
Yoga dengan cekatan memperbaiki kendala yang ada dan berhasil menghidupkan smartphone kembali. Hessel langsung meminta Yoga segera menuju tempat penyekapan Nana.
Arin menghubungi polisi sementara Hessel mencegah siapa pun tidak ada yang boleh menelepon polisi untuk kasus Nana.
Arin sudah diambang kecemasan karna ini bukan yang pertama Nana diculik sehingga ia memarahi mantan dosennya itu. Hessel diam saja selalu tenang dan tidak mau gegabah, ia tau bahwa Arin sangat mencemaskan istrinya begitu pun dirinya lebih takut.
"Kenapa sih pak setiap ada masalah bapak selalu mau menyelesaikan sendiri, apa bapak gak peduli sama Nana seorang ibu dari anak bapak sedang dalam bahaya, jangan egois dong pak."
"Baiknya kamu diam saja bee, kita sudah tau kok siapa pelakunya." ucap Yoga menenangkan Arin.
"Kamu hebat banget sayang dalam sekejap bisa tau salut deh aku sama kamu." Arin pun mulai tenang.
Yoga langsung melajukan mobilnya kembali untuk segera mendatangi gedung yang mereka cari.
*****
"Kenapa paman ada di sini?"
Nana sungguh tidak percaya laki-laki yang masuk ke dalam kamar di mana ia di tahan ternyata adalah ayah Andrean. Nana tidak tau apa niatnya, dan ada masalah apa sehingga melibatkan dirinya.
si tua mendekati Nana, menarik dagu Nana ke depan.
"Setelah ku perhatikan kau lebih cantik dari yang ku bayangkan, ini lah alasanku mengapa tidak menyetujui Andrean untuk menyukaimu karna sebenarnya aku juga menginginkanmu kelinci kecil."
mendengar yang ayah Andrean jelaskan hanya membuat Nana takut, pikiran sudah berkecamuk, Nana langsung menepis tangan si tua dari dagunya.
"Aku teman anakmu paman, kau tidak bisa melakukan apa pun padaku aku akan menelepon Andrean dan suamiku sekarang supaya mereka menangkapmu dan tau kebusukkanmu."
"Coba saja telepon mereka, kamu punya hp ?"
Nana baru sadar ia tidak membawa hp sehingga si tua tidak takut padanya.
"Dan kamu juga harus tau suamimu tidak bisa menemukanmu di sini karna tempat ini adalah markas besar keluarga kami, dan temanmu itu dia sudah ku kirim ke luar negeri. Sekarang aku bebas melakukan apa pun yang ku mau tidak ada yang bisa menghalangi aku ha ha ha!"
dengan kecepatan kilat Nana berhasil mengambil pisau buah di atas nakas dekat tempat tidur dan si tua sama sekali tidak melihat aksinya.
"Jika paman berani menyentuhku maka pisau ini akan melukai paman!"
"Kamu berani juga ya kelinci kecil, sayangnya kamu hanya kelinci kecil yang tak berdaya."
"Aku serius paman. Siapa pun yang macam-macam padaku maka membunuhnya aku pun berani."
"hah ha ha ayo lah kelinciku temani pamanmu dinner nanti malam."
Si tua berusaha meraih jemari Nana tetapi Nana dengan cepat mengelak dan menodongkan pisau ke depan mata ayah Andrean.
"Papa"
suara dari arah belakang si tua terdengar tidak asing oleh telinganya, sementara Nana di depan si tua sudah melihat Andrean berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam dan muka merah padam melihat ke arah ayahnya.
ayah Andrean menghadap belakang dan ia terkejut mengapa Andrean ada di sini.
"Andre..."
"Aku muak sama kelakuan papa."
Andrean meredam amarah yang hampir meluap luap, yang ada hanya rasa malu saat melihat Nana wanita yang selalu ia cinta justru di cintai oleh ayahnya.
si tua tidak bisa berkata-kata saat Andrean memergoki kelakuannya.
Andrean menghampiri Nana dan seketika memeluk Nana. Nana berusaha melepaskan diri tetapi Andrean lebih kuat darinya
"Apa dia melakukan sesuatu padamu, beritahu aku?" kemudian Andrean menatap wajah Nana dan mengelus lembut wajah itu dengan penuh kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja, untungnya aku cepat datang." Nana hanya bisa membalas dengan senyum kecil di bibirnya. Ia merasa canggung setelah Andrean memeluknya.
"Pah, mulai hari ini Andre tidak mau tinggal sama papa. Andre malu punya papa seperti papa yang tidak bermoral. Papa tau Andre menyukai Nana, Andre selalu melindungi Nana meski dari jauh dan papa meragukan itu, sekarang papa tidak ragu lagi kan Andre benar-benar datang."
"Andre jangan gitu ngomongnya, nak. Kamu satu-satunya anak papa jangan tinggalin papa. Papa akui papa salah dan minta maaf karna sudah khilaf."
Andrean terlanjur kecewa pada ayahnya. Ia tak menduga selama ini telah di besarkan oleh ayah yang seperti apa.
"Dre, bagaimana pun dia papamu, kamu maafin dia lakukan untukku."
Setelah Nana membujuknya, Andrean pun mau memaafkan ayahnya lalu ia membawa Nana keluar dari tempat itu.
"Aku sudah menelepon suamimu dan memberitahu mereka kalau kamu sudah bersamaku."
"Dre sekali lagi terima kasih sudah menolongku."
"Sudah menjadi tugas seorang teman bukan, menolong teman yang sedang dalam kesulitan."
Nana mengangguk sambil tersenyum. Andrean diam-diam memperhatikan Nana.
Sekali pun kamu tak dapat ku miliki tetapi aku akan menjagamu sebisa yang aku mampu karna kamu cinta pertamaku, dan tidak mudah melupakan cinta pertama
Hessel bersyukur tidak terjadi apa-apa kepada Nana. Ia sangat erat memeluk Nana di hadapan Andrean.
Perlahan Andrean harus terbiasa melihat pemandangan ini. Kelak ia pun sepenuhnya akan melupakan cinta pertamanya itu.
Ehem
Andrean mengganggu mereka dengan batuk yang sengaja ia buat-buat
"Aku pergi duluan yaaa ga enak rasanya liat kalian pada punya pasangan." tukas Andrean sambil tertawa pelan.
"Makanya jangan milih-milih cari jodoh nanti sulit lakunya ahaha." sahut Arin.
"sebenarnya jodohku di depan mata, sayangnya itu dulu sekarang sudah jodohnya Pak Hessel hehe."
"Dasar Andre hahaha."
Hessel hanya bisa geleng-geleng mendengar itu, dan ikut menertawakan Andrean.