
Nuri baru saja mengumpulkan buku tugas di kantor guru, saat berjalan di lorong sekolah Nuri berpapasan dengan Devan yang berjalan sendirian berlawanan arah dengannya.
Devan menahan tubuh Nuri dengan sebelah tangan sehingga langkahnya ikut terhenti. Nuri tidak mau melihat wajah Devan, sejujurnya Nuri sangat kecewa pada Devan yang sudah menghancurkan masa depannya. Sehingga untuk menghilangkan rasa kesalnya, Nuri mencoba intropeksi diri sendiri dengan tidak menyalahkan Devan sepenuhnya. Jika malam itu Nuri tidak terhanyut dalam bujukkan laki-laki mungkin kejadian ini tidak akan menimpanya, tapi apa daya Nuri hanya manusia biasa dimana nafsu dan kesempatan pasti akan terjadi ketika setan ikut berbisik.
"Kamu ingin mengatakan apa Dev?" tanya Nuri setelah cukup lama keduanya bungkam.
"Papa dan mama pagi ini akan bicara pada orang tuamu, besok atau lusa pernikahan akan dilaksanakan." ucap Devan pelan agar tidak ada yang mendengarnya.
"Kamu yakin akan menikahiku?"
"Yakin atau tidak, semua aku lakukan untuk mendapat kepercayaan dari orang tuaku, jangan pernah berharap aku menerima pernikahan ini karna aku tidak akan pernah bisa mencintai dirimu, anggap saja pernikahan ini sebagai cara untuk menutupi aib bukan dari keseriusan cinta antara aku dan kamu." tegas Devan masih dengan nada yang pelan tapi sangat menyayat hati Nuri.
Setelah menyampaikan hari pernikahan Devan langsung berlalu pergi, Nuri juga pergi ke perpustakaan untuk menenangkan pikirannya.
Nuri mencari sebuah buku yang membahas tentang pernikahan dan bagaimana cara menjalani rumah tangga, setelah mendapatkannya Nuri duduk di kursi pojok sambil membaca isi buku itu.
Tiba-tiba seseorang datang dengan menutup kedua mata Nuri yang membuat Nuri terperanjat kaget sontak tangannya menutup buku itu dan membalikkannya kebelakang.
"Ini siapa?" tanya Nuri sambil menatap telapak tangan yang menutup matanya.
"Ayo tebak aku siapa." katanya dengan suara yang lembut di telinga Nuri.
Nuri sempat tersenyum kecil, dia langsung bisa menebak suara lembut itu.
"Kak Riki." ucap Nuri matanya langsung terbuka dan tangan yang tadi menutup matanya berganti es krim tepat di depan Nuri sebelum Nuri benar-benar melihat ke belakang.
"Wah! Es krim." Nuri sangat senang karna dia menyukai es krim vanilla.
"Kamu menyukainya?" Riki langsung duduk di samping Nuri pandangan Nuri pun teralihkan melihat Riki yang ada di sampingnya.
"Suka banget kak, terima kasih kak." jawab Nuri, Riki pun membuka bungkus es krimnya dan menyuapi Nuri es krim.
"Enak sekali, Nuri sangat menyukainya." setelah mencicipi es krim dari tangan Riki.
"Aku bisa membelikanmu es krim lebih banyak dari ini, 10 es krim bahkan 100 es krim akan aku beli hanya untukmu setiap hari." kata Riki sontak Nuri tertawa mendengarnya.
"Mending uangnya kakak tabung buat biaya kuliah kakak, kakak bekerja part time hanya untuk membelikan aku 100 es krim setiap hari, dasar kakak."
"Maksudku jika aku sudah jadi orang sukses nanti Nur, aku ingin membahagiakan kamu."
"Oh benarkah kak? Nuri sekarang bahagia bersama kakak sangat bahagia, hanya kakak yang mampu membuat Nuri sesenang ini."
"Sungguh Nur, tapi asalkan kamu mau menjadi istriku nanti, maka aku akan menepati janjiku."
"Iya aku ma..." Nuri sangat senang tapi tiba-tiba Nuri berhenti bicara saat ingat dia sedang hamil anak Devan. Tidak mungkin baginya untuk membangun masa depan bersama Riki sedangkan masa depannya sendiri sudah suram yang membuat Riki bisa merasakan ada kesedihan saat menatap wajah Nuri.
"Apa yang terjadi Nur?" tanya Riki.
"Tidak ada kak, aku mau ke kelas dulu bentar lagi masuk Nuri takut dimarahi guru killer kebetulan hari ini dapat bagian Bu Ayu." kata Nuri mengalihkan pembicaraan.
"Iya cepat sana Nur, nanti kamu malah dihukum sama Bu Ayu, kalau masuk kelasnya terlambat 1 menit saja bisa dihukum." kata Riki.
"Iya kak, bye bye." Nuri segera menaruh buku yang dia baca ke dalam rak.
"Sore nanti jangan lupa ada ekstra kurikuler pramuka Nur, datang ya aku yang jadi pembinanya." kata Riki meneriaki Nuri.
"Siap kak." balas Nuri tersenyum sambil melambaikan tangan salam perpisahan.
Aku pasti datang kak karna hari ini menjadi hari terakhir aku melihatmu, aku tidak akan melewatkan hari ini, setelah itu kita tidak akan bertemu setiap hari lagi, aku mencintaimu kak Riki tapi maaf aku telah membuatmu kecewa.
