
"Wah dia bergerak Na, dia menendang wajahku sepertinya anak kita laki-laki." ucap Hessel menebak ketika dia membaringkan wajahnya di atas perut Nana. Hessel mengelus lembut perut istrinya lalu menciumnya sambil merasakan pergerakkan bayi mereka di dalam perut sang istri.
"Haha, Na dia terus saja menendang jagoanku sangat nakal." Hessel sangat senang karna tidak akan lama lagi buah hatinya akan segera bisa melihat dunia ini.
"Dia persis sepertimu mas, nakal." ujar Nana.
"Besok kita USG ya Na, aku mau tau anak kita laki-laki atau perempuan." kata Hessel.
"Mas, laki-laki atau perempuan biarlah menjadi rahasia Allah, Nana ingin kita mensyukuri apa adanya tanpa harus melakukan USG." jawab Nana.
"Kamu enggak penasaran ya?"
"Nana juga penasaran Mas, makanya Nana lebih memilih menunggu hari kelahirannya tanpa harus mencari tahu jenis kelaminnya dengan begitu kita terus dibuat penasaran."
"Kamu ya senang sekali membuatku penasaran, baiklah sayang aku tidak akan memaksamu." ucap Hessel lalu mencium Nana.
Bersamaan dengan itu ponsel Hessel berdering, Hessel bangkit dari tempat tidur untuk menerima telepon.
Ternyata Hessel mendapat undangan perusahaan untuk mengikuti kontes brand ambassador kosmetik kecantikkan di Paris sehingga dia harus meninggalkan istrinya untuk beberapa minggu selama mengikuti kontes.
"Nana, sini sebentar sayang!" panggil Hessel setelah menutup telepon, Nana pun bangkit lalu menghampiri suaminya.
"Siapa yang telepon mas? itu dari Devan ya?" tanya Nana tiba-tiba Hessel memeluknya.
"Sayang, sepertinya kita harus LDR." ucap Hessel sambil merangkul lalu mencium kening Nana.
"Kenapa mas, memangnya kamu mau kemana?" tanya Nana mendadak hatinya merasa sedih.
"Besok aku harus ke Paris, perusahaanku diundang untuk mengikuti lomba kontes kecantikkan, aku tau ini mendadak perusahaan juga tidak punya persiapan apa-apa tapi undangan ini sangat penting karna setiap tahun perusahaan kita mengikuti kontes ini dan dalam 5 tahun berturut-turut perusahaan kami menang, dengan adanya ajang ini orang-orang dari seluruh dunia bisa tahu bahwa kosmetik dari negara kita tidak kalah bagusnya dengan kosmetik yang mereka buat." jelas Hessel, Nana hanya bisa diam mendengarkannya.
"Sayang, kenapa kamu sedih apa kamu tidak setuju aku mengambil keputusan seperti ini?" tanya Hessel bersamaan dengan itu Nana melepaskan pelukkannya dari tubuh Hessel dan berjalan 2 langkah menjauh dari Hessel.
"Aku mendkungmu mas, tapi aku takut kamu tinggalkan sendirian, aku sedang hamil besar sekarang, bahaya yang meneror kita juga belum berakhir, aku merasa tidak siap kita berjauhan mas." kata Nana.
"Jangan batalkan mas, ajang ini penting bagi perusahaan yang kamu jalankan mas, aku tidak bisa menghalanginya." kata Nana, Hessel terus menatap wajah istrinya yang terlihat tidak iklas bila dia pergi, hanya bibirnya saja yang bisa ikhlas tapi tidak dengan hatinya.
"Sayang, aku bisa melihat kegelisahan di matamu, bagaimana aku bisa meninggalkan istriku jika kamu tidak ikhlas." kata Hessel tapi Nana tidak memperdulikannya sambil mengeluarkan pakaian yang pantas Hessel pakai untuk menghadiri acara.
"Mas, aku akan mengemas pakaianmu, kamu tidurlah dulu besokkan mas harus bangun pagi-pagi sekali." ucap Nana. Nana merasa sedih seolah ada kegundahan yang sedang dia rasakan tapi dia juga tidak sanggup mengatakannya pada Hessel.
"Nana, aku tau kau sedih saat tahu aku akan pergi, aku sudah memutuskan aku tidak akan pergi ke sana demi kamu." Hessel memeluk Nana dari belakang.
"Nana tidak mau perusahaan yang mas dan papa bangun selama belasan tahun bangkrut begitu saja." Lagi-lagi Nana melepaskan diri dari pelukkan suaminya dan kembali mengemas pakaian Hessel.
"Tenanglah sayang tidak akan ada yang membuat usahaku bangkrut, tidak masalah aku tidak datang ke sana, ada Yoga yang akan mewakiliku." jelas Hessel.
"Apa itu bisa menjamin perusahaan mas bakal menang?"
"Menang atau pun kalah aku tidak lagi memikirkan itu, sekarang hanya kamu dan anak kita yang selalu aku pikirkan, aku tidak akan membiarkan istriku sedih, jika perusahaanku kalah tahun ini mungkin tahun depan bisa menang, tapi jika aku membiarkan istriku menangis maka aku akan merasa berdosa seumur hidupku." ujar Hessel sambil mengelus kedua pipi Nana yang lembut.
"Aku takut terjadi sesuatu padamu mas, aku tidak bermaksud mencegahmu tapi entah kenapa saat mas bilang akan pergi mendadak Nana merasa Nana takut tidak bisa bertemu kamu lagi mas." tiba-tiba Nana memeluk dengan sangat erat tubuh suaminya sambil terisak tangis.
"Ya Allah sayang jangan bicara seperti itu, tidak baik Na itu sama saja doa, aku mohon berpikirlah positif jangan mikir yang macam-macam." ucap Hessel membalas pelukkannya dan mengelus-elus pundak Nana seolah berusaha membuatnya tenang.
"Nana hanya tidak mau terjadi sesuatu padamu mas." lirih Nana.
"Iya aku mengerti sayang, makanya aku lebih menuruti kata hatimu sekarang, aku tidak akan meninggalkanmu jika aku akan pergi maka aku juga akan membawamu ke mana pun aku pergi."
Hessel membawa Nana dalam pelukkannya lalu mencium keningnya dengan lembut.
"Tetaplah di sisiku mas, aku takut sendirian." rintih Nana.
"Tenanglah sayang, aku akan selalu berada di sampingmu kita akan bersama-sama merawat dan membesarkan anak-anak kita nanti." ucap Hessel menenangkan hati sang istri yang dari kemarin terus merasa gelisah.