendorong Nana masuk ke dalam mobil.


Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah klinik aborsi ilegal, Nana dipaksa masuk ke dalam klinik lalu dibaringkan di atas ranjang, tangan kiri dan kanannya diikat agar tidak bisa kabur. Kemudian Laras beserta anak buahnya menunggu di luar, Laras tidak mau tau bagaimana pun caranya dia harus berhasil membuat Nana menderita.


"Bibi tolong lepaskan saya, saya mohon jangan aborsi janin saya, saya ingin melahirkan anak ini, saya ingin menjadi seorang ibu, bibi bukankah bibi juga seorang wanita pasti bibi punya anakkan, saya yakin bibi tidak akan tega melakukan ini pada saya, bi anak ini tidak berdosa dan saya juga tidak mau menggugurkannya, saya sangat menyayangi anak ini tidak ada seorang ibu yang mau anaknya dibunuh dengan cara keji seperti ini tolong bi kasihi saya." Nana tak mampu membendung air matanya lagi, alat-alat aborsi yang dilihat teramat sangat menakutkan. Tak bisa dia bayangkan betapa mengeringakkannya aborsi itu.


Sesaat wanita yang akan mengaborsi Nana menunduk, wanita itu tampak sedang berpikir dan mulai merasa iba melihat kegigihan Nana mempertahankan janinnya, biasanya orang lain yang tak bertanggung jawab mati-matian memohon untuk menggugurkan kandungan tapi begitu melihat Nana hatinya seakan tersentuh.


"Bi, silakan bibi bunuh saya dengan pisah itu, tapi tolong jangan biarkan anak ini terlepas dari rahim saya." kata Nana lagi, sontak wanita itu melepas sarung tangan yang dipakainya.


"Tapi dek saya hanya melaksanakan tugas dari kakak, adek." kata bibi.


"Kakak, bi?" Nana terbelalak kaget, bisa-bisanya Laras mengaku sebagainya kakaknya padahal dia wanita kejam.


"Bukankah kalian bersaudara, kakak adek bilang anak ini membawa sial karna adek hamil di luar nikah." jelas bibi.


"Tidak bi, itu tidak benar semua itu kebohongan yang dia buat, bi percaya pada saya, saya punya suami dan kami menantikan anak ini, sedangkan wanita itu dia punya dendam pada saya dan suami saya sehingga dia melakukan berbagai cara untuk menghancurkan kebahagian kami." kata Nana menjelaskan.


Wanita itu jelas mempercayai Nana yang bicara jujur apa adanya, dia pun akan membantu Nana keluar dari rumahnya.


"Adek lewat saja ke pintu belakang, di sana ada hutan untuk sementara adek bersembunyi di sana." ucap bibi sambil melepaskan tali yang mengikat tangan Nana.


"Terima kasih banyak bi, terima kasih sudah membantu saya." sontak Nana memeluk bibi yang tidak dikenalnya itu, bibi itu seperti malaikat untuk Nana.


"Cepatlah dek keluar sebelum mereka kembali."


"Iya bi, bibi hati-hati." Nana langsung lari masuk ke dalam hutan dan bersembunyi di balik semak-semak.


"Dimana dia?" bentak Laras saat melihat Nana tidak ada di atas ranjang.


"Nona, pasiennya kabur." ucap bibi itu dengan gerogi.


"Bagaimana bisa kabur hah?" ditariknya leher bibi itu dengan kasar.


"Ta-tangan saya dilukai olehnya." kata bibi itu lagi sambil mengangkat tangannya yang sengaja dia lukai untuk meyakinkan Laras bahwa Nana benar-benar kabur.


"Kurangajar! Cepat cari dia, temukan dia hidup atau mati aku tidak mau tau." perintah Laras penuh amarah karna hampir gagal menyiksa Nana.