Selepas pulang sekolah kegiatan pramuka di SMANSA BAKTI KARYA langsung dilaksanakan. Para siswa/i diturunkan kelapangan untuk diajarkan latihan paskibra yang akan ditandingkan antar kecamatan.
Nuri menjadi salah satu peserta yang diikut sertakan dalam paskibra karna LBB Nuri cukup baik sehingga Riki sebagai pembina dan atas kesepakatan dewan guru menarik Nuri untuk menjadi salah satu peserta. Di sisi lain Devan dan Keysa juga termasuk dalam kelompok paskibra. Devan sedari tadi bersama Keysa tapi matanya hanya tertuju pada Nuri yang duduk berdua di bawah pohon bersama Riki.
"Jangan mengejekku Luan Fang, Nuri badannya panas sepertinya dia tidak bisa latihan." ujar Riki menjelaskan apa sebabnya dia sedari tadi bersama Nuri.
"Kak Riki, kak Luan, Nuri bisa kok hanya panas biasa jadi kalian tidak perlu cemas." jawab Nuri.
Nuri masuk ke dalam barisan, dia menunjukkan pada Riki bahwa dia akan baik-baik saja.
Devan dengan sengaja menyenggol Nuri sedikit dan berhenti di belakang Nuri.
"Enak ya setiap hari ada yang beri perhatian, hebat sekali kamu bisa mendapatkan kakak kelas itu, tapi jika dia tau kamu hamil anakku maka aku pastikan dia akan membenci dirimu." ucap Devan pelan menyindir Nuri.
"Jika wanitamu tau kamu menghamili wanita lain maka wanitamu itu akan lebih hancur dari nya." Nuri tidak mau kalah dia juga menyindir Devan. Devan menarik lengan Nuri dan mencengkramnya cukup kuat bahkan Nuri sampai meringis menahan sakit.
"Sayangnya kamu salah, Keysa tidak selemah dirimu, dia tidak sedih karna aku sudah memberitahunya, kamu lihatkan bagaimana dia masih bersamaku saat ini." Devan menghempas tangan Nuri dengan kasar lalu mereka masuk ke dalam barisan setelah mendengar instruksi dari pembina yang akan segera memulai latihan.
Ketika latihan paskibra berlangsung tiba-tiba Nuri terhuyung ke tanah dan pingsan. Latihan dihentikan sementara, Riki langsung melihat kondisi Nuri sementara Devan hanya diam saja melihat dari balik barisan.
Riki langsung menggendong Nuri ke teras sekolah di baringkannya Nuri dengan berbantalkan tas sekolahnya. Riki menyuruh Luan untuk melanjutkan latihan dan Riki memanggil beberapa anak perempuan untuk menjaga Nuri sementara Riki akan mengambil minyak angin di UKS.
Riki datang membawa minyak angin, langsung saja di oleskannya ke kepala Nuri lalu menciumkan aroma minyak tersebut ke hidung Nuri barulah tidak lama kemudian Nuri sadar dan malah muntah mengenai Riki.
Awalnya Riki sedikit shock karna kaget dan sedikit jijik tapi ya sudahlah Riki jadi terbiasa namanya juga orang sedang sakit.
"Kak, aku minta maaf membuat seragam kakak kotor." ucap Nuri sangat menyesal.
"Tidak masalah Nur, aku akan membersihkannya di toilet." kata Riki.
"Adek-adek, kalian jaga Nuri sebentar ya, kakak mau bersihkan ini sebentar." kata Riki memerintah mereka. Riki pun langsung bergegas ke toilet untuk membersihkan seragamnya, saat kembali ke teras Riki jadi basah-basahan yang membuatnya tidak bisa lanjut mengajar paskibra.
"Bagaimana keadaanmu, Nur?" tanya Riki lagi memastikan.
"Sudah lebih baik kak, sepertinya aku bisa ikut latihan lagi."
"Jangan Nur." Riki malah mencegahnya.
"Kenapa kak?"
"Karna kamu sudah mengotori seragamku, maka biarkan aku mengantarmu pulang sekarang." ujar Riki, Nuri baru sadar seragam Riki basah karna dirinya.
"Emm..." Nuri pun mengangguk dia mau Riki mengantarnya pulang.
"Naiklah kepunggungku." Riki menarik tangan Nuri, lalu berjongkok membelakangi Nuri.
"Ah! Tapi ini memalukan kak."
"Tidak apa-apa, ayo naiklah." paksa Riki.
Dengan ragu-ragu Nuri pun naik ke punggung Riki, Riki menggendong Nuri di sepanjang jalan sampai akhirnya mereka menemukan angkutan umum.
Selesai latihan Devan baru sadar Nuri sudah tidak terlihat lagi di teras sekolah, bersamaan dengan Riki yang juga menghilang.
"Kau melihat Nuri?" tanya Devan pada salah satu orang yang tadi menjaga Nuri.
"Kak Riki sudah mengantar dia pulang." jawabnya.
Sontak Devan geram mendengarnya lagi-lagi kak Riki, selalu kak Riki yang bersama dengan Nuri.
"Sudahlah Dev, kau tidak perlu khawatir tentang Nuri lagipula persahabatan kalian sudah hancurkan karna ulahnya." ujar Keysa memanas-manasi Devan tapi Devan hanya diam sambil mengepalkan tangan.
Saksikan 1 episode terakhir khusus Devan dan Nuri dalam novel ini.